Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2019

Kesesatan Klaim Adanya Kenabian Pasca Kenabian Nabi Muhammad ﷺ

Catatan Kajian Irfan Abu Naveed Pemerhati Kajian Balaghah al-Qur'an & Hadits Nabawi, Dosen Fikih-Manthiq Menyoal ajaran Ahmadiyyah Qadiyaniyyah, telah ada fatwa MUI/Dasar Hukum Lain Yang Melarang: No. 05/kep/munas II/MUI/1980 yang menyatakan ajaran tersebut sesat. Râbithah al-Âlam al-Islâmi (liga dunia islam) di Makkah pun menyatakan hal senada bahkan lebih tegas lagi. Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) mendefinisikan makna dhalâl berkonotasi sebagai perbuatan: الاِنْحِرَافُ عَنْ شَرْعِ اللهِ “Penyimpangan dari syari’at (ajaran) Allah.”[1] Dengan kata lain suatu paham dikatakan sesat, menyimpang jika bertentangan dengan akidah dan hukum-hukum syariah yang qath‘i. Suatu paham yang menyimpang dari rukun iman, rukun Islam, dan atau tidak mengimani kandungan al-Quran jelas terkategori kesesatan (dhalâlah). Apalagi syahadatnya bukan syahadat Islam. Dilihat dari sudut ini, al-Qiyadah al-Islamiyah dan aliran-aliran lainnya yang disebutkan dengan

Kekuasaan Semu Apa Yang Bisa Disombongkan Untuk Menjegal Dakwah Islam?

Tadabur Al-Qur'an Fir'aun itu hancur tatkala berada di puncak-puncaknya kejayaan, dimana ia berani mengklaim: فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى "Fir’aun berkata, “Aku adalah rabb kalian yang paling tinggi." (QS. Al-Nazi’at [79]: 24). Itu ia ungkapkan, menurut Tafsir al-Jalalayn, 40 tahun setelah ia mengikrarkan " مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي ": وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَآأَيُّهَا الْمَلأُ مَاعَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَاهَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَل لِّي صَرْحًا لَّعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ “Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.” (QS. Al Qashash [28]: 38) Dalam kitab Tafsir al-Jal

[Video] Aksi Damai Seribuan Massa Pembela Bendera Tauhid di Cianjur

Sebagai bentuk kecintaan pada syi'ar Islam, bendera tauhid, seribuan lebih kaum Muslim di Cianjur dsk, melakukan aksi damai: konvoi dan orasi pengibaran bendera tauhid di Cianjur. Diikuti oleh ormas-ormas di Cianjur, diisi oleh orasi para tokoh habaib, kyai dan ustadz. Aksi ini merupakan jawaban dari persekusi atas bendera tauhid di acara Hari Santri Nasional di Cianjur. Satu dipersekusi, maka ribuan panji dikibarkan. Viralkan! Link: https://bit.ly/2PQKecj

Koreksi Atas Penukilan Maqalah Ulama Terkait Bendera Tauhid

*Pertanyaan* Ada seseorang dalam sebuah acara membiaskan eksistensi bendera tauhid dengan menukil maqalah ulama menyoal penulisan kalimat mulia, ia menyatakan: "Menuliskan kalimat mulia yang berpotensi digunakan tidak semestinya menurut ulama Hanafiyah adalah makruh. Bahkan menurut ulama Malikiyah adalah haram. Sebab kalimat agung akan berpotensi terhinakan." Pertanyaannya: "Bagaimana mendudukkan maqalah para ulama ini?" Jawab: الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد Maqalah para ulama tersebut, jelasnya wajib ditempatkan pada tempatnya, tidak relevan digunakan untuk mendiskreditken begitu saja (secara mutlak) penulisan kalimat tauhid pada kain bendera yang kemudian secara 'urfi, ma'ruf diistilahkan kaum Muslim di negeri ini dengan istilah "bendera tauhid": Pertama, Maqalah sebagian ulama tersebut jelasnya berkaitan erat dengan penulisan kalimat dzikrullah pada benda yang me

Koreksi Atas Klaim Hermeneutis Ala Irwan Masduqi Menyoal Ijma'

Oleh: Irfan Abu Naveed [Penulis Buku "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah" ] Benarkah Ijma’ Itu Hanya Klaim Sepihak Ulama Di Zamannya Demi Motif Politis Seperti Yang Diklaim Oleh Sdr Irwan Masduqi?          Jelas ini tidak benar dan tak bisa dibenarkan, klaim ini mengandung tuduhan serius kepada para ulama seakan-akan mereka berdusta mengada-adakan tentang ijma’. Sebagaimana disebutkan oleh ybs tatkala mengomentari dalil ijma' sahabat dan ijma' ahlu sunnah wa al-jama'ah yang saya uraikan berkali-kali dalam forum diskusi bedah buku Konsep Baku Khilafah Islamiyyah di Banjar (27/10/2019).  Kecurigaan dan tuduhan seperti ini, adalah kecurigaan dan tuduhan khas penganut hermeneutika atas nama “kajian sosio historis”. Pemikiran rusak seperti ini, mudah kita temukan dalam ucapan-ucapan para penganut hermeneutika, mereka andalkan ketika mengkritisi teks-teks khazanah Islam, diantaranya tatkala mereka mengkritisi maqalah para ulama, dimana produk pemikiran

Dalil Kebakuan Khilafah [II]: Ijma' Ahlus Sunnah Wajibnya Kesatuan Khilafah

Ijma’ Sahabat & Ulama Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah:  Wajibnya Mengangkat Satu Khalifah Untuk Satu Masa Oleh: Irfan Abu Naveed [Penulis Buku "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah" ] Islam mewajibkan kaum Muslim menegakkan Khilafah sebagai institusi pemersatu kalimat kaum Muslim, sebagaimana Islam pun mengharamkan segala tindak tanduk yang bisa memecah belah jama’ah kaum Muslim, seperti bughat (pemberontakan) atas Khilafah. Hal itu banyak diuraikan para ulama dalam turats mereka terkait al-siyâsah al-syar’iyyah. Dalam atsarnya, Ibn Mas’ud r.a. berkata dalam khutbah-nya: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّهَا حَبْلُ اللَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِهِ، وَمَا تَكْرَهُونَ فِي الْجَمَاعَةِ خَيْرٌ مِمَّا تُحِبُّونَ فِي الْفُرْقَةِ» “ Wahai manusia, kalian wajib berpegang teguh pada keta’atan dan al-jama’ah, karena sesungguhnya ia adalah tali Allah dimana Allah memerintahkan untuk (berpegangteguh) padanya, apa-apa yang kalian benci a