Skip to main content

Mempertanyakan Karakter Banci dalam Film Kartun Anak


Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebihPendidikan bagi anak-anak penerus generasi kita adalah tanggung jawab bersama, baik kedua orangtua, keluarga, masyarakat, para ulama maupun negara. Salah satu pendidikan yang wajib ditanamkan pada anak adalah pendidikan fitrah anak; laki-laki dengan karakter maskulinnya, dan perempuan dengan karakter feminimnya. Dimana Islam menggariskan perincian perbedaan pola pendidikan berkenaan dengan dua sisi karakter tersebut, agar tak terjadi pelanggaran terhadap fitrah, berujung pada kemungkaran praktik liwath (homoseksual) dan lesbian.

Sebagaimana Islam pun mengharamkan praktik tasyabbuh lawan jenis; pria menyerupai wanita atau sebaliknya. Mencakup pakaian, asesoris, gaya bicara dan karakternya. Maka, perlu dikritisi karakter banci dalam dunia entertainmen, termasuk dalam film kartun anak, seperti karakter banci ala "Abang Sally" atau "Kak Saleh" dalam salah satu film kartun anak yang masyhur di Indonesia dan Malaysia.


💎 Hukum Menyerupai Lawan Jenis dalam Islam & Batasannya (Kajian Hadits) 💎

Islam dengan ajarannya memuliakan manusia agar senantiasa di atas rel fitrahnya, di antaranya tergambar dalam larangan Islam terhadap perbuatan laki-laki berpakaian menyerupai perempuan, dan perempuan menyerupai laki-laki. Larangan dalam hal ini mencakup pakaian dan sikap.

Islam, sebagaimana dijelaskan al-Qadhi Taqiyyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, telah memerintahkan agar pakaian perempuan berbeda dengan pakaian laki-laki. Demikian pula sebaliknya, pakaian laki-laki berbeda dengan pakaian perempuan. Islam telah melarang satu sama lain untuk saling menyerupai (tasyabbuh) dalam berpakaian, karena adanya pengkhususan atau pembedaan satu dari yang lainnya, seperti masalah menghiasi sebagian anggota tubuh tertentu.[1]

Dalil-Dalil Hadits

Keterangan foto tidak tersedia.
Hadits ke-1: Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiyaLlâhu 'anhu-:

«لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرَأَة تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ»
Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan, dan perempuan mengenakan pakaian laki-laki.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Abu Dawud)[2]

Kata la’ana mashdar-nya adalah al-la’nu yakni al-ta’dzîb (siksaan), Imam al-Azhari (w. 370 H) memaknai (
لعنه الله) yakni Allah menjauhkannya.

Al-Hafizh Ibn al-Atsir (w. 606 H) menjelaskan:

وَأَصْلُ اللَّعْن: الطَّرْد والإبْعاد مِنَ اللهِ، وَمِنَ الخَلْق السَّبُّ والدُّعاء
“Asal kata al-la’nu: terhempas dan terjauhkan dari Allah, dan dari makhluk-Nya berupa celaan dan do’a keburukan.”

Selengkapnya: Link Kajian

Terkait persoalan ini, kami rinci dalam buku "LGBT: ILUSI KAUM LIBERAL VS SOLUSI KAUM INTELEKTUAL"


📦 Kontak Pemesanan:

Kaaffah Penerbit
0857 3553 3668

Info Buku: Link Info 

Comments

Popular posts from this blog

Balaghah Hadits [4]: Ganjaran Agung Menghidupkan Sunnah Kepemimpinan Islam

Kajian Hadits: Man Ahya Sunnati Oleh: Irfan Abu Naveed [1] S alah satu dalil al-Sunnah, yang secara indah menggambarkan besarnya pahala menghidupkan sunnah, termasuk di antaranya sunnah baginda Rasulullah ﷺ dalam hal kepemimpinan umat (imamah) adalah hadits dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:   «مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ» “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Marwazi, al-Thabarani, al-Lalika’i, Ibn Baththah dan Ibn Syahin) Keterangan Singkat Hadits HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan- nya (no. 2678, bab بَابُ مَا جَاءَ فِي الأَخْذِ بِالسُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ البِدَعِ ), ia berkata: “Hadits ini hasan gharib dari jalur ini.”; Abu Abdillah al-Marwazi dalam Ta’zhîm Qadr al-Shalât (no. 714); Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath (no. 9439); Al-Lalika’i d

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia”

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل