Skip to main content

Serial Nafsiyyah [1]: Menegakkan Islam Kâffah Bukti Mahabbah Pada Allah & Rasul-Nya


Irfan Abu Naveed

(Dosen, Peneliti Balaghah al-Qur’an & Hadits Nabawi)

Maha Suci Allah Ta’ala yang berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ {٣١}

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Âli Imrân [3]: 31)

            Ayat yang agung ini, mengajarkan setiap hamba cinta hakiki pada Allah ‘Azza wa Jalla, cinta yang tak sekedar hiasan lisan semata, namun cinta yang lahir dari keimanan pada-Nya. Cinta (mahabbah) inilah cinta yang beralamat dan berbuah ta’at. Mengingat cinta itu bersyarat dan alamatnya adalah ta’at, sebagaimana isyarat Allah dalam ayat yang agung ini: Dia mengawali pesan-Nya dengan kalimat syarat, ditandai keberadaan in syarthiyyah, yang menjadikan perbuatan ittibâ’ kepada Rasulullah , sebagai bukti kecintaan kepada-Nya, ditunjukkan oleh sikap ta’at pada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, pelakunya akan diganjar dengan ganjaran yang sangat istimewa, yakni rahmat dan ampunan-Nya, sejalan dengan uraian para ulama mu’tabar yang berbicara dalam topik al-mahabbah.

Cinta inilah yang mendorong pada keta’atan meniti jalan kebenaran dan istiqamah di atasnya:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {١٥٣}

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’âm [6]: 153)

Rasulullah pernah membuat garis di depan para sahabatnya dengan satu garis lurus di atas pasir, sementara di kanan kiri itu beliau menggariskan garis-garis yang banyak. Lalu beliau bersabda, “Ini adalah jalanku yang lurus, sementara ini adalah jalan-jalan yang di setiap pintunya ada syaithan yang mengajak ke jalan itu.” Kemudian Nabi membaca QS. Al-An’âm [6]: 153 yang memerintahkan kita mengikuti jalan yang lurus serta melarang untuk mengikuti jalan yang lain. Kalimat (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) dalam ayat ini, menunjukkan hikmah dibalik seruan tersebut, yakni sebagai realisasi ketakwaan pada-Nya. Dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah bersabda:  

«مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ»

“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia pasti bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Thabrani)

Hadits yang agung ini, mengandung informasi berharga bagi mereka yang mengaku mencintai Sayyid al-Mursalîn Muhammad al-Mushthafa , wajib dibuktikan dengan menghidupkan sunnah nabi . Lafal ahdalam ungkapan man ahyâ sunnati, berkonotasi “menghidupkan”, yang diuraikan para ulama yakni dengan mempelajari, mengamalkan, meneladani, mendakwahkan dan membelanya dari segala bentuk tikaman dan penyimpangan, sebagaimana dituturkan oleh Imam Izzuddin al-Shan’ani (w. 1182 H) dalam Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr (X/55).

Lafal sunnati, berkonotasi thariqi, yakni jalan hidupku, mencakup seluruh ajaran-ajaran yang beliau gariskan untuk umatnya, baik berupa ucapan (qauliyyah), perbuatan (fi’liyyah) yang dicontohkan Rasulullah bagi umatnya. Al-Hafizh Ibn al-Atsir (w. 606 H) dalam Al-Nihâyah fi Gharib al-Hadîts (II/409) menguraikan: Sunnah asalnya bermakna thariqah (metode) dan sirah (jalan hidup), dan disebutan secara syar’i, yang dimaksud dengannya adalah apa-apa yang Nabi perintahkan, dan beliau larang, serta puji baik berupa perkataan, maupun perbuatan, selain ungkapan ayat al-Qur’an.

Secara umum, gambaran hidup Rasulullah menggambarkan keteladanan praktis penegakkan Islam secara totalitas (kâffah) dalam seluruh aspek kehidupan, dari mulai kehidupan pribadi, keluarga, hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara; dari mulai perkara syahadat, shalat, dakwah, hingga urusan imâmah (kepemimpinan) dan siyâsah (politik). Adanya sunnah dalam kepemimpinan politik pun ditunjukkan secara jelas (dalalah lafzhiyyah) oleh lisan yang mulia Rasulullah Saw, dari Hudzaifah r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:

«ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

“Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad dan al-Bazzar)

Dalam hadits yang dinilai shahih oleh al-Hafizh al-‘Iraqi (w. 806 H) ini, terdapat kalimat ’alâ minhâj al-nubuwwah yang menunjukkan adanya sifat istimewa kepemimpinan dalam Islam. Al-Mulla Ali al-Qari (w. 1014 H) dalam Syarh Misykât al-Mashâbîh (VIII/3376) menjelaskan:

(على منهاج النبوة) أي: طريقتها الصورية والمعنوية

“(Di atas manhaj kenabian) yakni metodenya baik tersurat maupun tersirat.”

Ini menegaskan adanya manhaj salafunâ al-shâlih menegakkan kehidupan Islam dalam naungan Kekhilafahan yang menjadi pengganti kenabian dalam memelihara Din ini; menjadikan akidah Islam sebagai fondasi dan syari’at Islam sebagai konstitusinya. Itu semua jelas wajib diteladani, dari Al-’Irbadh bin Sariyah r.a. ia berkata: Rasulullah bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»

“Hendaklah kalian berdiri di atas sunnahku, dan sunnah para khalifah al-râsyidîn al-mahdiyyîn (khalifah empat yang mendapatkan petunjuk), gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang kuat.” (HR. Ahmad, Ibn Majah)

Rasulullah meminjam istilah gigitlah dengan gigi geraham yang kuat, sebagai kiasan (al-isti’ârah) konsistensi berpegang teguh terhadap sunnah, yakni jalan hidup Rasulullah dan al-Khulafâ’ al-Râsyidûn, dimana diksi al-khulafâ’ berkaitan erat dengan kepemimpinan politik, menunjukkan cakupan sunnah dalam membangun kehidupan politik umat.

Hingga relevan jika salah satu sunnah para al-khulafâ’ al-râsyidûn -digambarkan Syaikh Abdullah al-Dumaiji dalam al-Imâmah (hlm. 51-52)- yakni menjaga estafeta kekhilafahan dari masa ke masa demi menegakkan Islam dalam kehidupan, maka wajib meniti jalan mereka berdasarkan perintah Nabi , dimana mengikuti perintah Nabi merupakan perintah Allah, sekaligus bukti kecintaan pada-Nya.

Dalam atsar yang diriwayatkan Imam al-Ajurri dalam al-Syarî’ah (I/298), Ibn Mas’ud r.a. berkata dalam khutbah-nya: Wahai manusia, kalian wajib berpegang teguh pada keta’atan dan al-jama’ah, karena sesungguhnya ia adalah tali Allah dimana Allah memerintahkan untuk (berpegangteguh) padanya, apa-apa yang kalian benci ada pada al-jama’ah, lebih baik daripada apa-apa yang kalian cintai di atas perpecahan.”

Pesan-pesan agung dalam nas di atas mewajibkan kita terikat pada manhaj Rasulullah menjalani kehidupan, termasuk dalam upaya menegakkan Islam dalam kehidupan. Catatan-catatan perjuangan sarat makna dari para sahabat, menggambarkan benar cinta mereka pada Allah dan Rasul-Nya.

Di sisi lain, Allah pun memperingatkan kaum Muslim atas sikap menyalahi perintah Rasulullah dengan musibah dan azab yang pedih (QS. Al-Nûr [24]: 63), didukung dalil-dalil al-Sunnah yang secara tegas melarang kaum Muslim menyimpang dari jalan Rasulullah , meskipun hanya seutas rambut. Sebagaimana Allah pun memperingatkan dari cinta yang salah alamat (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Bagaimana mungkin mengaku cinta pada Allah dan Rasul-Nya namun mati-matian membela sistem kehidupan yang bertentangan dengan Islam? Terlebih tidak, dengan memusuhi Khilafah dan syari’ah yang jelas bagian dari ajaran Islam. Al-Hafizh Ibn al-Jauzi (w. 597 H) dalam Bahr al-Dumû’ (hlm. 28) memperingatkan:

تعصى الإلٰه وأنت تزعم حبه * هذا محال في القياس بديع

لو كان حبك صادقًا لأطعته * إن المحب لمن يحب مطيع

“Engkau bermaksiat kepada Allah tapi mengaku mencintai-Nya # Ini sangat mustahil dalam suatu pengukuran.

“Jika cintamu benar maka sungguh engkau akan mena’ati-Nya # Karena sesungguhnya seorang kekasih itu ta’at kepada yang dicintainya.”

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Balaghah Hadits [4]: Ganjaran Agung Menghidupkan Sunnah Kepemimpinan Islam

Kajian Hadits: Man Ahya Sunnati Oleh: Irfan Abu Naveed [1] S alah satu dalil al-Sunnah, yang secara indah menggambarkan besarnya pahala menghidupkan sunnah, termasuk di antaranya sunnah baginda Rasulullah ﷺ dalam hal kepemimpinan umat (imamah) adalah hadits dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:   «مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ» “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Marwazi, al-Thabarani, al-Lalika’i, Ibn Baththah dan Ibn Syahin) Keterangan Singkat Hadits HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan- nya (no. 2678, bab بَابُ مَا جَاءَ فِي الأَخْذِ بِالسُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ البِدَعِ ), ia berkata: “Hadits ini hasan gharib dari jalur ini.”; Abu Abdillah al-Marwazi dalam Ta’zhîm Qadr al-Shalât (no. 714); Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath (no. 9439); Al-Lalika’i d

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia”

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل