Skip to main content

Nasihat Rasulullah ﷺ Atas Penguasa: Takutlah Berbuat Zhalim!


 Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

(Peneliti Balaghah al-Qur’an & Hadits Nabawi)

T

akut kepada Allah itu bertanda, dan di antara tandanya adalah menjauhi perbuatan zhalim, perbuatan yang menempatkan sesuatu tak pada tempatnya. Menyekutukan Allah, membunuh dan memfitnah di antara perbuatan zhalim, karena kezhaliman (al-zhulm) sebagaimana digambarkan Syaikhunâ ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam Al-Taysîr fî Ushûl Al-Tafsîr (hlm. 70):

Kezhaliman adalah mendudukkan sesuatu tidak pada tempatnya (wadh’u al-syay-i fî ghayr mahallihi) dan kita memahaminya berdasarkan makna ayat:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ {١٣}

 “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (TQS. Luqmân [31]: 13)

Karena kesyirikan yakni menempatkan makhluk pada kedudukan Sang Pencipta, yakni menempatkan makhluk tidak pada tempatnya, sehingga siapa saja yang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya telah berbuat zhalim, dan barangsiapa yang berhukum dengan selain hukum Allah adalah orang yang zhalim:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ {٤٥}

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 45)

Maka seseorang yang meletakkan perundang-undangan manusia di atas perundang-undangan Rabb-nya manusia yakni meletakkan perundang-undangan tak pada tempatnya maka jadilah ia orang yang zhalim.

Dimana Allah menafikan hidayah bagi orang zhalim yang membuat-buat kedustaan setelah datang padanya dakwah Islam (lihat: QS. Al-Shaff [61]: 7), begitu pula dosa pembunuhan, ialah kezhaliman yang wajib ditakuti setiap hamba Allah karena telah dilarang Allah secara tegas (jâzim) dalam QS. Al-Isrâ’ [17]: 33, dan diperingatkan dengan siksa Jahannam:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا {٩٣}

“Dan barangsiapa yang membunuh seseorang yang beriman dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta Dia menyediakan adzab yang besar baginya.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 93)

Keterangan khâlid[an] fîhâ dalam pandangan mayoritas ulama, termasuk Ibn Abbas r.a., berlaku bagi pelaku pembunuhan batil disertai penghalalan atasnya (tahlîl al-muharram al-mujma’ ‘ala tahrîmihi), al-Hafizh Abu Ja’far ath-Thabari (w. 310 H) ketika menafsirkan ayat di atas menuturkan: “Dan Allah murka kepadanya” yakni Allah murka kepadanya atas pembunuhan secara sengaja tersebut, “dan Allah melaknatnya” yakni Allah menjauhkannya dari rahmat-Nya dan menghinakannya, “dan Dia menyediakan baginya ‘adzab yang besar” dan adzab ini tidak ada yang mengetahui kadar siksanya kecuali Allah.”

Terlebih Rasulullah menggambarkan dosa membunuh, termasuk dosa besar yang membinasakan pelakunya:

«اجْتَنِبُوُا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ, قُلْنَا: وَمَا هُنّ يَا رَسُوْلََ اللهِ؟ قَالَ: .... وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالحْقِّ ....»

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Kami bertanya, apa itu wahai Rasûlullâh ? Beliau menjawab (salah satunya): “…. membunuh jiwa yang diharamkan Allâh kecuali dengan alasan yang benar ….” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

Rasulullah memerintahkan untuk menjauhi dosa-dosa tersebut sejauh-jauhnya (bi al-uslûb al-insyâ’î), al-Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) menjelaskan bahwa lafal ijtanibû menunjukkan objek yang harus ditinggalkan, dan maknanya lebih kuat (ablagh) daripada kata utrukû (tinggalkanlah). Karena lafal ijtanibû bukan sekedar perintah untuk meninggalkan, melainkan perintah untuk meninggalkan itu semua sejauh-jauhnya. Termasuk kezhaliman adalah membunuh seseorang berdasarkan zhann (klaim sepihak) ala extra judicial killing (membunuh seseorang tanpa pembuktian di pengadilan) atas objek yang dituduh “terduga terorisme” -atau narasi semisal- dibangun dari asumsi tanpa bukti sesuai kaidah:

لا عِبْرَةَ لِلتَّوَهُّمِ

“Tidak ada ’ibrah (konklusi hukum) berdasarkan tawahhum (asumsi yang meragukan, dibuat-buat).”

Lantas, bagaimana jadinya jika kezhaliman membunuh diikuti dengan memfitnah korbannya? Maka lebih besar lagi dosanya, bertentangan dengan karakter seorang Muslim yang disabdakan Rasulullah :

«المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»

“Seorang muslim itu adalah seseorang yang kaum Muslim selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari & Abu Dawud)

Ialah muslim yang memelihara lisan dan tangannya agar tidak menyakiti kaum Muslim lainnya, dimana frasa min lisânihi wa yadihi, merupakan ungkapan ringkas (al-îjâz bi al-hadzf) dari maksud min syarri lisânihi wa syarri yadihi, yakni dari keburukan lisan dan tangannya, dimana dua alat ini paling berperan dalam melakukan kezhaliman, mencakup kezhaliman membunuh dan memfitnah.

Nasihat Rasulullah Atas Penguasa: Takut Berbuat Zhalim

            Menariknya, salah satu nasihat agung baginda Rasulullah kepada pejabat bawahannya adalah nasihat untuk menjauhi perbuatan zhalim atas rakyatnya, dimana Mu’adz bin Jabal r.a. yang diutus sebagai Gubernur di Yaman mengaku bahwa Rasulullah bersabda kepadanya:

«اتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»

“Takutlah kepada do’anya orang yang dizhalimi, karena sesungguhnya do’anya tersebut, tidak ada hijab antara do’anya dan Allah.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Maksud tiada hijab dalam hadits di atas adalah do’a orang yang dizhalimi itu mustajâb (dikabulkan Allah), mengandung tarhiib (peringatan) agar tidak berbuat zhalim, sebaliknya menegakkan keadilan, sebagaimana penafsiran Imam al-Syafi’i (w. 204 H) atas QS. Shad [38]: 26 dalam Tafsîr al-Imâm al-Syâfi’i (III/1228):

فأعلمَ اللهُ نبيه أن فرضاً عليه، وعلى من قبله، والناس، إذا حكموا أن يحكموا بالعدل، والعدل اتباع حكمه المنزَّل

Maka Allah mengajari nabi-Nya bahwa suatu kefardhuan atas beliau , dan nabi sebelumnya, begitu pula umat manusia (setelahnya), jika mereka menghukumi maka harus menghukumi manusia dengan adil, dan adil yakni: ittibâ’ (mengikuti) hukum-Nya yang telah diturunkan (kepada manusia).

Menunjukkan kewajiban penguasa menegakkan keadilan bagi rakyatnya, bukan sebaliknya, sejalan dengan kaidah syar’iyyah:

تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“Kebijakan seorang al-Imâm (Khalifah) atas rakyat harus senantiasa berorientasi pada kemaslahatannya.”

Yakni berorientasi pada syari’at Allah dan Rasul-Nya, kaidah ini sejalan dengan ungkapan Imam al-Syafi’i (w. 204 H) dalam Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir (hlm. 121):

مَنْزِلَةُ اْلاِمَامِ مِنَ الرَّعِيِّةِ مَنْزِلَةُ الْوَلِىِّ مِنَ الْيَتِيْمِ

“Kedudukan imam terhadap rakyat adalah seperti kedudukan wali terhadap anak yatim.”

Ketidakhadiran penguasa dalam menegakkan keadilan, atau bahkan menzhalimi rakyat itu sendiri merupakan bencana bagi kehidupan, nasib tragis yang menimpa para rezim penguasa dan penyokongnya, tentu cukup menjadi pelajaran. Semisal kaum ‘Ad yang zhalim dan membenarkan kezhaliman tiran yang lalim:

وَتِلْكَ عَادٌ ۖ جَحَدُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهُ وَاتَّبَعُوا أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ {٥٩} وَأُتْبِعُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِعَادٍ قَوْمِ هُودٍ {٦٠}

“Dan itulah (kisah) kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah kebinasaan bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Hûd itu.” (QS. Hûd [11]: 59-60)

Di antara sebab kebinasaan mereka adalah memenuhi syahwat rezim yang bertindak sewenang-wenang, dan menentang kebenaran para rasul pilihan. Makhluk itu fana, kekuasaan mereka pun akhirnya binasa, sedangkan Allah sebaik-baiknya pelindung (wa kafâ biLlâhi nashîr[an]) dan sebaik-baiknya pemelihara (wa kafâ biLlâhi wakîl[an]). []


Comments

Popular posts from this blog

Balaghah Hadits [4]: Ganjaran Agung Menghidupkan Sunnah Kepemimpinan Islam

Kajian Hadits: Man Ahya Sunnati Oleh: Irfan Abu Naveed [1] S alah satu dalil al-Sunnah, yang secara indah menggambarkan besarnya pahala menghidupkan sunnah, termasuk di antaranya sunnah baginda Rasulullah ﷺ dalam hal kepemimpinan umat (imamah) adalah hadits dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:   «مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ» “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Marwazi, al-Thabarani, al-Lalika’i, Ibn Baththah dan Ibn Syahin) Keterangan Singkat Hadits HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan- nya (no. 2678, bab بَابُ مَا جَاءَ فِي الأَخْذِ بِالسُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ البِدَعِ ), ia berkata: “Hadits ini hasan gharib dari jalur ini.”; Abu Abdillah al-Marwazi dalam Ta’zhîm Qadr al-Shalât (no. 714); Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath (no. 9439); Al-Lalika’i d

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia”

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل