25 December 2019

Hujjah Syar'iyyah Haramnya Mengucapkan Selamat Atas Perayaan Kufur



Oleh: Irfan Abu Naveed

Ucapan selamat, dalam bahasa arab dikenal dengan istilah al-tahni’ah. Dalam ’urf (tradisi), ucapan selamat jelas merupakan ungkapan do’a, keridhaan, persetujuan serta simpati atas apa yang menjadi objek dari ucapan selamat tersebut. Ini merupakan perkara yang ma’lûm, sudah diketahui dan dipahami secara umum. 

Sebagaimana keterangan makna kata selamat dalam KBBI:


se.la.mat 1 a terhindar dr bencana; aman sentosa; sejahtera; tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan, dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal: ~ dr bahaya maut; biar lambat asal ~; 2 n doa (ucapan, pernyataan, dsb) yg mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dsb): doa ~; ketika ia kawin banyak handai tolannya yg memberi ucapan ~ kepadanya; 3 n pemberian salam mudah-mudahan dl keadaan baik (sejahtera, sehat dan afiat, dsb).

Sehingga bisa disimpulkan bahwa secara lafzhiyyah, dalam ilmu manthiq, ia mengandung dilalah lafzhiyyah thabi'iyyah, yakni ucapan selamat atas perayaan kufur, jelas melekat padanya sifat persetujuan, do'a, dan suka cita, mengingat kalimat ini bermakna do'a dan persetujuan, serta wujud ikut serta dalam kegembiraan. Jika ada yang mengklaim bahwa tradisi ucapan selamat dulu dan saat ini berbeda, maka itu asumsi berbahaya tanpa dasar. Mengingat kamus-kamus arab, baik kamus yang disusun pada periode berabad-abad lalu, maupun kamus arab yang ditulis ulama kontemporer, menegaskan kebakuan makna hakiki di balik ucapan selamat, sebagai berikut:
Ulama kenamaan kontemporer, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) dalam kamus bahasa ahli fikihnya, Mu’jam Lughat al-Fuqaha’ bahkan menegaskan:

التهنئة: مص هنَّأَ، المباركة للشخص بخير أصابه، خلاف التعزية. مواجهة من أصابه خير بالسرور مع الدعاء له بالاستمتاع بهذا الخير.
Al-Tahni’ah: adalah mashdar dari kata kerja hanna’a, yakni do’a keberkahan untuk individu dengan kebaikan yang ia raih, kebalikan dari al-ta’ziyyah (duka cita), ucapan ini ditujukan kepada seseorang yang meraih kebaikan secara simpatik disertai do’a untuknya dengan ikut mensyukuri kebaikan tersebut.[1]

            Hakikat al-tani’ah sebagai kebalikan dari al-ta’ziyyah (duka cita) disebutkan dalam kamus-kamus arab semisal Al-Mukhtaar yang disusun oleh Zainuddin al-Razi (w. 666 H)[2], Taaj al-‘Aruus yang disusun oleh Murtadha al-Zabidi (w. 1205 H).[3]
Lantas, bagaimana mungkin bisa disamarkan dengan alasan prematur ia tidak mengandung do’a dan persetujuan?! Imam Syamsuddin al-Ba’li (w. 709 H) menjelaskan:

يقال: هنئت بكذا: إذا فرحت به، وهنأته به فرحته، وهنئ به، فرح
Dikatakan: engkau telah mengucapkan selamat atas sesuatu jika engkau merasa bahagia atasnya (idzaa farihta bihi), ucapan selamat atasnya yakni berbahagia.[4]

Dimana kamus ini pun menegaskan al-tahni’ah sebagai kebalikan dari al-ta’ziyyah.

Dengan kejelasan hakikat dari ucapan selamat seperti ini, pertanyaannya adalah, pada sisi mana ucapan selamat (al-tahni'ah) atas perayaan agama kufur merupakan hal yang diperbolehkan? Pada saat yang sama ia mengandung persetujuan, suka cita, dan do'a atas perbuatan pelakunya?! Ucapan selamat atas perayaan kufur ini, jelas tak bisa disamarkan dengan klaim adanya niat yang benar, bagaimana bisa benar dan dibenarkan? Padahal ucapan selamat (al-tahni'ah) tersebut mengandung iqrar, ridha dan do'a kebaikan atas perayaan kufur.
Di sisi lain, mendudukkan makna di balik ucapan selamat atau al-tahni’ah itu termasuk persoalan berbahasa yang sudah mapan, dipahami dan diakui, bukan sekedar asumsi tak berdasar, termasuk kesepakatan manusia yang sudah mapan, tak bisa sembarang diotak atik sekehendaknya, sama saja apakah makna haqiqah lughawiyyah, 'urfiyyah maupun syar'iyyah. Hal ini meniscayakan batilnya klaim mereka yang mengaburkan kebatilan di balik ucapan selamat tersebut, sesuai dengan kaidah shahihah yang disebutkan para ulama:

كل ما بني على باطل فهو باطل
“Segala hal yang dibangun di atas asas yang batil maka ia pun batil.”[5]

Ucapan selamat, jelas termasuk ucapan khas yang dilandasi keyakinan mereka pada kebenaran dan kebaikan perayaan yang hakikatnya batil dan kufur, sehingga menjadi kebiasaan khusus di antara mereka, semisal Kaum Nasrani yang saling mengucapkan selamat dan mengirimkan kartu selamat dalam perayaan natalnya. Ini merupakan kebiasaan mereka. Maka ucapan selamat atas perayaan agama kufur merupakan perkataan yang bertentangan dengan larangan mengucapkan perkataan yang mengandung kemungkaran, ini termasuk dari apa yang Allah ’Azza wa Jalla firmankan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ {١٠٤}
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengatakan ”raa’inaa” akan tetapi katakanlah ”unzhurnaa” dan dengarkanlah, dan bagi orang-orang kafir itu ’adzab yang amat pedih.” (QS. Al-Baqarah [2]: 104)

Jika kata ra’inaa saja yang secara bahasa boleh bisa jadi diharamkan secara tegas karena disimpangkan secara ’urfi (tradisi) mengandung kebatilan, maka bagaimana jadinya dengan ucapan yang mengandung petunjuk keridhaan atas perayaan batil?
Al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 104 di atas menjelaskan: “Maksudnya: Allah Ta’âlâ melarang orang-orang beriman menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan dan perbuatan mereka.”[6] Artinya, ayat ini sudah cukup menjadi dalil keharaman menyerupai orang-orang kafir terutama dalam perkataan mereka. Ini menjadi salah satu dasar keharaman mengucapkan “selamat natal” atau mengucapkan selamat kepada perayaan-perayaan agama kufur lainnya, termasuk salam lintas agama, dimana salam masing-masing agama selain Islam tersebut mengandung puji-pujian pada tuhan-tuhan sesembahan mereka.
Al-Hafizh Ibn Katsir pun menukil dalil hadits dari Ibn ’Umar –radhiyallâhu ’anhu--, ia berkata bahwa Rasulullah –shallallahu ’alayhi wa sallam- bersabda:

«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah)

Setelah menukil dalil hadits di atas, al-Hafizh Ibn Katsir pun merinci:

Di dalam hadits ini, terdapat larangan, ancaman dan peringatan keras terhadap sikap menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian (khas-pen.), ritual, ibadah mereka, dan perkara-perkara lainnya yang tidak disyari’atkan bagi kita dan tak sejalan dengan kita.[7]

Para ulama mu’tabar lainnya pun menjadikan hadits ini sebagai dalil larangan menyerupai orang kafir baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan jika ada yang mengklaim bahwa keikutsertaan dalam perayaan tahun baru tersebut tidak bermaksud menyerupai kebatilan mereka, maka al-Hafizh al-Suyuthi setelah menggunakan dalil hadits ini menegaskan bahwa perbuatan menyerupai orang-orang kafir itu haram meskipun tidak dimaksudkan seperti itu.[8]

Dalam hadits Rasulullah Saw pun disebutkan:

كُلُّ كَلَامِ ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ لَا لَهُ إِلَّا أَمْرٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ نَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ أَوْ ذِكْرُ اللَّهِ
Setiap perkataan anak cucu Adam itu membahayakannya, tidak berguna baginya kecuali perkataan menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran, atau berdzikir kepada Allah." (HR. al-Tirmidzi & Ibn Majah)

Al-Hafizh Ibn Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali (w. 751 H) menukilkan adanya kesepakatan para ulama Islam atas keharaman mengucapkan selamat pada perayaan non muslim.

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ
Adapun mengucapkan selamat terhadap simbol-simbol kekafiran yang merupakan ciri kekhususan bagi mereka, maka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama, semisal seseorang yang mengucapkan selamat atas hari raya orang-orang kafir dan puasa mereka, misalnya ia mengatakan: “’id[un] mubaarak[un] ’alayka” (semoga Hari Raya ini menjadi berkah bagimu), atau “tahna’u bi haadza al-’iid” (selamat berbahagia dengan Hari Raya ini), dan yang semisalnya. Maka dengan sebab ucapannya ini, andai ia selamat dari kekafiran maka ia tidak akan lepas dari perbuatan yang haram.[9]

Nukilan ini, tentu bukan nukilan tanpa dasar, mengingat al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah sendiri dikenal sebagai ulama kenamaan dari kalangan fuqaha’ hanabilah, sekaligus huffazh al-hadits yang dikenal dengan kekuatan hafalan, ketelitian serta sifat amanahnya. Informasi ini sejalan dengan penjelasan dari pendapat para ulama lintas madzhab dalam persoalan terkait.
Hingga disebutkan dalam kitab Ensiklopedi Ijma’, berjudul Mawsû’at al-Ijmâ’ fî al-Fiqh al-Islâmi, yang disusun oleh para pakar fikih, bahwa keharaman mengikuti perayaan Hari Raya kaum Kuffar, berikut keharaman mengucapkan selamat atas perayaan mereka, ditegaskan sebagai kesepakatan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah.[10]
Dari kalangan Hanafiyyah, bisa dirujuk dalam kitab Tabyîn al-Haqâ’iq (VI/229), Radd al-Mukhtâr (VI/755); dari kalangan Malikiyyah bisa dirujuk dalam kitab Mawâhib al-Jalîl (VI/290); dari kalangan Syafi’iyyah bisa dirujuk dalam kitab Tuhfat al-Muhtâj (IX/182); dari kalangan Hanabilah bisa dirujuk dalam kitab Kasysyâf al-Qinâ’ (III/132) dan Al-Furû’ (V/309).
Jika timbul pertanyaan, lantas bagaimana dengan ucapan selamat natal dalam bentuk kartu ucapan selamat?
Jawab: Hukumnya tergantung dari perkataan apa yang tertulis di dalam kartu tersebut, jika didalamnya termaktub ucapan selamat natal, sehingga disebut kartu ucapan selamat natal, maka hukumnya jelas haram, bertolak dari kaidah yang ditegaskan oleh al-‘Allamah al-Sayyid Abdullah Ba Alwi (w. 1272 H) dalam kitab Sullam al-Taufiq:

كتابة ما يحرم النطق به
Penulisan kata yang diharamkan untuk diucapkan

Dimana beliau menggolongkan penulisan ini termasuk kemaksiatan kedua tangan (ma’ashi al-yadayn), yang jelas-jelas diharamkan, beliau satu kelompokkan dengan keharaman mencurangi timbangan, mencuri, membunuh, memukul orang lain tanpa alasan yang benar, mengambil suap, membakar binatang, dan yang semisalnya.
Al-‘Allamah al-Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1314 H) menjelaskan maqalah di atas menegaskan bahwa keharaman tersebut berlaku karena al-qalam (pena/tulisan) merupakan salah satu bentuk “lisan” (alat pengungkapan maksud) dari seseorang:

لأن القلم أحد اللسانين للإنسان ولأن الكتابة به تدل على عبارة اللسان
Karena al-qalam (pena/tulisan) merupakan salah satu lisan bagi manusia, dan karena penulisannya menunjukkan ungkapan lisan.[11]

Maka terang benderang keharaman mengucapkan selamat natal, tak hanya terbatas pada lisan semata, namun mencakup keharaman tulisan semisal dalam bentuk kartu ucapan. Dalam kamus Bahasa Arab Kontemporer, jenis kartu ucapan selamat seperti ini diistilahkan bithaaqah mu’aayidah:

بِطاقَة معايدة: بطاقة تحمل عبارات التهنئة.
Bithâqah mu’âyidah: yakni kartu yang mengandung ungkapan-ungkapan selamat.[12]

Dan hukumnya, tergantung tulisan yang terkandung dalam kartu tersebut, waLlâhu a’lam bi al-shawâb.




[1] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, hlm. 149.
[2] Zainuddin Abu Abdullah al-Razi, Mukhtaar al-Shihaah, Beirut: Al-Maktabah al-’Ashriyyah, cet. V, 1420 H, hlm. 328.
[3] Muhammad bin Muhammad Murtadha al-Zabidi, Taaj al-’Aruus Min Jawaahir al-Qaamuus, Dar al-Hidayah, hlm. 512.
[4] Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad al-Ba’li, Al-Muthli’ ’alâ Alfâzh al-Muqni’, Maktabat al-Suwadi, cet. I, 1423 H, hlm. 421.
[5] Prof. Dr. Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh al-Islâmi, Damaskus: Dar al-Khayr, cet. II, 1427 H, juz I, hlm. 264; Abdul Muhsin bin Abdullah al-Zamil, Syarh al-Qawâ’id al-Sa’diyyah, Riyadh: Dar Athlas al-Khadra’, cet. I, 1422 H, hlm. 343.
[6] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz I, hlm. 257.
[7] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsiir al-Qur’ân al-’Azhiim, juz I, hlm. 257.
[8] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 123.
[9] Muhammad bin Abu Bakar Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Ahkâm Ahl al-Dzimmah, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. II, 1423 H, 
[10] Tim Ulama, Mawsû’at al-Ijmâ’ fî al-Fiqh al-Islâmi, Riyadh: KSA, cet. I, 1433 H, juz VI, hlm. 418.
[11] Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani al-Syafi’i, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq Syarh Sullam al-Taufîq, Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cet. I, 1431 H, hlm. 132.
[12] Dr. Ahmad Mukhtar Abdul Hamid ‘Umar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’aashirah, ‘Alam al-Kutub, cet. I, 1429 H,

No comments :

Post a comment