30 March 2020

Download Kumpulan Makalah Kajian Ruqyah Syar'iyyah [Kajian Ust Irfan Abu Naveed]

Kumpulan Makalah Ruqyah Syar'iyyah Irfan Abu Naveed:


Ikhwah fillah, berikut ini kumpulan makalah pdf kajian Ust Irfan Abu Naveed, M.Pd.I, menyoal topik ruqyah syar’iyyah berikut pernak-perniknya:


Ruqyah Syar’iyyah :: Alama Jin :: Sihir & Perdukunan

Seluruhnya disajikan berdasarkan petunjuk al-Qur’an, al-Sunnah, yang diuraikan oleh para ulama Islam, silahkan didownload (free):

Link Download: Link Internet Archive 

11 March 2020

Catatan Ringkas [1]: Ngaji Bab Khilafah Islamiyyah [Mengenal Hakikat Khilafah]



Oleh: Irfan Abu Naveed
[Dosen Fikih Siyasah, Penulis "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah"]

Perlu dipahami benar bahwa mushthalah Khilafah secara sharih disebutkan oleh hadits nabawi, dalam ilmu ushul fiqh, jelas ia mengandung haqiqah syar'iyyah, sebagaimana ditegaskan para ulama Islam, Imam al-Mawardi al-Syafi’i menegaskan:

الْإِمَامَةُ: مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا
"Al-Imâmah: pembahasan terkait khilâfat al-nubuwwah (pengganti kenabian) dalam memelihara urusan Din ini dan mengatur urusan dunia (dengannya)."[1]

Salah satu referensi otoritatif di bidang fikih, Al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, menguraikan:

الخلافة وَهِيَ فِي الاِصْطِلاَحِ الشَّرْعِيِّ هِيَ رِئَاسَةٌ عَامَّةٌ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا نِيَابَةً عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Al-Khilafah: dalam pengertian syar’i, ia adalah kepemimpinan umum dalam urusan Din dan dunia, penganti dari kepemimpinan Nabi -shallallahu 'alayhi wa sallam-."[2]

Al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H), ketika menjelaskan makna syar’i khilafah secara mapan digali dari nas-nas syar’iyyah, menuturkan:

الخلافة هي رئاسة عامة للمسلمين جميعا فى الدنيا لإقامة الأحكام الشرع الإسلامي وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم
“Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syari’at Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.”[3]

Diperjelas dengan adanya khabar tegaknya kembali Khilafah di akhir zaman yang dikabarkan hadits nabawi dan ditegaskan oleh para ulama mu'tabar, Rasulullah bersabda:

«ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»
“Kemudian akan tegak Khilafah di atas manhaj kenabian.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar)

Al-Imam al-Mulla Ali al-Qari (w. 1014 H) :

(على منهاج النبوة) أي: طريقتها الصورية والمعنوية
“(Di atas manhaj kenabian) yakni metodenya baik yang tersurat maupun tersirat”[4]

Dimana puncak kejayaan era kekhilafahan ini, ditegaskan pula oleh al-Imam Ali al-Qari, terjadi pada masa Khalifah al-Mahdi, dan Isa bin Maryam a.s.:

والمراد بها: زمن عيسى - عليه الصلاة والسلام - والمهدي رحمه الله
"Dan yang dimaksud dengannya: zamannya Isa bin Maryam a.s., dan al-Mahdi."[2]

Lalu, bagaimana dengan ISIS? Qultu: Kaidahnya jelas: framing buruk atas ajaran Islam "al-Khilafah" dengan dalih ISIS adalah potret argumentasi salah alamat, kejahatan ISIS bukanlah ukuran untuk menilai perjuangan dan persiapan tegaknya era kekhilafahan ini, saya lebih percaya kepada para a'immah (para imam kaum Muslim), daripada framing sepihak mereka yang awam soal Khilafah, terlebih tidak kepada mereka yang terpedaya doktrin-doktrin menyesatkan soal buruknya ajaran Khilafah.

Ikuti kajian berikutnya:

Website & Channel Telegram:
http://www.irfanabunaveed.net/
https://t.me/irfanabunaveedalatsari
https://t.me/tsaqafah_islamiyyah

والله المستعان

Catatan Kaki:
[1] Abu al-Hasan al-Mawardi, Al-Ahkâm al-Sulthâniyyah, Kairo: Dâr al-Hadîts, t.t., juz I, hlm. 15
[2] Tim Ulama, Al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait: Dar al-Salasil, cet. II, 1427 H, juz VI, hlm. 196.
[2] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, Beirut: Dar al-Ummah, juz II.
[3] Nuruddin al-Mulla ‘Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VIII, hlm. 337.
[2] Ibid.

06 March 2020

Kajian Pekanan | LGBT Dalam Isu Sains-Psikologi-Medis | #YukNgaji Region...

21 February 2020

Klarifikasi Atas Tuduhan Tak Berdasar Soal Tantangan Diskusi Terbuka Bendera Tauhid




الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Bertolak dari keprihatinan adanya akun-akun FB dan website-website tidak jelas yang secara tidak bertanggungjawab menyebarkan khurafat soal tantangan diskusi terbuka saya beberapa bulan lalu tentang bendera tauhid, bertolak dari kasus persekusi kasar nan zhalim atas bendera tauhid di Cianjur. Dimana di dalamnya mereka menuduh saya setidaknya dua hal:

Pertama, Menghapus tantangan diskusi;
Kedua, Lari dari diskusi karena takut.

Maka saya tegaskan sebagai bentuk klarifikasi dan hak jawab:

Pertama, Saya, Irfan Abu Naveed, demi Allah tidak pernah menghapus sendiri tantangan diskusi terbuka tersebut di salah satu akun Facebook saya;

Kedua, Status tantangan diskusi saya di facebook terhapus otomatis setelah pihak FACEBOOK memblokir permanen akun FB saya, dan itu terjadi berkali-kali atas sejumlah akun FB saya, yang hingga kini tidak bisa diaktifkan lagi, dimana terkait masalah ini sudah saya klarifikasi di media sosial lainnya semisal Channel dan Grup Telegram yang saya kelola. Jadi jelas, berbagai tuduhan tidak berdasar mereka yang semata-mata didasarkan pada prasangka buruk, otomatis terbantahkan;

Ketiga, Undangan diskusi dari LBM NU Bogor itu sifatnya hanya undangan sepihak tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan saya (sebagai pihak yang diundang), itu pun dengan format acara dan waktu yang belum disepakati, dimana dalam surat jawaban saya yang ditujukan langsung kepada LBM NU Bogor, tertanggal 29 Oktober 2019, saya mengajukan format diskusi adalah diskusi panel (agar fair cukup alokasi waktunya), bukan bahts al-masa’il ala LBM NU Bogor yang menghadirkan banyak pembicara (satu kelompok dengan saya sebagai pembanding seorang) dan itu pun dibagi ke dalam dua topik besar;

Keempat, Saya, Irfan Abu Naveed, menegaskan tidak pernah menghapus dan tidak pernah lari dari tantangan diskusi terbuka tersebut, selama ada oknum-oknum yang secara keji nan zhalim menstigma negatif tanpa dasar keilmuan, memperkusi dan menistakan bendera tauhid, al-liwa’ dan al-rayah, maka tantangan diskusi itu berlaku atas mereka;

Kelima, Saya menasihati para pembuat fitnah murahan dan penyebarnya untuk bertaubat dengan taubat nashuha, wajib meminta maaf kepada saya, jika tidak, maka urusannya akan dibawa ke pengadilan akhirat, masa dimana tidak ada makhluk yang bisa berkelit dari Pengadilan-Nya Yang Maha Adil, bertaubatlah sebelum terlambat.

Irfan Abu Naveed
Pecinta & Pembela Syi’ar Bendera Tauhid al-Liwa’ & al-Rayah



03 February 2020

دروس أحد مشايخنا فضيلة الشيخ الدكتور سامح سالم عبد الحميد -حفظه الله-


شرح كتاب أنواع التصنيف المتعلقة بتفسير القرآن لمؤلفه د / مساعد الطيار للدكتور سامح سالم عبد الحميد أستاذ مساعد التفسير وعلوم القرآن بكلية زاد للدراسات القرآنية بأندونيسيا









Like & Subscribe Channel Youtube "أكاديميةأستاذ تفسير": 


Viralkan: Intelektual Tegaskan Dalil Penolakan Atas Isis & Tegaskan Hujjah Kebakuan Khilafah dalam Islam


Sesi Kajian Ustadz Abdul Barr bin Ahmad & Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

Silahkan ikhwah fillah viralkan sebagai bagian dari upaya dakwah Islam, dan mengcounter berbagai framing menyesatkan:

*1. Hujjah Qawiyyah Konsep Baku Khilafah Islamiyyah (Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I)*

Video:


*2. Gamblang! Intelektual Muda Jelaskan Beberapa Hal Urgen dan Mendasar dalam Tsaqafah Islam*

Video:

*3. Tegas, HT Menolak ISIS (Ust Abdul Barr bin Ahmad)*

Video:

*4. Perkara Ijma' Tidak Bisa Diingkari! Termasuk dalam Penerapan Syariat Islam*

Video:


31 January 2020

Koreksi Asasi Atas Candaan Dusta: Prediksi Corona dalam Iqra'

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
[Penulis Buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia & Buku Jahiliyyah Menyikapi Musibah

Pembahasan Penting Terkait: Muhasabah Atas Musibah Wabah Penyakit 

Pesan Viral di WA
Belakangan ini, viral di grup-grup WA goyonan yang mengait-ngaitkan antara fenomena wabah virus Corona dan ejaan dalam buku Iqra', dimana di dalamnya disebutkan secara jelas "munculnya virus corona sudah diprediksi oleh seorang kyai asal Indonesia, beliau pengarang kitab Iqro'":
======
Jangan Terkejut..Ternyata fenomena Munculnya virus corona sudah di predikdi oleh seorang kyai asal indonesia..Beliau pengarang kitab IQRO..Silahkan di cek. Di jelaskan virus corona akan muncul saat zaman penuh dengan kebohongan..

Dengan contoh pesan viral dalam gambar:


Pertanyaan: 
"Bagaimana menanggapi pesan viral seperti itu?"

KOREKSI & TANGGAPAN:

Pertama, Harus ditegaskan bahwa pesan di atas dibangun di atas asumsi kelewat batas, menggunakan kaidah 'cocokologi', mengaitkan dua hal yang sebenarnya tidak relevan, bisa dipastikan tidak relevan, terlebih tidak jika diklaim itu adalah prediksi (sejenis ramalan?!) dari pengarang kitab Iqra'. Maka jelas kebatilan asumsi yang dibangun di atasnya sesuai kaidah:

كل ما بني على باطل فهو باطل
“Segala hal yang dibangun di atas asas yang batil maka ia pun batil.”[1]

كل ما بني على فاسد فهو فاسد
“Segala hal yang dibangun di atas asas yang rusak maka ia pun rusak.”

Bukti kesalahannya jelas: Dalam buku iqra’ hanya tertulis [قَ رَ نَ - خَ لَ قَ - زَ مَ نَ - كَ ذَ بَ], padahal dalam kaidah ta’rib (arabisasi dari abjad latin kepada arabi) lafal “corona” jelasnya tidak ditulis “قَرَنَ” melainkan “كورونا”, dan redaksi “قَرَنَ خَلَقَ زَمَنَ كَذَبَ” jelasnya bukan kalimat sempurna yang benar secara kaidah (jumlah mufiidah), karena kalimat yang benar untuk menggambarkan hal tersebut: “كورونا خُلِقَ فِي زَمَنِ الكَذبِ”.

Kedua, Menisbatkan apa yang termaktub dalam buku Iqra' dan fenomena wabah virus Corona sebagai prediksi (ramalan) dari pengarang buku tersebut jelas termasuk kedustaan mengatasnamakan orang lain (penyusun buku iqra’), mengingat beliau bukan lah seorang peramal ('arraf/kahin), dan tidak sedang meramal mengingat buku iqra' bukanlah buku ramalan, dan berdusta meskipun untuk goyunan atau candaan tetaplah suatu kedustaan yang wajib dihindari, terlebih jika kedustaan tersebut bisa mencoreng citra atau merugikan pihak lain (mengandung kezhaliman).

Bercanda itu sendiri pada prinsipnya wajib dilakukan sejalan dengan batasan syari’at, di antaranya tidak boleh mengandung kezhaliman dan kedustaan, sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: “Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah , sesungguhnya engkau mencandai kami”, Rasulullah bersabda:

«إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا»
“Sesungguhnya aku tidak akan berkata-kata kecuali kebenaran.” (HR. Al-Tirmidzi, Ahmad)

Menurut Imam al-Mubarakfuri, makna haqq[an] dalam hadits di atas yakni ’adl[an] (adil, tidak mengandung kezhaliman) dan shidq[an] (benar, jujur atau tidak mengandung kedustaan).[2] Hal itu termasuk ke dalam pesan yang mulia dari Rasulullâh :

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad & Malik)

Hadits shahih yang mulia di atas telah meletakkan prinsip yang agung dalam berbicara. Dalam ilmu ushul fikih, tuntutan perintah dalam hadits ini hukumnya wajib, yakni kewajiban mengucapkan perkataan yang benar, baik sesuai petunjuk syari’at, tidak boleh menyelisihinya, karena mengandung indikasi tegas (qarînah jâzimah); “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir”;

Ketiga, Prediksi atas kejadian masa mendatang, dalam perspektif akidah Islam jelasnya termasuk perkara ghaib, mengingat hal itu tersembunyi dan tidak dapat diketahui oleh manusia. Kata ghayb, secara bahasa (etimologis) berasal dari bahasa Arab; ghaba-yaghibu-ghayban, dalam Al-Mu’jam al-Wasîth (II/667) artinya lawan dari tampak dan hadir (khilâf syahida wa hadhara), yakni sesuatu yang tersembunyi. Apa yang terjadi di masa mendatang, jelas masuk dalam ruang lingkup sesuatu yang tersembunyi, sehingga wabah virus baru yang dinamakan virus corona, pada prinsipnya merupakan perkara ghaib bagi kyai penulis buku Iqra’ khususnya di masa tatkala beliau menyusun buku tersebut dan kalimat di dalamnya.

Dan apa-apa yang tak terjangkau oleh penginderaan (ghayb), maka ia tak terjangkau oleh ‘aql, maka wajib dikembalikan kepada dalil-dalil naqliyyah dari nas al-Qur’an dan al-Sunnah, jika tidak ada, maka tidak boleh berhalusinasi sendiri, sebagaimana ditegaskan Al-‘Allamah Al-Qadhi Taqiyuddin Al-Nabhani (w. 1397 H):

مَا لاَ يُدْرِكُهُ الحِسّ لاَ يُدْرِكُهُ العَقْل
“Apa-apa yang tak bisa terindera (oleh panca indera-pen.) maka ia takkan bisa dijangkau oleh akal (pikiran).”

Terlebih kunci-kunci keghaiban hakikatnya milik Allah, dimana Allah menegaskan bahwa tiada yang mengetahuinya kecuali Dia semata, sebagaimana firman-Nya:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ {٥٩}
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-An’âm [6]: 59)

Orang yang meramal dan memprediksikan perkara ghaib dengan suatu peramalan, maka ia dinamakan kâhin (dukun). Para ulama ketika menafsirkan QS. Al-Thûr [52]: 29, semisal Imam Syihabuddin al-Alusi (w. 1270 H) menjelaskan:

هو الذي يخبر بالغيب بضرب من الظن، وخص الراغب الكاهن بمن يخبر بالأخبار الماضية الخفية كذلك، والعرّاف بمن يخبر بالأخبار المستقبلة كذلك، والمشهور في الكهانة الاستمداد من الجن في الإخبار عن الغيب
(Dukun) adalah orang yang mengabarkan berita ghaib sejenis ramalan belaka, dan Imam ar-Raghib[3] mengkhususkan kâhin sebagai seseorang yang mengabarkan hal-hal yang telah terjadi yang bersifat rahasia. Adapun ‘arrâf (peramal) sebagai orang yang mengabarkan hal-hal yang akan terjadi.[4] Dan sudah menjadi hal yang masyhur dalam dunia perdukunan, (kâhin & ‘arrâf) memperoleh berita-berita ghaib dari bangsa jin.[5]

Kelima, Secara keseluruhan, pesan tersebut meskipun ringkas, tapi mengandung sisipan pendangkalan akidah, seakan-akan prediksi (peramalan) tersebut adalah hal yang lumrah, dan itu jelas batil, wajib dibantah dan diluruskan. Maka sebagai nasihat bagi kaum Muslim, hendaknya saling mengingatkan dan menjaga umat dari berbagai pendangkalan akidah, baik yang sifatnya halus tersembunyi maupun terang-terangan. Darimana masyarakat dibodohi dengan berbagai guyonan seperti itu, lebih baik diingatkan dengan peringatan-peringatan syar'i atas musibah yang terjadi di muka bumi: 


[]

Pondok Al-Qur’an di Kota Santri
31 Januari 2020
والله أعلم بالصواب
وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه



[1] Prof. Dr. Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh al-Islâmi, Damaskus: Dar al-Khayr, cet. II, 1427 H, juz I, hlm. 264; Abdul Muhsin bin Abdullah al-Zamil, Syarh al-Qawâ’id al-Sa’diyyah, Riyadh: Dar Athlas al-Khadra’, cet. I, 1422 H, hlm. 343.
[2] Abu al-‘Alla Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarh Jâmi’ al-Tirmidzi, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz. VI, hlm. 108.
[3] Ia adalah Abu al-Qâsim al-Husain bin Muhammad ar-Râghib al-Ashfahani penulis kitab Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân.
[4] Abu al-Qâsim al-Husain bin Muhammad al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Damaskus: Dar al-Qalam, Cet. I, 1412 H, juz I, hlm. 728.
[5] Syihabuddin Mahmud bin ‘Abdillah al-Husayni al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm wa al-Sab’u al-Matsânî, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1415 H, juz 14, hlm. 36.

25 January 2020

Muhasabah Atas Musibah Wabah Penyakit [Bag. I]

Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
Peneliti Balaghah al-Qur'an & Hadits
Penulis Buku "InnaLlaha Ma'ana" & "Jahiliyyah Menyikapi Musibah"

Sumber Gambar: fajar.co.id
Fenomena tersebarnya penyakit HIV/AIDS dikalangan pelaku LGBT, termasuk baru-baru ini, wabah virus Korona, bisa jadi merupakan salah satu bentuk peringatan, bahkan azab Allah di dunia, akibat perbuatan buruk yang mereka lakukan di dunia, dan kelak di akhirat jauh lebih besar jika mereka tak bertaubat.
Karena azab sebagaimana diungkapkan oleh Imam al-Tsa’labi (w. 427 H) bisa jadi berupa siksa jahannam di akhirat kelak, bisa pula berupa siksaan lainnya ketika di dunia, misalnya azab berupa kematian dan penahanan, sebagaimana dalam firman-Nya:
يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ {١٤}
“Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu.” (QS. Al-Taubah [9]: 14)[1]
Subjek yang mengadzab mereka adalah Allah Swt, melalui perantaraan tangan-tangan manusia. Kata bi aydîkum (yakni dengan tangan-tangan mereka), merupakan bentuk majazi (kiasan), jenis majaz mursal yang menyebutkan sebagian yakni tangan, namun maksudnya adalah keseluruhan diri manusia itu sendiri (ithlaq al-juz’i wa iradat al-kull), tak hanya perbuatan tangan. Namun tangan manusia, jelas mewakili perbuatannya, karena tangan adalah anggota badan yang paling besar peranannya dalam memperbuat suatu perbuatan, Allah al-Musta’an.
Fakta penyebaran penyakit HIV/AIDS yang menghantui para pelaku disorientasi seksual LGBT misalnya, terutama homoseksual, menegaskan adanya konsekuensi logis dari disorientasi seksual yang jelas-jelas beresiko tinggi. Fakta yang sudah seharusnya menyadarkan para pelaku LGBT dan para penggiatnya untuk kembali kepada Islam, yang memanusiakan manusia dan memelihara mereka dari kebinasaan. Begitu pula wabah virus Korona yang Allah timpakan pada suatu bangsa yang sepak terjangnya, jelas-jelas pongah atas kaum Muslim Uighur. 
Secara prinsipil, dampak buruk kejahatan, jelas mengundang malapetaka. Itu semua bagian dari merebaknya krisis penghidupan, sirnanya keberkahan hidup, apakah manusia lupa dengan peringatan Allah? 
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ {١٢٤}
“Dan siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan kumpulkan ia pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thâhâ [20]: 124)
Para ulama menafsirkan al-dzikr dalam ayat di atas bermakna al-Qur’an dan al-Sunnah. Ibn ’Abbas r.a., menjelaskan makna (وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي) yakni berpaling dari mentauhidkan-Ku, dan dikatakan pula yakni mengingkari Kitab Suci-Ku dan (sunnah) Rasul-Ku.[2] Sedangkan al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) menegaskan yakni menyelisihi perintah-Ku, dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku (wahyu), berpaling darinya, melupakannya dan mengambil selain petunjuknya.
Makna (فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا) yakni di dunia tiada ketentraman baginya, tidak ada kelapangan dalam dadanya, bahkan terasa sempit, sesak dengan kesesatannya, dan jika zhahir-nya seseorang merasa cukup, mengenakan pakaian, memakan makanan, dan tinggal dimanapun ia mau, sesungguhnya kalbunya tidak mencapai keyakinan dan petunjuk, dan ia berada dalam kekhawatiran, kehampaan dan keraguan.[3] Ibn Abbas r.a berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:
«إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا والرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ»
“Jika perzinaan dan riba sudah merajalela di suatu negeri maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan adzab Allah atas mereka.” (HR. Al-Thabrani & al-Hakim)[4]

Dalam atsarnya, Ibn Abbas r.a. memperingatkan:

«مَا ظَهَرَ الْغُلُولُ فِي قَوْمٍ قَطُّ إِلا أُلْقِيَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبُ، وَلا فَشَا الزِّنَا فِي قَوْمٍ قَطُّ إِلا كَثُرَ فِيهِمُ الْمَوْتُ، وَلا نَقَصَ قَوْمٌ الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلا قُطِعَ عَلَيْهِمُ الرِّزْقُ، وَلا حَكَمَ قَوْمٌ بِغَيْرِ الْحَقِّ إِلا فَشَا فِيهِمُ الدَّمُ، وَلا خَتَرَ قَوْمٌ بِالْعَهْدِ إِلا سُلِّطَ عَلَيْهِمُ الْعَدُوُّ»
“Tidaklah tampak kecurangan kecuali ditemukan dalam qalbu mereka keraguan, dan tidaklah perzinaan tersebar dalam suatu kaum kecuali tersebar di antara mereka kematian, dan tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan kecuali terputus atas mereka rizki, dan tidaklah suatu kaum menghukumi (orang yang bersalah) dengan tidak benar kecuali tersebar di tengah-tengah mereka pertumpahan darah, dan tidaklah suatu kaum berkhianat terhadap suatu perjanjian kecuali dikuasai oleh musuh.”[5]

Apa yang terjadi, sudah seharusnya mendorong orang beriman untuk muhâsabah. Maha benar Allah Swt yang berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ {٤١}
“Telah nampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Rûm [30]: 41)

Ayat ini mengandung petunjuk agung dari Allah Swt yang berkaitan erat dengan masa depan hidup manusia, yakni akibat buruk dari perbuatan mereka yang menegakkan kemungkaran. Akibat berupa tampaknya kerusakan di daratan dan di lautan, dimana kedua kata berkebalikan ini (dalam ilmu balaghah yakni al-thibâq), mewakili apa yang dekat dengan kehidupan manusia berupa daratan dan lautan yang memang jelas berada di sekeliling mereka, dimana kerusakan tersebut merupakan kerusakan yang pasti, Allah ungkapkan dengan diksi kata kerja lampau (zhahara).
Kerusakan tersebut Allah informasikan oleh sebab kemaksiatan manusia ditunjukkan oleh keberadaan huruf ba sababiyyah pada kalimat bi mâ kasabat aydi al-nâs, dimana Allah menekankan pada apa yang telah dilakukan oleh kedua tangan manusia (bi mâ kasabat aydi al-nâs), diungkapkan dengan ungkapan majazi (kiasan) yakni majaz mursal, dengan menyebutkan sebagian (yakni tangan) namun yang dimaksud adalah keseluruhan diri manusia (ithlâq al-juz’i wa irâdat al-kull). Jelasnya ditafsirkan para ulama yakni oleh sebab kemaksiatan dan dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia.
Al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) mencontohkan salah satu bentuk fasad tersebut dalam tafsirnya, berkaitan dengan kesulitan hidup: “Makna firman Allah Swt: (zhahara al-fasad fi al-barr wa al-bahr bi mâ kasabat aydi al-nâs) yaitu bahwa kekurangan bauh-buahan dan hasil pertanian disebabkan oleh kemaksiatan.”




[1] Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, juz III, hlm. 363.
[2] Majduddin Abu Thahir al-Fayruz Abadi, Tanwîr al-Miqbâs Min Tafsîr Ibn ‘Abbas, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, hlm. 267.
[3] Abu al-Fida’ Isma’il Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Ed: Muhammad Husain Syamsuddin, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz V, hlm. 322-323.
[4] HR. Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir (no. 462); Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 2261), ia berkata: “Hadits ini shahih meskipun al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya” disetujui oleh al-Hafizh al-Dzahabi.
[5] HR. Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 862).