18 January 2020

Pesan Agung Di Balik Futuhat Konstantinopel

[Kajian Balaghah & Syarh Hadits]
Oleh: Irfan Abu Naveed[1]

S
ejarah kaum Muslim adalah sejarah agung, sejarah peradaban yang dibangun di atas fondasi akidah Islam, dengan pengorbanan harta, jiwa dan raga di jalan Allah Ta’ala. Salah satunya, tertoreh dalam lembaran sejarah bertintakan emas yang ditulis oleh Muhammad al-Fatih dan pasukannya, menaklukkan salah satu pusat peradaban di masanya, Konstantinopel.

A.   Kilas Sejarah Kota Konstantinopel
Konstantinopel, dibangun di atas kota lama berjuluk Bizantium yang merupakan pusat peradaban di masanya. Sisi Eropa kota ini dibangun pertama kali oleh peradaban Yunani Kuno pada tahun 660 SM, lalu dibangun kembali oleh kekuasaan Imperium Romawi pada tahun 330 M, di bawah titah Kaisar Romawi, Konstantin I (Raja Romawi) (306 – 337 M), menjadi Ibu Kota Negara mereka. Artinya, istilah Konstantinopel diambil dari nama rajanya, dan diarabisasi (ta'rib) menjadi [القُسْطَنْطِينِيَّةُ] oleh lisan fushaha' arab.
Kebesaran nama kota ini bukanlah isapan jempol belaka, catatan sejarah mencatat banyaknya upaya persaingan berbagai imperium besar untuk menguasai negeri ini. Hingga salah seorang Jenderal Prancis, Napoléon Bonaparte (1769-1821 M) disebut-sebut berkomentar: “Andaikan dunia adalah suatu imperium besar, maka Konstantinopel adalah kota yang paling pantas menjadi ibu kotanya.” Ketika menjelaskan hadits penaklukan Konstantinopel, Al-Munawi al-Qahiri (w. 1031 H) menilainya sebagai a’zhâm madâ’in al-rûm (kota paling agung dari Imperium Romawi)[2], dan Al-Imam al-Shan’ani (w. 1182 H) menjelaskan bahwa Konstantinopel adalah kota paling agung Imperium Romawi, yang dibangun oleh Kaisar Konstantin.[3]
Itu semua sudah cukup menjadi isyarat (dilâlah lafzhiyyah wa ghayr lafzhiyyah) betapa besarnya kedudukan Konstantinopel bagi peradaban di masa itu. Hal itu tidak mengherankan, mengingat kota ini sangat strategis secara geografis; terletak di antara dua benua besar; Benua Asia & Benua Eropa, strategis secara politik maupun ekonomi.

B.   Motivasi Agung Di Balik Bisyarah Futuhat Konstantinopel

Tahukah anda, ratusan tahun sebelum Konstantinopel jatuh ke tangan kaum Muslim pada tahun 857 H/1453 M, Rasulullah telah mengabarkan kabar gembira ini lebih dari delapan ratus tahun sebelumnya, dimana Rasulullah bersabda:

«لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ وَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ»
“[Demi Allah] sungguh Kota Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan, maka sungguh sebaik-baiknya pemimpin (di antaranya) adalah pemimpin (yang menaklukkannya) dan sebaik-baik pasukan (di antaranya) adalah pasukannya.” (HR. Al-Bukhari, Al-Hakim, Ahmad, al-Thabarani)

1.     Keterangan Singkat Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Târîkh al-Kabîr (no. 396); Al-Hakim dalam al-Mustadrak (no. 8300); Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18977); Al-Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabîr (no. 1216). Al-Hafizh Abu Abdullah Al-Hakim (w. 405 H) mengomentari dalam Al-Mustadrak-nya:

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخْرِجَاهُ 
“Ini adalah hadits shahih isnad-nya, meskipun al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya (yakni dalam shahihayn-pen.).”

Al-Hafizh Syamsuddin al-Dzahabi (w. 748 H) dalam Talkhîs al-Mustadrak mengomentari: “Shahîh”. Al-Hafizh Ibn Abdul Barr al-Andalusi (w. 463 H) dalam Al-Istî’âb mengomentari: “Isnad-nya hasan.[4] Al-Hafizh al-Haitsami (w. 807 H) dalam Majma’ al-Zawâ’id (no. 10384) mengomentari: “Imam Ahmad, al-Bazzar dan al-Thabarani meriwayatkannya, dan para perawinya tsiqât.[5]Al-Hafizh al-Bushairi al-Syafi’i (w. 840 H) mengomentari: “Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ahmad bin Hanbal meriwayatkannya, dan para perawinya tsiqât.[6] Al-Imam al-Munawi al-Qahiri (w. 1031 H) mengomentari: “Isnad-nya shahih.”[7]

2.     Balaghah Hadits: Motivasi Kokoh

a.      Faidah Bag. I: Khabar yang Mu'akkad (Ditegaskan) Kebenaran Informasi di Dalamnya
Hadits ini hadits khabar (informasi) yang sebenarnya mengandung kalimat sumpah (qasam): WaLlâhi (والله), atau kinâyah dari waLlâhi (sebagaimana disebutkan dalam referensi ilmu balaghah) yakni:

والذي نفسي بيده
“Demi Dzat yang diriku berada dalam genggaman-Nya”

Namun, ungkapan qasam tersebut dihilangkan (al-îjâz bi al-hadzf) untuk menekankan pada gagasan inti informasi di dalamnya yang ditandai dengan huruf lam penanda jawab sumpah (lâm jawâb al-qasam) pada frasa: لتفتحنّ (latuftahanna). Lafal tuftahu pada frasa "latuftahanna", diungkapkan dalam bentuk kata kerja pasif (mabni li al-majhûl)[8], yang ditegaskan para ulama nahwu sebagai fi'l (kata kerja):

لِمَا لَمْ يُسَمَّ فاعلُه
“(Kata kerja) yang tidak disebutkan subjeknya”[9]

Pertanyaannya, siapa yang hakikatnya menaklukkannya untuk kaum Muslim? Allah ’Azza wa Jalla sebagaimana petunjuk dalam firman-Nya:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ {٥٥}
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa, mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku, dan siapa saja yang kufur sesudah (janji) itu, maka mereka itu lah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Nûr [24]: 55)

Dalam ayat ini, Allah bersumpah akan menganugerahkan kepada orang yang beriman dan beramal shalih tiga hal agung dalam ungkapan: layastakhlifannahhum, layumakkinanna lahum, layubaddilannahum. Allah ungkapkan dengan penegasan-penegasan, yakni lâm taukîd dan nûn taukîd al-tsaqîlah, yang berfaidah menafikan adanya keraguan dan pengingkaran, Imam Dhiya’uddin bin al-Atsir al-Katib (w. 637 H) dalam Al-Mitsl al-Sâ’ir fî Adab al-Kâtib wa al-Syâ’ir (II/193) menjelaskan:

إنما جاءت لتحقيق الأمر، وإثباته في نفوس المؤمنين، وأنه كائن لا محالة
Sesungguhnya huruf-huruf lâm tersebut, ada untuk menegaskan (terwujudnya) perkara (yang diinformasikan), dan peneguhan hal tersebut dalam jiwa orang-orang yang beriman, bahwa hal tersebut akan terwujud, bukan hal yang mustahil.

Keberadaan huruf nûn taukîd al-tsaqîlah menurut al-Atsir, menguatkan penegasan huruf lâm yang mengawali informasi (Ibid (II/195)). Menguatkan keyakinan orang-orang beriman terhadap janji Allah ’Azza wa Jalla bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih. 
Ungkapan layastakhlifannahum, bahwa Dia SWT akan menganugerahkan orang-orang yang beriman dan beramal shalih kekuasaan di Muka Bumi, yakni mewarisi bumi baik Bangsa Arab maupun Ajam, dimana Dia menjadikan mereka sebagai penguasanya, pengaturnya (dalam kekuasaan politik) dan penduduknya, sebagaimana diuraikan Imam al-Tsa’labi dalam tafsirnya (VII/114), dan al-Hafizh al-Thabari dalam tafsirnya (XIX/208). Karena kata kerja yastakhlifu dari wazan istaf’ala-yastaf’ilu, menurut Ibn Manzhur dalam Lisân al-‘Arab (V/197), bermakna menjadikan mereka sebagai khalifah, yakni penguasa di Muka Bumi, menggantikan pihak lainnya. Yakni kedudukan agung yang disebutkan Imam Fakhruddin Al-Razi (w. 606 H) dalam Mafâtîh al-Ghaib (XXIV/412) yakni:

فَيَجْعَلَهُمُ الْخُلَفَاءَ وَالْغَالِبِينَ وَالْمَالِكِينَ
Maka Dia menjadikan mereka sebagai khalifah-khalifah (al-khulafâ’), para penakluk (al-ghâlibîn) dan para penguasanya (al-mâlikîn).

Penafsiran senada ditegaskan oleh al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) dalam Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân (I/264), menariknya beliau menukil ayat yang agung ini (QS. Al-Nûr [24]: 55), ketika menjelaskan dalil wajibnya mengangkat Khalifah ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 30. Pendalilan para ulama mu’tabar ini, memperjelas bentuk kekuasaan yang Allah anugerahkan pada umat ini, dimana Allah mengumpamakannya dengan kekuasaan kaum sebelumnya {كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ}, ini merupakan bentuk tasybîh (penyerupaan) yang menguatkan keyakinan, sekaligus menjadi khabar gaib mengenai kaum terdahulu (al-umam al-sâbiqah) yang beriman dan beramal shalih, yang ternyata pernah dianugerahi kekuasaan.
Dalam hal ini, imâm al-mufassirîn al-Hafizh al-Thabari dalam tafsirnya (XIX/208) menafsirkan yakni Bani Isra’il. Imam Abu al-Muzhaffar al-Sam’ani dalam Tafsîr al-Qur’ân (III/544) dan Imam Fakhruddin al-Razi dalam Mafâtîh al-Ghaib (XXIV/412) menjelaskan: Qatadah r.a merinci yakni sebagaimana Nabi Dawud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. serta para nabi yang memiliki kekuasaan, yakni kekuasaan riil politis, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits dari Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad bersabda:

«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ» 
“Adalah bani Israil, urusan mereka diatur oleh para nabi. Setiap seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain, sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan akan ada para Khalîfah yang banyak.” (HR. Al-Bukhari & Muslim. Lafal al-Bukhârî)

Dari uraian di atas, kita mendapati bahwa penaklukan Konstantinopel adalah bagian dari janji kekuasaan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mengisyaratkan bahwa penaklukan tersebut pasti terjadi, namun terjadi bi nashriLlâh, meskipun dengan wasilah tangan pemimpin dan kaum Mujahid yang dikabarkan dalam hadits tersebut. Dimana kepastian tersebut ditegaskan oleh keberadaan huruf nûn bertasydîd (latuftahanna), yakni nûn al-taukîd al-tsaqîlah. Dalam ilmu balaghah kedua bentuk huruf tersebut berfaidah taukîd (penegasan) yang menegaskan kebenaran informasi hadits ini, bahwa Konstantinopel akan ditaklukkan, apa yang terjadi kemudian? Bisyarah agung nabawiyyah tersebut terbukti!

b.      Faidah Bag. II: Pujian Rasulullah Atas Keutamaan Mujahid Penakluk Konstantinopel

Petunjuk dalam QS. Al-Nûr [24]: 55 di atas, menguatkan isyarat dalam hadits penaklukkan Konstantinopel dalam hadits Rasulullah ini:

«لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ وَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ»
“[Demi Allah] sungguh Kota Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan, maka sungguh sebaik-baiknya pemimpin (di antaranya) adalah pemimpin (yang menaklukkannya) dan sebaik-baik pasukan (di antaranya) adalah pasukannya.” (HR. Al-Bukhari, Al-Hakim, Ahmad, al-Thabarani)

Yakni dengan adanya predikat ni’ma al-amîr, dan ni’ma al-jaysy, yang merupakan pujian (al-madh) dari Rasulullah , dimana pujian dari al-Shâdiq al-Mashdûq Rasulullah itu benar dan pasti benar, menandakan kebaikan mereka yang merealisasikan bisyarah penaklukan Konstantinopel. Dengan kata lain, mengisyaratkan bahwa penaklukan Konstantinopel takkan dianugerahkan, kecuali kepada mereka yang beriman dan beramal shalih.
Apa dasarnya? Karena dalam ilmu nahwu, lafal ni’ma termasuk af’âl al-madh (kata kerja yang diungkapkan sebagai pujian) yakni termasuk kata kerja lampau (al-af’âl al-mâdhiyyah)[10], para ulama bahasa arab, salah satunya Syaikh Mushthafa al-Ghulayayni (w. 1364 H) menjelaskan bahwa ia adalah kata kerja pujian (af’âl li insyâ’ al-madh), yang menuntut adanya objek yang dikhususkan dengan pujian tersebut (al-makhshûsh bi al-madh)[11], dalam hadits di atas yakni amîruhâ dan dzâlika al-jaysy (pemimpin penakluk Konstantinopel dan pasukannya tersebut). Pujian di balik lafal ni’ma tersebut jelas, mengingat kebalikannya adalah bi’sa yang merupakan celaan (af’âl li insyâ’ al-dzamm).[12]
Bahkan pujian kepada pemimpin penakluk Konstantinopel dan pasukannya di balik hadits tersebut sebenarnya diulang dua kali, apa alasannya? Karena dua hal:
Pertama, Alif lam yang melekat pada subjek (al-fâ’il) dari kata kerja ni’ma, termasuk jenis alif lam li al-jins ‘alâ sabîl al-istighrâq haqîqat[an], yakni jenis alif lam yang berfaidah menunjukkan totalitas cakupannya (al-syumûl) secara hakiki, bukan sekedar majazi[13], maka ia mengandung pujian atas jenis al-amîr dan al-jaysy seluruhnya, dalam hal ini berkonotasi spesifik (ma’rifat) yakni para pemimpin jihad dan pasukannya, termasuk pemimpin jihad dan pasukan yang dianugerahi pertolongan-Nya menaklukkan Konstantinopel;
Kedua, Pujian di balik kalimat ni’ma al-amîr dan ni’ma al-jaysy, tentu tak hanya mencakup keumuman al-amîr dan al-jaysy, tapi juga mencakup kata yang dikhususkan (al-makhshûsh) dari kalimat tersebut, bahkan sebenarnya mereka inilah yang menjadi objek yang dipuji Allah, yakni amîruhâ dan dzâlika al-jaysy (pemimpin penakluk Konstantinopel dan pasukannya); Muhammad al-Fatih dan pasukannya.
Syaikh Mushthafa al-Ghulayayni menegaskan kaidah di atas dalam penjelasannya:

فيكون المخصوص قد مدح مرتين مرة مع غيره، لدخوله في عموم الجنس، لأنه فرد من أفراد ذلك الجنس، ومرة على سبيل التخصيص، لأنه قد خص بالذكر، ولذلك يسمى المخصوص.
Maka objek yang dikhususkan (dalam redaksi kalimat ni’ma) telah dipuji dua kali; kali pertama dipuji bersama dengan yang lainnya karena keumuman cakupan dari jenisnya, karena ia adalah bagian dari jenis tersebut, kali kedua pujian pada kekhususannya, karena ia menjadi objek yang dikhususkan penyebutannya, oleh karena itulah dinamakan sebagai objek pengkhususan (al-makhshûsh).[14]

Frasa amîruhâ yang dimaksud hadits ini, sebagaimana ditegaskan al-Shan’ani adalah penakluk Konstantinopel,[15] diungkapkan dalam bentuk ma’rifat (spesifik); lafal amîr ditautkan pada kata ganti (dhamîr) hâ’ (al-qusthanthîniyyah) untuk menunjukkan makna spesifik, yakni penakluk Konstantinopel, begitu pula lafal dzâlika al-jaysy (pasukan tersebut).
Menariknya, pujian di balik hadits ini pun dipertegas (al-mu’akkad) dengan adanya pengulangan lafal ni’ma pada frasa ni’ma al-amîr dan ni’ma al-jaysy, dalam perspektif ilmu balaghah, yakni ‘ilm al-ma’ânî hal tersebut termasuk jenis penambahan lafal yang memiliki faidah (al-ithnâb) berupa pengulangan lafal berikut maknanya (tikrâr al-lafzh), bahkan ditegaskan dengan keberadaan huruf lâm al-taukîd mengawali lafal ni’ma (lani’ma).
Dengan demikian, itu semua semakin kuat menegaskan adanya pujian yang benar dari yang mulia Rasulullah Saw, baik pujian untuk pemimpin pasukan (amîruhâ) maupun pasukannya (dzâlika al-jaysy), sehingga relevan jika kaum Muslim dari masa ke masa di era kekhilafahan, berlomba-lomba menaklukan Konstantinopel hingga menjadikannya bagian dari kota penting kaum Muslim menebarkan kebaikan Islam ke seluruh penjuru dunia, dan Allah anugerahkan kebaikan tersebut dan turunkan pertolongan-Nya, kamâ nahsabuhu, waLlâhu a'lam bi al-shawâb, melalui tangan Sulthan Muhammad II yang masyhûr berjuluk al-Fâtih (sang penakluk) beserta pasukannya, dimana Konstantinopel lalu diubah namanya menjadi Islambul (Dar al-Islam), dan dilafalkan secara umum dengan istilah IstanbulDimana Konstantinopel dikabarkan akan kembali ditaklukkan di akhir zaman sebagaimana Roma, dimana penaklukan Konstantinopel terjadi sebelum keluarnya Dajjal.

C.   Berlomba-Lomba Menjemput Bisyarah Nabawiyyah: Tegaknya Khilafah

Sungguh, generasi salaf al-ummah dari umat ini, telah berlomba-lomba menjadikan Konstantinopel bagian dari kaum Muslim, dimana mereka telah berupaya merealisasikan bisyarah nabawiyyah penaklukan Konstantinopel, sebagaimana direkam dalam catatan sejarah agung kaum Muslim salah satunya:

وقد كان اهتمام الأمويين بفتح القسطنطينية ظاهراً منذ أن توطد الملك لمعاوية بن أبي سفيان رضي الله عنه (٤١-٦٠هـ /٦٦١-٦٨٠م) ؛ إذ رأى أن الدولة البيزنطية عدو خطر اقتطع المسلمون من أملاكه بلاد الشام ومصر
Sunggah telah nyata adanya perhatian besar Kekhilafahan Umayyah dalam penaklukkan Konstantinopel, semenjak kekuasaan secara pasti berada di tangan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan r.a. (41-60 H/ 661-680 M); dimana ia memandang Negara Romawi (Bizantyum) merupakan musuh yang sangat berbahaya, dimana kaum Muslim berbatasan dengan kerajaannya di wilayah Syam dan Mesir.[16]

Khalifah Mu’awiyyah bin Abu Sufyan r.a. dengan kekhilafahan Umayyah-nya berusaha menaklukkan Konstantinopel pada tahun 44 H, dengan mengirimkan pasukan yang dipimpin anaknya, Yazid bin Mu’awiyyah, meskipun belum menemukan titik keberhasilan, dimana dari penaklukan pertama ini, muncul tokoh kenamaan Abu Ayyub al-Anshari r.a.
Apakah kaum Muslim tinggal diam menunggu bantuan turun dari langit? Tidak! Berbagai usaha setelahnya pun berakhir pada keberhasilan yang tertunda. Hingga kita mendapati catatan agung, berlomba-lombanya para pemimpin kaum Muslim dan pasukannya untuk merealisasikan bisyarah nabawiyyah tersebut. Lantas, bagaimana bisa kaum Muslim di masa kini berpangku tangan dan diam? Tatkala mendengar bisyarah nabawiyyah yang mengabarkan akan tegak kembali era khilafah di atas manhaj kenabian?! Dari Hudzaifah r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:

«ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»
“Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud al-Thayalisi, al-Bazzar)[17]

Dimana Khilafah inilah yang kelak menjadi jalan pembukaan Kota Roma setelah sebelumnya dibuka Kota Konstantinopel, berdasarkan hadits bisyarah berikut ini:

«عَنْ أَبِي قَبِيلٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ، أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، يَقُولُ: تَذَاكَرْنَا فَتْحَ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ وَالرُّومِيَّةِ، فَدَعَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو بِصُنْدُوقٍ فَفَتَحَهُ، فَقَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَكْتُبُ، فَقَالَ رَجُلٌ: أَيُّ الْمَدِينَتَيْنِ تُفْتَحُ قَبْلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَدِينَةُ هِرَقْلَ» يُرِيدُ مَدِينَةَ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ»
“Dari Abu Qubail berkata: Bahwasanya ia mendengar Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a., ia berkata: “Kami mengingat-ingat penaklukan Konstantinopel dan Roma”, maka Abdullah bin Amr meminta kotaknya lalu ia membukanya, lantas ia berkata: “Dahulu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah , salah seorang pria bertanya: “Manakah di antara dua kota yang akan dibuka terlebih dahulu wahai Rasulullah ?” Rasulullah menjawab: “Kota Heraklius” yang beliau maksudkan adalah Konstantinopel.” (HR. Al-Hakim, Al-Thabarani, Al-Darimi, Ibn Abi Syaibah)[18]

Tatkala sebagian pihak meragukan khilafah sebagai ajaran Islam dan menjauhkannya dari umat, maka sikap para da'i adalah tetap teguh dan tak mudah goyah dalam dakwah, ingatlah dengan pesan agung Allah ’Azza wa Jalla:

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ {١٣٩}
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali 'Imrân [3]: 139).

Maka berbahagialah mereka yang tetap sabar dalam jalan mulia ini. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa salah satu bentuk pengamalan masuk ke dalam Islam keseluruhannya adalah, menegakkan pemerintahan Islam. Tidak boleh tidak, hukumnya fardhu, terlebih jika ia termasuk TÂJ AL-FURÛDH, dimana hal itu kini terurai, digantikan oleh ajaran-ajaran di luar Islam. Lantas, bagaimana sikap kita? Sikap kita sebagaimana dituturkan sya’ir yang dinukil al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) dan para ulama lainnya:

نبني كما كانت أوائلنا * تبني، ونفعل مثل ما فعلوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun”
“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.”
[19]
إِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا مِنْهُمْ فَتَشَبَّهُوْا * إِنَّ التَّشَبّهَ بِالكِرَامِ فَلاح
“Meskipun kalian belum menjadi seperti mereka maka serupailah * karena sesungguhnya menyerupai orang-orang yang mulia merupakan keberuntungan.”[20]

    Nantikan kajian lanjutan terkait hadits-hadits futuhat ini dalam buku yang sedang kami susun terkait Balaghah & Syarh 40 Hadits-Hadits Pilihan. []





[1] Penulis Buku “Konsep Baku Khilafah Islamiyyah”, Dosen yang aktif mengajar mata kuliah Fikih Siyasah/Bahasa Arab/Manthiq, dan aktif dalam kajian-kajian tafsir-balaghah al-Qur’an & Hadits-Hadits Nabawiyyah. Website: www.irfanabunaveed.net e-mail: irfanabunaveed@gmail.com 
[2] Abdurra’uf bin Tajul Arifin al-Munawi al-Qahiri, Al-Taysîr bi Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Riyadh: Maktabat al-Imam al-Syafi’i, cet. III, 1408 H, juz II, hlm. 290.
[3] Muhammad bin Isma’il al-Shan’ani, Al-Tanwîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Riyadh: Maktabat Dar al-Salam, cet. I, 1432 H, juz IX, hlm. 30.
[4] Abu Umar Yusuf bin Abdullah al-Andalusi (Ibn Abdul Barr), Al-Istî’âb fî Ma’rifat al-Ashhâb, Beirut: Dar al-Jil, cet. I, 1412 H, juz I, hlm. 170.
[5] Abu al-Hasan Nuruddin ‘Ali bin Abu Bakar al-Haitsami, Majma’ al-Zawâ’id wa Manba’ al-Fawâ’id, Kairo: Maktabat al-Qudsi, 1414 H, juz VI, hlm. 218.
[6] Abu al-‘Abbas Syihabuddin Ahmad al-Bushairi al-Syafi’i, Ittihâf al-Khîrah al-Maharat bi Zawâ’id al-Masânîd al-‘Asyarah, Riyadh: Dar al-Wathan, cet. I, 1420 H, juz VIII, hlm. 106.
[7] Abdurra’uf bin Tajul Arifin al-Munawi al-Qahiri, Al-Taysîr bi Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, juz II, hlm. 290.
[8] Dalam istilah Syaikh Ali bin Ahmad al-‘Azizi (w. 1070 H) (latuftahanna) yakni bi al-binâ’ li al-maf’ûl, lihat: Ali bin Ahmad al-Azizi, Al-Sirâj al-Munîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr fî Hadîts al-Basyîr al-Nadzîr, t.p., t.t., juz IV, hlm. 121.
[9] Ini sebagaimana disebutkan oleh Ibn Malik dalam Alfiyyah-nya, ditegaskan penerapannya oleh Syaikh Ibn al-‘Utsaimin dalam Syarh Durus al-Balaghah, ketika ia menjelaskan kata kerja pasif yang ditemukan dalam QS. Al-Jin [72]: 10 {وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْض}, lafal urîda pada kalimat “asyarr[un] urîda biman fî al-ardh” (apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi) berbentuk kalimat pasif (mabni li al-majhûl), “dikehendaki” sehingga subjeknya tidak dimunculkan jelas, dalam istilah Ibn Malik yakni limâ lam yusamma fâ’iluhu (yakni untuk subjek yang tidak diberi nama), lihat: Abdullah bin Abdurrahman Ibn ’Aqil, Syarh Ibn ’Aqil ’ala Alfiyyat Ibn Malik, Kairo: Dar al-Turats, cet. XX, 1400 H.
[10] Abbas Hasan, Al-Nahw al-Wâfî, Dar al-Ma’arif, cet. XV, juz I, hlm. 49.
[11] Mushthafa bin Muhammad Salim al-Ghulayayni, Jâmi’ al-Durûs al-‘Arabiyyah, Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah, cet. XXVIII, 1414 H, hlm. 74.
[12] Ibid.
[13] Ibid.
[14] Ibid.
[15] Muhammad bin Isma’il al-Shan’ani, Al-Tanwîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, juz IX, hlm. 30.
[16] Sulaiman bin Abdullah al-Suwaikit, Al-Hamlah al-Akhîrah ‘alâ al-Qusthanthîniyyah fi al-‘Ashr al-Umawi, Madinah: Universitas Islam Madinah, 1424 H, hlm. 425.
[17] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Isnad-nya hasan”; Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796). Hadits ini merupakan hadits yang maqbûl marfû’, Al-Hafizh al-‘Iraqi (w. 806 H) mengomentari: “Hadits ini hadits shahih, Imam Ahmad meriwayatkannya dalam Musnad-nya.”  Setelah menukil penilaian hadits al-Hafizh al-’Iraqi di atas, Syaikh Abu al-Turab Sayyid bin Husain al-‘Affani pun menegaskan: “Hadits ini merupakan hadits shahih yang menegaskan kembalinya Khilafah Islamiyyah.”
[18] HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak (no. 8301), ia berkata: “Ini adalah hadits shahih sesuai syarat syaikhain (al-Bukhari dan Muslim), meskipun keduanya tidak meriwayatkannya (dalam shahihain).” Al-Hafizh al-Dzahabi berkomentar: “Sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim.”; Al-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir (no. 166); Al-Darimi dalam Sunan-nya (no. 503), Syaikh Husain Salim al-Darani mengomentari: “Isnad-nya kuat.”; Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (no. 19811)
[19] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadrîb al-Râwi fî Syarh Taqrîb al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.
[20] Syihabuddin al-Alusi, h al-Ma'âni fî Tafsîr al-Qur'ân, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1415 H, juz I, hlm. 92.

No comments :

Post a comment