19 February 2019

Keadilan & Ketegasan Rasulullah ﷺ dalam Penegakkan Hukum Islam


Catatan Kajian Irfan Abu Naveed
Penulis Buku Konsep Baku Khilafah Islamiyyah


R
asulullah  tegas tidak mengabaikan penegakkan hukum Islam, dengan tidak menjadikan suara terbanyak sebagai pedoman dalam penegakkan hukum Islam, diantara buktinya adalah sikap tegas Rasulullah atas pengajuan sahabat yang meminta pengampunan atas sanksi had. Dalam hadits shahih dari ‘Aisyah istri Nabi , bahwa saat penaklukan Kota Makkah di masa Rasulullah , orang-orang Quraisy pernah kebingungan menghadapi permasalahan seorang wanita (bangsawan) yang ketahuan mencuri.
Mereka berkata: "Siapa kiranya yang berani mengadukan permasalahan ini kepada Rasulullah ?" maka sebagian mereka mengusulkan: "Siapa lagi kalau bukan Usamah bin Zaid, orang yang paling dicintai oleh Rasulullah ." Lalu wanita itu dihadapkan kepada Rasulullah dan Usamah bin Zaid r.a. pun mengadukan permasalahannya kepada beliau , tiba-tiba wajah Rasulullah berubah menjadi merah seraya bersabda:

أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ
Apakah kamu hendak meminta syafa'at terhadap sanksi dari Allah (yang telah ditetapkan)?! [1]

Maka Usamah berkata kepada beliau:

اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَسُولَ الله
Mohonkanlah ampunan Allah bagiku wahai Rasulullah .

Maka pada sore harinya Rasulullah berdiri dan berkhutbah (اختطب), setelah memuji Allah dengan pujian yang layak untuk-Nya, beliau bersabda:

«أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَإِنِّي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا»
Amma Ba'du. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah manakala ada orang yang terpandang (terhormat) dari mereka mencuri, maka merekapun membiarkannya. Namun jika ada orang yang lemah dan hina di antara mereka ketahuan mencuri, maka dengan segera mereka melaksanakan hukuman atasnya. Demi Dzat yang jiwaku berada tangan-Nya, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yang akan memotong tangannya.

Akhirnya beliau memerintahkan terhadap wanita yang mencuri, lalu dipotonglah tangan wanita tersebut." Yunus berkata; Ibnu Syihab berkata; Urwah berkata; 'Aisyah berkata: "Setelah peristiwa itu, wanita tersebut bertaubat sungguh-sungguh dan menikah, hingga pada suatu ketika ia datang kepadaku untuk meminta tolong mengajukan permintaannya kepada Rasulullah , lalu aku memenuhi permintaannya tersebut." (HR. Muslim. Lihat pula riwayat-riwayat lainnya dari Imam al-Bukhari, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibn Majah dan Imam al-Darimi)[2]
Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) ketika menjelaskan hadits serupa di atas (riwayat Imam al-Bukhari) menuturkan:

وَسَبَبُ إِعْظَامِهِمْ ذَلِكَ خَشْيَةُ أَنْ تُقْطَعَ يَدُهَا لِعِلْمِهِمْ أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُرَخِّص فِي الْحُدُود ، وَكَانَ قَطْع السَّارِق مَعْلُومًا عِنْدهمْ قَبْل الْإِسْلَام ، وَنَزَلَ الْقُرْآنُ بِقَطْعِ السَّارِق فَاسْتَمَرَّ الْحَال فِيهِ
Dan penyebab kekhawatiran mereka (orang-orang Quraisy) adalah ketakutan akan dipotongnya tangan wanita ini, karena mereka menyadari bahwa Nabi tidak akan meringankan sanksi hudud. Dan dahulu, sanksi potong tangan bagi pencuri sudah lumrah di antara mereka sebelum turunnya Islam, dan turunlah Al-Qur’an yang mensyari’atkan sanksi potong tangan bagi pencuri, maka sanksi ini tetap berlangsung.[3]

            Dalam hadits yang mulia ini, ada beberapa hal yang menguatkan larangan meminta pengampunan terhadap sanksi ini (termasuk memusyawarahkan apakah dilaksanakan atau tidak):

Pertama, Usamah bin Zaid r.a. menyampaikan kasus ini kepada Rasulullah untuk meminta pengampunan. Karena makna kalimat:
(فَقَالُوا مَنْ يُكَلِّم فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)
Siapa yang berani mengadukan permasalahan ini kepada Rasûlullâh ?

            Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menjelaskan maknanya:
أَيْ يَشْفَع عِنْده فِيهَا أَنْ لَا تُقْطَعَ إِمَّا عَفْوًا وَإِمَّا بِفِدَاءٍ
“Yakni pengampunan dari Rasulullah terhadap pencurian ini agar tidak disanksi potong tangan apakah dimaafkan atau diganti dengan denda.”[4]

            Permintaan yang disampaikan Usamah bin Zaid r.a. ini, membuat merah wajah Rasulullah , lantas beliau menjawab:
(فَقَالَ : أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُود اللَّه)
Apakah engkau hendak meminta keringanan terhadap sanksi hudûd Allâh?!

             Dan makna jawaban Rasulullah di atas, meski bernada pertanyaan namun maksudnya adalah pengingkaran (al-istifhâm al-inkâri), dalam ilmu balaghah ini termasuk istifhâm balâghi yang menunjukkan larangan, dan tidak membutuhkan jawaban (istifsâr), sebagaimana dijelaskan Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani:

 بِهَمْزَةِ الِاسْتِفْهَام الْإِنْكَارِيّ لِأَنَّهُ كَانَ سَبَقَ لَهُ مَنْعُ الشَّفَاعَةِ فِي الْحَدّ قَبْل ذَلِكَ
Yakni hamzah bernada pertanyaan yang bermakna pengingkaran, karena telah ditetapkan sebelumnya larangan meminta pengampunan terhadap sanksi had.”[5]

Kedua,  Usamah bin Zaid menyadari bahwa perbuatannya tersebut keliru, hingga beliau meminta agar Rasulullah memintakan ampunan kepada Allah untuknya, ia berkata:

اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَسُولَ الله
"Mohonkanlah ampunan bagiku wahai Rasulullah ."

Ketiga, setelah peristiwa tersebut, pada sore harinya Rasulullah berdiri dan berkhutbah dengan khutbah yang sangat kuat dan mendalam, karena makna اختطب dalam hadits di atas adalah:

خَطَبَ وبَالَغَ في الخطبة
“Berkhutbah namun bukan sembarang khutbah karena kuat dan mendalam dalam khutbah tersebut.”

Keempat,  Dalam khutbahnya ini Rasulullah mengabarkan penyebab kehancuran kaum-kaum sebelum kaum muslimin adalah tidak adil dalam menegakkan hukum mengundang murka dan siksa Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana dituturkan dalam syarh hadits ini:

 سَبَّبَ لهم الهلاك وهو غَضَبُ الله وعقابُه
“Penyebab kehancuran mereka adalah kemurkaan dan siksa Allah SWT.”




[1] Lihat: Hudud bagi pencuri berdasarkan QS. al-Mâ’idah [5]: 38 & dirinci al-Sunnah. Dalam penjabarannya, hukuman bagi pencuri itu apakah wajib dipotong tangan atau tidak (dihukum dengan bentuk hukuman lain), setelah hakim mengkaji ‘illat hukumnya (alasan si pencuri melakukan pencurian) dan kadar pencuriannya (dipotong tangan jika ¼ dinar atau lebih = 4 ¼ gram emas murni (hadits Ahmad, al-Nasa’i, Ibn Majah)).
[2] Lihat pula: ‘Abdul Ghani bin ‘Abdul Wahid Al-Maqdisi, ‘Umdat al-Ahkâm Min Kalâm Khair Al-Anâm –‘Alaih al-Shalât wa al-Salâm-, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet.II, 1429 H/2008.
[3] Ahmad bin Ali Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H, juz XII, hlm. 88.
[4] Ibid, juz XII, hlm. 93.
[5] Ibid, juz XII, hlm. 94.

No comments :

Post a Comment