10 August 2019

Teguh Di Atas Jalan Kebenaran


Irfan Abu Naveed
(Penulis Buku “Jahiliyyah Menyikapi Musibah”)

K
ebenaran senantiasa berhadap-hadapan dengan kebatilan, kondisi ini menuntut para pengemban kebenaran dari masa ke masa; teguh menghadapi berbagai rintangan dari mereka yang terpedaya dunia, menjadikan kekuasaan semu sebagai tujun hidup mereka; Rasulullah dan para sahabat misalnya, menghadapi berbagai rintangan verbal dan fisik; penolakan, pelarangan, stigma negatif, cacian, pemboikotan, penyiksaan hingga serangan ilmu hitam. Bagaimana sikap mereka? Tetap teguh menunaikan perintah-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا {١٠٣}
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Âli Imrân [4]: 103)

Ungkapan habluLlâh (tali Allah) merupakan kiasan (al-isti’ârah) dari Din Allah, diksi ini menguatkan pengaruh dalam benak kaum Muslim, bahwa Din Allah adalah sesuatu yang wajib dipegang teguh, tak boleh dilepaskan barang sejenak, karena tali inilah yang menuntun manusia keluar dari berbagai kegelapan menuju satu cahaya Allah (lihat: QS. Ibrâhîm [14]: 1). Tatkala dilepaskan, maka ia akan terhempas ke dalam jurang kegelapan.
Menariknya, ditegaskan Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam tafsir al-Munîr (IV/32): salah satu bentuk berpegang teguh kepada Din Allah dalam ayat di atas, ditunjukkan ayat selanjutnya (QS. Âli Imrân [3]: 104) yakni: mendakwahkan Din Islam, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Keteguhan memperjuangkan kebenaran seperti inilah yang menjadi syarat turunnya pertolongan Allah, hingga Allah berjanji meneguhkan kedudukan mereka yang menolong Din-Nya (QS. Muhammad [47]: 7), dan menganugerahkan mereka Kekhilafahan (QS. Al-Nûr [24]: 55). Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ {٧}
“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)

Istimewanya, dalam kalimat ini Allah menisbatkan pertolongan hamba-hamba-Nya kepada-Nya, padahal Allah SWT Maha Kuasa atas segala perkara, tak membutuhkan pertolongan makhluk-Nya. Menurut Abu Ja’far al-Nahhas (w. 338 H) dalam I’rab al-Qur’an (IV/119), ungkapan tersebut merupakan kiasan (majâz); yang disebutkan Allah namun maksudnya menolong Rasul-Nya, Dîn-Nya, syari’at-Nya, dan kelompok pembela Dîn-Nya (hizbuLlâh), hal ini ditegaskan Al-Razi dalam Mafâtîh al-Ghaib (VIII/42).
            Menolong dînuLlâh dan teguh di atas jalan ini pun merupakan wasiat para nabi dan rasul, Syaikh ’Atha bin Khalil dalam Al-Taisîr fî Ushûl al-Tafsîr (hlm. 163-164) menjelaskan bahwa Nabi Ya’qub a.s. berwasiat pada anak-anaknya, agar mereka senantiasa berpegang teguh terhadap agama mereka, yang Allah pilihkan untuk mereka, dan agar mereka senantiasa berada dalam agama ini hingga diwafatkan Allah, serta dalam keadaan tunduk dan ta’at kepada-Nya, tak pernah berpaling dari keta’atan kepada Allah, tunduk dan menegakkan Islam, karena mereka tak mengetahui kapan tibanya kematian.
Apa buah dari menolong Din-Nya? Terjawab dalam kalimat “yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum” (maka Allah menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian). Imam al-Sam’ani menafsirkan makna al-nashr minaLlâh (pertolongan dari Allah) yakni al-hifzh (pemeliharaan dan penjagaan dari segala keburukan) dan al-hidâyah (bimbingan petunjuk untuk senantiasa berada di atas kebenaran), dan ia termasuk janji Allah bagi orang yang menolong Din-Nya (QS. Al-Hajj [22]: 40).
Ungkapan agung yutsabbit aqdâmakum (Dia akan meneguhkan kaki-kaki kalian), merupakan bentuk kiasan (majâz mursal), yang dimaksud adalah keseluruhan diri orang yang Allah teguhkan (ithlâq al-juz’i wa irâdat al-kulli). Hal ini menguatkan rasa, menggambarkan keteguhan, yakni teguh dalam membela Islam, serta teguh dalam menghadapi berbagai tantangan, sebagaimana dialami para nabi dan rasul –’alaihim al-salâm-.

Berpegang Teguh pada Sunnah Imâmah dalam Islam

Salah satu ajaran Islam bahkan termasuk ’ural Islam (ikatan-ikatan Islam) yang wajib dipegang teguh oleh kaum Muslim adalah sunnah dalam persoalan al-imâmah (kepemimpinan Khilafah) yang telah digariskan Rasulullah dan Khulafa’ Rasyidun, dimana ia menjadi ikatan Islam yang pertama kali terurai, dari Abu Umamah al-Bahili r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:

«لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا، فَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ، وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ»
“Ikatan-ikatan Islam akan terburai satu per satu, setiap kali satu ikatan terburai orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah al-hukm (kekuasaan/pemerintahan) dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, al-Hakim)

Mengomentari hadits ini, ulama pakar ushul fikih dan ilmu syari’ah, Dr. Abdul Karim Zaidan dalam Ushûl al-Da’wah (hlm. 205) menegaskan:

“Yang dimaksud al-hukm di sini adalah kekuasaan yang berjalan di atas landasan Islam. Terkandung di dalamnya dengan sejelas-jelasnya, eksistensi Khalifah yang menegakkan kekuasaan tersebut, sedangkan yang dimaksud naqdhuhu yakni kekosongan dan ketiadaan konsistensi padanya, Rasulullah telah menyandingkan hilangnya institusi kekuasaan ini dengan hilangnya ikatan shalat padahal shalat itu wajib, menunjukkan bahwa kekuasaan ini hukumnya wajib.”

Dan di masa kini tatkala kaum Muslim dihadapkan pada berbagai syubhat, berpegang teguh padanya adalah kewajiban, dari al-’Irbadh bin Sariyah r.a. ia berkata: Rasulullah bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»
“Hendaklah kalian berdiri di atas sunnahku, dan sunnah para khalifah al-râsyidîn al-mahdiyyîn (para khalifah yang mendapatkan petunjuk), gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang kuat.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

Rasulullah meminjam ungkapan  (al-isti’ârah al-tamtsîliyyah) ’adhdhû ’alaihâ bi al-nawâjidz (gigitlah dengan gigi geraham yang kuat) untuk menggambarkan konsistensi berpegang teguh terhadap sunnah, yakni jalan hidupnya Rasulullah dan al-Khulafâ’ al-Râsyidûn (Ibn Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam (II/126)). Lafal sunnah yang ditautkan (idhâfah) pada diksi al-khulafâ’, menunjukkan sunnah tersebut mencakup kepemimpinan politik. Prof. Dr. Abdullah al-Dumaiji dalam Al-Imâmah al-‘Uzhmâ ‘Inda Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah (hlm. 51-52) menjelaskan:

Ini merupakan sunnah mereka –radhiyaLlâhu ’anhum- dalam menegakkan kekhilafahan, dan tidak ada sikap mengabaikan pengangkatan Khalifah, maka wajib hukumnya meniti jalan mereka dalam perkara tersebut, berdasarkan perintah Nabi .”

            Apa sebabnya? Umar bin al-Khaththab r.a menggambarkan:

إِنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إِذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لَمْ يَعْرِفِ الْجَاهِلِيَّةَ
Sesungguhnya ikatan Islam hanyalah terurai satu per satu apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui perkara jahiliyah.

Berapa banyak orang yang terkungkung keyakinan dan pemahaman jahiliyyah dalam persoalan imâmah dan siyâsah? Maka sudah seharusnya kaum Muslim yang sadar, teguh merajut kembali ikatan Islam meskipun sulit bagaikan menggenggam bara api, dari Anas bin Malik r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:

«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ»
 “Kelak akan datang suatu masa kepada manusia, dimana orang-orang yang bersabar (berpegang teguh) dengan agamanya di tengah-tengah mereka bagaikan orang yang menggenggam bara api.” (HR. Al-Tirmidzi)

Khatimah

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).(QS. Âli Imrân [4]: 8)







No comments :

Post a Comment