24 June 2019

Kritik Atas Kesalahan Fatal Nadirsyah Menyoal Hadits Bisyarah Khilafah

Tampilan Tulisan Nadirsyah Hosen Menyoal Hadits Bisyarah Khilafah
Nadirsyah Hosen kembali mengundang kontroversi dengan tulisan pendek berjudul:

=======
"Riwayat Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah Tidak Dibahas dalam Kitab Utama Bidang Aqidah, Tafsir, Hadits, Tarikh & Fiqh"
=======

Di awal dan akhir paragrafnya pun ia mengklaim pandangan cukup kontroversial:

=======
"Hizbut Tahrir masih saja koar-koar soal akan datangnya kembali khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah berdasarkan riwayat yang tercantum dalam kitab Musnad Ahmad. Saya sudah pernah bahas problematika riwayat tersebut dari sudut sanad dan matan, sekarang kita lihat apakah riwayat ini dianggap penting atau setidaknya dibahas dalam al-kutub al-mu’tabarah (kitab yang dijadikan rujukan utama)?"

"Jadi hadits riwayat khilafah ‘ala minhajin nubuwwah tidak dianggap penting untuk dibahas dalam referensi utama yang otoritatif dalam tradisi keilmuan Islam."
=======

TANGGAPAN

PERTAMA, Takhrij Hadits Bisyarah Khilafah

Intisari penilaian para ulama besar muhaddits soal tashhih hadits bisyarah Khilafah, sudah selesai kami uraikan di sini:

Catatan Singkat Saya: Link Hadits Bisyarah Khilafah

Catatan Singkat Ust Yuana Ryan T, M.Ag.: Takhrij Hadits Bisyarah Khilafah

Lengkapnya, bisa antum simak dalam booklet Kado Untuk Nadirsyah di sini: Link Download Pdf Booklet

Seluruh penjelasan di atas, cukup telak mempreteli tadh'if hadits bisyarah Khilafah versi Nadirsyah, yang kami nilai cukup gegabah. Sampai di sini, Nadirsyah tampak jelas tak mampu membantah balik argumentasi tashhih hadits bisyarah Khilafah, tak ada bantahan kecuali hanya komentar pendek yang mengalihkan topik diskusi dan klaim sepihak, sama sekali tak ada bantahan argumentatif balik yang berbobot ilmiah.

Komentarnya di atas dengan tulisan terbarunya yang hendak mempersoalkan hadits bisyarah Khilafah dengan ukuran penting dan tidak penting, malah menimbulkan perdebatan baru.

KEDUA, Kritik Atas Paradigma Nadirsyah Soal Penting Tidaknya Khilafah

Kalimatnya ini, "sekarang kita lihat apakah riwayat ini dianggap penting atau setidaknya dibahas dalam al-kutub al-mu’tabarah (kitab yang dijadikan rujukan utama)?"

Sangat kentara menunjukkan kesalahan paradigmatik dan metodologis-nya dalam mengkaji satu bab dari bab ilmu, dalam hal ini hadits bisyarah Khilafah. Yakni menjadikan ketiadaan "teks" dalil ini dalam kitab yang ia pilih versinya sebagai dasar penting tidaknya hadits bisyarah KHILAFAH, seakan-akan ia mengadopsi kaidah:

عدم العلم بالدليل دليل على عدم الدليل
"Ketiadaan ilmu atas dalil (petunjuk) menjadi dalil atas ketiadaan dalil."

Paradigma berbahaya ini asal usulnya justru dari kalangan filosof sesat, yang lalu dibantah para ulama, hingga melatarbelakangi lahirnya kaidah:

عدم العلم ليس علماً بالعدم 
“Ketiadaan ilmu bukan lah bukti ilmu atas ketiadaan sesuatu.”

Kaidah ini disebutkan para ulama semisal Syaikh Ibn Taimiyyah ketika mengkritisi filosof dan filsafat, ditegaskan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak dalam Al-Risâlah al-Tadammuriyyah dan kumpulan ulama di bawah bimbingan Syaikh Alawi bin Abdul Qadir al-Segaf dalam Al-Mausû’ah al-‘Aqdiyyah. Atau dalam bahasa lebih familiar:

عدم العلم بالدليل ليس دليلا على عدم الدليل
“Ketiadaan ilmu terhadap dalil, bukanlah dalil atas ketiadaan dalil”

Bahkan dalam tulisannya, Nadirsyah mendadak tampak tekstualis membangun kesimpulan besar, semata-mata pada ada tidaknya hadits tersebut dalam teks-teks kitab pilihannya, untuk membangun framing “Dalil bisyarah Khilafah itu tidak penting”. Kesimpulan yang sangat mungkin menimpa mereka yang menyederhanakan pembahasan, semata-mata fokus pada satu dan dua dalil, sangat riskan.

Sejak kapan pembahasan ilmiah, bisa diukur dari ada tidak adanya teks dalam kitab-kitab?

Dari segi metodologis pun, cara seperti ini jelas kecacatannya, bahkan berbahaya. Tidak bisa diterima bahkan untuk penelitian skripsi selevel S1 sekalipun. Padahal yang dibicarakan adalah hadits nabawi dan pandangan para ulama atasnya, jelas persoalan besar, mengingat jumlah kitab yang ia nukil pun tak bisa mewakili jumlah puluhan atau bahkan ratusan juta kitab yang diwariskan ulama Islam dari masa ke masa semenjak risalah Islam turun ke dunia hingga detik ini.

Maka pada prinsipnya, asumsi Nadirsyah Hosen soal hadits bisyarah khilafah tak penting adalah batal, tak bisa diterima dari asasnya:

كل ما بني على باطل فهو باطل
“Segala hal yang dibangun di atas asas yang batil maka ia pun batil.”

Kaidah ini, disebutkan Prof. Dr. Muhammad Mushthafa al-Zuhaili dalam Al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh al-Islâmi (juz I, hlm. 264), dan Syaikh Abdul Muhsin bin Abdullah al-Zamil dalam Syarh al-Qawâ’id al-Sa’diyyah (hlm. 343).

Maka siapapun hendaknya menahan diri untuk tidak berbicara kecuali dengan ilmu yang benar, mencakup benarnya paradigma dan metodologi pengkajiannya, kalau tidak maka berlaku kaidah:

من تكلم في غير فنّه أتى بالعجائب
“Siapa saja yang berbicara dalam hal yang tak dikuasainya, maka ia akan mendatangkan perkara-perkara kontroversial.”

Kaidah ini disebutkan oleh para ulama, sebutlah al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 1379 H) dalam Fath al-Bârî (III/584), Syaikh Muhammad Abdurrahman al-Mubarakfuri (w. 1353 H) dalam Tuhfat al-Ahwadzi (I/24), Syaikh Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri (w. 1353 H) dalam Faidh al-Bârî (IV/39).

Kata al-‘ajâ’ib dalam maqalah ini maksudnya adalah hal-hal aneh, kontroversial. Menyebut hadits bisyarah khilafah tidak penting semata-mata didasarkan pada kecacatan paradigma dan metodologi jelas kontroversial!

KETIGA, Kedudukan Khilafah dalam Islam

Banyak dalil besarnya kedudukan Khilafah dalam Islam. Dari Abu Umamah al-Bahili r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:


«لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا، فَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ، وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ»
“Ikatan-ikatan Islam akan terburai satu per satu, setiap kali satu ikatan terburai orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah al-hukm (kekuasaan/pemerintahan) dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, al-Hakim)

Mengomentari hadits ini, salah seorang ulama ahlus sunnah Irak, pakar ilmu ushul fikih dan ilmu syari’ah, Syaikh Dr. Abdul Karim Zaydan, beliau menjelaskan: “Yang dimaksud al-hukm di sini adalah kekuasaan yang berjalan di atas landasan Islam. Terkandung di dalamnya dengan sejelas-jelasnya, eksistensi Khalifah yang menegakkan kekuasaan tersebut, sedangkan yang dimaksud naqdhuhu yakni kekosongan dan ketiadaan konsistensi padanya, Rasulullah telah menyandingkan hilangnya institusi kekuasaan ini dengan hilangnya ikatan shalat padahal shalat itu wajib, menunjukkan bahwa kekuasaan ini hukumnya wajib.

Shalat adalah rukun di antara rukun Islam yang agung yang status hukumnya fardhu, ketika pemerintahan disandingkan dengan urusan shalat, menunjukkan bahwa pemerintahan yang dimaksud termasuk perkara yang fardhu untuk ditegakkan sebagaimana ibadah shalat.

Pernyataan ilmiah Dr. Abdul Karim Zaydan di atas, dinukil pula oleh Syaikh Dr. Abdullah al-Dumaiji dalam risâlah-nya ketika menguraikan dalil-dalil al-sunnah wajibnya kekhilafahan.

Ungkapan ’urâ al-Islâm, termasuk di antaranya shalat, Menunjukkan bahwa yang dimaksud ’urâ al-Islâm adalah perkara yang sangat penting, terlebih ikatan tersebut ditautkan (al-idhâfah) kepada Din Islam, sehingga menunjukkan bahwa perkara pemerintahan ini merupakan perkara fondasi di antara fondasi-fondasi penyokong Islam.

Maka tidak mengherankan jika seorang ulama besar ahli fikih dan tafsir sekelas al-Hafizh al-Qurthubi lalu menegaskan:

وأنها ركن من أركان الدين الذي به قوام المسلمين، والحمد لله رب العالمين
Dan bahwa ia (al-Imâmah) merupakan fondasi dari fondasi-fondasi agama ini dimana dengannya tegak fondasi kaum Muslim, dan segala puji bagi Allah.

Yakni rukun din atau pilar penegak Din Islam. Istilah rukn[un] dalam kamus bahasa ahli fikih (Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’) didefinisikan sebagai pilar, yakni sisi yang kokoh dari sesuatu, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) menuturkan:

الركن: ج أركان وأركن، الجانب الاقوى من الشئ (pillar) أركان الكعبة: ملتقى كل جدارين فيها
Al-Rukn: jamaknya adalah arkân dan arkan, yakni sisi yang kokoh dari sesuatu (pilar atau fondasi). Misalnya arkân al-ka’bah:  yakni tempat pertemuan antara dua dinding di dalamnya (yakni fondasinya).

Hal ini senada digambarkan para ulama, yang juga menegaskan kekhilafahan sebagai Tâj al-Furûdh (mahkota kefardhuan) dalam Islam, manakala di bawahnya dinaungi banyak penegakkan ajaran-ajaran Islam secara sempurna (kâffah), dimana takkan sempurna penegakkan Islam dalam kehidupan kecuali dengannya, semisal penegakkan sistem persanksian dalam Islam (nizhâm al-’uqûbât) dan lain sebagainya.

Hingga relevan jika para ulama berijma atas wajibnya menegakkan Khilafah didasarkan pada dalil al-Qur'an, al-Sunnah dan ijma' sahabat. Ringkasannya silahkan cek di sini: Khilafah dalam Perspektif Islam

Selengkapnya menyoal dalil-dalil Khilafah, disajikan dengan ilmu ushul fikih dan bahasa arab (balaghah) bisa tela’ah di buku kami: Konsep Baku Khilafah Islamiyyah: Link Informasi Buku

Kedudukan Khalifah Berdasarkan Penjelasan Ulama Mu’tabar (Kajian Hadits & Balaghah): Link Kajian Balaghah Hadits Khilafah

Tantangan Diskusi

Setelah itu semua, bagaimana kalau diadakan diskusi terbuka untuk mempertanggungjawabkan pandangan masing-masing di meja diskusi terhormat?

والله أعلم بالصواب

Irfan Abu Naveed
Dosen & Penulis

No comments :

Post a Comment