Skip to main content

Wawancara: Menampik Tuduhan Atas Perlawanan Menolak Zionis Israel



1. Benarkah Hamas sebagai biang kerok?

Tudingan yang disematkan kepada Hamas, sebetulnya tudingan kepada setiap perlawanan riil menghadapi kezhaliman Israel.

Dimana tudingan tersebut jelas tudingan tidak berdasar dan salah alamat, ibarat maling teriak maling, padahal yang menjadi sumber masalah adalah kolonialisme Israel itu sendiri atas Bumi al-Quds, Palestina. Dalam kaidah jelas:

البينة للمدعي واليمين على من أنكر

“Pembuktian bagi orang yang mendakwa dan sumpah bagi orang yang mengingkari.”

Perlawanan yang ditujukan HAMAS kepada Israel justu tidak berbanding lurus dengan apa yang seharusnya diterima Israel akibat kejahatannya selama ini, selama puluhan tahun lamanya, menumpahkan darah dan menodai kehormatan kaum Muslim, serta jelas-jelas mencaplok bumi milik kaum Muslim.

Kejahatan yang dilakukan Israel atas Palestina, sudah seharusnya mendapatkan penentangan dari kaum Muslim di seluruh dunia. Mengapa demikian? Karena tanah yang mereka duduki adalah tanah milik kaum Muslim, bukan milik Israel dan sekutunya, Amerika, bukan bukan milik PBB yang membidani lahirnya Israel di atas tanah kaum Muslim, Bumi al-Quds, sejak tahun 1946. Kenyataannya dalam pepatah Arab:

لسان الحال أفصح من لسان المقال

“Bahasa keadaan lebih fasih (menunjukkan realita) daripada bahasa klaim semata.”

Lantas, logika orang berakal mana yang bisa menjustifikasi tudingan bahwa HAMAS (baca: kaum Muslim) adalah sumber masalah?

 

2. Siapa sejatinya yang menjadi biang kerok?

Israel dan sekutunya, Amerika, begitu pula negara atau lembaga internasional manapun yang membuka jalan bagi kolonialisme Israel bagi Palestina, sejatinya adalah biang kerok dari berbagai tragedi berdarah yang menimbulkan banyaknya korban berjatuhan dari kaum Muslim, dimana pada saat yang sama, HAM, isu toleransi tampak bungkam seribu bahasa:

يضاف الفعل إلى الفاعل والآمر

“Suatu perbuatan dinisbatkan kepada pelaku dan orang yang (terlibat) memerintahkannya.”

Yakni termasuk mereka yang terlibat mendorong serta membuka jalan terjadinya kezhaliman tersebut.

 

3. Apa yang semestinya menjadi sikap dan tindakan umat Islam sedunia terkait masalah ini?

Apa yang harus dilakukan?

Pertama, Kaum Muslim wajib memiliki kesadaran politik (al-wa’y al-siyâsî al-islâmî) memahami peta konflik Israel – kaum Muslim, sehingga tidak muncul legitimasi atas berbagai kelemahan dan penyimpangan seperti ‘solusi’ dua negara, fatwa-fatwa bermasalah (kaum Muslim wajib berhijrah dari Bumi al-Quds, tidak memerangi Israel demi keamanan, dsb). Permasalahan Israel vs Palestina, sejatinya menjadi permasalahan ideologis antara Zionis Israel vs kaum Muslim di dunia;

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ {١٣٩}

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Âli Imrân [3]: 139)

Kedua, Kaum Muslim tidak boleh melegitimasi ‘solusi’ dua negara, yang berarti menyerahkan Bumi Al-Quds, Al-Masjid Al-Aqsha’ kepada kaum yang keji, melepaskan tanah milik kaum Muslim yang diraih dengan jihad dan futuhat kepada kaum Kuffâr Harbi Fi’lan, dan mengabaikan bumi ribath. Maka setiap resolusi atau aturan apapun yang bertentangan dengan syari’at adalah batil dibatalkan oleh Allah dan Rasul-Nya, Rasulullah bersabda:

«مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ كَانَ مِائَة شَرْط كِتَاب [الله] أَحَق؛ وَشَرْط الله أَوْثَق»

“Barang siapa membuat persyaratan (perjanjian) yang tidak sesuai dengan kitab Allah, maka syarat tersebut batal walaupun mengajukan seratus persyaratan, karena syarat Allah lebih benar dan lebih kuat.” (HR. Al-Bukhari, Muslim)

«كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ»

“Setiap syarat yang bukan dari Kitabullâh maka ia batil.” (HR. Ibn Hibban)

Sesuai kaidah syar'iyyah:

كل شرط يُخالف أصول الشريعة باطل

“Setiap syarat yang bertentangan dengan pokok-pokok syari'ah maka batil."

Ketiga, Setiap orang yang memiliki kekuatan tangan mencegah kemungkaran Israel, wajib mengerahkan kekuatannya untuk mencegah kezhaliman mereka, sesuai hadits: dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ»

Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan qalbu dan hal itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hibban)

Ulama dan kaum Muslim wajib mengoreksi para penguasa di negeri-negeri kaum Muslim yang diam tidak mengerahkan potensi kekuatan yang mereka miliki! Tidak cukup sekedar memberikan sumbangan dana dan obat-obatan yang juga diperlukan. Apakah cukup sekedar mengobati luka-luka saudara yang sedang dizhalimi orang keji yang ringan tangan, pada saat yang sama pelaku kezhaliman tersebut dibiarkan menzhalimi saudara sendiri di depan mata?

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ {٧٢}

“Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan.” (QS. Al-Anfâl [8]: 72)

Keempat, Jika kaum Muslim bisa bersatu membela kehormatan Ka’bah al-Musyarrafah, maka pembelaan atas darah kaum Mukmin di Palestina wajib lebih diperhatikan secara riil, karena hancurnya Ka’bah dan dunia, lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang haqq, dalam hadits al-Bara bin 'Azib r.a., secara marfuu', Rasulullah bersabda:

«لزوَال الدُّنْيَا أَهْون عِنْد الله من قتل مُؤمن بِغَيْر حقٍ»

“Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada pembunuhan atas seorang Mukmin tanpa hak (secara batil)." (HR. Ibn Majah)

Kelima, Para ulama dan kaum Muslim wajib bersegera mengupayakan tegaknya persatuan kaum Muslim di bawah naungan Al-Khilafah, di bawah satu komando al-Khalifah yang disabdakan Rasulullah : Dari Abu Hurairah r.a.. bahwa Nabi Muhammad bersabda:

«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

“Sesungguhnya al-imâm (al-khalîfah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad)

Menegakkan Khilafah, hakikatnya merealisasikan upaya menolong Din Allah tegak di muka bumi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ {٧}

“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)

Allah SWT berjanji akan menolong orang yang menolong Din-Nya:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ {٤٠}

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj [22]: 40)

Dimana kemenangan dan pertolongan itu hakikatnya milik Allah, datang dari-Nya.

وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ {١٢٦}

“Dan tidaklah pertolongan (kemenangan) itu, kecuali hanya dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Âli Imrân [3]:126)

Ketika pertolongan itu tiba, maka tiada makhluk-Nya yang mampu menghadangnya:

 

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ {١٦٠}

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.(QS. Âli Imrân [3]: 160)

 


Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Koreksi Atas Penafsiran Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli, Benarkah Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

  Oleh: Irfan Abu Naveed D ewasa ini, kita seringkali dihadapkan dengan slogan atau ungkapan yang seakan-akan benar padahal sebaliknya, hingga ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend setter tersendiri khususnya bagi sebagian kaum awwam . Salah satunya adalah ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Dimana ungkapan ini pun sudah tak asing di telinga kita. Lalu bagaimana pemahaman yang benar? Terlebih jika ungkapan ”fitnah lebih kejam daripada membunuh” biasanya dinukil dari ayat yang agung: {وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}    “ Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan .” (QS. Al-Baqarah [2]: 191) Kata fitnah kembali diulang pada ayat setelahnya: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ} “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kam