27 December 2019

Kritik Atas Halusinasi “Tekstual-Kontekstual” Ala Kaum Liberal


Oleh: Irfan Abu Naveed
[Dosen Fikih/Manthiq, Peneliti Kajian Balaghah al-Qur'an & Hadits Nabawi]

Membaca tulisan berjudul “Banalitas Di Sekitar Radikalisme”, yang secara terang-terangan membawa pembacanya pada wacana: membenarkan halusinasi soal “kontekstual”, sekaligus mengkritisi kaum radikal yang lazim mereka stempel buruk sebagai kaum “tekstual”, sebagai antitesis dari kaum kontekstual (mereka), maka perlu saya kritisi dan koreksi sebagai berikut:

Mereka yang berhalusinasi soal tekstual dan kontekstual itu sedang mengigau, seakan-akan teks yang telah turun selama belasan abad, nas al-Qur'an dan al-Sunnah itu, harus tunduk pada halusinasi mereka soal "kontekstual", hingga hukum syari'at yang mapan pun harus dikalahkan oleh produk halusinasi mereka.

Nas yang mengharamkan wanita menjadi pemimpin dalam hadits "lan yufliha qawmun" misalnya, harus tunduk pada halusinasi mereka soal "kontekstual", seakan-akan wanita dulu dan sekarang berbeda, seakan-akan soal paradigma kekuasaan itu sesuatu yang berubah. Kalau kita tanya, mereka bisa jawab?! "Apa bedanya? Hingga harus dipaksakan lahirnya kesimpulan hukum yang jauh dari teks dan ilmu tentang teks?!

Begitu pula soal paradigma Islam wajibnya satu kepemimpinan, seakan-akan mereka buta realita: Satu kepemimpinan itu pada prinsipnya telah diakui sebagai realitas yang tak pernah bisa dipungkiri, Jokowi misalnya, kenapa orang Aceh dan orang Irian mau disatukan dalam satu kepemimpinan orang Jawa yang tinggal di Pulau Jawa?! Padahal kepemimpinan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallama dahulu di era pertama kepemimpinan Islam, berawal dari kepemimpinan di Madinah, yang luasnya tak lebih luas dari bumi Nusantara, kalau begitu, lantas mereka terima secara aklamasi kepemimpinan tunggal model ruwaibidhah?! Sebagaimana mereka tak bisa menjangkau realitas adanya kepemimpinan ideologi yang dipaksakan oleh AS CS dan China CS?! Bukankah hegemoni ideologis mereka ke berbagai belahan dunia pada prinsipnya memaksakan kepemimpinan tunggal ideologis?! Kenapa ketika Islam menetapkan kewajiban satu kepemimpinan dikatakan utopis?! Kira-kira siapa yang sangat awam memahami realita dan paradigma?!

Ini persis seperti ungkapan:

أجهل الناس من ترك يقينه لظن ما عند الناس
"Sebodoh-bodohnya manusia adalah siapa saja yang meninggalkan apa-apa yang (meyakinkan) ia yakini, kepada prasangka (halusinasi) apa yang ada di sisi orang-orang lainnya"

Seakan-akan Allah dan Rasul-Nya, tak bisa menjangkau hakikat manusia dan hal-hal yang berkaitan dengannya melintasi perputaran waktu dan tempat, dibatasi oleh apa yang mereka klaim sebagai "konteks", pokoknya begitu, tak jelas teorinya, tak jelas qawa'id dan dhawabith-nya, lalu mereka berhalusinasi seakan-akan mereka orang yang paling cerdas bebas mengotak atik teks tanpa dasar keilmuan.

Teori ushul fikih mapan menyoal manthuq dan mafhum misalnya, sama sekali tak sedang mendukung halusinasi mereka soal "konteks", bagaimana bisa?! Lah, mafhum saja tak pernah terlepas dari petunjuk teks itu sendiri. Dilalat al-iltizam misalnya, memangnya petunjuk kelaziman tersebut bisa disimpulkan terlepas dan jauh dari teks itu sendiri?! Begitu pula teori "sabab nuzul/wurud" dalam kerangka 'ibrah hukum, apakah sebab itu bisa disimpulkan bebas tanpa petunjuk teks (riwayat)?! Mau masuk ke teori balaghah, li kulli maqam[in] maqal[un]?! Lah, teori ini pun berputar pada ilmu mendudukkan teks itu sendiri, hingga teks itu tepat diungkapkan pada setiap konteksnya. Para pakar bahasa arab balaghah mana yang meragukan keunggulan balaghah al-Qur'an? Dimana teks al-Qur'an hadir melampaui sekat-sekat tempat dan lorong-lorong waktu, hingga pesan-pesan agung yang disampaikan memuat akidah dan syari'at, bisa dipahami oleh manusia baik arab maupun ajam, itu pun sama sekali tak berbicara tentang halusinasi "kontekstual".

Tidak itu semua, ternyata andalannya adalah hermeneutika, lagi-lagi hermeneutika yang juga didasarkan pada halusinasi soal sosio historis, maka rusak dan kerusakannya tak bisa ditopang lagi, sesuai dengan kaidah shahihah yang disebutkan para ulama:

كل ما بني على باطل فهو باطل
“Segala hal yang dibangun di atas asas yang batil maka ia pun batil.”[1]

كل ما بني على فاسد فهو فاسد
“Segala hal yang dibangun di atas asas yang rusak maka ia pun rusak.”

Saya bayangkan, berbagai teori mapan yang sudah diwariskan umat berabad-abad lamanya (talaqqat al-ummah bil qubul), terkait realita "teks dan konteks", baik dalam ilmu manthiq-ushul fikih maupun ilmu bahasa arab-balaghah, seluruhnya harus dikalahkan oleh "zhann bid'ah" "kontekstual", sehingga hukum yang mapan bisa diotak atik hanya berbekal halusinasi sepihak dari "mubtadi'", yang bahkan tak jelas kepakarannya di bidang ijtihad. Tapi kita dapati ulah mereka, kelewat berani mengotak atik hukum fikih tanpa dasar keilmuan yang mapan!

[1] Prof. Dr. Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh al-Islâmi, Damaskus: Dar al-Khayr, cet. II, 1427 H, juz I, hlm. 264; Abdul Muhsin bin Abdullah al-Zamil, Syarh al-Qawâ’id al-Sa’diyyah, Riyadh: Dar Athlas al-Khadra’, cet. I, 1422 H, hlm. 343

26 December 2019

Bantahan Atas Dalih "Membangun Relasi" Dibalik Ucapan Selamat Hari Raya Kufur


Oleh: Irfan Abu Naveed
[Dosen Fikih/Manthiq]

Pertama, Dasar pengharaman mengucapkan al-tahni'ah bi a'yad al-musyrikin/al-kafirin (ucapan selamat atas perayaan kufur non muslim), ditegaskan para ulama bukan karena wacana relasi antara muslim dan kuffar baik dari kalangan dzimmi, musta'min, mu'ahid. Tapi karena banyaknya nas al-Qur'an dan al-Sunnah yang mengharamkan ucapan kufur, taqrir atas kekufuran serta keharaman tasyabbuh bi al-kuffar, mencakup tasyabbih bil aqwal (lisan).

Justru harusnya sampai pada pemahaman, jika dahulu saja tatkala kafir dzimmi yang nb "dekat" dengan kehidupan kaum Muslim; tunduk kepada Khilafah hingga membayar jizyah, dimana hak-hak mereka dijamin oleh Khilafah mencakup kehormatan, darah dan hartanya saja; kaum Muslim, mencakup Rasulullah Saw, para Khulafa' Rasyidun, diteruskan oleh khalifah dan kaum Muslim setelahnya *tak pernah mengucapkan selamat atas perayaan mereka karena haram*, maka apalagi di zaman ini tatkala relasi kaum Muslim dengan kuffar lebih "panas", kaum Muslim pun menghadapi ghazw al-tabsyiri (kristenisasi);

Kedua, Adapun klaimnya bahwa "sekadar membawa fatwa ulama terdahulu, atau mengutip ijma' yang dihikayatkan sebagian ulama terdahulu, tidak terlalu signifikan dalam membangun wacana di era kontemporer ini"

Qultu: asumsi seperti ini jelas *tidak benar* dan *tidak bisa dibenarkan*, mengingat wacana keharaman al-tahni'ah bi a'yad al-kafirin ini lebih dari sekedar soal relasi! Ia merupakan hukum yang tetap, disepakati para ulama mu’tabar yang menjadi sanad dan sandaran keilmuan kaum Muslim dari generasi ke generasi. Dalil yang mendasarinya bukan soal relasi, tapi soal nas-nas al-Qur'an dan al-Sunnah yang berlaku, shalih li kulli zaman wa makan, tak pernah di-naskh, mencakup keharaman mengucapkan kalimat kufur, iqrar pada apa yang disebut al-zur (kebatilan), serta masuk dalam cakupan umum keharaman tegas al-tasyabbuh bi al-kuffar. Di sisi lain jelas, hukum Islam berlaku dimanapun dan kapanpun, shalih li kulli zaman wa makan.

Imamuna al-'Allamah Muhammad bin Idris al-Syafi’i (w. 204 H) -rahimahullah- menjelaskan:

وَمِمَّا يُوَافِقُ التَّنْزِيل وَالسُّنَّةَ وَيَعْقِلُهُ الْمُسْلِمُونَ، وَيَجْتَمِعُونَ عَلَيْهِ، أَنَّ الْحَلَالَ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ حَلَالٌ فِي بِلَادِ الْكُفْرِ وَالْحَرَامَ فِي بِلَادِ الْإِسْلَامِ حَرَامٌ فِي بِلَادِ الْكُفْرِ 
”Dan di antara hal yang sejalan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah dan pemikiran kaum muslimin dan mereka semua bersepakat atasnya bahwa yang halal di Dar al-Islam maka halal pula di negeri-negeri kufur (Dar al-Kufr), dan yang haram di negeri-negeri Islam (Dar al-Islam) maka haram pula di negeri-negeri kufur (Dar al-Kufr).”[1]

Konteks halal dan haram dalam maqâlah di atas maksudnya tak terbatas pada hukum benda semata, sebagaimana Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaili (w. 1436 H) pun menukil perkataan Imam al-Syafi’i di atas untuk menegaskan keharaman bertransaksi riba di zaman ini –sama seperti dahulu- dan ia mengatakan:

وهذا واضح في أن الدار أو المكان لا تغير صفة التحريم للأفعال
”Dan poin ini menjadi jelas bahwa suatu negara atau tempat tidak bisa mengubah sifat keharaman perbuatan-perbuatan.”[2]

Begitu pula soal keharaman al-tahni'ah ini, hukumnya tidak pernah berubah sebagaimana fakta (manath) dari perayaan kufur non muslim pun tetap sama, dulu dan sekarang tidak ada perubahan, keyakinan kufur kaum Nasrani misalnya yang melandasi Hari Natal pun tak pernah berubah, apanya yang berubah? Tidak ada.

Yang ada hanya sekedar wacananya saja yang diotak-atik kaum liberal, diframing, tak jauh dari alasan "toleransi" dan "demi relasi", wacana rusak kaum liberal ini justru semakin menunjukkan bahayanya isu deradikalisasi, anti radikalisme (baca: islamophobia), dimana model wacana liberalistik seperti ini tak pernah dikenal dan takkan pernah diakui dalam kerangka ushul fikih mu’tabar ahlus sunnah, Allah al-Musta'an.

Ketiga, Wacana "toleransi", "membangun relasi" semisal ini hingga melibas batas-batas kemungkaran, dan mematikan adanya upaya dakwah kepada kaum non muslim hanya karena menjaga hubungan relasi, justru lebih dekat kepada apa yang ditegaskan para ulama sebagai keharaman sebagai perbuatan al-mudâhin, yakni mereka yang diam dari kemungkaran, tidak mendakwahi pihak lain karena alasan menjaga relasi dan "toleransi". Dengan kata lain, menjadi model dari aliran anti radikalisme (baca: aliran garis lembek) yang tidak punya prinsip dalam beragama.

Al-‘Allamah al-Sayyid Abdullah Ba Alwi (w. 1272 H) dalam kitab Sullam al-Taufîq menggolongkan perbuatan orang al-mudâhin ini sebagai kemaksiatan, diikuti dengan penjelasan Al-‘Allamah al-Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1314 H):

(ولا مداهنًا) قال صاحب التعريفات: المداهنة هي: أن ترى منكرًا وتقدر على دفعه ولا تدفعه حفظًا لجانب مرتكبه أي بكونه صديقك أو حبيبك، أو جانب غيره، أو لقلة مبالاة في الدين.
(Janganlah menjadi mudahin) penyusun kamus al-Ta'rîfât menjelaskan: al-mudâhanah yakni: engkau menyaksikan kemungkaran dan engkau mampu untuk menghalaunya, namun tidak engkau lakukan karena alasan menjaga relasi dengan pihak yang erat relasinya, yakni karena kedudukannya sebagai kawanmu atau kekasihmu, atau karena kedudukan lainnya, atau bisa juga karena minimnya perhatian pada ajaran din (Dinul Islam).[3]

Renungan

Kalaulah tahni'ah itu hanya soal wacana "relasi", maka logikanya, kafir dzimmi di era Rasulullah dan khulafa rasyidun misalnya, seharusnya lebih layak mendapatkan ucapan tahni'ah tersebut, yang kenyataannya tidak, itu menandakan hukumnya haram, bukan sekedar relasi, sebagaimana ucapan selamat pun tak pernah diucapkan kepada kafir mu'ahid, musta'min dan harbi. Apa ada jenis kafir selain itu semua? Dari mulai kafir yang tipenya musuh hingga tunduk ada!

Al-Hafizh al-Suyuthi menegaskan bahwa tiada seorang pun dari generasi al-salaf al-shâlih yang ikut serta dalam perayaan agama kufur:

واعلم أنه لم يكن على عهد السلف السابقين من المسلمين من يشاركهم في شيء من ذلك. فالمؤمن حقاً هو السالك طريق السلف الصالحين المقتفي لآثار نبيه سيد المرسلين (، المقتفي بمن أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين.
Dan ketahuilah bahwa tidak pernah ada seorang pun pada masa generasi al-salaf terdahulu dari kaum muslimin yang ikut serta dalam hal apa pun dari perayaan mereka, maka seorang mukmin yang benar (imannya) adalah seseorang yang menempuh jalan al-salaf al-shâlih yang mengikuti jejak sunnah nabi-Nya, penghulu para rasul (Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam-).[4]

Jika di masa Rasulullah saja yang kuat imannya, kaum Muslim dijauhkan dari hal-hal yang bisa merusak akidah ini, maka kebutuhan menjaga akidah umat di zaman ini lebih besar lagi, lantas mengapa lebih tasahul dalam wilayah akidah seperti ini?!

Catatan Kaki:
[1] Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Ed: Rafa’at Fauzi ’Abdul Muthallib, Dâr al-Wafâ’ al-Manshurah, cet. I, 2001, juz IX, hlm. 237.
[2] Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, Damaskus: Daar al-Fikr, cet. IV, juz VIII, hlm. 5978.
[3] Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani al-Syafi’i, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq Syarh Sullam al-Taufîq, Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cet. I, 1431 H.
[4] Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 125.

25 December 2019

Hujjah Syar'iyyah Haramnya Mengucapkan Selamat Atas Perayaan Kufur



Oleh: Irfan Abu Naveed

Ucapan selamat, dalam bahasa arab dikenal dengan istilah al-tahni’ah. Dalam ’urf (tradisi), ucapan selamat jelas merupakan ungkapan do’a, keridhaan, persetujuan serta simpati atas apa yang menjadi objek dari ucapan selamat tersebut. Ini merupakan perkara yang ma’lûm, sudah diketahui dan dipahami secara umum. 

Sebagaimana keterangan makna kata selamat dalam KBBI:


se.la.mat 1 a terhindar dr bencana; aman sentosa; sejahtera; tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan, dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal: ~ dr bahaya maut; biar lambat asal ~; 2 n doa (ucapan, pernyataan, dsb) yg mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dsb): doa ~; ketika ia kawin banyak handai tolannya yg memberi ucapan ~ kepadanya; 3 n pemberian salam mudah-mudahan dl keadaan baik (sejahtera, sehat dan afiat, dsb).

Sehingga bisa disimpulkan bahwa secara lafzhiyyah, dalam ilmu manthiq, ia mengandung dilalah lafzhiyyah thabi'iyyah, yakni ucapan selamat atas perayaan kufur, jelas melekat padanya sifat persetujuan, do'a, dan suka cita, mengingat kalimat ini bermakna do'a dan persetujuan, serta wujud ikut serta dalam kegembiraan. Jika ada yang mengklaim bahwa tradisi ucapan selamat dulu dan saat ini berbeda, maka itu asumsi berbahaya tanpa dasar. Mengingat kamus-kamus arab, baik kamus yang disusun pada periode berabad-abad lalu, maupun kamus arab yang ditulis ulama kontemporer, menegaskan kebakuan makna hakiki di balik ucapan selamat, sebagai berikut:
Ulama kenamaan kontemporer, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) dalam kamus bahasa ahli fikihnya, Mu’jam Lughat al-Fuqaha’ bahkan menegaskan:

التهنئة: مص هنَّأَ، المباركة للشخص بخير أصابه، خلاف التعزية. مواجهة من أصابه خير بالسرور مع الدعاء له بالاستمتاع بهذا الخير.
Al-Tahni’ah: adalah mashdar dari kata kerja hanna’a, yakni do’a keberkahan untuk individu dengan kebaikan yang ia raih, kebalikan dari al-ta’ziyyah (duka cita), ucapan ini ditujukan kepada seseorang yang meraih kebaikan secara simpatik disertai do’a untuknya dengan ikut mensyukuri kebaikan tersebut.[1]

            Hakikat al-tani’ah sebagai kebalikan dari al-ta’ziyyah (duka cita) disebutkan dalam kamus-kamus arab semisal Al-Mukhtaar yang disusun oleh Zainuddin al-Razi (w. 666 H)[2], Taaj al-‘Aruus yang disusun oleh Murtadha al-Zabidi (w. 1205 H).[3]
Lantas, bagaimana mungkin bisa disamarkan dengan alasan prematur ia tidak mengandung do’a dan persetujuan?! Imam Syamsuddin al-Ba’li (w. 709 H) menjelaskan:

يقال: هنئت بكذا: إذا فرحت به، وهنأته به فرحته، وهنئ به، فرح
Dikatakan: engkau telah mengucapkan selamat atas sesuatu jika engkau merasa bahagia atasnya (idzaa farihta bihi), ucapan selamat atasnya yakni berbahagia.[4]

Dimana kamus ini pun menegaskan al-tahni’ah sebagai kebalikan dari al-ta’ziyyah.

Dengan kejelasan hakikat dari ucapan selamat seperti ini, pertanyaannya adalah, pada sisi mana ucapan selamat (al-tahni'ah) atas perayaan agama kufur merupakan hal yang diperbolehkan? Pada saat yang sama ia mengandung persetujuan, suka cita, dan do'a atas perbuatan pelakunya?! Ucapan selamat atas perayaan kufur ini, jelas tak bisa disamarkan dengan klaim adanya niat yang benar, bagaimana bisa benar dan dibenarkan? Padahal ucapan selamat (al-tahni'ah) tersebut mengandung iqrar, ridha dan do'a kebaikan atas perayaan kufur.
Di sisi lain, mendudukkan makna di balik ucapan selamat atau al-tahni’ah itu termasuk persoalan berbahasa yang sudah mapan, dipahami dan diakui, bukan sekedar asumsi tak berdasar, termasuk kesepakatan manusia yang sudah mapan, tak bisa sembarang diotak atik sekehendaknya, sama saja apakah makna haqiqah lughawiyyah, 'urfiyyah maupun syar'iyyah. Hal ini meniscayakan batilnya klaim mereka yang mengaburkan kebatilan di balik ucapan selamat tersebut, sesuai dengan kaidah shahihah yang disebutkan para ulama:

كل ما بني على باطل فهو باطل
“Segala hal yang dibangun di atas asas yang batil maka ia pun batil.”[5]

Ucapan selamat, jelas termasuk ucapan khas yang dilandasi keyakinan mereka pada kebenaran dan kebaikan perayaan yang hakikatnya batil dan kufur, sehingga menjadi kebiasaan khusus di antara mereka, semisal Kaum Nasrani yang saling mengucapkan selamat dan mengirimkan kartu selamat dalam perayaan natalnya. Ini merupakan kebiasaan mereka. Maka ucapan selamat atas perayaan agama kufur merupakan perkataan yang bertentangan dengan larangan mengucapkan perkataan yang mengandung kemungkaran, ini termasuk dari apa yang Allah ’Azza wa Jalla firmankan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ {١٠٤}
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengatakan ”raa’inaa” akan tetapi katakanlah ”unzhurnaa” dan dengarkanlah, dan bagi orang-orang kafir itu ’adzab yang amat pedih.” (QS. Al-Baqarah [2]: 104)

Jika kata ra’inaa saja yang secara bahasa boleh bisa jadi diharamkan secara tegas karena disimpangkan secara ’urfi (tradisi) mengandung kebatilan, maka bagaimana jadinya dengan ucapan yang mengandung petunjuk keridhaan atas perayaan batil?
Al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 104 di atas menjelaskan: “Maksudnya: Allah Ta’âlâ melarang orang-orang beriman menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan dan perbuatan mereka.”[6] Artinya, ayat ini sudah cukup menjadi dalil keharaman menyerupai orang-orang kafir terutama dalam perkataan mereka. Ini menjadi salah satu dasar keharaman mengucapkan “selamat natal” atau mengucapkan selamat kepada perayaan-perayaan agama kufur lainnya, termasuk salam lintas agama, dimana salam masing-masing agama selain Islam tersebut mengandung puji-pujian pada tuhan-tuhan sesembahan mereka.
Al-Hafizh Ibn Katsir pun menukil dalil hadits dari Ibn ’Umar –radhiyallâhu ’anhu--, ia berkata bahwa Rasulullah –shallallahu ’alayhi wa sallam- bersabda:

«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah)

Setelah menukil dalil hadits di atas, al-Hafizh Ibn Katsir pun merinci:

Di dalam hadits ini, terdapat larangan, ancaman dan peringatan keras terhadap sikap menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian (khas-pen.), ritual, ibadah mereka, dan perkara-perkara lainnya yang tidak disyari’atkan bagi kita dan tak sejalan dengan kita.[7]

Para ulama mu’tabar lainnya pun menjadikan hadits ini sebagai dalil larangan menyerupai orang kafir baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan jika ada yang mengklaim bahwa keikutsertaan dalam perayaan tahun baru tersebut tidak bermaksud menyerupai kebatilan mereka, maka al-Hafizh al-Suyuthi setelah menggunakan dalil hadits ini menegaskan bahwa perbuatan menyerupai orang-orang kafir itu haram meskipun tidak dimaksudkan seperti itu.[8]

Dalam hadits Rasulullah Saw pun disebutkan:

كُلُّ كَلَامِ ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ لَا لَهُ إِلَّا أَمْرٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ نَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ أَوْ ذِكْرُ اللَّهِ
Setiap perkataan anak cucu Adam itu membahayakannya, tidak berguna baginya kecuali perkataan menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran, atau berdzikir kepada Allah." (HR. al-Tirmidzi & Ibn Majah)

Al-Hafizh Ibn Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali (w. 751 H) menukilkan adanya kesepakatan para ulama Islam atas keharaman mengucapkan selamat pada perayaan non muslim.

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ
Adapun mengucapkan selamat terhadap simbol-simbol kekafiran yang merupakan ciri kekhususan bagi mereka, maka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama, semisal seseorang yang mengucapkan selamat atas hari raya orang-orang kafir dan puasa mereka, misalnya ia mengatakan: “’id[un] mubaarak[un] ’alayka” (semoga Hari Raya ini menjadi berkah bagimu), atau “tahna’u bi haadza al-’iid” (selamat berbahagia dengan Hari Raya ini), dan yang semisalnya. Maka dengan sebab ucapannya ini, andai ia selamat dari kekafiran maka ia tidak akan lepas dari perbuatan yang haram.[9]

Nukilan ini, tentu bukan nukilan tanpa dasar, mengingat al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah sendiri dikenal sebagai ulama kenamaan dari kalangan fuqaha’ hanabilah, sekaligus huffazh al-hadits yang dikenal dengan kekuatan hafalan, ketelitian serta sifat amanahnya. Informasi ini sejalan dengan penjelasan dari pendapat para ulama lintas madzhab dalam persoalan terkait.
Hingga disebutkan dalam kitab Ensiklopedi Ijma’, berjudul Mawsû’at al-Ijmâ’ fî al-Fiqh al-Islâmi, yang disusun oleh para pakar fikih, bahwa keharaman mengikuti perayaan Hari Raya kaum Kuffar, berikut keharaman mengucapkan selamat atas perayaan mereka, ditegaskan sebagai kesepakatan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah.[10]
Dari kalangan Hanafiyyah, bisa dirujuk dalam kitab Tabyîn al-Haqâ’iq (VI/229), Radd al-Mukhtâr (VI/755); dari kalangan Malikiyyah bisa dirujuk dalam kitab Mawâhib al-Jalîl (VI/290); dari kalangan Syafi’iyyah bisa dirujuk dalam kitab Tuhfat al-Muhtâj (IX/182); dari kalangan Hanabilah bisa dirujuk dalam kitab Kasysyâf al-Qinâ’ (III/132) dan Al-Furû’ (V/309).
Jika timbul pertanyaan, lantas bagaimana dengan ucapan selamat natal dalam bentuk kartu ucapan selamat?
Jawab: Hukumnya tergantung dari perkataan apa yang tertulis di dalam kartu tersebut, jika didalamnya termaktub ucapan selamat natal, sehingga disebut kartu ucapan selamat natal, maka hukumnya jelas haram, bertolak dari kaidah yang ditegaskan oleh al-‘Allamah al-Sayyid Abdullah Ba Alwi (w. 1272 H) dalam kitab Sullam al-Taufiq:

كتابة ما يحرم النطق به
Penulisan kata yang diharamkan untuk diucapkan

Dimana beliau menggolongkan penulisan ini termasuk kemaksiatan kedua tangan (ma’ashi al-yadayn), yang jelas-jelas diharamkan, beliau satu kelompokkan dengan keharaman mencurangi timbangan, mencuri, membunuh, memukul orang lain tanpa alasan yang benar, mengambil suap, membakar binatang, dan yang semisalnya.
Al-‘Allamah al-Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1314 H) menjelaskan maqalah di atas menegaskan bahwa keharaman tersebut berlaku karena al-qalam (pena/tulisan) merupakan salah satu bentuk “lisan” (alat pengungkapan maksud) dari seseorang:

لأن القلم أحد اللسانين للإنسان ولأن الكتابة به تدل على عبارة اللسان
Karena al-qalam (pena/tulisan) merupakan salah satu lisan bagi manusia, dan karena penulisannya menunjukkan ungkapan lisan.[11]

Maka terang benderang keharaman mengucapkan selamat natal, tak hanya terbatas pada lisan semata, namun mencakup keharaman tulisan semisal dalam bentuk kartu ucapan. Dalam kamus Bahasa Arab Kontemporer, jenis kartu ucapan selamat seperti ini diistilahkan bithaaqah mu’aayidah:

بِطاقَة معايدة: بطاقة تحمل عبارات التهنئة.
Bithâqah mu’âyidah: yakni kartu yang mengandung ungkapan-ungkapan selamat.[12]

Dan hukumnya, tergantung tulisan yang terkandung dalam kartu tersebut, waLlâhu a’lam bi al-shawâb.




[1] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, hlm. 149.
[2] Zainuddin Abu Abdullah al-Razi, Mukhtaar al-Shihaah, Beirut: Al-Maktabah al-’Ashriyyah, cet. V, 1420 H, hlm. 328.
[3] Muhammad bin Muhammad Murtadha al-Zabidi, Taaj al-’Aruus Min Jawaahir al-Qaamuus, Dar al-Hidayah, hlm. 512.
[4] Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad al-Ba’li, Al-Muthli’ ’alâ Alfâzh al-Muqni’, Maktabat al-Suwadi, cet. I, 1423 H, hlm. 421.
[5] Prof. Dr. Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh al-Islâmi, Damaskus: Dar al-Khayr, cet. II, 1427 H, juz I, hlm. 264; Abdul Muhsin bin Abdullah al-Zamil, Syarh al-Qawâ’id al-Sa’diyyah, Riyadh: Dar Athlas al-Khadra’, cet. I, 1422 H, hlm. 343.
[6] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz I, hlm. 257.
[7] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsiir al-Qur’ân al-’Azhiim, juz I, hlm. 257.
[8] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 123.
[9] Muhammad bin Abu Bakar Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Ahkâm Ahl al-Dzimmah, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. II, 1423 H, 
[10] Tim Ulama, Mawsû’at al-Ijmâ’ fî al-Fiqh al-Islâmi, Riyadh: KSA, cet. I, 1433 H, juz VI, hlm. 418.
[11] Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani al-Syafi’i, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq Syarh Sullam al-Taufîq, Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cet. I, 1431 H, hlm. 132.
[12] Dr. Ahmad Mukhtar Abdul Hamid ‘Umar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’aashirah, ‘Alam al-Kutub, cet. I, 1429 H,

19 December 2019

Diksi “Islam Kaffah” Apa yang Jadi Masalah? [Koreksi Atas Pemahaman Berbahaya] [Bag. II]



1.      Memahami Makna & Kedudukan Kata Kâffat[an] dalam Tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 208: Hâl Min al-Silm
Lalu apa makna kâffah (كافّة) dalam ayat yang mulia ini? Dan bagaimana kedudukannya dalam perspektif i’rab al-Qur’an?
Jawab: Lafal ini berkonotasi keseluruhan (جميعًا). Ibn ‘Abbas, Qatadah, Al-Dhahhak dan Mujahid sebagaimana penuturan Al-Hafizh Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H) menegaskan ia bermakna jamî’an (جميعًا) yakni keseluruhan. Imam al-Alusi (w. 1270 H) mengatakan:

وكافة في الأصل صفة من كف بمعنى منع ، استعمل بمعنى الجملة بعلاقة أنها مانعة للأجزاء عن التفرق والتاء فيه للتأنيث أو النقل من الوصفية إلى الإسمية كعامة وخاصة وقاطبة ، أو للمبالغة
Dan kata kâffah pada asalnya adalah sifat dari kata kerja kaffa yang artinya menghalangi, penggunaan dengan makna kalimat ini dengan keterkaitan bahwa ia adalah yang menghalangi untuk dibagi-bagi dalam pembagian, dan tambahan huruf tâ’ di dalamnya untuk ta’nîts (mu’annats) atau mengubahnya dari kata sifat menjadi kata benda seperti kata ‘âmat[un], khâshat[un] dan qâthibat[un], atau sebagai superlatif (penguatan).[1]

Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) menjelaskan:

و (كَافَّةً) معناه جميعاً ، فهو نصب على الحال من السِّلم أو من ضمير المؤمنين؛ وهو مشتق من قولهم : كففت أي منعت ، أي لا يمتنع منكم أحد من الدخول في الإسلام
Dan kata kâffah artinya adalah keseluruhan, ia dibaca nashab sebagai kata keterangan dari kata al-silm atau dari kata ganti kata al-mu’minîn; yakni turunan dari perkataan mereka: كففت yakni terhalang, yakni tidak boleh ada seorangpun di antara kalian yang terhalang dari upaya memasuki Al-Islam.[2]

Bahkan ulama mutafannin, pakar tafsir dan balaghah, al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) dan al-Hafizh Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H) sendiri, dalam tafsir mereka, Tafsîr al-Jalâlayn (dimana Sdr. Agus mengumumkan dalam tulisannya telah mengaji kitab tersebut) justru menegaskan:

{يأيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم} بفتح السين وكسرها الإسلام {كافة} حال من السلم أي في جميع شرائعه
(Yaa ayyuhalladziina aamanuu udkhuluu fi al-silm) dengan huruf siin yang fathah dan/atau kasrah bermakna al-Islâm (kâffat[an]) merupakan hâl (keterangan) dari al-silm, yakni jamî’ syarâi’ihi (seluruh syari’at-syari’atnya).[3]

Lebih lengkapnya, Al-’Alim al-Syaikh ’Atha bin Khalil menjelaskan:

 (كافة) حال من (السلم) أي السلم كله بمعنى الإسلام كله. وأصل (كافّة) من اسم الفاعل (كافّ) بمعنى مانع من كفَّ أي منع. فقولك (هذا الشي كافّ) أي مانع لأجزائه من التفرّق، فكأنك قلت مجازًا (هذا الشيء جميعه أو كله) بعلاقة السببية
Kâffah adalah keterangan dari lafazh al-silm yakni al-silm keseluruhannya yang artinya al-Islam keseluruhannya. Dan asal-usul kata kâffah dari ism al-fâ’il (kâffun) artinya yang menghalangi, dari kata kerja kaffa yakni mana’a (mencegah). Maka perkataan anda: “Hal ini kâffun” yakni yang mencegah untuk dibagi-bagi ke dalam pecahan, maka seakan-akan anda mengatakan secara kiasan (hal ini semuanya atau seluruhnya) dengan hubungan sababiyyah.[4]

Dari uraian di atas, kita mendapati informasi bahwa kedudukan kâffat[an] merupakan hâl (keterangan) dari al-silm, ini merupakan pendapat mayoritas ulama tafsir, dari pendapat lainnya yang menyebutkan bahwa ia adalah hâl dari udkhulû (yakni subjeknya: al-mu’minûn). Namun konsekuensi dari pemaknaan masing-masing dua pendapat ini, tidaklah membenarkan halusinasi kaum liberal, bahwa Islam tidak mengatur urusan politik dan kenegaraan.
Jika Sdr. Agus Maftuh mempertanyakan (baca: menolak penyematan kâffah sebagai hâl dari al-silm karena al-silm itu mufrad), dengan mengklaim bahwa ia suatu bentuk pemerkosaan epistemik gramatikal:

Penyematan “kafah” sebagai penegasan terhadap kata as-silmi (Islam) bagi saya adalah salah satu bentuk “pemerkosaan epistemik gramatikal”. Tidak pernah kita temukan kata “kafatal Islam” karena Islam itu satu dan tunggal, berbeda dengan kafatl muslimin (semua orang Islam), kafatal mukminin, kafatal musyrikin (seluruh atau semua orang musyrik) dll.

Pertanyaan saya, apakah mayoritas ulama ahli tafsir-pakar balaghah yang menegaskan lafal kaffat[an] sebagai hâl dari lafal al-silm, mereka semua mau divonis bodoh dalam bahasa arab atau pura-pura bodoh (tajâhul) sehingga melakukan apa yang anda stigma “pemerkosaan epistemik gramatikal”?! Ternyata tidak, bukan para ulama tafsir ini yang bodoh hingga salah paham, melainkan wawasan kritikusnya yang tampak belum sampai ilmunya, kurang luas literasinya.

2.      Penegasan Penafsiran dengan Petunjuk Sebab Turunnya Ayat (Sabab al-Nuzûl)
Pemaknaan al-silm dan kaffat[an] di atas, semakin jelas tatkala kita mengkaji sebab turunnya ayat ini, yang berkaitan dengan ‘Abdullah bin Salam dan sahabat-sahabatnya yang baru masuk Islam dari agama sebelumnya, Yahudi. Mereka sudah masuk Islam namun masih mengagungkan dan melaksanakan sebagian syari’at Taurat, maka turunlah ayat ini. Lebih rincinya, para ulama, salah satunya Imam al-Alusi (w. 1270 H) menggambarkan sebab turun ayat ini:

أخرج غير واحد عن ابن عباس رضي الله تعالى عنهما أنها نزلت في عبد الله بن سلام وأصحابه ، وذلك أنهم حين آمنوا بالنبي صلى الله عليه وسلم وآمنوا بشرائعه وشرائع موسى عليه السلام فعظموا السبت وكرهوا لحمان الإبل وألبانها بعد ما أسلموا ، فأنكر ذلك عليهم المسلمون ، فقالوا : إنا نقوى على هذا وهذا ، وقالوا للنبي صلى الله عليه وسلم : إن التوراة كتاب الله تعالى فدعنا فلنعمل بها ، فأنزل الله تعالى هذه الآية.
Dikeluarkan lebih dari satu jalur periwayatan dari Ibn ‘Abbas r.a. bahwa ayat ini turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Salam dan para sahabatnya, hal itu karena mereka ketika sudah beriman kepada Nabi dan syari’atnya mereka pun masih beriman pada syari’at-syari’at Musa a.s., maka mereka mengagungkan hari Sabtu, membenci memakan daging unta dan meminum susunya setelah mereka masuk Islam, maka kaum Muslim mengingkari perbuatan mereka itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kami masih memelihara amalan ini dan ini,” lalu mereka pun mengadu kepada Nabi : “Sesungguhnya kitab Taurat adalah Kitabullah, maka izinkan kami untuk mengamalkannya” maka turunlah ayat ini.”[5]

Penjelasan senada dituturkan oleh Imam al-Baghawi (w. 510 H) yang menegaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Salam dan para pengikutnya:

نزلت هذه الآية في مؤمني أهل الكتاب عبد الله بن سلام النضيري وأصحابه، وذلك أنهم كانوا يعظمون السبت ويكرهون لحمان الإبل وألبانها بعد ما أسلموا وقالوا: يا رسول الله إن التوراة كتاب الله فدعنا فلنقم بها في صلاتنا بالليل
“Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang beriman (sebelumnya) dari kalangan ahli kitab (Yahudi) yakni ‘Abdullah bin Salam Al-Nadhiri (Yahudi Bani Nadhir) dan sahabat-sahabatnya, hal itu karena mereka saat itu masih mengagungkan hari Sabtu dan membenci memakan daging unta dan susunya setelah mereka masuk Islam, mereka berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya Taurat adalah Kitabullah maka izinkan kami membacanya dalam shalat kami ketika malam.”[6]

            Dari informasi berharga sabab al-nuzûl di atas, kita semakin paham bahwa konteks ayat ini, berkaitan erat dengan ulah sebagian orang yang melaksanakan sebagian syari’at Islam dan sebagiannya lagi diganti dengan ajaran agama Yahudi. Sehingga jelas, kâffat[an] dalam ayat ini menjadi hâl dari al-silm, mengingat Allah menurunkan ayat ini, agar seluruh kaum Muslim, menjalankan seluruh syari’at Islam.
Diperjelas adanya larangan menyerupai ahli Kitab yang beriman pada sebagian Taurat dan mengkufuri sebagiannya, yang Allah ingkari, lihat QS. Al-Baqarah [2]: 85:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ {٨٥}
“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 85)

Menafsirkan ayat yang agung ini, Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil menjelaskan bahwa potongan ayat yang agung ini {أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ} merupakan pertanyaan yang maksudnya pengingkaran (istifhâm inkâri) disertai celaan atas buruknya perbuatan mereka. Allah SWT mengakhiri ayat ini dengan penjelasan tempat kembali bagi orang yang melakukan perbuatan tersebut {خِزْيٌ} yakni hina dina, rendah dan nista di dunia, ditambah dengan azab yang sangat pedih yang tiada tandingannya di akhirat kelak, serta bahwa Allah SWT tidak lengah atas perbuatan mereka yang sangat keji, bahkan mengawasi mereka, dan mengazab mereka atas apa yang mereka perbuat, dengan balasan setimpal di dunia dan akhirat {وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ}.[7] Lihat pula firman-Nya dalam QS. Al-Hijr [15]: 90-91, QS. Al-Mâ’idah [5]: 49, dan lain sebagainya.
Bahkan ayat ini jelas merobohkan konsepsi SEPILIS (sekularisme, liberalisme dan pluralisme) yang memisahkan atau mengenyampingkan peran agama dalam mengatur kehidupan, sebagaimana didefinisikan al-‘Allamah al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H) ketika beliau mengkritik pemahaman kufur sekularisme (al-‘ilmâniyyah) yakni:

فصل الدين عن الحياة
“Pemisahan agama dari kehidupan”[8]

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) menafsirkan al-silm dengan "'Urâ al-Islâm wa Syarâi'ihi":

يقول تعالى آمرًا عباده المؤمنين به المصدّقين برسوله: أنْ يأخذوا بجميع عُرَى الإسلام وشرائعه، والعمل بجميع أوامره، وترك جميع زواجره ما استطاعوا من ذلك
Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin dan membenarkan Rasul-Nya agar mengambil semua ikatan-ikatan Islam dan syari’atnya, dan mengerjakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya dengan segenap kemampuan mereka melakukan yang demikian.[9]

Salah satu ural Islam tersebut adalah urusan pemerintahan sebagaimana sabda Rasulullah , dari Abu Umamah al-Bahili r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:

«لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا، فَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ، وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ»
“Ikatan-ikatan Islam akan terburai satu per satu, setiap kali satu ikatan terburai orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah al-hukm (kekuasaan/pemerintahan) dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, al-Hakim)

Mengomentari hadits ini, salah seorang ulama ahlus sunnah Irak, pakar ilmu ushul fikih dan ilmu syari’ah, Syaikh Dr. Abdul Karim Zaydan, beliau menjelaskan:

والمقصود بالحكم: الحكم على المنهج الإسلامي، ويدخل فيه بالضرورة وجود الخليفة الذي يقوم بهذا الحكم، ونقضه يعني التخلي عنه وعدم الالتزام به، وقد قرن بنقض الصلاة وهي واجبة فدلَّ على وجوبه
Yang dimaksud al-hukm di sini adalah kekuasaan yang berjalan di atas landasan Islam. Terkandung di dalamnya dengan sejelas-jelasnya, pentingnya eksistensi Khalifah yang menegakkan kekuasaan tersebut, sedangkan yang dimaksud naqdhuhu yakni kekosongan dan ketiadaan konsistensi padanya, Rasulullah telah menyandingkan hilangnya institusi kekuasaan ini dengan hilangnya ikatan shalat padahal shalat itu wajib, menunjukkan bahwa kekuasaan ini hukumnya wajib.[10]

Pernyataan ilmiah Syaikh Dr. Abdul Karim Zaydan di atas, dinukil pula oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah al-Dumaiji dalam risâlah-nya ketika menguraikan dalil-dalil al-sunnah wajibnya kekhilafahan.[11] Dimana kefardhuan menegakkan Khilafah, merupakan ijma’ (konsensus) para sahabat, Imam al-Khaththabi (w. 388 H) setelah menyebutkan dalil ijma’ sahabat ini pun menegaskan kewajiban menegakkan Khilafah dengan bahasa sharîh, sangat jelas, tidak samar bagi mereka yang berakal dan masih jeli pandangan matanya, al-Khaththabi menegaskan:

وذلك من أدل الدليل على وجوب الخلافة وأنه لا بد للناس من إمام يقوم بأمر الناس ويمضي فيهم أحكام الله ويردعهم عن الشر ويمنعهم من التظالم والتفاسد
Dan dalil tersebut (ijma’ sahabat) merupakan sejelas-jelasnya dalil atas wajibnya menegakkan al-Khilafah dan bahwa harus ada seorang Imam (Khalifah-pen.) bagi masyarakat yang berdiri memerintah masyarakat, mengatur mereka dengan hukum-hukum Allah, menjauhkan mereka dari keburukan, menghalangi mereka dari perbuatan saling menzhalimi dan saling merusak.[12]
Syaikhul Islam al-Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974 H) menegaskan:
أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ نَصْبَ اْلإِمَامِ بَعْدَ اِنْقِرَاضِ زَمَنِ النُّبُوَّةِ وَاجِبٌ، بَلْ جَعَلُوْهُ أَهَمَّ الْوَاجِبَاتِ حَيْثُ اِشْتَغَلُّوْا بِهِ عَنْ دَفْنِ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ.
Sungguh para sahabat -semoga Allah meridhai mereka- telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah zaman kenabian berakhir adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan upaya mengangkat imam/khalifah sebagai (salah satu) kewajiban paling penting. Faktanya, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban ini dengan menunda (sementara) kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah .[13] 
 
Konsekuensi masuk Islam secara kaffah adalah menerima seluruh ajaran Islam, mulai ibadah hingga mu’amalah dan siyasah. Termasuk berkaitan dengan 'urâ al-Islâm dalam hal kepemimpinan dan pemerintahan. Sistem pemerintahan yang diakui oleh Islam hanyalah sistem khilafah. Dalil akan kewajiban khilafah ditegaskan dalam al-Qur'an, al-Sunnah dan ijma shahabat. Bahkan ditegaskan pula oleh para ulama salaf dan khalaf.
Kesempurnaan Din Islam ini mencakup urusan pemerintahan dan tata kelola bernegara pun sejalan dengan prinsip bahwa Allah Swt telah menurunkan al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia yang menjelaskan segala sesuatu, al-’Allamah al-Syaikh Abdul Qadim Zallum ketika menegaskan kesempurnaan Din Islam, menukil firman-Nya:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ  {٨٩}
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)

Ayat ini menegaskan kesempurnaan Din Islam, ditunjukkan kalimat (تبيانًا لكل شيء) yang bermakna “sebagai penjelasan atas apa-apa yang dibutuhkan oleh umat”; mengetahui halal haram, pahala dan siksa, hukum-hukum serta dalil-dalil, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H)[14], Imam al-Tsa’labi[15], Syaikh Abu Bakr al-Jazairi[16] dan para ulama lainnya dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an. Abu Bakar al-Jazairi menjelaskan bahwa kedudukan al-Qur’an sebagai hud[an] yakni petunjuk dari segala kesesatan, dan rahmat[an] yakni rahmat khususnya bagi mereka yang mengamalkan dan menerapkannya bagi diri sendiri dan di dalam kehidupan sehingga rahmat tersebut bersifat umum di antara mereka.[17]
Menegakkan ajarannya adalah kemuliaan, berpegang teguh padanya adalah sebab keselamatan, sebagaimana sabda Rasulullah yang berpesan:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»
Wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi dari Ibn ’Abbas r.a.)[18]

Kejelasan argumentasi di atas, saya kira sangat cukup menjawab kegelisahan ybs dalam pernyataannya ini:

Tulisan ini hanya kegelisahan seorang santri yang masih berproses dari “ketidak-tahuan” menuju ke “sedikit-tahu”. Dan bukan bertujuan, meminjam mazhab Didi Kempot, “mengambyarkan” sebuah “tradisi kolektif” dalam mempopulerkan diksi Islam Kafah yang salah kaprah tersebut.

Ternyata, Sdr. Agus yang salah kaprah memahami dan mendudukkan diksi Islam Kaffah, yang jelas-jelas memiliki landasan keilmuan yang kokoh, baik dari perspektif tradisi penafsiran para ulama mu’tabar otoritatif di bidang tafsir, maupun perspektif bahasa arab, disokong ilmu balaghah. Sdr. Agus mengklaim:

Atau diksi dan istilah “Islam Kafah” harus kita masukkan ke dalam kamus “MUKJAMUL AHTHA’ AS-SYA’IAH”???? sebuah kamus yang mengungkap kesalahan istilah-istilah populer tapi tidak memiliki landasan keilmuan.

Maka saya jawab: Jika diksi Islam kaffah mau ybs masukkan dalam kamus kesalahan yang buruk, maka kenyataannya, pemahamannya yang salah dan cukup riskan, bisa kita masukkan secara jelas terbukti dalam: معجم المفاهيم الخطيرة”, namun kesalahpahaman ybs, bisa dibayar dengan pesan bijak dari Amir al-Mu’minin, Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab r.a., yang menulis surat kepada bawahannya, Abu Musa al-Asy’ari r.a., di antara pesan mendalamnya adalah:

إِنَّ مُرَاجَعَةَ الْحَقِّ خَيْرٌ مِنَ التَّمَادِي فِي الْبَاطِلِ
Sesungguhnya kembali pada kebenaran lebih baik daripada berlarut-larut dalam kebatilan.[19] []



[1] Syihabuddin Mahmud bin 'Abdullah al-Husaini al-Alusi, h al-Ma'âni fî Tafsîr al-Qur'ân wa al-Sab'u al-Matsâni, juz I, hlm. 492.
[2] Al-Hafizh al-Qurthubi dalam Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân menjelaskan lebih jauh:
والكفّ المنع؛ ومنه كُفَّة القميص بالضم لأنها تمنع الثوب من الانتشار؛ ومنه كِفَّة الميزان بالكسر التي تجمع الموزون وتمنعه أن ينتشر؛ ومنه كفُّ الإنسان الذي يجمع منافعه ومضارّه؛ وكل مستدير كفّة ، وكل مستطيل كُفّة
[3] Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthi, Tafsîr al-Jalâlayn, Kairo: Dar al-Hadits, cet. I, t.t., hlm. 43.
[4] ‘Atha bin Khalil Abu Al-Rasytah dalam Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr menjelaskan lebih lanjut:
ثم ألحقت (التاء) باسم الفاعل لنقله من الفاعلية من (كفّ) إلى اسم (كافّة) بمعنى الكل والجميع
[5] Ibid.
[6] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’âlim Al-Tanzîl, Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, cet. I, 1420 H, juz I, hlm. 267.
[7] ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasythah, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr: Sûrat al-Baqarah, hlm. 107-108.
[8] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm, Beirut: Dar al-Ummah, 1953.
[9] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dar Thayyibah, cet. II, 1420 H, juz I, hlm. 565.
[10] Dr. Abdul Karim Zaydan, Ushûl al-Da’wah, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. IX, 1421 H, hlm. 205.
[11] Abdullah bin Umar bin Sulaiman al-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhmâ ‘Inda Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah, Riyadh: Dar al-Thayyibah, cet. I, 1404 H, hlm. 51.
[12] Ibid.
[13] Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami, Al-Shawâ’iq al-Muhriqah ‘ala Ahl al-Rafdh wa al-Dhalâl wa al-Zindiqah, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. I, 1417 H, hlm. 7
[14] Ibid, juz XVII, hlm. 278.
[15] Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Cet. I, 1422 H, jilid VI, hlm. 37
[16] Jabir bin Musa Abu Bakr Al-Jaza’iri, Aysar al-Tafâsîr li Kalâm al-‘Ulya al-Kabîr, Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, cet. V, 1424 H, jilid III, hlm. 138-139.
[17] Ibid.
[18] HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/171, hadits no. 318) sanadnya shahih dan disetujui oleh al-Hafizh al-Dzahabi, Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubrâ’  (X/114, hadits no. 20833)
[19] Abu al-Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir, Musnad Amîr al-Mu’minîn Abi Hafsh ‘Umar bin al-Khaththâb r.a., Al-Manshurah: Dar al-Wafa’, cet. I, 1411 H, juz II, hlm. 546; Umar bin Syabbah Abu Zaid al-Bashri, Târîkh al-Madînah, Jeddah, 1399 H, juz II, hlm. 775.