01 November 2019

Dalil Sistem Pemerintahan Islam: Hadits [3]: ‘Alaykum Bi Sunnati wa Sunnat al-Khulafâ’


Oleh: Irfan Abu Naveed[1]

S
alah satu hadits yang terang benderang mengandung perintah berpegang teguh pada sunnah Rasulullah dan al-khulafâ’ al-râsyidîn, mencakup sunnah imamah adalah hadits dari Al-’Irbadh bin Sariyah r.a. ia berkata: Rasulullah bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ بعدي، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»
“Hendaklah kalian berdiri di atas sunnahku, dan sunnah para khalifah al-râsyidîn al-mahdiyyîn (para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan menunjuki kepada kebenaran) setelahku, gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang kuat.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

Keterangan Singkat Hadits
HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 17184), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: ”Hadits shahih dan para perawinya tsiqah.”; Ibn Majah dalam Sunan-nya (no. 42), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: ”Hadits shahih dengan banyak jalan periwayatan dan syawahid (riwayat-riwayat pendukungnya).”; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 329), al-Hakim berkata: ”Ini hadits shahih, tidak mengandung satupun cacat.” ditegaskan senada oleh al-Hafizh al-Dzahabi; Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Îmân (no. 7516).

A.   Faidah Hadits I: Lafal 'Alaykum Termasuk Lafal Perintah (Shiyagh al-Amr)
Lafal "'alaykum" dalam permulaan redaksi hadits ini dalam ilmu bahasa arab (sharaf) termasuk isim fi'l al-amr (kata benda yang berkonotasi kata kerja perintah), hal ini diuraikan para ulama bahasa arab, salah satunya dari kalangan mu'ashirin, Dr. Ayman Amin Abdul Ghani dalam kitabnya, Mulakhkhash Qawâ'id al-Lughah al-'Arabiyyah.
Apa makna "عليكم ب" yakni "إلزموا ب", yakni "pegang teguhlah". Maka relevan jika dalam ilmu ushul fikih ia termasuk shiyagh al-amr, shighat (lafal) yang menunjukkan adanya perintah. Hukum asal perintah itu sendiri disebutkan dalam kaidah yang diadopsi oleh para ulama:

الأصل في الأمر للطلب
"Hukum asal perintah menunjukkan adanya tuntutan"

Tuntutannya apakah termasuk wajib atau mandub maka tergantung petunjuk-petunjuk relevan (qarâ'in). Jika ditelusuri, jelas perintah dalam hadits ini perintah wajib, berdasarkan banyak petunjuk wajibnya ittiba' kepada baginda Rasulullah . Kewajiban untuk apa? Kewajiban yang dituntut dalam nas hadits, yakni berpegang teguh pada sunnah baginda Rasulullah dan sunnah para khalifah rasyidah. Dalam hal ini mencakup sunnah imamah (sunnah dalam persoalan kepemimpinan).

B.   Faidah Hadits II: Sunnah Mencakup Sunnah Imamah (Kepemimpinan)
Sunnah sebagaimana ditegaskan para ulama, berkonotasi thariqah yakni jalan, manhaj dan metode. Lafal ini menggambarkan adanya pedoman baku menjalani kehidupan, hingga dinisbatkan secara kokoh (dalam bentuk idhafat: mudhaf mudhaf ilayhi).
Frasa sunnati dan sunnat al-khulafâ' termasuk bentuk idhâfat (mudhaf mudhaf ilayhi) yang menunjukkan makna spesifik (ma'rifat), sebagaimana diulas dalam banyak referensi ilmu nahwu, hal itu terbukti tatkala seseorang memaknai kalimat tersebut, tak boleh dibiaskan dengan "sunnah Montesque, Plato, Aristoteles, Jhon Locke, dan yang semisalnya" dengan beragam teori politik pemerintahan mereka. Mengingat sunnah dalam hadits tersebut maknanya spesifik, khas, tidak samar dan tidak bias, menggambarkan adanya metode baku Rasulullah dan para Khulafa' Rasyidin menjalani kehidupan dengan Islam.
Sisi ini jelas menunjukkan adanya "metode baku" menjalani kehidupan, mencakup sunnah baku dalam persoalan imamah (kepemimpinan) dan siyasah (pengaturan urusan masyarakat), hal itu diperjelas bukti dimana lafal sunnah dalam hadits ini diidhafatkan kepada lafal khulafâ' (jamak dari khalifah):

"سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ"
"Sunnah para khalifah yang lurus menunjuki (kepada kebenaran)."

Lafal al-khulafâ’ adalah jamak dari kata khalifah, istilah khalifah itu sendiri jelas identik dengan "kepemimpinan siyasah" sedangkan istilah sunnah identik dengan "metode/sistem/konsepsi", menunjukkan secara terang benderang adanya sunnah (konsep baku) para khalifah berkaitan dengan kepemimpinan, yang diperjelas dalam hadits lainnya: "Khilafah 'ala Minhaj al-Nubuwwah", sebagaimana diperjelas dalam sunnah qauliyyah (ucapan) dan sunnah fi'liyyah (perbuatan) Rasulullah dan para khulafa' rasyidun yang menegakkan konsep baku pemerintahan dalam Islam, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits, dari Hudzaifah r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:

«ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»
“Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud al-Thayalisi, al-Bazzar)[2]

Apa makna Khilâfah 'alâ Minhâj al-Nubuwwah? Al-Imam al-Mulla Ali al-Qari (w. 1014 H) menjelaskan:

(على منهاج النبوة) أي: طريقتها الصورية والمعنوية
“(Di atas manhaj kenabian) yakni metodenya yang tersurat dan tersirat.”[3]

Di antara bukti lain adanya sunnah kepemimpinan dalam Islam adalah apa yang ditegaskan Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz, yang disebut-sebut disepakati para ulama sebagai jajaran Khalifah dari Khilafah Rasyidah, sebagaimana ditegaskan al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam al-Jâmi’, ini pula yang menjadi pandangan Syaikh al-Masyayikh al-’Allamah Nawawi al-Bantani al-Syafi’i (w. 1316 H) dalam Sullam al-Munâjât Syarh Safînat al-Shalâh. Bahkan al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) dalam Al-Bidâyah wa al-Nihâyah (XII/696), menyebutkan bahwa para ulama sepakat bahwa ia (Khalifah Umar bin Abdul Aziz), termasuk jajaran imam yang adil, termasuk al-khulafâ’ al-râsyidîn dan imam yang berdiri di atas petunjuk.
Dalam qaul yang disebutkan Imam al-Ajurri (w. 360 H), dan al-Hafizh Ibn Abdul Barr al-Andalusi (w. 463 H), Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz menegaskan:

«سَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُلَاةُ الْأَمْرِ مِنْ بَعْدِهِ سُنَنًا، الْأَخْذُ بِهَا اتِّبَاعٌ لِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى، وَاسْتِكْمَالٌ لِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى، وَقُوَّةٌ عَلَى دِينِ اللَّهِ، لَيْسَ لِأَحَدٍ مِنَ الْخَلْقِ تَغْيِيرُهَا , وَلَا تَبْدِيلُهَا، وَلَا النَّظَرُ فِي شَيْءٍ خَالَفَهَا، مَنِ اهْتَدَى بِهَا فَهُوَ مُهْتَدٍ، وَمَنِ اسْتَنْصَرَ بِهَا فَهُوَ مَنْصُورٌ، وَمَنْ تَرَكَهَا اتَّبَعَ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ، وَوَلَّاهُ اللَّهُ مَا تَوَلَّى، وَأَصْلَاهُ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا»
Rasulullah dan para ulil amri setelahnya (khulafa' rasyidun) telah menggariskan adanya sunnah, yakni sikap berpegang teguh pada Kitabullah, dan menyempurnakan keta'atan kepada Allah, menegakkan kekuatan (fondasi kehidupan) di atas Din Allah, tidak boleh ada seorang pun dari makhluk-Nya yang boleh mengubahnya, tidak boleh pula menggantikannya (dengan sunnah selainnya), dan tidak dilihat sedikit pun apapun yang menyelisihi sunnah tersebut, siapa saja yang mengambil petunjuk darinya maka ia menjadi orang yang tertunjuki, siapa saja yang mencari kemenangan dengannya maka ia akan diberikan kemenangan, dan siapa saja yang meninggalkannya dengan mengikuti selain jalan orang-orang beriman, maka Allah akan menyerahkan dirinya pada apa ia jadikan tempat bergantung (selain Allah), dan menyeretnya ke dalam Jahannam, dan ia adalah seburuk-buruknya tempat kembali.[4]

Allah SWT telah memperingatkan dalam firman-Nya:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ صلى ‏وَسَاءَتْ مَصِيرًا {١١٥}
“Dan siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk, dan mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir-pen.) kemudian Kami seret ke dalam jahannam. Dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 115)

Sunnah yang disebutkan oleh Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz di atas, jelas berkaitan erat pula dengan konsep kepemimpinan khas (baku) dalam Islam, dimana disebutkan di dalamnya kalimat "wulat al-amri" (para ulil amri), dan berkaitan erat dengan pedoman konstitusi bernegara yang menempatkan al-Qur'an dan al-Sunnah sebagai sumbernya, tidak ada yang lebih tinggi darinya.
Maka relevan jika Prof. Dr. Abdullah al-Dumaiji pun menjadikan hadits ini sebagai penguat wajibnya menegakkan Khilafah, dalam kitab al-Imamah 'Inda Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah.[5] Perhatikan pernyataan Imam al-Khaththabi (w. 388 H) yang menekankan keutamaan pandangan para sahabat utama (khalifah dalam khilafah rasyidah):

وفي قوله عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين دليل على أن الواحد من الخلفاء الراشدين إذا قال قولاً، وخالفه فيه غيره من الصحابة كان المصير إلى قول الخليفة أولى
Dan dalam sabdanya — "'alaykum bi sunnati wa sunnat al-khulafa' al-rasyidin" terdapat dalil bahwa individu dari para khalifah rasyidin ini jika berpendapat dengan suatu pendapat, lalu ada sahabat lain yang menyelisihinya maka sikap memilih pendapat khalifah rasyidin ini lebih utama.[6]

Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) menguraikan:

Penyifatan al-khulafâ’ dengan sifat al-râsyidîn, karena mereka mengetahui kebenaran, dan menghukumi manusia dengannya, karena lafal al-rasyid adalah antonim dari al-ghâwi. Istilah al-ghâwi yakni orang yang mengetahui kebenaran namun amal perbuatannya bertolak belakang dengannya. Sabda baginda al-mahdiyyîn, yakni bahwa Allah menunjuki mereka pada jalan kebenaran, tidak tersesat darinya.[7]

Dalam hal ini, Ibn Rajab, mencirikan kaum yang disebut al-rasyidin adalah mereka yang mendapatkan petunjuk dan mampu mengamalkannya -wa biLlâhi al-taufîq-.[8]

C.   Faidah Hadits III: Perumpamaan Kekuatan Berpegang Teguh Pada Sunnah (Termasuk Sunnah Imamah)
Pesan mendalam yang mulia Rasulullah dalam hadits yang agung ini, digambarkan dalam bentuk kalimat balaghiyyah: al-isti’ârah al-tamtsîliyyah, dimana Rasulullah meminjam ungkapan “عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ”, gigitlah dengan gigi geraham yang kuat, untuk menggambarkan konsistensi berpegang teguh terhadap sunnah, yakni jalan hidupnya Rasulullah dan al-Khulafâ’ al-Râsyidûn, sebagaimana digambarkan oleh Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H).[9]
Bentuk ungkapan kiasan ini, jelas memudahkan siapapun yang menyimak hadits ini, untuk memahami pesan yang dikandungnya, dengan menuntut setiap pembacanya membayangkan seperti apa gambaran mahsûs (terindera) dari sikap kokoh berpegang teguh pada sunnah Rasulullah dan para sahabat Khulafa' Rasyidin, tidak boleh dilepaskan meskipun hanya sekejap kerlipan mata. Tatkala dilepaskan maka akan hilang. Perhatikan, ini adalah pesan agung baginda Rasulullah yang tak boleh diselisihi oleh manusia manapun, tidak bernilai ajaran-ajaran yang menyimpang dari sunnah Rasulullah dan para sahabatnya yang utama, termasuk dalam persoalan kepemimpinan.

وبالله التوفيق





[1] Penulis Buku “Konsep Baku Khilafah Islamiyyah”, Dosen yang aktif mengajar mata kuliah Fikih Siyasah/Bahasa Arab/Manthiq, dan aktif dalam kajian-kajian tafsir-balaghah al-Qur’an & Hadits-Hadits Nabawiyyah. Website: www.irfanabunaveed.net e-mail: irfanabunaveed@gmail.com  
[2] Al-Hafizh al-‘Iraqi dalam Mahajjat al-Qurab menilai hadits ini shahih; HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Isnad-nya hasan”; Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796).
[3] Nuruddin al-Mulla ‘Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VIII, hlm. 3376.
[4] Abu Bakar Muhammad bin al-Husain al-Ajurri al-Baghdadi, Al-Syarî’ah, Riyadh: Dar al-Wathan, cet. II, 1420 H, juz I, hlm. 407; Yusuf bin Abdullah Ibn Abdul Barr al-Andalusi, Jâmi’ Bayân al-‘Ilm wa Fadhlihi, KSA: Dar Ibn al-Jauzi, cet. I, 1414 H, juz II, hlm. 1176.
[5] Abdullah bin Umar bin Sulaiman al-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhmâ ‘Inda Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah, Riyadh: Dâr al-Thayyibah, cet. I, 1407 H/1987, hlm. 51-52.
[6] Abu Sulaiman Al-Khaththabi, Ma’âlim al-Sunan: Syarh Sunan Abi Dâwud, Halb: Al-Mathba’ah al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1351 H, juz IV, hlm. 301.
[7] Ibn Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. VIII, 1419 H, juz II, hlm. 126.
[8] Ibid.
[9] Ibn Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. VIII, 1419 H, juz II, hlm. 126.

No comments :

Post a Comment