Skip to main content

Kritik Asasi Islam Atas Para Pendukung Kemungkaran

Gambar mungkin berisi: teks 
Irfan Abu Naveed
Penulis Buku "LGBT: Antara Ilusi Kaum Liberal VS Solusi Kaum Intelektual"

J
ika dievaluasi, para pendukung dan penyokong berbagai kemungkaran (Sepilis, LGBT, pergaulan bebas, anti syari'at Islam, anti Khilafah) itu dalam berbagai momentum, orangnya itu dan itu juga, tak pernah berubah dari kalangan kaum sekularis, pluralis, liberalis.

Permasalahan mendasarnya, karena sistem Demokrasi secara langsung atau tidak, dengan prinsip-prinsip kebebasannya, mengakomodasi (kalau tak dikatakan membiarkan) sepak terjang mereka yang jelas-jelas termasuk tindak kriminalitas. Tak hanya individual, mereka pun membentuk komunitas-komunitas atau kelompok dengan beragam macam warnanya.

Berbeda dengan sistem Islam, al-Khilafah 'ala Minhaj al-Nubuwwah, mereka bisa mudah dijerat dengan jeratan hukum Islam, karena membela kemungkaran sama saja dengan pelaku kemungkaran itu sendiri, dan setiap kemungkaran harus dicegah dengan dikenai sanksi hukuman atas para pelakunya!

Perbuatan tersebut termasuk ke dalam hadits Rasulullah :
«لَعَنَ اللهُ مَنْ آوى محدِثاً»  
“Allah melaknat siapa saja yang melindungi orang yang melakukan kemungkaran” (HR. Muslim)

«مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»
“Siapa saja yang melakukan suatu kemungkaran atau melindungi pelaku kemungkaran maka baginya laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim)[1]

Al-Hafizh Ibn al-Atsir (w. 606 H) ketika menjelaskan makna (آوى محدِثاً) mengatakan: Al-Muhdits: orang yang melakukan suatu dosa dan melakukan perkara yang mungkar, maknanya: siapa saja yang menolong pelaku kemungkaran dan mendukungnya dengan kemungkarannya tersebut serta bergabung dengannya untuk melindunginya.[2]

Kata laknat jelas mengandung pesan tercelanya perbuatan melindungi pelaku kemungkaran dengan kemungkarannya, dalam ilmu ushul fikih kata ini pun menjadi indikasi keharaman perbuatan tersebut. Bahkan indikasi bahwa ia termasuk dosa besar. Al-Qadhi ’Iyadh (w. 544 H) menjelaskan:
وقد استدلوا لما جاءت به اللعنة أنه من الكبائر  
“Dan sungguh para ulama telah berdalil bahwa hal-hal dimana kata laknat menyertainya maka ia termasuk dosa besar.[3]

Dan makna hadits ini, dinukil al-Qadhi ’Iyadh yakni azab yang menjadi konsekuensi atas dosanya tersebut, pertama dengan menjauhkannya dari surga dan memasukkannya ke dalam siksa neraka hingga Allah mengeluarkannya darinya (bagi yang masih ada keimanan dalam hatinya-pen). Dan maknanya yakni dijauhkan, namun tidak seperti laknat kepada orang-orang kafir dengan sejauh-sejauhnya dari rahmat-Nya. Dan makna laknat dari malaikat yakni do’a laknat malaikat atas perbuatannya, dan bisa jadi makna laknatnya ini malaikat tidak mendo’akan kebaikan dan tidak memohonkan ampunan baginya dan menjauh darinya dan mengeluarkannya dari kumpulan orang-orang beriman yang mereka mohonkan ampunan.[4]

Bahkan sekedar mendo’akan mereka tetap dalam kezhaliman pun merupakan bagian dari keburukan. Imam al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) memperingatkan: Siapa saja yang berdo’a untuk orang zhalim agar tetap eksis (dengan kezhalimannya-pen.); maka sesungguhnya ia senang ada orang yang bermaksiat kepada Allah di bumi-Nya.[5]

Mari rapatkan barisan, kokohkan perjuangan!


[1] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (II/267, hadits 959); Abu Dawud dalam Sunan-nya (IV/303, hadits 4532); Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubrâ’ (VIII/29, hadits 16334); Al-Nasa’i dalam Sunan-nya (VIII/19); al-Hakim dalam Al-Mustadrak (II/141) dan ia menshahihkannya.
[2] Majduddin Abu al-Sa’adat al-Mubarak Ibn al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl fî Ahâdîts al-Rasûl, Ed: ‘Abdul Qadir al-Arna’uth, Maktabah al-Hulwâni, cet. I, juz X, hlm. 767.
[3] ‘Iyadh bin Musa Abu al-Fadhl al-Sabati, Syarh Shahîh Muslim (Ikmâl al-Mu’lim bi Fawâ’id Muslim), juz IV, hlm. 486.
[4] Ibid, hlm. 487-488.
[5] Shalih Ahmad al-Syami, Mawâ’izh al-Imâm al-Hasan al-Bashri, Beirut: Al-Maktab al-Islâmi, cet. II, 1425 H/2004, hlm. 34.

Comments

  1. Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh

    Afwan Ustadz, komunitas saya berencana akan mengadakan bedah buku LGBT ini.

    Apakah saya boleh meminta kontak Ustadz untuk mempermudah komunikasinya Ustadz ?.

    ReplyDelete
  2. Wa'alaykumussalam wr wb. Punten, ini sdr. Ryan IPB Bogor?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Buku Menarik "Risalah Nikah & Walimah"

"RISALAH NIKAH & WALIMAH" Dilengkapi dengan Sajian Kitab Kuning (Turats) & Ilmu Kesehatan Reproduksi Pra Nikah Ikhwah fillah, bi fadhliLlahi Ta'ala wa bi tawfiqihi,  telah terbit buku Risalah Nikah & Walimah, menggambarkan kajian turats menyoal topik-topik pernikahan dan syari'at walimah dalam Islam, berikut ilmu menyoal Kesehatan Reproduksi Pra Nikah, ditulis bersama istri yang berlatarbelakang pendidikan kebidanan. Sajian menyoal fikih walimah, penyusun uraikan dalam bentuk soal jawab, disertai ibarat kitab kuning (turats), dipercantik dengan berbagai gambaran walimah syar'i. Daftar Isi Buku: Bab I Keagungan Pernikahan & Hidup Berpasang-Pasangan Bab II Tuntunan Agung Menjemput Pasangan Idaman Bab III Buah Pernikahan; Sakînah, Mawaddah dan Rahmah Bab IV Walimah Nikah Sesuai Syari'ah Bab V Sunnah Mulia; Do'a Pengantin Bab VI Tips Kesehatan Reproduksi Pra Nikah   Info & Pemesanan: wa.me/6285735533668

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia” (Part. I)

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.