26 December 2019

Bantahan Atas Dalih "Membangun Relasi" Dibalik Ucapan Selamat Hari Raya Kufur


Oleh: Irfan Abu Naveed
[Dosen Fikih/Manthiq]

Pertama, Dasar pengharaman mengucapkan al-tahni'ah bi a'yad al-musyrikin/al-kafirin (ucapan selamat atas perayaan kufur non muslim), ditegaskan para ulama bukan karena wacana relasi antara muslim dan kuffar baik dari kalangan dzimmi, musta'min, mu'ahid. Tapi karena banyaknya nas al-Qur'an dan al-Sunnah yang mengharamkan ucapan kufur, taqrir atas kekufuran serta keharaman tasyabbuh bi al-kuffar, mencakup tasyabbih bil aqwal (lisan).

Justru harusnya sampai pada pemahaman, jika dahulu saja tatkala kafir dzimmi yang nb "dekat" dengan kehidupan kaum Muslim; tunduk kepada Khilafah hingga membayar jizyah, dimana hak-hak mereka dijamin oleh Khilafah mencakup kehormatan, darah dan hartanya saja; kaum Muslim, mencakup Rasulullah Saw, para Khulafa' Rasyidun, diteruskan oleh khalifah dan kaum Muslim setelahnya *tak pernah mengucapkan selamat atas perayaan mereka karena haram*, maka apalagi di zaman ini tatkala relasi kaum Muslim dengan kuffar lebih "panas", kaum Muslim pun menghadapi ghazw al-tabsyiri (kristenisasi);

Kedua, Adapun klaimnya bahwa "sekadar membawa fatwa ulama terdahulu, atau mengutip ijma' yang dihikayatkan sebagian ulama terdahulu, tidak terlalu signifikan dalam membangun wacana di era kontemporer ini"

Qultu: asumsi seperti ini jelas *tidak benar* dan *tidak bisa dibenarkan*, mengingat wacana keharaman al-tahni'ah bi a'yad al-kafirin ini lebih dari sekedar soal relasi! Ia merupakan hukum yang tetap, disepakati para ulama mu’tabar yang menjadi sanad dan sandaran keilmuan kaum Muslim dari generasi ke generasi. Dalil yang mendasarinya bukan soal relasi, tapi soal nas-nas al-Qur'an dan al-Sunnah yang berlaku, shalih li kulli zaman wa makan, tak pernah di-naskh, mencakup keharaman mengucapkan kalimat kufur, iqrar pada apa yang disebut al-zur (kebatilan), serta masuk dalam cakupan umum keharaman tegas al-tasyabbuh bi al-kuffar. Di sisi lain jelas, hukum Islam berlaku dimanapun dan kapanpun, shalih li kulli zaman wa makan.

Imamuna al-'Allamah Muhammad bin Idris al-Syafi’i (w. 204 H) -rahimahullah- menjelaskan:

وَمِمَّا يُوَافِقُ التَّنْزِيل وَالسُّنَّةَ وَيَعْقِلُهُ الْمُسْلِمُونَ، وَيَجْتَمِعُونَ عَلَيْهِ، أَنَّ الْحَلَالَ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ حَلَالٌ فِي بِلَادِ الْكُفْرِ وَالْحَرَامَ فِي بِلَادِ الْإِسْلَامِ حَرَامٌ فِي بِلَادِ الْكُفْرِ 
”Dan di antara hal yang sejalan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah dan pemikiran kaum muslimin dan mereka semua bersepakat atasnya bahwa yang halal di Dar al-Islam maka halal pula di negeri-negeri kufur (Dar al-Kufr), dan yang haram di negeri-negeri Islam (Dar al-Islam) maka haram pula di negeri-negeri kufur (Dar al-Kufr).”[1]

Konteks halal dan haram dalam maqâlah di atas maksudnya tak terbatas pada hukum benda semata, sebagaimana Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaili (w. 1436 H) pun menukil perkataan Imam al-Syafi’i di atas untuk menegaskan keharaman bertransaksi riba di zaman ini –sama seperti dahulu- dan ia mengatakan:

وهذا واضح في أن الدار أو المكان لا تغير صفة التحريم للأفعال
”Dan poin ini menjadi jelas bahwa suatu negara atau tempat tidak bisa mengubah sifat keharaman perbuatan-perbuatan.”[2]

Begitu pula soal keharaman al-tahni'ah ini, hukumnya tidak pernah berubah sebagaimana fakta (manath) dari perayaan kufur non muslim pun tetap sama, dulu dan sekarang tidak ada perubahan, keyakinan kufur kaum Nasrani misalnya yang melandasi Hari Natal pun tak pernah berubah, apanya yang berubah? Tidak ada.

Yang ada hanya sekedar wacananya saja yang diotak-atik kaum liberal, diframing, tak jauh dari alasan "toleransi" dan "demi relasi", wacana rusak kaum liberal ini justru semakin menunjukkan bahayanya isu deradikalisasi, anti radikalisme (baca: islamophobia), dimana model wacana liberalistik seperti ini tak pernah dikenal dan takkan pernah diakui dalam kerangka ushul fikih mu’tabar ahlus sunnah, Allah al-Musta'an.

Ketiga, Wacana "toleransi", "membangun relasi" semisal ini hingga melibas batas-batas kemungkaran, dan mematikan adanya upaya dakwah kepada kaum non muslim hanya karena menjaga hubungan relasi, justru lebih dekat kepada apa yang ditegaskan para ulama sebagai keharaman sebagai perbuatan al-mudâhin, yakni mereka yang diam dari kemungkaran, tidak mendakwahi pihak lain karena alasan menjaga relasi dan "toleransi". Dengan kata lain, menjadi model dari aliran anti radikalisme (baca: aliran garis lembek) yang tidak punya prinsip dalam beragama.

Al-‘Allamah al-Sayyid Abdullah Ba Alwi (w. 1272 H) dalam kitab Sullam al-Taufîq menggolongkan perbuatan orang al-mudâhin ini sebagai kemaksiatan, diikuti dengan penjelasan Al-‘Allamah al-Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1314 H):

(ولا مداهنًا) قال صاحب التعريفات: المداهنة هي: أن ترى منكرًا وتقدر على دفعه ولا تدفعه حفظًا لجانب مرتكبه أي بكونه صديقك أو حبيبك، أو جانب غيره، أو لقلة مبالاة في الدين.
(Janganlah menjadi mudahin) penyusun kamus al-Ta'rîfât menjelaskan: al-mudâhanah yakni: engkau menyaksikan kemungkaran dan engkau mampu untuk menghalaunya, namun tidak engkau lakukan karena alasan menjaga relasi dengan pihak yang erat relasinya, yakni karena kedudukannya sebagai kawanmu atau kekasihmu, atau karena kedudukan lainnya, atau bisa juga karena minimnya perhatian pada ajaran din (Dinul Islam).[3]

Renungan

Kalaulah tahni'ah itu hanya soal wacana "relasi", maka logikanya, kafir dzimmi di era Rasulullah dan khulafa rasyidun misalnya, seharusnya lebih layak mendapatkan ucapan tahni'ah tersebut, yang kenyataannya tidak, itu menandakan hukumnya haram, bukan sekedar relasi, sebagaimana ucapan selamat pun tak pernah diucapkan kepada kafir mu'ahid, musta'min dan harbi. Apa ada jenis kafir selain itu semua? Dari mulai kafir yang tipenya musuh hingga tunduk ada!

Al-Hafizh al-Suyuthi menegaskan bahwa tiada seorang pun dari generasi al-salaf al-shâlih yang ikut serta dalam perayaan agama kufur:

واعلم أنه لم يكن على عهد السلف السابقين من المسلمين من يشاركهم في شيء من ذلك. فالمؤمن حقاً هو السالك طريق السلف الصالحين المقتفي لآثار نبيه سيد المرسلين (، المقتفي بمن أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين.
Dan ketahuilah bahwa tidak pernah ada seorang pun pada masa generasi al-salaf terdahulu dari kaum muslimin yang ikut serta dalam hal apa pun dari perayaan mereka, maka seorang mukmin yang benar (imannya) adalah seseorang yang menempuh jalan al-salaf al-shâlih yang mengikuti jejak sunnah nabi-Nya, penghulu para rasul (Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam-).[4]

Jika di masa Rasulullah saja yang kuat imannya, kaum Muslim dijauhkan dari hal-hal yang bisa merusak akidah ini, maka kebutuhan menjaga akidah umat di zaman ini lebih besar lagi, lantas mengapa lebih tasahul dalam wilayah akidah seperti ini?!

Catatan Kaki:
[1] Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Ed: Rafa’at Fauzi ’Abdul Muthallib, Dâr al-Wafâ’ al-Manshurah, cet. I, 2001, juz IX, hlm. 237.
[2] Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, Damaskus: Daar al-Fikr, cet. IV, juz VIII, hlm. 5978.
[3] Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani al-Syafi’i, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq Syarh Sullam al-Taufîq, Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cet. I, 1431 H.
[4] Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 125.

No comments :

Post a comment