19 December 2019

Diksi “Islam Kaffah” Apa yang Jadi Masalah? [Koreksi Atas Pemahaman Berbahaya]

Info: Maqalah Ulama

[Kritik Argumentatif Atas Tulisan Sdr. Agus Abegebriel Menyoal Diksi Islam Kaffah]

Oleh: Irfan Abu Naveed
[Dosen & Penulis Kajian Tafsir Balaghah al-Qur’an & Hadits Nabawi]

P
agi hari, 17 Desember 2019, salah satu grup WA kajian Khilafah yang saya kelola, mendapatkan pertanyaan dari salah seorang peserta, menyoal tulisan Sdr. Agus Abudjibriel yang jelasnya ia tuliskan dan sebarkan di jejaring sosial, FB, menyoal kritikannya pada diksi Islam Kaffah yang kadung sudah diterima masyarakat. Sdr. Agus Abegebriel mengklaim:

Saya mendasarkan kesimpulan “penyalah-kaprahan istilah Islam kafah” tersebut dengan bukti bahwa kata “kafah” hanya dipakai 5 kali dalam 4 ayat dalam Al-Qur’an dan selalu berkaitan dengan plural (jamak) dan bukan dengan mufrad (tunggal). Sementara kata kafah dalam surat al-Baqarah 208 yang sering dijadikan sebagai dasar penyebutan islam kafah tidak bisa disematkan ke dalam kata “as-silmi” (Islam atau damai) yang berbentuk tunggal (mufrad).

Sdr. Agus Abegebriel pun tampak memaksakan diri mengklaim:

Istilah Islam kafah yang salah kaprah tersebut hanya ditemukan di Indonesia saja (juga Malaysia). Yang jelas jika kita masukkan keyword “al-islam al-kafah (dengan teks arab)” ke dalam mesin google, pasti tidak akan pernah ada jawaban karena google dengan bahasa mesin algoritmanya “paham dan mengerti” kalau istilah tersebut tidak memenuhi syarat gramatikal Arab meski tingkat pemula.

Berikut ini tanggapan sekaligus koreksi dari saya, menjawab kebingungan mereka yang tampak tak mampu menjangkau hakikat tafsir dari Islam kaffah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 208, dengan kerangka jawaban:
Pertama, Mendudukkan frasa Islam Kaffah dalam perspektif kebahasaan, khususnya bahasa indonesia;
Kedua, Mendudukkan makna kaffat[an] dalam QS. Al-Baqarah [2]: 208, sebagai lafal yang harus dipahami utuh dalam ranah kajian tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 208, bukan hanya kajian kebahasaan.
            Dengan catatan ringkas sebagai berikut:

A.   Mendudukkan Frasa Islam Kaffah dalam Perspektif Kebahasaan

Memetakan diksi Islam kaffah, maka perlu didudukkan sebagai berikut:
Pertama, Secara kebahasaan, yakni bahasa Indonesia, frasa Islam kaffah, merupakan frasa yang sudah dikenal umum oleh kaum Muslim di Indonesia dan Melayu. Dalam perspektif manthiq-ushul, jelas ia termasuk dâll (istilah, tarkibi) yang mengandung madlûl (pengertian/konsep) tertentu, yang secara ‘urfi digunakan kaum Muslim di negeri ini untuk menunjukkan hakikat Islam sebagai Din yang menyeluruh, mencakup akidah dan syari’at, dimana syari’atnya mengatur seluruh aspek kehidupan manusia; mencakup konsepsi din (agama) dan daulah (negara).
Hal itu diperjelas dengan fakta, bahwa Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI, sendiri sudah menyerap istilah kaffah, ke dalam bahasa Indonesia, kafah, dengan konotasi:

Dengan demikian semakin terang benderang; model frasa seperti ini dalam perspektif linguistik (kebahasaan) bahasa indonesia; sah-sah saja digunakan, jangan dikaburkan dengan asumsi prematur, bertolak dari kajian kebahasaan bahasa arab, padahal objek kajiannya adalah istilah dalam bahasa Indonesia, suatu istilah (dâll) yang muncul di tengah-tengah kaum Muslim di negeri ini. Jadi, tak relevan jika frasa Islam kaffah dikritisi menurut disiplin ilmu bahasa arab, lah bagaimana mungkin bisa nyambung, jika objeknya berbahasa Indonesia?!
Kedua, Kalau serius dan konsisten, ada narasi-narasi yang jelas lebih layak dipermasalahkan karena bermasalah: yakni penyandingan lafal Islam sebagai suatu istilah syar’i dengan embel-embel yang dibuat-buat kaum liberal semisal “Islam liberal”, “Islam moderat”, “Islam nusantara” sepaket dengan anti tesisnya “Islam radikal”, “Islam fundamental”. Berbeda dengan seluruh istilah tersebut, frasa Islam kaffah, jelas menggambarkan konsepsi yang sejalan dengan hakikat Islam itu sendiri, al-haqîqah al-syar’iyyah, yang ditunjukkan oleh nas al-Qur’an dan al-Sunnah; sebagai Din yang paripurna dari Allah ‘Azza wa Jalla, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia (poin ini, akan saya uraikan pada ulasan selanjutnya).
Dengan prinsip ini, maka kita bisa menguji keabsahan narasi sesat yang dimunculkan para manipulator agama dan mereka yang terpedaya di negeri ini di balik istilah “Islam Liberal”, “Islam Moderat”, “Islam Nusantara”, sebagai perpanjangan tangan dari isu war on terorism, yang dilancarkan kaum imperialis barat untuk memecah belah barisan kaum Muslim, mengkotak-kotakkan mereka, menstigma negatif para ulama dan para da’i di balik stigma buruk “radikal”, “fundamental”, serta liberalisasi dan desakralisasi ajaran Islam. Itu semua, wajib dikritisi dan ditolak! 
Konsepsi di balik narasi-narasi tersebut jelas bermasalah, mengandung syubhah, baik dari sudut pandang akidah maupun syari’ah. Islam liberal misalnya, bagaimana mungkin Islam disandingkan dengan liberal (liberalisme), padahal keduanya bersebrangan secara diametral?! Nah, daripada mempersoalkan frasa Islam Kaffah, lebih baik Sdr. Agus mengkritisi berbagai istilah-istilah yang bermasalah tersebut, bagaimana? Mau konsisten?
Tapi, intinya jelas Sdr. Agus tampak gagal memahami persoalan paling dasar dari kajian kebahasaan Islam kaffah, yang jelas-jelas bisa dibenarkan, terlebih jika luas literasinya mengkaji tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 208 menyoal konsepsi (madlûl) “Islam Kaffah”. Adapun klaim sepihak Sdr. Agus di sini:

Yang jelas jika kita masukkan keyword “al-islam al-kafah (dengan teks arab)” ke dalam mesin google, pasti tidak akan pernah ada jawaban karena google dengan bahasa mesin algoritmanya “paham dan mengerti” kalau istilah tersebut tidak memenuhi syarat gramatikal Arab meski tingkat pemula.

Jelas sudah gugur, ya tak relevan, kan yang ia kritisi diksi berbahasa indonesia “Islam kaffah”, bukan “الإسلام الكافة”, kalau saya tanya, siapa yang menggunakan diksi “الإسلام الكافة” seperti itu? Ya, tidak ada, jadi ya tak nyambung lah. Coba ketik “Islam kaffah”, niscaya Sdr. Agus mendapati jawabannya, ada. Jadi jangan terlalu mengandalkan mbah search engine, yang sangat tergantung pada betul tidaknya key words yang dientrikan, kalau salah kata kunci ya bisa nihil hasilnya, clear.

B.   Tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 208: Islam Kaffah

Salah satu dasar dari munculnya istilah Islam kaffah adalah firman Allah ’Azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ {٢٠٨}
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Untuk menilai benar tidaknya konsepsi (madlûl) di balik istilah (dâll) ’Islam kaffah’, maka perlu dipahami dua kata kunci:

1.      Mendudukkan Makna Kata Al-Silm: Din al-Islam dalam Tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 208

Lafal kaffat[an] yang dalam ilmu i’rab (nahwu) berstatus manshûb karena berkedudukan sebagai hâl (kata keterangan), sebenarnya sah, dan sangat bisa dibenarkan, menjadi hâl dari lafal al-silm, bahkan ini menjadi pandangan yang ditegaskan mayoritas ulama ahli tafsir. Maka klaim sepihak Sdr. Agus Abegebriel ini, saya pandang merupakan klaim yang terlalu tergesa-gesa menarik kesimpulan:

Saya mendasarkan kesimpulan “penyalah-kaprahan istilah Islam kafah” tersebut dengan bukti bahwa kata “kafah” hanya dipakai 5 kali dalam 4 ayat dalam Al-Qur’an dan selalu berkaitan dengan plural (jamak) dan bukan dengan mufrad (tunggal). Sementara kata kafah dalam surat al-Baqarah 208 yang sering dijadikan sebagai dasar penyebutan islam kafah tidak bisa disematkan ke dalam kata “as-silmi” (Islam atau damai) yang berbentuk tunggal (mufrad).

Benarkah klaim di atas? Tidak benar, buktinya: Kata al-silm (السِّلْمِ) dalam ayat ini, bermakna Al-Islam dan bukan perdamaian dengan musuh.[1] Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) menukil pendapat Ibn ‘Abbas dan Mujahid bahwa kata al-silm dalam ayat ini bermakna Al-Islam[2], begitu pula al-Dhahhak, Ikrimah, Qatadah, Ibn Qutaibah, al-Suddi dan al-Zujaj[3], mereka semua adalah rujukan otoritatif dalam tafsir al-Qur’an, makna ini yang di-tarjîh (dikuatkan) oleh Imâm al-mufassirîn, al-Hafizh Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H)[4], diamini oleh al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H)[5] dan mufassir pakar balaghah, Imam Syihabuddin al-Alusi (w. 1270 H). Dalam bait nazham al-Kindi (al-Kindah) [6] dituturkan:

دَعَوْتُ عَشِيرَتِي للِسِّلم لَمّا * رَأيْتُهمُ تَوَلَّوا مُدْبِرين

Makna li al-silm dalam bait di atas yakni “kepada al-Islam”. Maka terang benderang bahwa kata al-silm dalam QS. Al-Baqarah [2]: 208 berkonotasi Al-Islâm. Pertanyaannya, seperti apa tashawwur (gambaran) dari al-Islam itu sendiri? Jawaban atas pertanyaan ini, akan memperjelas kesalahan persepsi dari Sdr. Agus, dan menjadi jawaban atas kebingungannya, sekaligus menunjukkan kemapanan ilmunya para ulama tafsir yang sudah seharusnya dirujuk oleh para penuntut ilmu dan orang awam, agar tak membuktikan sindiran satir dari para ulama, sebagaimana dinukilkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H):

إذا تكلم المرء في غير فنه أتى بهذه العجائب
“Apabila seseorang berbicara di luar kecakapan ilmunya, maka pasti mendatangkan hal-hal kontroversial.”[7]

Al-Islam itu sendiri suatu istilah yang kulli yang mengandung juz’iyyât (cabang-cabang parsialnya), dari mulai al-‘aqâ’id (keyakinan-keyakinan) hingga al-syarâ’i (berbagai aturan syari’at), seluruhnya satu kesatuan yang menunjukkan kelengkapan ajaran Islam, yang dikenal dalam bahasa para ulama sebagai syumûliyyat al-Islâm, dan dalam bahasa masyarakat indo-melayu, lebih akrab diistilahkan “Islam kaffah”, jadi seperti itu runutannya.
Dalam perspektif ushul fikih, istilah Al-Islâm, jelas mengandung haqîqah syar’iyyah, ditunjuki nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah, diuraikan secara mapan oleh para ulama, salah satunya Al-’Allamah al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H):

الإسلام هو الدين الذي أنزله الله على سيدنا محمد -صلى الله عليه وسلم- بتنظيم علاقة الإنسان بخالقه، وبنفسه، وبغيره من بني الإنسان. وعلاقة الإنسان بخالقه تشمل العقائد والعبادات، وعلاقته بنفسه تشمل الأخلاق والمطعومات والملبوسات، وعلاقته بغيره من بني الإنسان تشمل المعاملات والعقوبات. فالإسلام مبدأ لشؤون الحياة جميعًا
Islam adalah din yang Allah turunkan kepada Sayyidina Muhammad , untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Pencipta-Nya, dirinya sendiri dan sesama manusia. Hubungan manusia dan Pencipta-Nya mencakup akidah dan peribadahan-peribadahan; hubungan manusia dengan dirinya sendiri mencakup akhlak, makanan dan pakaian; hubungan manusia dengan sesama manusia mencakup mu’amalah, dan hukum-hukum persanksian. Maka Islam adalah ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan.[8]

Intisari dari uraian mapan di atas, mencakup ruang lingkup Din Islam sebagai berikut:
Pertama, Mengatur hubungan manusia dan Pencipta-Nya mencakup akidah dan peribadatan-peribadatan;
Kedua, Mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri mencakup akhlak, makanan dan pakaian;
Ketiga, Mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia mencakup mu’amalah, dan hukum-hukum persanksian.[9]
Inti penjelasan senada dipaparkan oleh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H), bahwa Islam adalah Din yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad mencakup akidah, syari’ah dan akhlak.[10] Pengertian syar’i (al-haqîqah al-syar’iyyah) dari Islam ini, memperjelas benarnya konsepsi (madlûl) di balik frasa ”Islam kaffah”, mencakup konsepsi Islam mengatur urusan bernegara.
Nah, kembali lagi kepada pembahasan lafal kâffat[an] sebagai hâl dari al-silm: artinya meskipun lafal al-silm berbentuk mufrad namun maknanya jamak, yakni mencakup keseluruhan ajaran Islam itu sendiri menyoal akidah dan hukum-hukum syari’ah. Sebagaimana para ulama tafsir merinci maknanya yakni: “جميع شرائع الإسلام” (keseluruhan syari’at-syari’at Islam). Oleh karena itu relevan jika ulama ahli tafsir dan balaghah sekelas al-Imam Syihabuddin al-Alusi menegaskan dalam Rûh al-Ma’âni:

والمراد من السلم جميع الشرائع بذكر الخاص وإرادة العام بناءاً على القول بأن الإسلام شريعة نبينا صلى الله عليه وسلم
Maksud dari kata al-silm mencakup seluruh syari’at Islam dengan penyebutan yang khusus namun maksudnya umum berdasarkan pendapat bahwa al-Islam adalah syari’at Nabi kita Muhammad .[11]

Lafal al-silm menurut Imam al-Alusi termasuk bentuk majaz, dzikr al-khâsh wa irâdat al-‘âm, yang disebut adalah lafal khas, yang dimaksudkan umum, maknanya jamî’ syarâi’i al-Islâm (yakni keseluruhan berbagai aturan Islam). Diperjelas oleh al-’Alim Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil yang menjelaskan:

فـ (السِّلْمِ) هنا الإسلام كما فسره ابن عباس -رضي الله عنه- والمقصود من الإسلام كله أي الإيمان به كله دون استثناء والعمل بشرعه دون غيره
“Maka kata al-silm dalam ayat ini adalah al-Islam, sebagaimana ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas r.a. dan maksudnya adalah keseluruhan ajaran Al-Islam yakni beriman terhadapnya tanpa pengecualiaan dan mengamalkan seluruh syari’atnya tanpa yang lainnya.”[12]
Yakni berakidah dengan akidah islamiyyah secara sempurna tanpa terkecuali dan mengamalkan syari’at islam tanpa syari’at lainnya. Artinya, pembahasan jamak dan mufrad di atas, sama seperti ulasan menyoal lafal ummat[un] yang diikuti dengan kalimat subjek jamak dalam QS. Âli Imrân [3]: 104 (dimana jika mengikuti logika prematur soal mufrad dan jamak ini, maka bisa berbahaya!), dalam firman-Nya:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {١٠٤}
Dan hendaklah ada di antara kalian golongan yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Âli Imrân [3]: 104)

Kata umat dalam ayat ini pun disandingkan dengan kata kerja plural (jamak). Salah satu murid Imam al-Sibawaih, Imam al-Akhfasy al-Awsath (w. 215 H) menuturkan bahwa kata ummat dalam ayat ini lafal tunggal yang maknanya jamak (أُمَّةٌ في اللفظ واحد وفي المعنى جمع), oleh karena itu Allah berfirman (يدعون إلى الخير) “mereka yang menyeru kepada al-khair”.[13] Dimana subjek dari kata yad’ûna adalah “mereka” (hum) menunjukkan subjek jamak, berjumlah lebih dari dua.
Hal itu dipahami berdasarkan pemahaman bahwa kata (أمة) berbentuk nakirah merupakan sifat dari kata (أمة)[14], sesuai kaidah yang disebutkan para ulama (bukan ma’rifah dengan alif lam (الأمة)), maka kalimat setelahnya yakni kalimat (يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ) dalam kaidah bahasa:

الجُمَلُ بَعْدَ النَّكِرَاتِ صِفَاتٌ
“Kalimat-kalimat setelah kata-kata benda nakirah itu sifat-sifatnya.”[15]

Poinnya, kata kerja yad’ûna (mereka yang menyeru), ya’murûna (mereka yang memerintahkan), yanhauna (mereka yang melarang), seluruhnya jamak, padahal lafal ummat[un], secara lafal tunggal (mufrad) namun jelas, maknanya jamak, yakni kelompok manusia. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa aktivitas kelompok dakwah tersebut merupakan ‘amal jamâ’i (kerja kolektif).



[1] Memang benar bahwa lafal al-silm adalah lafzh musytarak, yakni suatu lafal yang mengandung konotasi lebih dari satu. Namun kaidahnya jelas, lafal musytarak wajib ditentukan dan dipilih salah satu maknanya, dan makna al-silm dalam ayat ini jelas bermakna Islam, berdasarkan petunjuk-petunjuk (qara’in) lainnya.
[2] Muhammad bin Ahmad Syamsuddin al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Kairo: Dâr al-Kutub al-Mishriyyah, cet. II, 1384 H, juz III, hlm. 22.
[3] Jamaluddin Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali al-Jauzi, Zâd Al-Muyassar fî ‘Ilm al-Tafsîr, Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, cet. I, 1422 H, hlm. 174.
[4] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Ed: Ahmad Muhammad Syakir, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H/2000, juz IV, hlm. 253.
[5] Muhammad bin Ahmad Syamsuddin al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, juz III, hlm. 22.
[6] Ibid.
[7] Ahmad bin Ali Ibn Hajar Al-Asqalani, Fath al-Bâri: Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz III, hlm. 584.
[8] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm, Beirut: Dar al-Ummah, 1953, hlm. 34.
[9] Akidah mencakup perkara-perkara keimanan yang merupakan pekerjaan kalbu seperti iman kepada Allah dan hari akhir; peribadatan mencakup shalat, zakat, do’a, -; akhlak misalnya akhlak terpuji terhadap orang tua; makanan dan minuman misalnya hukum keharaman daging babi dan minum khamr; pakaian misalnya kewajiban mengenakan jilbab bagi muslimah; mu’amalah misalnya hukum-hukum terkait jual beli; persanksian misalnya sanksi hudud, jinayat dan lainnya. Itu semua mencakup IPOLEKSOSBUDHANKAM.
[10] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, juz I, hlm. 68.
[11] Syihabuddin Mahmud bin 'Abdullah al-Husaini al-Alusi, h al-Ma'âni fî Tafsîr al-Qur'ân wa al-Sab'u al-Matsâni, Beirut: Dâr al-Kutub al-'Ilmiyyah, cet. I, 1415 H, juz I, hlm. 492.
[12] ‘Atha bin Khalil Abu Al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr: Sûrat al-Baqarah, Beirut: Dâr Al-Ummah, cet. III, 1436 H/2010
[13] Abu al-Hasan Sa’id bin Mas’adah al-Akhfasy al-Awsath, Ma’ânî al-Qur’ân, Kairo: Maktabat al-Khanji, cet. I, 1411 H, juz. I, hlm. 228.
[14] Syihabuddin al-Alusi, h al-Ma’âni fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, juz II, hlm. 237; Abu Ja’far al-Nahhas Ahmad bin Muhammad al-Nahwi, I’râb al-Qur’ân, juz I, hlm. 174.
[15] Sebagaimana disebutkan doktor balaghah dari Al-Azhar Kairo, Dr. Hesham el-Shanshouri al-Mishri dalam diskusi empat mata selepas shalat isya’ pada bulan September 2015. Lihat pula: Abu Muhammad Jamaluddin bin Hisyam, Mughnî al-Labîb ‘an Kutub al-A’ârîb, Damaskus: Dâr al-Fikr, cet. VI, 1985, hlm. 560.

No comments :

Post a Comment