01 November 2019

Balaghah Hadits [5]: Kecaman Meniti Sunnah Kepemimpinan di Luar Islam


Kajian Hadits: Sunan Man Kâna Qablakum


Oleh: Irfan Abu Naveed[1]

S
alah satu dalil al-Sunnah, yang secara tegas melarang kaum Muslim menyimpang dari sunnah beliau , mencakup sunnah imâmah (kepemimpinan dan pemerintahan), dengan mengambil jalan kaum yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, yang tersesat dari jalan-Nya sebagai rujukan. Salah satunya hadits dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., ia berkata: “Rasulullah bersabda:
«لَتَتَّبِعُنَّ سنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ»
“Sungguh kamu mengikuti tuntunan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga salah seorang dari mereka masuk lubang dhabb (kadal gurun) pun sungguh kamu mengikutinya.”

Para sahabat lantas bertanya:

يَا رَسُولَ اللهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟
“Apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?”

Rasulullah menjawab:

«فَمَنْ»
“Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad)

Keterangan Singkat Hadits
Hadits ini diantaranya diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (no. 3269); Muslim dalam Shahîh-nya, bab. Ittibâ’ Sunan al-Yahûdi wa al-Nashârâ; Ahmad dalam Musnad-nya (no. 11861), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Isnad-nya shahih sesuai syarat syaikhain (al-Bukhari dan Muslim)”, dalam riwayat Imam Ahmad lainnya, hadits dari Abu Hurairah r.a. (no. 8322), terdapat tambahan kalimat sumpah: [والذي نفسي بيده], dimana Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Isnad-nya shahih sesuai syarat Imam Muslim, para perawinya perawi Syaikhain (al-Bukhari dan Muslim), kecuali Muhammad bin Zaid, maka ia termasuk perawi Imam Muslim.”


A.   Faidah Bag. I: Hadits Khabar yang Mu'akkad (Ditegaskan) Kebenaran Informasi di Dalamnya
Hadits ini hadits khabar (informasi) yang diungkapkan dengan kalimat sumpah (qasam), ditandai dengan adanya huruf lam penanda jawab sumpah, diperjelas dalam riwayat Imam Ahmad yang mengandung tambahan redaksi:

والذي نفسي بيده
“Demi Dzat yang diriku berada dalam genggaman-Nya”

Dalam ilmu balaghah, kalimat ini merupakan kinâyah dari kalimat sumpah waLlâhi (Demi Allah). Sedangkan dalam riwayat lainnya, tanpa disertai ungkapan sumpah tersebut, dalam ilmu bahasa arab, redaksi seperti itu tidak salah, masih dalam kaidah bahasa arab, artinya masih dalam wilayah kaidah fashihah, bahkan dalam perspektif ilmu balaghah, bentuk ungkapan qasam yang dihilangkan tersebut, termasuk bentuk ringkasan yang memiliki faidah (al-îjâz bi al-hadzf) yakni menekankan pada gagasan inti informasi di dalamnya. Ungkapan qasam tersebut diikuti oleh huruf lam penanda jawab sumpah (lâm jawâb al-qasam) pada frasa: لتتّبعنّ (latattabi’anna).
Diikuti dengan bentuk penegasan yang kedua, berupa huruf nûn taukîd al-tsaqîlah. Fungsi penegasan-penegasan ini memberi arti sangat serius dan menuntut keseriusan, dalam ilmu balaghah dua bentuk penegasan ini menafikan adanya keraguan dan pengingkaran atas kebenaran informasi di dalamnya, ia dinamakan al-khabar al-inkâri, artinya menuntut pembenaran, tidak menyisakan adanya keraguan dan pengingkaran padanya, yakni kebenaran bahwa akan ada kaum Muslim yang mengikuti ajaran-ajaran kaum Kuffar, dan ini merupakan peringatan keras yang sudah seharusnya diperhatikan, untuk diwaspadai dan dijauhi.
            Imam Abu Sa’id al-Khadimi al-Hanafi (w. 1156 H) menjelaskan bahwa mempelajari kemungkaran-kemungkaran itu boleh (bahkan wajib-pen.) untuk mencegah darinya bukan untuk cenderung padanya.[2]  Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) menegaskan bahwa (salah satu) pokok agama adalah mencegah dari keburukan, mereka pun menyebutkan sya’ir:

عرفتُ الشرّ لا للشرّ * لكن لتوقيه
ومن لا يعرف الشرّ * من الناس يقع فيه
Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan # Melainkan untuk menghindarkan diri darinya.”
“Dan barangsiapa tidak mengetahui keburukan # Di antara manusia maka akan terjerumus ke dalamnya.[3]


B.   Faidah Bag. II: Mengandung Peringatan Keras Agar Tidak Meniti Sunnah Kaum Kuffar, Mencakup Persoalan Kepemimpinan
Al-Mulla’ Ali al-Qari (w. 1014 H) menjelaskan makna sunan (سُنَنَ) yakni jalan hidup, manhaj dan perbuatan mereka[4], menariknya lafal sunan untuk menggambarkan adanya konsep khusus kaum Kuffar berkenaan dengan kehidupan, diungkapkan dalam bentuk jamak, menunjukkan bahwa jalan kebatilan itu beragam, banyak, tidak hanya satu jalan. Lain halnya dengan sunnah yang dinisbatkan pada sunnah baginda Rasulullah dan para Khulafa’ Rasyidun yang diungkapkan dalam bentuk lafal tunggal, menunjukkan kesatuan jalan kebenaran. Al-Imam al-Qadhi ’Iyadh (w. 544 H) menuturkan:

السنن: الطريق، وما ذكره من الشبر والذراع ودخول الجُحْرِ تمثيل للاقتداء بهم شيئاً شيئاً. هذا فيما نهى الشرع عنه وذمه من أمرهم وحالهم.
Al-Sunan: jalan, apa yang hadits ini sebutkan al-syibr wa al-dzira’” dan masuk ke dalam lubang, itu semua merupakan perumpamaan sikap mereka yang mengikuti kaum Kuffar sedikit demi sedikit, ini merupakan hal yang telah syari’at larang dan cela, atas perkara dan keadaan mereka.[5]

Dalam hal ini, pemikiran maupun metode pemerintahan, jelas termasuk sunnah itu sendiri, ketika itu semua dibangun di atas landasan akidah kufur, maka jelas termasuk manhaj, jalan hidup yang khas lahir dari suatu peradaban. Sehingga dipahami bahwa hadits ini mengandung larangan, sebagaimana ditegaskan oleh al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H)[6], karena terdapat celaan atas perbuatan mengikuti manhaj dan pola pikir orang kafir.
Hadits ini mengandung indikasi larangan, sebagaimana ditegaskan oleh al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani[7], karena terdapat celaan atas perbuatan mengikuti manhaj dan pola pikir orang kafir pada kalimat (لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ  دَخَلَ جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ). Dalam ilmu balaghah (ilmu bayan), hadits ini mengandung bentuk al-isti’ârah, jenis al-isti’ârah al-tamtsîliyyah, berupa ungkapan (حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ), pengungkapan sesuatu dengan meminjam istilah lain yang sifatnya tamtsil (perumpamaan), jelas termasuk bentuk majazi, bukan haqiqi, karena manusia tidak mungkin bisa memasuki lubang kecil kadal gurun.
Apa faidahnya? Bentuk kiasan (majazi) ini memudahkan orang yang menyimaknya memahami gagasan inti di balik pesan tersebut, yang sebelumnya bersifat ma’nawi menjadi sesuatu yang terindera (mahsuusah), dengan pesan yang menggugah dan membekas dalam benaknya, dalam hal ini terutama ditujukan kepada orang beriman.



Diperjelas peringatan hadits lainnya, dari Abu Hurairah r.a., Nabi bersabda:
«لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ»
”Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Al-Bukhari, Muslim)
Hadits ini mengandung pelajaran agung nan penting, diungkapkan dengan ungkapan majazi, mengumpamakan perbuatan mukmin yang terjerumus pada kesalahan yang sama, dengan ungkapan lâ yuldaghu dan juhr wâhid. Manusia mana yang bersedia disengat ular berbisa? Tidak ada, maka ungkapan majazi dalam hadits ini sudah seharusnya berpengaruh kuat terhadap benak seseorang yang beriman untuk menjauhi kesalahan, dan tidak terjerumus lagi pada kesalahan yang sama.

C.   Faidah Bag. III: Dalil-Dalil yang Mengandung Peringatan Keras Agar Tidak Meniti Sunnah Kaum Kuffar
Al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H) pun memperingatkan, bahwa tsaqafah asing (barat) memiliki pengaruh yang besar dalam menyebarkan kekufuran dan imperialisme, tidak adanya keberhasilan dalam meraih kebangkitan, kegagalan gerakan-gerakan terorganisir, sama saja apakah gerakan sosial maupun politik, karena tsaqafah memiliki pengaruh yang besar terhadap pemikiran manusia, yang berpengaruh terhadap jalannya kehidupan.[8] Bahkan penjajah tak sekedar menggunakan  tsaqafah, mereka pun meracuni kaum Muslim dengan beragam pemikiran dan pandangan di bidang politik dan falsafah, yang merusak pandangan hidup kaum Muslim. Dengan itu mereka merusak suasana Islami yang ada, serta mengacaukan pemikiran kaum Muslim dalam segala lini kehidupan. Dengan itu semua, hilang benteng pertahanan kaum Muslim yang alami.[9]
Dalam konteks politik, pemikiran kufur Barat melahirkan pemerintahan sekular yang memarjinalkan peran agama dalam pengaturan kehidupan (politik), atau dengan kata lain menjauhkan penerapan syari’ah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, memecah belah kaum Muslim dalam sekat-sekat Nation State warisan penjajah, dan tunduk di bawah arahan kaum kafir Barat, hal itu karena kaum kafir Barat, sebagaimana diungkapkan al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H), berusaha agar para politikus atau orang yang bergerak dalam bidang politik mengarahkan pandangannya berkiblat pada perbuatan meminta bantuan Barat dan menyerahkan segala urusan kepadanya.[10]
Bagaikan virus dan bakteri yang tumbuh cepat pada tempat yang tepat, tsaqafah dan pemikiran kufur Barat pun tumbuh subur bak cendawan di musim penghujan dalam sistem jahiliyyah Demokrasi[11], bagaimana tidak?
Pertama, Sistem jahiliyyah Demokrasi yang tegak di atas asas sekularisme, telah memaksa kaum Muslim memisahkan Islam dari pengaturan urusan publik. Islam dimarjinalkan para persoalan privat, mengatur wilayah ritual peribadatan semata. Sedangkan pengaturan urusan kehidupan, diserahkan kepada manusia (secularism), diwakili mereka yang duduk di majelis-majelis perwakilan rakyat, yang diberi kewenangan luas merumuskan dan menetapkan hukum, meskipun hukum tersebut menyelisihi Islam.
Kedua, Sistem jahiliyyah Demokrasi, tegak dengan pilar-pilar kebebasan. Prinsip kebebasan, tidak terpisahkan dari Demokrasi, karena tegaknya Demokrasi sedikitnya menuntut 4 prasyarat kebebasan[12]: kebebasan beragama (freedom of Religion), kebebasan berpikir dan berpendapat (freedom of speech), kebebasan kepemilikan (freedom of ownerships), kebebasan berekspresi/ berprilaku (freedom of personality).
Dalam artikel United Nation berjudul Democracy And Human Rights dituliskan: “The values of freedom, respect for human rights and the principle of holding periodic and genuine elections by universal suffrage are essential elements of democracy.” (Tingkat kebebasan, respon terhadap hak asasi manusia, prinsip kepemimpinan periodik, dan pemilu yang bersih berdasarkan hak pilih universal merupakan elemen esensi dari Demokrasi)
Dalam realisasinya, kebebasan tersebut mencakup kebebasan melakukan berbagai hal, termasuk perkara yang menyelisihi Islam, tergambar pula dalam sepak terjang kaum liberal yang seringkali menyuarakan suara sumbang menyerang ajaran Islam. Maka terang benderang, betapa besar bahaya dan dampak kesesatan peradaban Barat, sehingga tak mengherankan jika para ulama berjibaku memperingatkan kaum Muslim dari berbagai paham kufur mereka.
Maka jelas bahwa tegaknya Peradaban Barat yang tumbuh subur dalam naungan sistem jahiliyyah Demokrasi, membidani lahirnya persoalan utama kaum Muslim (qadhiyyah mashîriyyah), ketika kaum Muslim hidup terjajah dalam naungan sistem kufur Demokrasi, tersebarnya kebatilan dan kemungkaran, terabaikannya penerapan hukum-hukum Islam dalam kehidupan publik.  
Padahal Allah telah mengancam orang-orang Islam yang menyalahi jalan Rasulullah dengan ancaman musibah dan azab yang pedih (QS. Al-Nûr [24]: 63), Allah pun berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا {١١٥}
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk dan mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir) kemudian Kami seret ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 115)

Ancaman serius dalam kalimat: Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir-pen.) kemudian Kami seret ke dalam jahannam”, jelas merupakan kerugian dunia dan akhirat. Hal ini sejalan dengan peringatan dalam firman-Nya QS. Âli Imrân [3]: 85, dan peringatan balasan berupa penghidupan yang sempit, tidak ada keberkahan, hidup dalam kesesatan, kegelisahan, kegusaran dan kebimbangan yang tiada akhirnya.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ {١٢٤}
“Dan siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan kumpulkan ia pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thâhâ [20]: 124)

Ibn ’Abbas r.a., menjelaskan makna (وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي) yakni berpaling dari mentauhidkan-Ku, dan dikatakan pula yakni mengingkari Kitab Suci-Ku dan (sunnah) Rasul-Ku.[13] Sedangkan al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) menegaskan yakni menyelisihi perintah-Ku, dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku (wahyu), berpaling darinya, melupakannya dan mengambil selain petunjuknya.
Makna (فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا) yakni di dunia tiada ketentraman baginya, tidak ada kelapangan dalam dadanya, bahkan dadanya terasa sempit, sesak dengan kesesatannya, dan jika zhahir-nya seseorang merasa cukup, mengenakan pakaian, memakan makanan, dan tinggal dimanapun ia mau, sesungguhnya kalbunya tidak mencapai keyakinan dan petunjuk, dan ia berada dalam kekhawatiran, kehampaan dan keraguan.[14]
Bagaimana sikap kita? Sudah seharusnya memperbaiki paradigma dan sikap, kembali kepada sunnah Rasulullah dan para sahabat mencakup sunnah dalam persoalan imamah (kepemimpinan), hal itu karena peringatan bermanfaat bagi orang-orang yang masih memiliki keimanan dan akal sehat (ulul albâb):

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ {١٨}
”Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Al-Zumar [39]: 18)

Dalam firman Allah lainnya:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ {٥٥}
“Dan berilah peringatan, karena peringatan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Dzâriyât [51]: 55)

Maka tidak ada jalan lain bagi kaum Muslim yang mendambakan keselamatan dunia dan akhirat, kecuali dengan menghidupkan sunnah Rasul-Nya, meniti jalannya, dan membelanya dari berbagai penyimpangan kaum yang tersesat dari jalan kebenaran, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum liberal selama ini, dengan menikam ajaran-ajaran Islam, Allâh al-Musta’ân.





[1] Penulis Buku “Konsep Baku Khilafah Islamiyyah”, Dosen yang aktif mengajar mata kuliah Fikih Siyasah/Bahasa Arab/Manthiq, dan aktif dalam kajian-kajian tafsir-balaghah al-Qur’an & Hadits-Hadits Nabawiyyah. Website: www.irfanabunaveed.net e-mail: irfanabunaveed@gmail.com 
[2] Muhammad Abu Sa’id al-Khadimi al-Hanafi, Barîqah Mahmûdiyyah fî Syarh Tharîqah Muhammadiyyah Nabawiyyah fî Sîrah Ahmadiyyah, Mathba’ah al-Halb, 1348 H, juz I, hlm. 265.
[3] Abu Hamid al-Ghazali, Ihyâ’ ’Ulûm al-Dîn, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, juz I, hlm. 77; Disebutkan pula dalam redaksi yang hampir serupa oleh Najmud Din al-Ghazzi, Husn al-Tanabbuh Limâ Warada fî al-Tasyabbuh, Libanon: Dâr al-Nawâdir, cet. I, 2011, juz V, hlm. 396.
[4] Nuruddin al-Mulla ‘Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VIII, hlm. 3403.
[5] ‘Iyadh bin Musa, Syarh Shahih Muslim (Ikmâl al-Mu’lim bi Fawâ’id Muslim), Ed: Dr. Yahya Isma’il, Mesir: Dar al-Wafa’, cet. I, 1419 H, juz VIII, hlm. 163.
[6] Taqiyuddin Abu Ibrahim al-Nabhani, Muqaddimah al-Dustûr aw al-Asbâb al-Mûjibah Lahu, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1420 H, juz I, hlm. 44.
[7] Ibid.
[8] Taqiyuddin Abu Ibrahim al-Nabhani, Al-Takattul Al-Hizbi, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. IV, 1422 H/ 2001, hlm. 5
[9] Ibid, hlm. 6.
[10] Taqiyuddin al-Nabhani, Al-Takattul Al-Hizbi, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. IV, 1422 H/ 2001, hlm. 6.
[11] Istilah jahiliyyah layak disematkan kepada sistem Demokrasi, karena istilah jahiliyyah menurut al-Qur’an dan al-Sunnah mencakup keyakinan dan perbuatan yang menyalahi al-Qur’an dan al-Sunnah, dan Demokrasi berdiri di atas asas akidah kufur dan empat prinsip kebebasan yang bertentangan dengan Islam.
[12] Dadang Juliantara, Meretas Jalan Demokrasi, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1998.
[13] Majduddin Abu Thahir al-Fayruz Abadi, Tanwîr al-Miqbâs Min Tafsîr Ibn ‘Abbas, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, hlm. 267.
[14] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dâr al-Thayyibah, cet. II, 1420 H, juz V, hlm. 322-323.

No comments :

Post a Comment