23 May 2019

Balaghah al-Qur’an: Peringatan Keras Allah Atas Kejahatan Yahudi yang Menyimpangkan Taurat



Daurah Ramadhan: Balaghah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:


فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ 
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 79)

Lafal waylun lahum (celakalah mereka) diulang sebanyak tiga kali termasuk bentuk penambahan kalimat dengan maksud tertentu (al-ithnâb), berfaidah menegaskan (taukîd) celaan, teguran keras dan penilaian buruk atas kejahatan mereka, yakni menyimpangkan isi Taurat.

Dimana dalam ayat sebelumnya, digambarkan kejahatan mereka menyembunyikan ilmu Allah dalam Taurat berkenaan dengan kebenaran adanya rasul akhir zaman:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:" Kamipun telah beriman," tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: "Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabb-mu; tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah [2]: 76)

Frasa fatahaLlâhu merupakan bentuk kiasan (isti’ârah) dimana dalam ayat ini dipinjam istilah fataha (membuka) untuk mewakili istilah syaraha (menjelaskan), yakni Allah telah menjelaskan dengan membuka hakikat keberadaan nabi akhir zaman sejelas-jelasnya dalam Taurat, yang akhirnya mereka sembunyikan, lalu mereka simpangkan dan nisbatkan kepada Allah, sungguh kedustaan berat.

Kalimat liyasytarû bihi tsaman[an] qalîl[an]: diawali huruf lâm al-ta’lîl (tujuan), tujuan kaum Yahudi mengubah isi Taurat demi mendapatkan nilai dunia yang sedikit. Kalimat isytarâ merupakan bahasa kiasan yang dipinjam (isti’ârah) untuk menggambarkan betapa rendahnya perbuatan yang mereka lakukan, hingga seakan-akan memilih transaksi perniagaan yang sangat merugikan, dimana manusia umumnya justru mencari perniagaan yang menguntungkan, ditunjukkan oleh frasa tsaman[an] qalîl[an] (harga yang rendah).

Frasa tsaman[an] qalîl[an] (harga yang rendah): al-tsaman, asal-usulnya adalah al-musytarâ bihi (harga pengganti dari barang yang dibeli), yang disifati dengan sifat sangat sedikit (qalîl), ini semakin menambah celaan atas mereka, betapa rendahnya perbuatan mereka yang menukar petunjuk Islam dengan kesesatan, melakukan jual beli yang jelas-jelas merugikan.

Silahkan bandingkan dengan perbuatan ulama su’ dan pendukungnya di zaman ini, yang berani mengklaim ajaran Khilafah “bukan ajaran Islam”, “tertolak di sini”, hingga ada yang lebih berat lagi mengklaim ajaran Khilafah “ajaran radikal teroris”.

**************

In sya Allah kajian seperti ini yang akan kami uraikan dalam sesi Daurah Balaghah Al-Qur'an & Hadits Nabawi di Bandung.
Ahad, 26 Mei 2019
Pukul 08.00 s.d. 14.30 WIB
Masjid Al-Fatah, Jl. Kolonel Masturi No. 41, Lembang, Bandung Barat Cluster Pesona Bandung

**************

Irfan Abu Naveed Al-Atsari
Dosen Bahasa Arab, Pengasuh Pondok STIQ di Cianjur, Narasumber & Penulis Kajian-Kajian Tafsir-Balaghah


No comments :

Post a Comment