01 April 2019

Benarkah Tidak Ada Konsepsi Khilafah dalam Al-Qur’an? [Bantahan Ilmiah-Bag I]

[Bantahan Bagian I Atas Klaim Oknum:
“Tidak Ada Konsepsi Khilafah dalam Al-Qur’an”]

Kaidah Ushuliyyah Mendudukkan Istilah Khalifah dan Khilafah

Gambar mungkin berisi: teks


Istilah khalifah (الخليفة) dan khilafah (الخلافة) jelas merupakan lafal arab dan termasuk mushthalahât syar’iyyah (yakni istilah fikih), dalam persepektif ilmu ushul ia mengandung makna hakiki secara bahasa (al-haqîqah al-lughawiyyah), dan makna hakiki secara syar’i (al-haqîqah al-syar’iyyah), sama seperti istilah al-shalâtal-zakâtal-shaumal-Islâmal-taqwâal-kufral-nifâq, dan yang semisalnya dari berbagai istilah syari’at. 



Dr. Mushthafa al-Zuhaili menegaskan:

وهذا ما بينه الله ورسوله فيجب الالتزام بدلالتها الشرعية
Dan ini (lafal-lafal syar’i) adalah apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya jelaskan, maka wajib berpegang teguh padanya, berdasarkan petunjuk syar’inya.[1]

Dimana dalam perinciannya, makna syar’i ini dikedepankan daripada makna bahasanya, sebagaimana diulas dalam kajian ushul,[2] ditegaskan pula oleh Imam al-Syaukani, dimana ia menyebutkan kaidah:

الْحَقِيقَةُ الشَّرْعِيَّةُ مُقَدَّمَةٌ عَلَى اللُّغَوِيَّةِ
Hakikat makna secara syar’i dikedepankan daripada hakikat makna lafal secara bahasa.[3]

Maka tidak dibenarkan jika makna bahasa (haqîqah lughawiyyah) suatu lafal digunakan sebagai alat untuk menafikan makna syar’inya (haqîqah syar’iyyah), tidak sah meskipun seluruh manusia menyepakatinya. Bahkan berbahaya jika istilah syar’i ini diabaikan dan dibiaskan! Sebagai contoh, jika seseorang mengaku telah menunaikan shalat, namun sebenarnya hanya berdo’a saja, ketika dikritik ia mengklaim “saya telah menunaikan shalat (yakni berdo’a).” 
Atau bahkan menyimpangkannya sejauh-jauhnya kepada sembah Hyang (menyembah selain Allah)! Apakah lantas gugur kefardhuan menegakkan shalat atas orang tersebut ketika ia mengklaim telah menunaikan shalat, padahal hanya shalat secara bahasa (al-haqîqah al-lughawiyyah) atau bahkan penyimpangan makna shalat?! Tentu saja tidak! Begitu pula kewajiban menegakkan Khilafah! Ia tidak akan gugur dengan klaim bi duni al-’ilm, bahwa negeri ini dan itu merupakan imamah atau khilafah nubuwwah yang diwajibkan syari’ah, padahal jauh dari konsepsi khilafah ’ala minhaj al-nubuwwah yang telah ditetapkan syari’ah!
Bagaimana bisa? Padahal perekonomian di negeri tersebut tegak di atas asas ekonomi kapitalistik yang ribawi! Bagaimana bisa? Padahal hukum-hukum persanksian yang ditegakkan merupakan warisan kolonial?!  Bukankah kita mendapati mereka yang menjustifikasi konsep Nation States sebagai refleksi konsep kekhalifahan dalam Islam yang bertolak dari makna bahasa khalifah semata dan mengabaikan makna syar’inya yang diuraikan para ulama mu’tabar? Perbuatan zhalim ini jelas berbahaya! Dr. Muhammad Ahmad ‘Abdul Ghani menegaskan:

Dan menggagas penggabungan ini (baca: pengaburan istilah-istilah-pen.) berbahaya, yakni menyebabkan tumpang tindih antara lafal-lafal yang termasuk istilah islami di satu sisi dan istilah-istilah di luar islam di sisi yang lain. Dan berbahaya pula terhadap islam, gagasan atas kebebasan penggunaan istilah-istilah di luar akidah islam untuk diterapkan ke dalam istilah islam. Maka, wajib dicegah adanya tumpang tindih dalam pemahaman-pemahaman dan istilah-istilah ini secara umum berlaku bagi seluruh aliran atau keyakinan.[4]

Maka wajib kembali kepada ilmu: jalan yang benar dalam mengadopsi istilah-istilah syar’iyyah, dengan mengembalikannya kepada petunjuk dalam nas al-Qur’an dan al-Sunnah, berdasarkan apa yang diuraikan oleh para ahli ilmu (ulama rabbani). Lebih jauh lagi, silahkan pelajari penjelasan ilmiyyah pada bagian II: Istilah & Konsepsi Khalifah-Khilafah dalam Tafsir Para Ulama Mu’tabar




[1] Dr. Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawâ’id al-Fiqhiyyah wa Tathbîqâtuhâ fî al-Madzâhib al-Arba’ah, Damaskus: Dar al-Fikr, cet. I, 1427 H, juz I, hlm. 314.
[2] Lihat perincian pembahasan ini dalam; Dr. Muhammad Shidqi al-Ghazi, Al-Wajîz fî Îdhah Qawâ’id al-Fiqh al-Kulliyyah, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. IV, 1416 H, hlm. 278; Dr. Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh al-Islâmi, Damaskus: Dar al-Khayr, cet. II, 1427 H, juz I, hlm. 170.
[3] Muhammad bin ‘Ali Al-Syaukani, Fath al-Qadîr, juz I, hlm. 331.
[4] Dr. Muhammad Ahmad Abdul Ghani, Al-’Adâlah al-Ijtimâ’iyyah fi Dhau’ al-Fikr al-Islâmi al-Mu’âshir.  

No comments :

Post a Comment