08 May 2019

Say No To Relativism (Kritik Paradigmatik)



Gambar mungkin berisi: kacamata gelap dan teks
Sumber: home.sandiego.edu (dengan tambahan kata "Say No To")
S
ay No To Relativisme, kampanye ini relevan dengan kekinian tatkala kita temukan realita: di antara bencana pemikiran di abad khususnya abad modern adalah paham sesat relativisme. Ironi kaum relativisme tampak jelas tatkala mereka mengusung relativisme dalam memandang kebenaran pada saat yang sama ngotot memutlakkan kebenaran khayalannya soal relativisme kepada mereka yang yakin dengan konsep kebenaran mutlak.

Konsisten memang, tapi konsisten dalam inkonsistensi. Mereka yang membiaskan adanya konsepsi baku dalam menafsirkan kalimat seperti orang yang membiaskan penafsiran atas kalimat eksakta:

"Satu ditambah dua sama dengan tiga"

Penafsiran relevan: "satu jika ditambah dua sama dengan tiga, bukan empat dan bukan lima, bukan enam dan seterusnya" Ini adalah penafsiran yang baku, kalimatnya pun pasti tidak multitafsir, ini seperti keberadaan 
ayat-ayat muhkamat dalam ayat-ayat al-Qur'an, dengan penunjukkan makna yang pasti, jelas dan terang benderang (dalam term ushul fikih dikenal dengan istilah qath'iy al-dilalah), tidak boleh sembarang diklaim multitafsir, relatif dan boleh ditafsirkan sembarangan.

Jangankan al-Qur'an, memahami kalimat manusia saja ada tradisinya, tak boleh sembarang ditafsirkan dan disimpangkan penafsirannya. Semisal memahami kalimat "saya hobi membaca buku", tentu tak boleh lantas ditafsirkan "saya hobi membakar buku". 

Lantas apakah layak kita mempercayai sebagian orang bingung yang mengklaim "tidak ada penafsiran yang baku", "itu tafsiran anda, ini tafsiran saya", seperti itu kualitas pemikiran kaum relativisme?

Ingat, salah satu poin paling mendasar paradigmatik dalam Islam berkenaan dengan sumber ilmu (epistemologi Islam) adalah: memahami al-Qur’an dan al-Sunnah dan berdalil dengan keduanya wajib dengan ilmu dan adabnya. Jika tak memahami ilmunya, maka wajib merujukkan pandangannya kepada para ahli ilmu (ulama), yakni mereka yang mempelajari keduanya dan meraih kemampuan memahaminya dengan benar. Jika berbicara tentang ilmu empiris (sains) saja harus dilandasi konvensi keilmuan, apalagi memahami ayat al-Qur’an dan al-Sunnah yang menjadi pedoman kehidupan. Prinsip ini termasuk keumuman apa yang Allah perintahkan:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ {٧}
“Maka bertanyalah kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 7)

Ayat ini jelas diawali dengan redaksi perintah (fi’l al-amr) kata fas’alû, bertanyalah kalian, bertanya kepada siapa? Bertanya kepada ahl al-dzikr. Frasa ahl al-dzikr, dalam ayat ini jelas merupakan bentuk kiasan dari ulama (ahli ilmu), dari sudut pandang ilmu balaghah frasa ini termasuk bentuk al-isti’ârah al-tamtsiliyyah (gaya ungkapan dengan meminjam istilah lain yang memiliki irisan kesamaan (’alâqah musyâbahah).


Sayyidina ’Ali bin Abi Thalib r.a sebagaimana dinukil Imam al-Sam’ani (w. 489 H) menafsirkan ahl al-dzikr, yakni ulama umat ini.[1] Imam Abu Muhammad Sahl al-Tusatri (w. 283 H) menuturkan bahwa yang dimaksud ahl al-dzikr dalam ayat tersebut adalah para ahli ilmu yang memahami tentang Allah dan perintah-perintah-Nya.[2]

Adapun orang yang menafsirkan ayat al-Qur’an sekehendak hawa nafsunya, maka termasuk golongan mereka yang dikecam dalam hadits dari Ibn ‘Abbas r.a., ia berkata: Rasulullah
bersabda:

«مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ»
“Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an tanpa ilmu maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Bazzar)[3]

Hadits ini, jelas mengandung peringatan yang sangat keras (tarhîb), atas siapa saja yang memberanikan diri berbicara tentang al-Qur’an dan menafsirkannya tanpa ilmu. Bentuk peringatan keras tersebut ditandai oleh keberadaan kalimat “
فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ”, yakni maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka. Kalimat ini jelas mengandung perumpamaan (majazi) yang sangat mendalam[4], untuk menggambarkan balasan atas sikap memberanikan diri berbicara tentang al-Qur’an dan menafsirkannya tanpa ilmu, dengan kata lain dengan hawa nafsu.

Sehingga jika ada orang awam yang berani menafsirkan al-Qur’an tanpa ilmu, maka secara prinsipil telah tertolak dan tidak bernilai ilmiah sama sekali. Terlebih jika penafsirannya menyimpang dan menyalahi banyak nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah lainnya.

Catatan Kaki:
[1] Abu al-Muzhaffar al-Sam’ani al-Syafi’i, Tafsîr al-Qur’ân, Riyadh: Dâr al-Wathan, cet. I, 1418 H, juz III, hlm. 370.
[2] Sahl bin ‘Abdullah al-Tusatri, Tafsîr al-Tusatri, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1423 H, juz I, hlm. 104.
[3] HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2950) ia berkata: ”Hadits ini hasan shahih.”; Al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 4757).
[4] Dalam ilmu balaghah termasuk bentuk al-isti’arah.

=================

Irfan Abu Naveed Al-Atsari
Dosen Manthiq & Bahasa Arab
Penulis & Narasumber Kajian Tafsir & Balaghah

No comments :

Post a Comment