27 March 2019

Bedah Buku "LGBT Ilusi Kaum Liberal VS Solusi Kaum Intelektual"


26 March 2019

Bedah Buku LGBT: Ilusi Kaum Liberal VS Solusi Kaum Intelektual [Bogor]




[ LGBT: Ilusi Kaum Liberal VS Solusi Kaum Intelektual ]
.
"Sesungguhnya yang paling dikhawatirkan dari apa-apa yang aku khawatirkan atas umatku adalah perbuatan Kaum Luth" (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim)

Tidaklah Nabi Muhammad mengkhawatirkan sesuatu melainkan hal itu memang sangat berbahaya bagi umatnya. Perbuatan Kaum Luth yang dimaksud dalam hadits di atas adalah perbuatan homoseksual.

Seakan hendak memutar kembali jarum jam, saat ini kita dihadapkan pada persoalan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Ditandai dengan disahkannya legitimasi perkawinan sesama jenis di beberapa negara barat.

Keputusan legitimasi itu pun disambut gembira oleh para penggiat LGBT dan didukung oleh kaum liberal di dunia dengan banyak argumentasi mulai dari isu sains, psikologi, hingga medis.

Merespon hal tersebut, Komunitas Mahasiswa Cinta Quran (Mataqu) menyelenggarakan kegiatan Literasi Quran dengan tema: "LGBT: Ilusi Kaum Liberal vs. Solusi Kaum Intelektual".
.
InsyaAllah acara ini akan dilaksanakan pada:

📆 Minggu, 31 Maret 2019
🕗 pukul 08.00 - 12.00 WIB
📍 di Ruang Diskusi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB
🏷 GRATIS, terbuka untuk umum

Pembicara:
👤 Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (penulis buku "LGBT: Ilusi Kaum Liberal vs. Solusi Kaum Intelektual")
.
👤 Bobby Febri Krisdiyanto, M.Kep (anggota HelpS: Healthcare Profesional for Sharia, Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas)

Portal Pendaftaran Peserta:
Ikhwan: bit.ly/LiterasiQuranIkhwan
Akhwat: bit.ly/LiterasiQuranAkhwat

Acara ini akan menyajikan berbagai fakta seputar LGBT dalam isu sains, psikologi, dan medis, LGBT dalam perspektif Islam, serta bagaimana Islam memberikan solusi fundamental dan praktis atas LGBT.

Contact Person
Ikhwan: 0822-8363-8954
Akhwat: 0852-1736-6003

#LiterasiQuran #LGBT #L98T #L987 #Mahasiswa #Quran #Alquran #CintaQuran #DakwahIslam #Liberal #Islam #solusi #ilusi #lgbt #solusiislam #ilusiliberal

-----------------------------------------------

Mahasiswa Cinta Quran (Mataqu)
WA: 0823-2907-2709 (Riyan)
Facebook: @mataquid
IG/Twitter: @mataquid
Line: @blj0539c

Khilafah dalam Majalah Tabligh Majelis Tabligh & Dakwah Muhammadiyah

Majalah bulanan yang diterbitkan Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tabligh, pada edisi Juli 2017 membahas topik "Khilafah: Ajaran Politik Islam".


Tulisan dalam majalah ini menegaskan konsepsi Khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam:






20 March 2019

Konsep Baku Khilafah Islamiyyah [Buku Terbaru]



P
ara ulama mu’tabar menegaskan dalam banyak keterangan, bahwa khilafah adalah kefardhuan yang didasarkan pada dalil-dalil sam’iyyah (al-Qur’an, al-Sunnah dan ijma’ sahabat), bukan dalil-dalil ’aqliyyah. Hal ini sejalan dengan kaidah ilmiyyah yang mereka tetapkan dalam penggalian hukum syari’ah; wajib didasarkan pada ushûl al-syarî’ah: al-Qur’an, al-Sunnah, ijma’ sahabat dan qiyas syar’i, sebagaimana ditegaskan para ulama ushul dan fikih.[1] Berkaitan dengan ini Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi’i (w. 204 H) menegaskan:
أَنَّ لَيْسَ لاَحَدٍ أَبَدًا أَنْ يَقُوْلَ فِي شَئْ حلّ وَ لاَ حَرَم إِلاَّ مِنْ جِهَةِ الْعِلْمِ وَجِهَةُ الْعِلْمِ الخَبَرُ فِي الْكِتَابِ أَوْ السُّنَةِ أَوْ الإِجْمَاعِ أَوْ الْقِيَاسِ
Seseorang tidak boleh menyatakan selama-lamanya suatu perkara itu halal dan haram kecuali didasarkan pada ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah informasi dari al-Kitab (al-Quran), al-Sunnah, Ijma’ atau Qiyas.[2]
Senada dengan itu, Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) juga menyatakan:
وَجُمْلَةُ الْأَدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ تَرْجِعُ إلَى أَلْفَاظِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَالِاسْتِنْبَاطِ
Keseluruhan dalil-dalil syariah merujuk pada ragam ungkapan yang tercantum dalam al-Kitâb (al-Qur’an), al-Sunnah (al-Hadits), Ijma’ dan Istinbâth (Qiyas).[3]
Pernyataan para imam di atas, juga dinukil oleh Dr. Daud Rasyid dalam makalah yang ia presentasikan dalam pembelaannya terhadap ajaran Khilafah, dimana ia pun menegaskan: Semua ulama’ kaum Muslim sepanjang zaman sepakat, bahwa adanya Khilafah ini adalah wajib. Jika Khilafah tidak ada, hukum menegakkannya bagi seluruh kaum Muslim adalah wajib. Dasar kewajibannya tidak didasarkan pada akal atau kesepakatan manusia, tetapi wahyu.” Ditegaskan para ulama dari berbagai madzhab kaum Muslim, didasarkan pada al-Qur’an, al-Sunnah, ijma’ sahabat, didukung oleh kaidah syar’iyyah.

Kewajiban mengangkat al-khalifah dan menegakkan sistemnya, yakni al-khilafah, mencakup karakteristik agungnya, merupakan perkara yang ma’lûm disepakati ulama ahl al-sunnah wa al-jamâ’ah, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kefardhuan agama tersebar (min a’zhâm al-wâjibât)



[1] Diantaranya al-’Allamah al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H), al-’Alim Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) (lihat misalnya: Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, hlm. 72.
[2] Abu Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Risâlah, Ed: Rif’at Fauzi, Mesir: Dar al-Wafa’, cet. I, 1422 H/2001, hlm. 16.
[3] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi, Al-Mustashfâ fî ‘Ilm al-Ushûl, Ed: Muhammad bin Sulaiman al-Asyqar, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. I, 1417 H/1997, juz II, hlm. 298.