20 June 2019

Jawaban Atas Kebingungan Memaknai Lafal "Al-Imarah" Dalam Bahasa Imam Al-Ghazali (Bukan Republik, Melainkan Khilafah)

Irfan Abu Naveed
Dosen Fikih Siyasah, Bahasa Arab


Keterangan foto tidak tersedia.

A
da segelintir orang penganut bias konsep khilafah dalam diskusi, yang tampak gusar tak mampu membantah kejelasan hujjah mengenai kebakuan khilafah, lalu tiba-tiba menuduh saya melakukan pencatutan maqalah Imam Abu Hamid al-Ghazali hanya karena menukil sepotong pernyataannya, yang saya nukil hanya lafal "الخلافة" dan meninggalkan lafal "الإمارة". Padahal nukilan tersebut sama sekali tak mengubah hakikat dari maksud maqalah Imam al-Ghazali, sesuai konteksnya dinukil ringkas: "li kulli maqam[in] maqal[un].

Hal itu karena mereka seakan mendapatkan angin segar dengan menakwilkan lafal "الإمارة" maknanya BUKAN KHILAFAH, yang tampak hendak mereka biaskan pada sistem pemerintahan di luar Islam, semisal republik untuk menjustifikasi adanya bias konsep sistem pemerintahan dalam Islam.

===========
Fulan menuduh: "Saya hanya kritik pencatutan antum tadi yg sudah jelas2 berdusta dengan qoul imam ghozali dengan memotong teks arabnya"
===========

Qultu:

Ana nukil sepotong kata "الخلافة" bukan "الخلافة والإمارة", karena konteksnya cukup kalimat ringkasnya saja, sesuai dengan konteks yang dibicarakan dalam perdebatan. Karena pada dasarnya kalimat lengkap dari maqalah Imam al-Ghazali tersebut memperjelas apa yang ana tegaskan soal kebakuan Khilafah, sebaliknya bahkan semakin menunjukkan kesalahan mereka yang membiaskan konsepsi khilafah.

===========
Fulan menuduh: "Urusan Imarah/Khilafah. Tanda ini "/" anda maknai "dan" atau "atau"?"
===========

Qultu:

Teksnya menyebutkan "الخلافة والإمارة" bukan garis miring, garis miring dalam ilmu al-imla' termasuk 'alamat al-tarqim (tanda baca) diistilahkan "al-khath al-ma'il", dalam teks tidak ada garis miring melainkan huruf waw.

Kedua kata ini dihubungkan dengan huruf waw, baik di kitab al-Ihya'-nya Imam al-Ghazali maupun di kitab Faidh al-Qadir-nya Imam al-Munawi.

Huruf waw itu huruf apa dalam ilmu bahasa arab? Ia termasuk huruf al-ma'any, ghalib-nya satu huruf memiliki fungsi lebih dari satu.

Apa fungsi huruf waw dalam maqalah Imam al-Ghazali? Untuk memahaminya, bagi awam cukup merujuk kepada penjelasan ilmiah para ulama, tak perlu membebani diri dengan belajar khusus ma'any al-huruf, untuk memahami makna huruf "و" dalam teks di atas, jadi jangan pakai ilmu terjemah bahasa indonesia saja, nah untuk mendudukkan maksud dari Imam al-Ghazali di atas, pahami pakai ilmu ma'any al-huruf berikut qara'in di balik kalimat tersebut menurut qa'ilnya. Berkaitan dengan huruf al-ma'any, bisa dirujuk kitab induk seperti kitab "Mughni al-Labib 'An Kitab al-A'arib" karya Imam Ibn Hisyam (w. 761 H) atau kitab "Ma'ani al-Huruf" karya Ali bin Isa Abu al-Hasan al-Mu'tazili (w. 384 H).

Hanya saja di sini saya takkan merinci masalah lughawiyyah seperti ini. Intinya, lantas apa makna kalimat al-Ghazali di atas? Makna al-imarah dalam teks al-Ghazali bukan "REPUBLIK", bukan "MONARKI", dsb yang digagas oleh manusia. Melainkan Khilafah itu sendiri. Perhatikan maqalah Imam al-Ghazali berikut ini dalam nukilan Imam al-Munawi dalam kitab Faydh al-Qadir:


ثلاثة لا ترد دعوتهم الإمام العادل
تنبيه: قال الغزالي : فيه أن الإمارة والخلافة من أفضل العبادات إذا كانتا مع العدل والإخلاص ولم يزل المتقون يحترزون منها ويهربون من تقلدها لما فيها من عظيم الخطر إذ تتحرك به الصفات الباطنة ويغلب على النفس حب الجاه والاستيلاء ونفاذ الأمر وهو أعظم ملاذ الدنيا.


Pahami di mulai dari lafal al-imam dalam hadits yakni al-imam al-'adil itu maknanya makrifat, yakni al-khalifah, karena adil menjadi syarat khalifah, bukan syarat pemimpin negara dalam konsepsi pemerintahan di luar Islam semisal presiden. Sebutkan syarat presiden dalam sistem politik? Adakah syarat adil? Tidak ada!

Adil itu maknanya kebalikan zhalim, salah satu kezhaliman: mengganti hukum Islam semisal hudud dan qishash dengan hukum yang menyalahinya. Lihat petunjuk QS. Al-Ma'idah [5]: 45.

Maka konteks pembicaraan para ulama, baik dibalik istilah Khilafah atau Imarah itu adalah KEPEMIMPINAN ISLAM. Karena baik IMARAH, dengan personnya diistilahkan "Amir" jamaknya "Umara'" adalah mutaradif (sinonim) dari KHILAFAH dalam bahasa arab personnya diistilahkan "Khalifah" jamaknya "Khulafa'".

Jelas dengan berbagai qara'innya, tak bisa sembarang ditakwilkan. Di sisi lain, al-Ghazali sendiri hidup di era kekhilafahan, konteksnya jelas beliau sedang berbicara tentang KHILAFAH, bukan REPUBLIK dan yang semisalnya dari sistem-sistem gagasan barat.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam al-Ihyâ menegaskan eksistensi kekhilafahan:

أحكام الخلافة والقضاء والسياسات بل أكثر أحكام الفقه مقصودها حفظ مصالح الدنيا ليتم بها مصالح الدين
“Hukum - hukum mengenai Khilafah, peradilan dan politik bahkan kebanyakan hukum - hukum fiqih itu tujuannya ialah menjaga berbagai kemashlahatan dunia untuk menyempurnakan dengannya berbagai kemashlahat ad-Din” (al-Ghazali, Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn, 2/108)

Imam Abu Hamid al-Ghazali pun berkata:

أما الخلافة والإمارة فهي من أفضل العبادات إذا كان ذلك مع العدل والإخلاص وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم ليوم من إمام عادل خير من عبادة الرجل وحده ستين عاما
“Adapun Khilafah dan Imarah maka termasuk ibadah yang paling utama apabila disertai keadilan dan keikhlasan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: satu hari dari Imam yang adil lebih baik dari ibadah seorang laki - laki selama 60 (enam puluh) tahun”. (Al-Ghazali, Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn, 3/324)

Jelas bukan, konteksnya adalah KHILAFAH itu sendiri. Seharusnya hati-hati, bahasa fuqaha adalah bahasa fikih, wajib dipahami kembali kepada tradisi fuqaha itu sendiri. Contoh salah satu dalil ilmiah mengapa IMARAH adalah mutaradif dari KHILAFAH dalam maqalah para ulama adalah ini:

Menurut Al-Anbari, khalifah pun dijuluki Amîr al-Mu’minîn, karena khalifah berhak memerintah mereka, hingga mereka mendengar perintahnya dan sejalan dengan perkataannya. Dan yang pertama kali dijuluki Amîr al-Mu’minîn adalah ‘Umar bin al-Khaththab r.a, Al-Khawarizmi (w. 387 H) pun menegaskan hal tersebut.[1] Hal itu sebagaimana ditegaskan dalam banyak riwayat.

Hal ini sejalan dengan penjelasan para ulama, bahwa Khilafah, Imarah, dan Imamah adalah mutaradifah (sinonim).

Imam Al-Razi mengenai istilah Imamah dan Khilafah dan Imarah dalam kitab Mukhtâr al-Shihâh hlm. 186:

الخلافة أو الإمامة العظمى، أو إمارة المؤمنين كلها يؤدي معنى واحداً، وتدل على وظيفة واحدة و هي السلطة العيا للمسلمين


"Khilafah, Imamah al-‘Uzhma, atau Imarah al-Mukminin semuanya memberikan makna yang satu (sama) dan menunjukkan tugas yang juga satu (sama), yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum Muslim."[3] 

Syaikh Dhiyauddin al-Rais dalam kitabnya, Al-Nazhariyât al-Siyâsiyah al-Islâmiyyah hlm. 92 juga mengatakan:

يلاحظ أن الخلافة والإمامة الكبرى وإمارة المؤمنين ألفاظ مترادفة بمعنى واحد
"Patut diperhatikan bahwa Khilafah, Imamah al-Kubra, dan Imarah al-Mu’minin adalah istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama." [4]


Personnya, diistilahkan Khalifah, Imam dan Amir al-Mu'minin, seluruhnya pun sinonim! Al-Hafizh al-Nawawi dalam Raudhah al-Thâlibîn  (X/49) menegaskan hal yang sama:

يجوز أن يقال للإمام :الخليفة، والإمام، وأمير المؤمنين
"Boleh saja Imam itu disebut dengan Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminin."[5]
NASIHAT

Imam Tajuddin al-Subki (w. 771 H):

فكثيرا ما رأيت من يسمع لفظة فيفهمها على غير وجهها
Aku melihat banyak orang yang mendengar sebuah perkataan, namun memahaminya bukan seperti apa yang dimaksudkan.[2]

Catatan Kaki:
[1] Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Khawarizmi, Mafâtîh al-‘Ulûm, Ed: Ibrahim al-Abyari, Dâr al-Kutub al-‘Arabi, cet. II, t.t., juz I, hlm. 126.
[2] Tajuddin Abdul Wahhab bin Taqiyuddin al-Subki, Qâ'idah fi al-Jarh wa al-Ta'dil, Beirut: Dâr al-Basyâ'ir, cet. V, 1410 H, hlm. 53.
[3] Muslim al-Yusuf, Daulah al-Khilâfah al-Râsyidah wa al-‘Alaqât al-Dawliyah, hlm 23; Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/270.
[4] Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/465.
[5] Prof. Dr. Sulaiman al-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhmâ, hlm. 34.

No comments :

Post a Comment