Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2019

Bantahan Telak Atas Syubhat "Hizbut Tahrir Dilarang, Berarti Sesat"

Multaqa Ulama Aswaja Menolak OBOR China Dukung Khilafah Membungkam Wahm: "Hizbut Tahrir Dilarang Berarti Sesat" D i antara wahm aneh yang dikembangkan sebagian orang yang salah paham atau terpedaya oleh rezim pecinta dunia adalah asumsi (wahm): "HT dilarang di negeri-negeri muslim berarti pasti salah". Berikut ini, catatan singkat saya (tweet) atas wahm yang bertolak dari paradigma sesat tersebut, bertolak dari kaidah-kaidah Islamiyyah menempatkan persoalan: Qultu: PERTAMA, Sejak kapan syubhat tersebut bisa diterima akal sehat? Sejak kapan penolakan manusia, menjadi ukuran benar tidaknya dakwah dan para pengembannya? Maka, wajib dikembalikan kepada kaidah ilmiah. Hizbut Tahrir didirikan oleh para ulama, berdasarkan taujih al-Qur’an: QS. Âli Imrân [3]: 104, dan didirikan dengan visi dan misi agung dalam perjuangannya, sebagaimana disebutkan dalam Ta’rif Hizb al-Tahrîr: غاية حزب التحرير هي استئناف الحياة الإسلام

Tertawa Tak Pada Tempatnya Termasuk Tanda Kaum Sufaha'

Irfan Abu Naveed, M.Pd.I Penulis Buku " Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah " [Peringatan Syaikhul Masyayikh Nawai al-Bantani al-Syafi'i] S eringkali kita menemukan diskusi antara dua pihak yang berlawanan pandangan, dihiasi dengan ikon tertawa, atau ungkapan yang menunjukkan sikon tertawa. Padahal jelas, di antara adab buruk ketika berdiskusi tentang agama -terutama di dumay- adalah: tertawa dalam pembicaraan yang tak seharusnya tertawa, karena tak ada hal lucu yang layak ditertawakan, padahal ia berbicara tentang hal yang menentukan nasib kehidupan dunia dan akhirat, perkara agama (Din Islam), yang tak bisa dipandang sebelah mata, sangat riskan dan memprihatinkan.  Allah 'Azza wa Jalla berfirman: وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْل

Kaidah Ilmiyyah Ushuliyyah dalam Pendefinisian Khilafah

Irfan Abu Naveed [Dosen Fikih Siyasah, Bahasa Arab & Penulis Buku  "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah" ] Mukadimah I stilah khalifah dan khilafah disebutkan dalam nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah (dengan keragaman bentuk ungkapan sharaf-nya), menunjukkan adanya konsepsi khusus kedua istilah tersebut, hubungannya dengan kewajiban menegakkan politik Islam ( al-siyâsah al-syar’iyyah ) dalam kehidupan bernegara, para ulama menyifati kedua istilah tersebut termasuk al-mushthala h ât al-syar’iyyah atau al-mushthalahât al-fiqhiyyah. [1] Lalu bagaimana memahami dan mendudukkannya berdasarkan taujîh ulama Rabbani? Dalam ilmu ushul fikih, dirinci secara mapan ruang lingkup makna haqîqah atas suatu kata atau istilah, ia merupakan kebalikan dari jenis majâz [2] yang dibahas dalam ilmu balaghah, mencakup: Hakikat Bahasa ( al-Haqîqah al-Lughawiyyah ) Hakikat ’Urf/ Tradisi ( al-Haqîqah al-’Urfiyyah ) Hakikat Syar’i ( al-Haqîqah al-Syar’iyyah )