Skip to main content

Bantahan Atas Penafsiran Kaum Feminis Menyoal Al-Rijal Qawwamuna 'Ala Al-Nisa'"


Apa makna "الرجال"? Benarkah klaim kaum feminis bahwa lafal tersebut bisa dimaknai "perempuan" dalam perspektif haqiqah? Benarkah lafal tersebut bisa dimaknai perempuan dengan dalih adanya istilah "رجال الحديث" dalam ilmu mushthalah hadits (haqiqah 'urfiyyah khashshah)? Apa faidah seni kata berkebalikan di balik dua kata "الرجال - النساء" (al-thibaq dalam 'ilm al-badi')?

Benarkah kalimat "الرجال قوامون على النساء" bukan kalimat perintah ("hanya" khabari) sehingga tidak ada ketentuan laki-laki wajib menjadi pemimpin rumah tangga? Lalu, apa faidah uslub khabari di balik kalimat "الرجال قوامون على النساء"?

Apa faidah uslub jumlah ismiyyah di balik kalimat "الرجال قوامون على النساء"? Dan apa perbedaannya jika kalimat ayat tersebut diungkapkan dalam bentuk kalimat kata kerja perintah (jumlah fi'liyyah)? Dan benarkah klaim feminis bahwa kalimat "بما فضل الله بعضهم على بعض" adalah kalimat syarat (dikaitkan dengan syarat pendidikan dan kemampuan)? Benarkah kalimat "" dalam "بما فضل الله بعضهم على بعض" bisa menjadi dalih bahwa kepemimpinan kaum laki-laki tidak mesti diwujudkan dalam rumah tangga?

Bagaimana mendudukkan dan menjawab tasykik kaum feminis dalam topik-topik cabang di atas? In sya Allah, temukan jawabannya diulas menggunakan teori-teori mapan ilmu balaghah, ushul fikih dan ulum al-Qur'an dalam kajian singkat padat di atas.

 


Comments

Popular posts from this blog

Buku Menarik "Risalah Nikah & Walimah"

"RISALAH NIKAH & WALIMAH" Dilengkapi dengan Sajian Kitab Kuning (Turats) & Ilmu Kesehatan Reproduksi Pra Nikah Ikhwah fillah, bi fadhliLlahi Ta'ala wa bi tawfiqihi,  telah terbit buku Risalah Nikah & Walimah, menggambarkan kajian turats menyoal topik-topik pernikahan dan syari'at walimah dalam Islam, berikut ilmu menyoal Kesehatan Reproduksi Pra Nikah, ditulis bersama istri yang berlatarbelakang pendidikan kebidanan. Sajian menyoal fikih walimah, penyusun uraikan dalam bentuk soal jawab, disertai ibarat kitab kuning (turats), dipercantik dengan berbagai gambaran walimah syar'i. Daftar Isi Buku: Bab I Keagungan Pernikahan & Hidup Berpasang-Pasangan Bab II Tuntunan Agung Menjemput Pasangan Idaman Bab III Buah Pernikahan; Sakînah, Mawaddah dan Rahmah Bab IV Walimah Nikah Sesuai Syari'ah Bab V Sunnah Mulia; Do'a Pengantin Bab VI Tips Kesehatan Reproduksi Pra Nikah   Info & Pemesanan: wa.me/6285735533668

Balaghah Hadits [4]: Ganjaran Agung Menghidupkan Sunnah Kepemimpinan Islam

Kajian Hadits: Man Ahya Sunnati Oleh: Irfan Abu Naveed [1] S alah satu dalil al-Sunnah, yang secara indah menggambarkan besarnya pahala menghidupkan sunnah, termasuk di antaranya sunnah baginda Rasulullah ﷺ dalam hal kepemimpinan umat (imamah) adalah hadits dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:   «مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ» “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Marwazi, al-Thabarani, al-Lalika’i, Ibn Baththah dan Ibn Syahin) Keterangan Singkat Hadits HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan- nya (no. 2678, bab بَابُ مَا جَاءَ فِي الأَخْذِ بِالسُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ البِدَعِ ), ia berkata: “Hadits ini hasan gharib dari jalur ini.”; Abu Abdillah al-Marwazi dalam Ta’zhîm Qadr al-Shalât (no. 714); Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath (no. 9439); Al-Lalika’i d

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia” (Part. I)

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.