05 November 2019

Koreksi Atas Penukilan Maqalah Ulama Terkait Bendera Tauhid



*Pertanyaan*

Ada seseorang dalam sebuah acara membiaskan eksistensi bendera tauhid dengan menukil maqalah ulama menyoal penulisan kalimat mulia, ia menyatakan:

"Menuliskan kalimat mulia yang berpotensi digunakan tidak semestinya menurut ulama Hanafiyah adalah makruh. Bahkan menurut ulama Malikiyah adalah haram. Sebab kalimat agung akan berpotensi terhinakan."

Pertanyaannya: "Bagaimana mendudukkan maqalah para ulama ini?"

Jawab:

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Maqalah para ulama tersebut, jelasnya wajib ditempatkan pada tempatnya, tidak relevan digunakan untuk mendiskreditken begitu saja (secara mutlak) penulisan kalimat tauhid pada kain bendera yang kemudian secara 'urfi, ma'ruf diistilahkan kaum Muslim di negeri ini dengan istilah "bendera tauhid":

Pertama, Maqalah sebagian ulama tersebut jelasnya berkaitan erat dengan penulisan kalimat dzikrullah pada benda yang memang ternistakan atau berpotensi besar akan ternistakan. Ini adalah sifat yang membatasi arah maqalah tersebut, tak bisa digunakan sebagai fatwa sapu jagad dan bersifat mutlak. Intinya, kalaupun dituliskan pada bendera, maka ia wajib dijaga kehormatannya, tidak boleh dinistakan.

Dalam maqalah al-Hafizh al-Nawawi al-Syafi'i (w. 676 H) ini misalnya:

[فصل] مذهبنا أنه يكره نقش الحيطان والثياب بالقرآن وبأسماء الله تعالى قال عطاء لا بأس بكتب القرآن في قبلة المسجد وأما كتابة الحروز من القرآن فقال مالك لا بأس به إذا كان في قصبة أو جلد وخرز عليه وقال بعض أصحابنا إذا كتب في الخرز قرآنا مع غيره فليس بحرام ولكن الأولى تركه لكونه يحمل في حال الحدث وإذا كتب يصان بما قاله الامام مالك رحمه الله وبهذا أفتى الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله
"(Pasal) madzhab kami (Syafi'i) memakruhkan mengukir tembok dan pakaian dengan ayat al-Qur'an dan nama-nama Allah. Berkata Imam ‘Atha, bahwa tidak mengapa menulis al-Qur'an pada kiblat masjid, adapun menuliskan huruf al-Qur'an maka Imam Malik berkata tidak mengapa apabila di buluh atau kulit lalu diikatkan. Berkata sebagian ashhab kami: jika ditulis di dalam jimat ayat al-Qur'an dengan selainnya maka tidaklah haram, tetapi lebih utama ditinggalkan, karena bisa terbawa ketika hadats. Apabila al-Qur'an ditulis (pada sesuatu) harus dijaga sebagaimana perkataan Imam Malik dan dengan pendapat ini pulalah al-Syaikh Abu ‘Amr bin al-Shalah berfatwa”[1]

Jika kita teliti lebih dalam perkataan para ulama, mereka memakruhkan atau mengharamkan menulis al-Qur'an pada tembok dan yang semisalnya, disebabkan adanya dugaan kuat menghantarkan kepada penistaan dan penghinaan terhadap al-Qur'an. Sedangkan secara asal, hukumnya adalah mubah, karena tidak ada satupun dalil yang mengharamkan menulis al-Qur'an diatas suatu benda (yang terjaga).

Jika bendera bisa secara mutlak digolongkan pada sifat penistaan tersebut, lantas bagaimana dengan mushhaf? Kitab-kitab tafsir dan hadits? Buku-buku yang memuat ayat al Qur'an? Termasuk kaligrafi di dinding-dinding masjid, atau dalam kain yang dipajang? Termasuk kalimat "نحن أنصار الله" yang dicetak dalam logo ormas, ditempelkan pada pakaian? Termasuk bagaimana pula dengan kain penutup keranda mayat yang memuat kalimat istirja' "إنا لله وإنا إليه راجعون"?

Kedua, Jika konsisten seharusnya maqalah yang dinukil ini pun, digunakan untuk menghukumi jimat-jimat yang kontennya bertuliskan ayat al-Qur'an. Jimat, jelas sangat rentan karena bentuknya kecil, dilipat dan disimpan dalam saku atau dompet, jelas rentan dibawa ke wc, terduduki, terbuang, dsb. Kenapa tak digunakan pula fatwa-fatwa tersebut untuk menghukumi jimat?

Tentang jimat misalnya, dalam kitab-kitab turats diuraikan kenapa ada dua golongan ulama yang mengharamkan dan memakruhkan jimat meski kontennya dzikrullah dari al Qur'an? Alasannya adalah adanya kaidah sadd al-dzari'ah, dengan asumsi penulisan kalimat dzikrullah pada jimat dianggap berpotensi besar akan mengarah pada penistaan atasnya, disadari atau tidak, misalnya dibawa ke WC, terbuang, dsb [Info: tentang perincian hukum jimat ini, sudah saya uraikan dalam buku "Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia"]

Ketiga, Benarkah penulisan kalimat tauhid pada bendera artinya menistakannya? Para ulama, semisal pakar fikih, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal'ah Ji (w. 1435 H), dalam kitab Mu'jam Lughat al-Fuqaha' menegaskan sifat bendera itu sendiri sebagai sesuatu yang memang pada asalnya untuk ditinggikan:

الراية: ج راي ورايات، العلامة المنصوبة للرؤية علم الجيش أو علم البلاد
"Al-Râyah: jamaknya rây dan râyât adalah simbol yang dibuat untuk ditinggikan agar bisa terlihat, ia merupakan simbol pasukan atau simbol negeri-negeri". [2]

Ini merupakan tradisi dari adanya bendera, yang memang dibuat untuk ditinggikan, disyi'arkan, karena memiliki kedudukan sebagai syi'ar. Kalau tidak begitu, dengan kata lain harus dilarang karena ternistakan, maka tidak akan ada orang yang membuat bendera negara, bendera ormas, bendera kelompok dsb, dengan asumsi bahwa bendera berpotensi menghinakan simbol di dalamnya. Apakah asumsi tersebut bisa diterima? Kenyataannya tidak.

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

Irfan Abu Naveed
Dosen Fikih-Manthiq/ Pengajar Balaghah

Catatan Kaki:
[1] Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syarf al-Nawawi, Al-Tibyân fi Âdâb Hamalat al-Qur'ân, Beirut: Dar Ibn Hazm, cet. III, 1414 H, hlm. 172.
[2] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, juz I, hlm. 218.

No comments :

Post a Comment