23 February 2019

Do'a Neno Warisman Mengancam Allah? Kata Siapa?

Keterangan foto tidak tersedia.



S
ebagian kaum sufaha' tampak kejang-kejang menyimak do'a yang dipanjatkan Neno Warisman dalam Malam Munajat 212, saya tegaskan soal redaksi yang digunakan dengan tuduhan "mengancam Allah", jelasnya hanya dipersoalkan oleh orang-orang jahil atau tajahul (pura-pura jahil). Karena do'a tersebut kemungkinan besar diambil sebagian redaksinya, dari terjemah do'a fenomenal berbahasa arab yang dipanjatkan Rasulullah  dalam jihad Badar & Uhud, hal itu sebagaimana terekam dalam sejumlah riwayat shahihah, maka menghukuminya hendaknya dikembalikan kepada kaidah-kaidah Islam dan kaidah-kaidah bahasa arab. Di buku "Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia" pernah saya nukilkan riwayat tersebut:

**********

Apa yang dilakukan Rasûlullâh ketika perang Badar? Beliau mempersiapkan para sahabat dengan baik, dan yakin setelah mereka dipastikan berjihad dengan motivasi ruhiyah (al-quwwah al-rûhiyyah) dan memahami jihad dalam Islam, Rasulullah dan para mujahid badar pun memenuhi hukum sebab-akibat untuk meraih kemenangan. Mereka bermusyawarah merumuskan strategi yang tepat, mempersiapkan senjata dan mengenakan baju perang (semisal baju besi). Setelah itu beliau banyak berdo’a kepada Allâh ‘Azza wa Jalla, disamping tawakal pada-Nya. Nabi bersabda ketika berada di Qubbah:  
اللَّهُمَّ إِنِّي أَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَوَعْدَكَ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ لَمْ تُعْبَدْ بَعْدَ الْيَوْمِ
Ya Allâh, sungguh aku benar-benar memohon kepada-Mu akan perjanjian dan janji-Mu. Ya Allâh, jika Engkau menghendaki (kehancuran pasukan Islam ini) maka Engkau tidak akan disembah lagi setelah hari ini.”

Maka Abu Bakar r.a. memegangi tangan Beliau dan berkata, “Cukup wahai Rasûlullâh. Sungguh Tuan telah bersungguh-sungguh meminta dengan terus-menerus kepada Rabb Tuan.”
Saat itu Beliau mengenakan baju besi lalu tampil sambil bersabda:
سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ بَلْ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ
Kesatuan musuh itu pasti akan diceriberaikan dan mereka akan lari tunggang langgang. Akan tetapi sebenarnya hari qiyamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka (siksaan) dan hari qiyamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit[1].” (HR. Al-Bukhârî)

            Bi idznillâh! Para mujahid badar yang berjumlah 300 jiwa lebih beberapa puluh orang, bisa menceraiberaikan, menggempur dan mengalahkan sekitar 1.000 orang pasukan kafir Quraisy.
Begitu pula do’a beliau ketika perang Uhud. Dari Tsabit dari Anas, bahwa Rasûlullâh pernah berdoa saat terjadinya perang uhud:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ إِنْ تَشَأْ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ
“Ya Allâh, jika Engkau menghendaki (kemenangan atas orang kafir dan mengalahkan pasukan Islam) niscaya Engkau tidak di sembah di muka bumi.” (HR. Muslim)



[1] QS al-Qamar: 45 – 46.

**********

Catatan: Sisi yang saya soroti, lebih baik pihak yang memanjatkan puisi dan do'a tersebut dari ikhwan, bukan akhwat. Kalau tak paham lebih baik diam, dunia hancur karena banyaknya ruwaibidhah bicara urusan agama, Allah al-Musta'an. []

📋 Irfan Abu Naveed Al-Atsari
Penulis buku-buku kajian balaghah al-Qur'an dan Hadits Nabawi    



[1] QS. Al-Qamar: 45-46.

21 February 2019

Kritik Asasi Islam Atas Para Pendukung Kemungkaran

Gambar mungkin berisi: teks 
Irfan Abu Naveed
Penulis Buku "LGBT: Antara Ilusi Kaum Liberal VS Solusi Kaum Intelektual"

J
ika dievaluasi, para pendukung dan penyokong berbagai kemungkaran (Sepilis, LGBT, pergaulan bebas, anti syari'at Islam, anti Khilafah) itu dalam berbagai momentum, orangnya itu dan itu juga, tak pernah berubah dari kalangan kaum sekularis, pluralis, liberalis.

Permasalahan mendasarnya, karena sistem Demokrasi secara langsung atau tidak, dengan prinsip-prinsip kebebasannya, mengakomodasi (kalau tak dikatakan membiarkan) sepak terjang mereka yang jelas-jelas termasuk tindak kriminalitas. Tak hanya individual, mereka pun membentuk komunitas-komunitas atau kelompok dengan beragam macam warnanya.

Berbeda dengan sistem Islam, al-Khilafah 'ala Minhaj al-Nubuwwah, mereka bisa mudah dijerat dengan jeratan hukum Islam, karena membela kemungkaran sama saja dengan pelaku kemungkaran itu sendiri, dan setiap kemungkaran harus dicegah dengan dikenai sanksi hukuman atas para pelakunya!

Perbuatan tersebut termasuk ke dalam hadits Rasulullah :
«لَعَنَ اللهُ مَنْ آوى محدِثاً»  
“Allah melaknat siapa saja yang melindungi orang yang melakukan kemungkaran” (HR. Muslim)

«مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»
“Siapa saja yang melakukan suatu kemungkaran atau melindungi pelaku kemungkaran maka baginya laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim)[1]

Al-Hafizh Ibn al-Atsir (w. 606 H) ketika menjelaskan makna (آوى محدِثاً) mengatakan: Al-Muhdits: orang yang melakukan suatu dosa dan melakukan perkara yang mungkar, maknanya: siapa saja yang menolong pelaku kemungkaran dan mendukungnya dengan kemungkarannya tersebut serta bergabung dengannya untuk melindunginya.[2]

Kata laknat jelas mengandung pesan tercelanya perbuatan melindungi pelaku kemungkaran dengan kemungkarannya, dalam ilmu ushul fikih kata ini pun menjadi indikasi keharaman perbuatan tersebut. Bahkan indikasi bahwa ia termasuk dosa besar. Al-Qadhi ’Iyadh (w. 544 H) menjelaskan:
وقد استدلوا لما جاءت به اللعنة أنه من الكبائر  
“Dan sungguh para ulama telah berdalil bahwa hal-hal dimana kata laknat menyertainya maka ia termasuk dosa besar.[3]

Dan makna hadits ini, dinukil al-Qadhi ’Iyadh yakni azab yang menjadi konsekuensi atas dosanya tersebut, pertama dengan menjauhkannya dari surga dan memasukkannya ke dalam siksa neraka hingga Allah mengeluarkannya darinya (bagi yang masih ada keimanan dalam hatinya-pen). Dan maknanya yakni dijauhkan, namun tidak seperti laknat kepada orang-orang kafir dengan sejauh-sejauhnya dari rahmat-Nya. Dan makna laknat dari malaikat yakni do’a laknat malaikat atas perbuatannya, dan bisa jadi makna laknatnya ini malaikat tidak mendo’akan kebaikan dan tidak memohonkan ampunan baginya dan menjauh darinya dan mengeluarkannya dari kumpulan orang-orang beriman yang mereka mohonkan ampunan.[4]

Bahkan sekedar mendo’akan mereka tetap dalam kezhaliman pun merupakan bagian dari keburukan. Imam al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) memperingatkan: Siapa saja yang berdo’a untuk orang zhalim agar tetap eksis (dengan kezhalimannya-pen.); maka sesungguhnya ia senang ada orang yang bermaksiat kepada Allah di bumi-Nya.[5]

Mari rapatkan barisan, kokohkan perjuangan!


[1] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (II/267, hadits 959); Abu Dawud dalam Sunan-nya (IV/303, hadits 4532); Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubrâ’ (VIII/29, hadits 16334); Al-Nasa’i dalam Sunan-nya (VIII/19); al-Hakim dalam Al-Mustadrak (II/141) dan ia menshahihkannya.
[2] Majduddin Abu al-Sa’adat al-Mubarak Ibn al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl fî Ahâdîts al-Rasûl, Ed: ‘Abdul Qadir al-Arna’uth, Maktabah al-Hulwâni, cet. I, juz X, hlm. 767.
[3] ‘Iyadh bin Musa Abu al-Fadhl al-Sabati, Syarh Shahîh Muslim (Ikmâl al-Mu’lim bi Fawâ’id Muslim), juz IV, hlm. 486.
[4] Ibid, hlm. 487-488.
[5] Shalih Ahmad al-Syami, Mawâ’izh al-Imâm al-Hasan al-Bashri, Beirut: Al-Maktab al-Islâmi, cet. II, 1425 H/2004, hlm. 34.

19 February 2019

Keadilan & Ketegasan Rasulullah ﷺ dalam Penegakkan Hukum Islam


Catatan Kajian Irfan Abu Naveed
Penulis Buku Konsep Baku Khilafah Islamiyyah


R
asulullah  tegas tidak mengabaikan penegakkan hukum Islam, dengan tidak menjadikan suara terbanyak sebagai pedoman dalam penegakkan hukum Islam, diantara buktinya adalah sikap tegas Rasulullah atas pengajuan sahabat yang meminta pengampunan atas sanksi had. Dalam hadits shahih dari ‘Aisyah istri Nabi , bahwa saat penaklukan Kota Makkah di masa Rasulullah , orang-orang Quraisy pernah kebingungan menghadapi permasalahan seorang wanita (bangsawan) yang ketahuan mencuri.
Mereka berkata: "Siapa kiranya yang berani mengadukan permasalahan ini kepada Rasulullah ?" maka sebagian mereka mengusulkan: "Siapa lagi kalau bukan Usamah bin Zaid, orang yang paling dicintai oleh Rasulullah ." Lalu wanita itu dihadapkan kepada Rasulullah dan Usamah bin Zaid r.a. pun mengadukan permasalahannya kepada beliau , tiba-tiba wajah Rasulullah berubah menjadi merah seraya bersabda:

أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ
Apakah kamu hendak meminta syafa'at terhadap sanksi dari Allah (yang telah ditetapkan)?! [1]

Maka Usamah berkata kepada beliau:

اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَسُولَ الله
Mohonkanlah ampunan Allah bagiku wahai Rasulullah .

Maka pada sore harinya Rasulullah berdiri dan berkhutbah (اختطب), setelah memuji Allah dengan pujian yang layak untuk-Nya, beliau bersabda:

«أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَإِنِّي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا»
Amma Ba'du. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah manakala ada orang yang terpandang (terhormat) dari mereka mencuri, maka merekapun membiarkannya. Namun jika ada orang yang lemah dan hina di antara mereka ketahuan mencuri, maka dengan segera mereka melaksanakan hukuman atasnya. Demi Dzat yang jiwaku berada tangan-Nya, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yang akan memotong tangannya.

Akhirnya beliau memerintahkan terhadap wanita yang mencuri, lalu dipotonglah tangan wanita tersebut." Yunus berkata; Ibnu Syihab berkata; Urwah berkata; 'Aisyah berkata: "Setelah peristiwa itu, wanita tersebut bertaubat sungguh-sungguh dan menikah, hingga pada suatu ketika ia datang kepadaku untuk meminta tolong mengajukan permintaannya kepada Rasulullah , lalu aku memenuhi permintaannya tersebut." (HR. Muslim. Lihat pula riwayat-riwayat lainnya dari Imam al-Bukhari, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibn Majah dan Imam al-Darimi)[2]
Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) ketika menjelaskan hadits serupa di atas (riwayat Imam al-Bukhari) menuturkan:

وَسَبَبُ إِعْظَامِهِمْ ذَلِكَ خَشْيَةُ أَنْ تُقْطَعَ يَدُهَا لِعِلْمِهِمْ أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُرَخِّص فِي الْحُدُود ، وَكَانَ قَطْع السَّارِق مَعْلُومًا عِنْدهمْ قَبْل الْإِسْلَام ، وَنَزَلَ الْقُرْآنُ بِقَطْعِ السَّارِق فَاسْتَمَرَّ الْحَال فِيهِ
Dan penyebab kekhawatiran mereka (orang-orang Quraisy) adalah ketakutan akan dipotongnya tangan wanita ini, karena mereka menyadari bahwa Nabi tidak akan meringankan sanksi hudud. Dan dahulu, sanksi potong tangan bagi pencuri sudah lumrah di antara mereka sebelum turunnya Islam, dan turunlah Al-Qur’an yang mensyari’atkan sanksi potong tangan bagi pencuri, maka sanksi ini tetap berlangsung.[3]

            Dalam hadits yang mulia ini, ada beberapa hal yang menguatkan larangan meminta pengampunan terhadap sanksi ini (termasuk memusyawarahkan apakah dilaksanakan atau tidak):

Pertama, Usamah bin Zaid r.a. menyampaikan kasus ini kepada Rasulullah untuk meminta pengampunan. Karena makna kalimat:
(فَقَالُوا مَنْ يُكَلِّم فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)
Siapa yang berani mengadukan permasalahan ini kepada Rasûlullâh ?

            Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menjelaskan maknanya:
أَيْ يَشْفَع عِنْده فِيهَا أَنْ لَا تُقْطَعَ إِمَّا عَفْوًا وَإِمَّا بِفِدَاءٍ
“Yakni pengampunan dari Rasulullah terhadap pencurian ini agar tidak disanksi potong tangan apakah dimaafkan atau diganti dengan denda.”[4]

            Permintaan yang disampaikan Usamah bin Zaid r.a. ini, membuat merah wajah Rasulullah , lantas beliau menjawab:
(فَقَالَ : أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُود اللَّه)
Apakah engkau hendak meminta keringanan terhadap sanksi hudûd Allâh?!

             Dan makna jawaban Rasulullah di atas, meski bernada pertanyaan namun maksudnya adalah pengingkaran (al-istifhâm al-inkâri), dalam ilmu balaghah ini termasuk istifhâm balâghi yang menunjukkan larangan, dan tidak membutuhkan jawaban (istifsâr), sebagaimana dijelaskan Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani:

 بِهَمْزَةِ الِاسْتِفْهَام الْإِنْكَارِيّ لِأَنَّهُ كَانَ سَبَقَ لَهُ مَنْعُ الشَّفَاعَةِ فِي الْحَدّ قَبْل ذَلِكَ
Yakni hamzah bernada pertanyaan yang bermakna pengingkaran, karena telah ditetapkan sebelumnya larangan meminta pengampunan terhadap sanksi had.”[5]

Kedua,  Usamah bin Zaid menyadari bahwa perbuatannya tersebut keliru, hingga beliau meminta agar Rasulullah memintakan ampunan kepada Allah untuknya, ia berkata:

اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَسُولَ الله
"Mohonkanlah ampunan bagiku wahai Rasulullah ."

Ketiga, setelah peristiwa tersebut, pada sore harinya Rasulullah berdiri dan berkhutbah dengan khutbah yang sangat kuat dan mendalam, karena makna اختطب dalam hadits di atas adalah:

خَطَبَ وبَالَغَ في الخطبة
“Berkhutbah namun bukan sembarang khutbah karena kuat dan mendalam dalam khutbah tersebut.”

Keempat,  Dalam khutbahnya ini Rasulullah mengabarkan penyebab kehancuran kaum-kaum sebelum kaum muslimin adalah tidak adil dalam menegakkan hukum mengundang murka dan siksa Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana dituturkan dalam syarh hadits ini:

 سَبَّبَ لهم الهلاك وهو غَضَبُ الله وعقابُه
“Penyebab kehancuran mereka adalah kemurkaan dan siksa Allah SWT.”




[1] Lihat: Hudud bagi pencuri berdasarkan QS. al-Mâ’idah [5]: 38 & dirinci al-Sunnah. Dalam penjabarannya, hukuman bagi pencuri itu apakah wajib dipotong tangan atau tidak (dihukum dengan bentuk hukuman lain), setelah hakim mengkaji ‘illat hukumnya (alasan si pencuri melakukan pencurian) dan kadar pencuriannya (dipotong tangan jika ¼ dinar atau lebih = 4 ¼ gram emas murni (hadits Ahmad, al-Nasa’i, Ibn Majah)).
[2] Lihat pula: ‘Abdul Ghani bin ‘Abdul Wahid Al-Maqdisi, ‘Umdat al-Ahkâm Min Kalâm Khair Al-Anâm –‘Alaih al-Shalât wa al-Salâm-, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet.II, 1429 H/2008.
[3] Ahmad bin Ali Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H, juz XII, hlm. 88.
[4] Ibid, juz XII, hlm. 93.
[5] Ibid, juz XII, hlm. 94.