20 March 2019

Konsep Baku Khilafah Islamiyyah [Buku Terbaru]



P
ara ulama mu’tabar menegaskan dalam banyak keterangan, bahwa khilafah adalah kefardhuan yang didasarkan pada dalil-dalil sam’iyyah (al-Qur’an, al-Sunnah dan ijma’ sahabat), bukan dalil-dalil ’aqliyyah. Hal ini sejalan dengan kaidah ilmiyyah yang mereka tetapkan dalam penggalian hukum syari’ah; wajib didasarkan pada ushûl al-syarî’ah: al-Qur’an, al-Sunnah, ijma’ sahabat dan qiyas syar’i, sebagaimana ditegaskan para ulama ushul dan fikih.[1] Berkaitan dengan ini Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi’i (w. 204 H) menegaskan:
أَنَّ لَيْسَ لاَحَدٍ أَبَدًا أَنْ يَقُوْلَ فِي شَئْ حلّ وَ لاَ حَرَم إِلاَّ مِنْ جِهَةِ الْعِلْمِ وَجِهَةُ الْعِلْمِ الخَبَرُ فِي الْكِتَابِ أَوْ السُّنَةِ أَوْ الإِجْمَاعِ أَوْ الْقِيَاسِ
Seseorang tidak boleh menyatakan selama-lamanya suatu perkara itu halal dan haram kecuali didasarkan pada ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah informasi dari al-Kitab (al-Quran), al-Sunnah, Ijma’ atau Qiyas.[2]
Senada dengan itu, Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) juga menyatakan:
وَجُمْلَةُ الْأَدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ تَرْجِعُ إلَى أَلْفَاظِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَالِاسْتِنْبَاطِ
Keseluruhan dalil-dalil syariah merujuk pada ragam ungkapan yang tercantum dalam al-Kitâb (al-Qur’an), al-Sunnah (al-Hadits), Ijma’ dan Istinbâth (Qiyas).[3]
Pernyataan para imam di atas, juga dinukil oleh Dr. Daud Rasyid dalam makalah yang ia presentasikan dalam pembelaannya terhadap ajaran Khilafah, dimana ia pun menegaskan: Semua ulama’ kaum Muslim sepanjang zaman sepakat, bahwa adanya Khilafah ini adalah wajib. Jika Khilafah tidak ada, hukum menegakkannya bagi seluruh kaum Muslim adalah wajib. Dasar kewajibannya tidak didasarkan pada akal atau kesepakatan manusia, tetapi wahyu.” Ditegaskan para ulama dari berbagai madzhab kaum Muslim, didasarkan pada al-Qur’an, al-Sunnah, ijma’ sahabat, didukung oleh kaidah syar’iyyah.

Kewajiban mengangkat al-khalifah dan menegakkan sistemnya, yakni al-khilafah, mencakup karakteristik agungnya, merupakan perkara yang ma’lûm disepakati ulama ahl al-sunnah wa al-jamâ’ah, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kefardhuan agama tersebar (min a’zhâm al-wâjibât)



[1] Diantaranya al-’Allamah al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H), al-’Alim Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) (lihat misalnya: Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, hlm. 72.
[2] Abu Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Risâlah, Ed: Rif’at Fauzi, Mesir: Dar al-Wafa’, cet. I, 1422 H/2001, hlm. 16.
[3] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi, Al-Mustashfâ fî ‘Ilm al-Ushûl, Ed: Muhammad bin Sulaiman al-Asyqar, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. I, 1417 H/1997, juz II, hlm. 298.

No comments :

Post a Comment