Skip to main content

Jawaban Ilmiah Atas Syubhat Khilafah Hanya 30 Tahun [Bag. I]


[Kajian Ushul Fikih & Balaghah Hadits-Hadits Nabawiyyah]

Irfan Abu Naveed
[Dosen Fikih Siyasah, Manthiq & Bahasa Arab, Penulis Buku Konsep Baku Khilafah Islamiyyah]

Download File PDF (Download Archieve): https://bit.ly/2ZjWRTg

Di antara syubhat berbahaya menyoal Khilafah adalah syubhat yang dikembangkan segelintir oknum di zaman ini, di antara mereka mengklaim:

Sebagian kitab Tafsir mengatakan janji ini (dalam QS. Al-Nûr [24]: 55) telah tuntas dipenuhi Allah pada masa Nabi Muhammad dan al-Khulafa ar-Rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Lihat Ibn Katsir (6/77), Bahrul Ulum (2/52), al-Baghawi (3/426), al-Kasyaf (3/521), al-Baydhawi (4/112), an-Nasafi (2/515), Dar al-Mansur(6/215). Alasan mereka adalah adanya Hadits Sahih dimana Nabi mengatakan kekhilafahan itu hanya berlansung selama 30 tahun. Dan itu terpenuhi dalam periode al-Khulafa ar-Rasyidun.

Bagaimana menjawab syubhat ini?

Jawaban

Pertama, Hadits yang menyebutkan Khilafah 30 tahun yakni hadits berikut ini: Dari Safinah r.a. ia berkata: Rasulullah bersabda:

«الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً، ثُمَّ مُلْكًا بَعْدَ ذَلِكَ»
 “Kekhilafahan dalam umatku tiga puluh tahun, kemudian setelahnya masa mulk[un].” (HR. Ahmad, Al-Tirmidzi)[1]

            Hadits ini, secara jelas menyebutkan lafal al-khilâfah, artinya sudah wajib diakui bahwa istilah (ism) Khilafah itu secara qauli disebutkan dalam lisan salafunâ al-shâlih, untuk menggambarkan konsep (musamma) dari kepemimpinan negara yang sifatnya baku dan khas, kebakuan ini jelas ditunjukkan baik oleh nas-nas syar’iyyah dari al-Qur’an dan al-Sunnah yang sifatnya qauliyyah maupun fi’liyyah dalam sunnah baginda Rasulullah , ditegaskan oleh sunnah para khulafa’ rasyidun.

Kedua, Para ulama sepakat bahwa periode Khilafah Rasyidah periode pertama adalah periode Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian, yakni periode: Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq, Khalifah Umar bin al-Khaththab, Khalifah ’Utsman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib –radhiyaLlâhu ’anhum-. Safinah r.a. sendiri mengomentari:

أَمْسَكَ سَنَتَيْنِ أَبُو بَكْرٍ، وَعَشْرَ سِنِينَ عُمَرُ، وَاثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً عُثْمَانُ، وَسِتَّ سِنِينَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Berlangsung selama dua tahun untuk kepemimpinan Abu Bakar r.a., sepuluh tahun kepemimpinan Umar r.a., dua belas tahun kepemimpinan ’Utsman, dan enam tahun kepemimpinan Ali r.a.[2]

Sebagian ulama -salah satunya Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi’i (w. 1316 H) dalam Sullam al-Munâjât Syarh Safînat al-Shalâh (hlm. 38)- menambahkan masa kekhilafahan Khalifah al-Hasan bin Ali r.a. yang berjalan selama enam bulan, termasuk masa khilafah yang mengikuti manhaj kenabian, sehingga hitungannya genap menjadi tiga puluh tahun. Al-Mulla Ali al-Qari ketika menjelaskan hadits khilafah ’ala minhaj al-nubuwwah pun menukil hadits dari Safinah r.a. ini, menguatkan pembuktian bahwa para ulama mu’tabar menafsirkan hadits 30 tahun, maksudnya adalah khilafah di atas manhaj kenabian periode pertama, yakni kekhilafahan khulafa’ rasyidun. Imam Al-Baghawi Al-Syafi’i (w. 516 H) dalam Syarh al-Sunnah menjelaskan:

قوله: «الخلافة ثلاثون سنة» قال حميد بن زنجويه: يريد أن الخلافة حق، الخلافة إنما هي للذين صدقوا هذا الاسم بأعمالهم، وتمسكوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم من بعده
Sabda Nabi , “Khilafah itu berlangsung 30 tahun”, artinya sebagaimana perkataan Humaid bin Zanjawaih,’Yang dimaksud adalah Khilafah yang sebenar-benarnya Khilafah, yaitu Khilafah yang hanya terwujud bagi para khalifah yang perbuatannya memang sesuai dengan nama ini (khilafah) dan yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah setelah beliau.[3]

Ketiga, Benarkah hadits khilafah 30 tahun ini membatasi khilafah secara mutlak hanya 30 tahun dan tidak akan tegak lagi Kekhilafahan?
Qultu: Itu adalah kesimpulan prematur, yang menyalahi dalil al-Qur’an terkait janji Allah atas kekhilafahan (QS. Al-Nûr [24]: 55), dan dalil-dalil hadits serta ilmunya para ulama rabbani, sebagaimana telah kami nukilkan pada poin pertama dan kedua.

a.      Persepektif Ilmu Bahasa Arab: Redaksi Hadits Khilafah Tidak Mengandung Pembatasan Mutlak (Qashr) Bahwa Khilafah Hanya 30 Tahun
Hadits ini, dalam perspektif cabang ilmu yang sangat mapan, ilmu balaghah (khususnya ilmu al-ma’ani), sama sekali tak mengandung petunjuk pembatasan, dalam bahasa yang lebih normatif, secara redaksional tak mengandung qarâ’in (indikasi-indikasi) dari qashr (pembatasan), yakni tidak ada petunjuk dalam redaksinya, bahwa khilafah hanya tiga puluh tahun. Artinya, mereka yang menerjemahkan: “kekhilafahan dalam umatku hanya tiga puluh tahun”, bisa dikatakan gegabah karena kelalaiannya, atau bisa jadi karena ketidakpahamannya pada ilmu bahasa arab, atau bahkan tahu ilmunya tapi sengaja menambahkan apa yang sebenarnya tidak ada, dan jika disengaja maka termasuk kedustaan mengatasnamakan baginda Rasulullah . Hendaknya ingat dengan sabda yang mulia baginda Rasulullah :

«مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
“Siapa saja yang berdusta atas nama diriku, maka hendaknya ia mengambil tempatnya di neraka.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad)

Dalam redaksi hadits khilafah 30 tahun, sama sekali tidak ada misalnya lafal innamâ, atau bentuk nafi yang diikuti dengan istitsna, itupun jika ada bisa jadi qashr-nya tidak mutlak, dalam ilmu balaghah diistilahkan qashr idhafi. Bagaimana jadinya jika tak ada sama sekali redaksi qashr-nya? Lebih fatal lagi jika kesalahan penerjemahan ini, dijadikan dalih untuk anti pada perjuangan penegakkan Khilafah. Menariknya, kesalahan penerjemahan ini semakin jelas, tatkala kita mengembalikan hadits ini kepada ilmunya para ulama mu’tabar, yang membuktikan lagi bahwa Nadirsyah tampak gagal memahami tafsiran para ulama soal QS. Al-Nûr [24]: 55 yang menafsirkannya pada masa Khulafa Rasyidun.

b.      Persepektif Ilmu Ushul Fikih: Khilafah 30 Tahun Itu Ditaqyid (Dibatasi) Maknanya Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah

Lafal khilafah dalam hadits khilafah 30 tahun ini merupakan lafal muthlaq yang di-taqyîd (dibatasi) oleh hadits-hadits Khilafah yang menggambarkan fase Khilafah di atas manhaj kenabian.
Dalam Musnad Ahmad, dengan tim editor (muhaqqiquun) yang dipimpin oleh Syaikh Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin al-Turki, didukung ulama muhaddits, Syaikh Syu’aib al-Arna’uth dan Syaikh ‘Adil Mursyid dan lainnya terdapat catatan tahqiq:

قوله: "الخلافة ثلاثون عاماً" أي: خلافة النبوة كما في رواية أبي داود
Sabda Rasulullah : Al-Khilaafah tsalaatsuuna ’aam[an], yakni Khilafat al-Nubuwwah sebagaimana ditunjukkan hadits riwayat Abu Dawud.[4]

Yang dimaksud yakni dalil hadits berikut ini:
Dalil yang menjadi taqyid atasnya adalah hadits ari Safinah r.a. ia berkata: Rasulullah bersabda:

«خِلاَفَةُ النُّبُوَّةِ ثَلاَثُونَ سَنَةً»
Khilafah Nubuwwah itu tiga puluh tahun.” (HR. Abu Dawud, Al-Thabarani)[5]

Dipertegas oleh dalil hadits; dari Hudzaifah r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»
“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad, Abu Dawud al-Thayalisi, Al-Bazzar)

Hadits ini mengabarkan dua periode khilafah di atas manhaj kenabian, periode khilafah di atas manhaj kenabian periode pertama, benar-benar genap 30 tahun, sebelum tiba masa Khilafah di atas manhaj kenabian periode kedua. Maka jelas lafal al-Khilafah yang dimaksud dalam Khilafah era 30 tahun adalah Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah pada periode pertama, berdasarkan kaidah ushul:

الْمُطلق يجْرِي على إِطْلَاقه مَا لم يقم دَلِيل التَّقْيِيد نصا أَو دلَالَة
Lafal muthlaq tetap dalam kemutlakannya, selama tidak ada dalil yang membatasinya, baik dalil berupa nas maupun dilâlah.

Kaidah ini, banyak disebutkan para ulama ushul, salah satunya Syakh Ahmad al-Zarqa, Syarh al-Qawâ’id al-Fiqhiyyah (hlm. 323). Artinya, kehilafahan yang berjalan selama tiga puluh tahun adalah khilâfah ’alâ minhâj al-nubuwwah, adapun era pemerintahan setelahnya tetap dinilai para ulama mengadopsi sistem khilafah, namun bukan khilâfah yang ideal berjalan di atas manhaj kenabian (‘alâ minhâj al-nubuwwah) karena adanya oknum khalifah yang buruk dalam menegakkan sistem tersebut (isâ’at al-tathbîq), hingga datang masa mulk[an] jabriyyat[an] yakni periode adanya para penguasa diktator yang menyalahi syari’ah pasca runtuhnya Khilafah ’Utsmaniyyah pada tahun 1924 M.

Bag. II: Ulama Mu’tabar: Era Khilafah Tak Terbatas 30 Tahun: https://bit.ly/2zstE9a




[1] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 21928), al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan dalam al-Jami’ (II/775): “Sungguh Imam Ahmad telah men-shahih-kannya”, Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Isnad-nya hasan”; Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2226), Abu Isa mengomentari: “Ini hadits hasan”.
[2] Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad al-Thahawi, Syarh Musykil al-Âtsâr, Mu’assasat al-Risalah, cet. I, 1415 H, juz VIII, hlm. 414.
[3] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi Al-Syafi’i, Syarh Al-Sunnah, Damaskus: Al-Maktab Al-Islami, cet. II, 1403 H, juz XIV, hlm. 75.
[4] Dalam ta’liq atas Musnad Ahmad (juz XXXVI, hlm. 250)
[5] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4648); Al-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (no. 6444)

Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Koreksi Atas Penafsiran Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli, Benarkah Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

  Oleh: Irfan Abu Naveed D ewasa ini, kita seringkali dihadapkan dengan slogan atau ungkapan yang seakan-akan benar padahal sebaliknya, hingga ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend setter tersendiri khususnya bagi sebagian kaum awwam . Salah satunya adalah ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Dimana ungkapan ini pun sudah tak asing di telinga kita. Lalu bagaimana pemahaman yang benar? Terlebih jika ungkapan ”fitnah lebih kejam daripada membunuh” biasanya dinukil dari ayat yang agung: {وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}    “ Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan .” (QS. Al-Baqarah [2]: 191) Kata fitnah kembali diulang pada ayat setelahnya: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ} “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kam