16 June 2020

Opini Ringan: Serba-Serbi Logika di Negeri Antah Berantah

Konsep Baku Khilafah Islamiyyah

Ini pemisalan loh ya, sebagai perbandingan, yang menunjukkan perbedaan antara keagungan sistem peradilan dan persanksian dalam Islam dan sistem peradilan selainnya.

Nah, salah satu bukti keagungan peradilan dalam Islam, pelaku kejahatan yang melukai anggota badan, atau badan korbannya maka bisa dikenai sanksi JINAYAH, hukuman atas kejahatan terhadap badan korban yang sanksi hukumannya jelas adil, ditetapkan syari’at yang agung, ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Sebagai contoh -ada atau tidak ada kasusnya-; pelaku penyiraman air keras, jelas tak bisa diringankan sanksinya dengan beragam dalih! Mari kita bermain logika:

Pertama, Klaim “kasusnya ini tak sengaja mengenai mata, tadinya mau ke badan”

Qultu:

Mau mengenai mata atau badan, sama-sama bentuk kejahatan berat, dalam Islam ini termasuk kejahatan atas hak adami, dalam sistem persanksian Islam, masuk kepada jenis kejahatan al-jinayah.

Memangnya air keras kalau mengenai badan berarti lebih ringan resikonya daripada mengenai mata? Tidak ya, coba tanya ahli kesehatan, mengenai kemungkinan resiko air keras tatkala mengenai badan atau anggota badan semisal tangan? Apa mau diujicobakan kepada badan manusia? Ya jangan lah, karena pasti melukai badan, tanpa diujicobakan pun, logika manusia sudah paham, kalau mengenai badan bahkan bisa berakibat fatal pada kecacatan anggota badan, dan Islam mengharamkannya, sesuai kaidah:

الغاية لا تبرر الوسيلة

“Tujuan tidak serta merta menjadikan halal segala macam cara.”

Kalau mengenai badan, bisa menyebabkan cacat pula pada anggota badan. Dalam Islam, baik mengenai mata, atau mengenai badan, maka sama-sama termasuk sanksi jinayah, dengan sanksi hukuman yang adil, menimbulkan efek jera, mencegah orang lain berpikir untuk berbuat kejahatan serupa (zawâjir).

Nah, kalau begitu klaimnya, logikanya berarti diakui bahwa perbuatan tersebut dilakukan sengaja dan terencana, betul tidak? Artinya, sudah cukup jadi pembuktian (al-bayyinah) sebagai bukti atas kejahatan melukai area wajah yang dilakukan secara sengaja (‘amd[an).

Kedua, Kalau diklaim “Sanksinya cukup penjara satu tahun”, bagaimana?

Qultu:

Coba dipikir lebih manusiawi (kalau susah diajak berpikir syar'i):

Cacat sebelah mata seorang insan (apalagi jika kedua belah matanya), ya jelas tak bisa dibandingkan dengan sanksi hukuman penjara cuma satu tahun saja, bagaimana bisa? Korban yang cacat mata itu menderita seumur hidupnya, betul tidak? Di penjara setahun itu kapok apa "kapok"? Coba anda bandingkan dengan sanksi yang agung dalam HUKUM ISLAM.

Apa sanksinya? Diyat, jika sebelah mata maka diyatnya sebanyak 50 ekor unta.

Dari Abu Bakar bin ‘Ubaidillah bin ‘Umar, dari ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

«وَفِي اْلأَنْفِ الدِّيَةُ إِذَا اسْتُوعِبَ جَدْعُهُ مِائَةٌ مِنَ اْلإِبِلِ، وَفِي الْيَدِ خَمْسُوْنَ، وَفِي الرِّجْلِ خَمْسُوْنَ، وَفِي الْعَيْنِ خَمْسُوْنَ، وَفِي اْلآمَةِ ثُلُثُ النَّفَسِ، وَفِي الْجَائِفَةِ ثُلُثُ النَّفَسِ، الْمُنَقِّلَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ، وَفِي الْمُوضِحَةِ خَمْسٌ، وَفِي السِّنِّ خَمْسٌ، وَفِي كُلِّ أُصْبُعٍ مِمَّا هُنَالِكَ عَشْرٌ»

“Pada hidung apabila patah seluruhnya dikenakan diyat 100 unta, pada satu tangan 50 ekor, satu kaki 50 ekor, satu mata 50 ekor, luka yang mengenai kulit otak sepertiga (diyat) pembunuhan, luka yang sampai rongga kepala atau perut sepertiga (diyat) pembunuhan, luka yang membuat tulang terlihat 5 ekor, dan pada setiap jari diyatnya 10 ekor.” (HR. Al-Nasa'i, Al-Bazzar, Al-Baihaqi)

Lebih jauh, bisa disimak dalam kitab ini: Nizham al-'Uqubat, karya al-'Allamah al-Syaikh Abdurrahman al-Maliki dan al-Syaikh Ahmad al-Da'ur.

Link Download Kitab: Nizham al-'Uqubat

Ketiga, Kalau diklaim: “kasus ini penganiayaan terencana yang berakibat berat namun tak sengaja”, bagaimana?

Qultu:

Loh, mau dikatakan tak sengaja bagaimana? Dalam logika dilalah ghayr lafzhiyyah, kalau orang sengaja bangun shubuh bawa motor boncengan, bawa-bawa air keras, itu dibawa tak sengaja atau sengaja dibawa? Air keras itu bukan air bensin, motor pakai air keras pasti rusak loh.

Kalau masih beralasan tak sengaja kena mata si korban? Loh, artinya sepakat ya? Si pelaku sengaja menyiramkan air keras kepada si korban? COCOK.

Pertanyaannya, siapa sebenarnya pihak yang berwenang menegakkan sanksi hukum Islam ini? Jelasnya al-hukkam, penguasa, yakni Khalifah dan yang mewakilinya, sebagaimana diutarakan oleh Imam al-Naisaburi al-Syafi’i (w. 850 H):

أجمعت الأمة على أن المخاطب بقوله فَاجْلِدُوا هو الإمام حتى احتجوا به على وجوب نصب الإمام فإن ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

Umat ini (ulama) bersepakat bahwa yang diseru dari firman-Nya: “Jilidlah” adalah Imam hingga mereka pun berhujjah dengannya atas kewajiban mengangkat Imam (Khalifah), karena sesungguhnya hal dimana kewajiban takkan sempurna kecuali dengannya maka hal tersebut menjadi wajib adanya.[1]

Ketika Imam Fakhruddin Al-Razi (w. 606 H), menafsirkan QS. Al-Mâ’idah ayat ke-38, beliau menegaskan: “Para ulama ahli kalam ber-hujjah dengan ayat ini bahwa wajib atas umat, untuk mengangkat seorang imam yang spesifik untuk mereka. Dalilnya adalah bahwa Allah Swt mewajibkan di dalam ayat ini  menegakkan had atas pencuri dan pelaku zina. Maka adalah merupakan keharusan adanya seseorang yang melaksanakan seruan tersebut. Sungguh umat telah sepakat bahwa tidak seorangpun dari rakyat yang boleh menegakkan had atas pelaku kriminal. Bahkan mereka telah sepakat bahwa tidak boleh (haram) menegakkan had atas pelaku kriminal yang merdeka kecuali al-imam. Karena itu ketika taklif tersebut sifatnya pasti (jazm), dan tidak mungkin keluar dari taklif ini kecuali dengan keberadaan al-imam, dan ketika kewajiban itu tidak tertunaikan kecuali dengan sesuatu, dan itu masih dalam batas kemampuan mukallaf maka (adanya) al-imam adalah wajib. Maka adalah suatu yang pasti (qath’i) atas wajibnya mengangkat al-imam seketika itu pula.”[2]

Syaikh Dr. Shalah al-Shawi menyatakan bahwa Imamah menurut Ahlus Sunnah adalah wajib diantara kewajiban agama terbesar, dan fardhu diantara kefardhuan agama terbesar dan terkuat, bahkan agama tidak bisa tegak tanpa imamah. Karena tujuan al-Syâri’ (Allah pemilik syari’ah dan Nabi pengemban syari’ah) terkait syariat muamalah, munakahah, jihad, hudûd, qishas dan menampakkan syiar-syiar agama dalam hari-hari raya dan jama’ah-jama’ah, semuanya tidak bisa terlaksana dengan sempurna, kecuali dengan imam yang diangkat melalui perintah Al-Syâri’ dan yang menjadi rujukan kaum muslim terkait urusan mereka. Dengan demikian, mengangkat imam itu termasuk kepentingan kaum muslim yang paling sempurna dan tujuan agama yang terbesar.[3] 

Syaikh Prof. Dr. Abdullah al-Dumaji pun menggunakan kaidah kewajiban di atas, menegaskan: “Sudah diketahui, bahwa banyak kewajiban syariah yang tidak dapat dilaksanakan oleh orang per orang, seperti kewajiban melaksanakan hudûd (seperti hukuman rajam atau cambuk atas pezina, hukuman potong tangan atas pencuri), kewajiban jihad untuk menyebarkan Islam, kewajiban memungut dan membagikan zakat, dan sebagainya. Pelaksanaan semua kewajiban ini membutuhkan kekuasaan (sulthah) Islam. Kekuasaan itu tiada lain adalah Khilafah. Maka, kaidah syar’iyyah di atas juga merupakan dasar atas kewajiban menegakkan Khilafah.”[4]

Artinya jika belum ada Khilafah, maka sudah seharusnya kaum Muslim bersinergi, bersegera mengupayakan keberadaannya, keadilan jelas wajib ditegakkan, hukum Islam jelas tak bisa diabaikan.

والله أعلم بالصواب

No photo description available.
Keterangan Kitab Nizham al-'Uqubat

 



[1] Nizhamuddin al-Naisaburi, Gharâ’ib al-Qur’ân wa Raghâ’ib al-Furqân, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1416 H, juz V, hlm. 148

[2] Fakhruddin al-Razi, Mafâtih al-Ghayb fî al-Tafsîr, juz XI, hlm. 356.

[3] Dr. Shalah al-Shawi, Al-Wajîz fî Fiqh Al-Khilâfah

[4] Abdullah bin Umar al-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhmâ ‘Inda Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah, hlm. 58-59.

No comments :

Post a comment