Skip to main content

Khilafah Tidak Cocok? (Ngaji Balaghah, Ushul Fiqh Dalil-Dalil Khilafah)

 Benarkah Khilafah Tidak Cocok Diterapkan di Negeri Kaum Muslim?

Silahkan simak kajian menarik berikut ini yang menjawab berbagai pertanyaan terkait, disajikan dalam bentuk soal jawab:

1. Dalam 2 dekade ini tak henti-hentinya sebagian ulama dan masyarakat di dunia muslim menyerukan penerapan syariah dan penegakan Khilafah. Seberapa pentingkah hal itu hingga terus dilakukan, Kyai?

2. Kita tahu, salah satu hambatan terbesar dari penerapan syariah dan penegakan Khilafah adalah kenyataan bahwa tidak sedikit umat Islam yang justru belum paham atau salah paham terhadap ide syariah dan khilafah. bagaimana tanggapan Kyai Irfan? 

3. Ada yang  menilai syariah itu menakutkan, menghambat kemajuan dan sebagainya. Apalagi terkait Khilafah. Kesalahpahamannya lebih parah. Fenomena ISIS membuat orang makin takut terhadap Khilafah. bagaimana pendapat Kyai tentang fenomena ini?

4. Secara syar’i, mengapa penerapan syariah dan penegakan Khilafah itu penting?

5. Terkait kewajiban penerapan syariah secara kaffah dan penegakan Khilafah ini apakah hanya pendapat sekelompok partai dakwah tertentu? 

6. Apa dalillnya bahwa menegakkan Khilafah itu wajib, Ustadz? baik dalil di al Qur'an, as sunnah, dan ijmak shahabat?

7. Lalu bagaimana pendapat seluruh ulama, khususnya dalam lingkup empat mazhab Ahlus Sunnah?

8. Terkait pembahasan bahwa perkara khilafah sudah ma’lumun min al-din bi al-dharurah. bagaimana penjelasannya, Yai? 

9. Melihat kondisi faktual dan kekinian, apakah penerapan syariah dan penegakan Khilafah itu penting?

10. Syariah yang diperjuangkan umat saat ini apakah untuk menggantikan sistem sekularisme? mengapa?

11. Apakah dengan khilafah Islam rahmatan lil alamin bisa terwujud?

12. Mengapa Barat dan sekutunya makin sengit menghadang upaya menegakkan syariah dan Khilafah ini?

13. Lalu seberapa dekat perjuangan penerapan syariah dan penegakan Khilafah menuju keberhasilan?



Comments

Popular posts from this blog

Balaghah Hadits [4]: Ganjaran Agung Menghidupkan Sunnah Kepemimpinan Islam

Kajian Hadits: Man Ahya Sunnati Oleh: Irfan Abu Naveed [1] S alah satu dalil al-Sunnah, yang secara indah menggambarkan besarnya pahala menghidupkan sunnah, termasuk di antaranya sunnah baginda Rasulullah ﷺ dalam hal kepemimpinan umat (imamah) adalah hadits dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:   «مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ» “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Marwazi, al-Thabarani, al-Lalika’i, Ibn Baththah dan Ibn Syahin) Keterangan Singkat Hadits HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan- nya (no. 2678, bab بَابُ مَا جَاءَ فِي الأَخْذِ بِالسُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ البِدَعِ ), ia berkata: “Hadits ini hasan gharib dari jalur ini.”; Abu Abdillah al-Marwazi dalam Ta’zhîm Qadr al-Shalât (no. 714); Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath (no. 9439); Al-Lalika’i d

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia”

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل