19 July 2019

Tertawa Tak Pada Tempatnya Termasuk Tanda Kaum Sufaha'


Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
Penulis Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"

[Peringatan Syaikhul Masyayikh Nawai al-Bantani al-Syafi'i]


S
eringkali kita menemukan diskusi antara dua pihak yang berlawanan pandangan, dihiasi dengan ikon tertawa, atau ungkapan yang menunjukkan sikon tertawa. Padahal jelas, di antara adab buruk ketika berdiskusi tentang agama -terutama di dumay- adalah: tertawa dalam pembicaraan yang tak seharusnya tertawa, karena tak ada hal lucu yang layak ditertawakan, padahal ia berbicara tentang hal yang menentukan nasib kehidupan dunia dan akhirat, perkara agama (Din Islam), yang tak bisa dipandang sebelah mata, sangat riskan dan memprihatinkan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS. Al-Kahfi [18]: 49)

Al-'Allamah al-Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi'i menukil penafsiran Ibn ‘Abbas r.a. yang berkata dalam menafsirkan ayat yang agung ini:

إن الصغيرة التبسم بالاستهزاء بالمؤمن، والكبيرة القهقهة بذلك.
“Sesungguhnya “yang kecil” (dalam ayat ini-pen.) yakni tersenyum (sinis) untuk merendahkan orang beriman, dan makna “yang besar” yakni tertawa terbahak-bahak untuk maksud yang sama.”[1]

Syaikh Nawawi al-Bantani menegaskan:

وهذا إشارة إلى أن الضحك على الناس من جملة الذنوب والكبائر
“Dan ini menjadi isyarat bahwa menertawakan manusia (untuk mengolok-olok-pen.) termasuk perbuatan salah dan dosa besar”[2]

Dari Abdullah r.a., ia berkata bahwa Nabi bersabda:


«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»
“Memaki orang muslim adalah kedurhakaan (fasik) dan membunuhnya adalah kekufuran.” (Hadits Muttafaqun ‘Alayh)

Al-Hafizh Ibn Hajar menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan penghormatan terhadap hak seorang muslim dan status hukum orang yang mencelanya tanpa alasan yang benar merupakan kedurhakaan.

Perbuatan ini sangat berbahaya karena bisa merusak ukhuwwah islamiyyah, padahal kaum muslimin itu diibaratkan bagaikan satu tubuh. Dan Allah telah mensifati orang-orang mukmin dengan persaudaraan, dimana ayat tersebut termaktub sebelum QS. al-Hujurat ayat 11 (tentang larangan mengolok-olok orang beriman).

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Ingat dengan pesan Rasulullah ? Beliau bersabda:

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim itu adalah seseorang yang kaum Muslim selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari & Abu Dawud)

Maka jangan heran jika ada oknum akun fb yang saya delete/blokir dari pertemanan, jika menunjukkan "tanda-tanda tidak sehat" ini. Mengingat pentingnya perkara agama, dan besarnya kedudukan adab dalam agama. []

وبالله التوفيق
والله أعلم بالصواب

Catatan Kaki:
[1] Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq fî Syarh Sullam al-Taufîq, Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. I, 1431 H.
[2] Ibid.


No comments :

Post a Comment