Skip to main content

Buku Terbaru "LGBT: Ilusi Kaum Liberal VS Solusi Kaum Intelektual"

LGBT, Ilusi Kaum Liberal vs Solusi Kaum Intelektual


Keterangan foto tidak tersedia.

LGBT, persoalan sistemik yang mengundang kontroversi. Eksistensinya di dunia internasioal kian mengkhawatirkan, ditandai sebaran organisasi-organisasi pegiat dan pendukung LGBT di berbagai belahan dunia yang jelasnya membutuhkan solusi Islam. Buku ini dihadirkan untuk merevitalisasi solusi Islam atas permasalahan LGBT, dengan pendekatan preventif, kuratif dan persuasif; praktis dan ideologis; dan cakupan subjek individu, keluarga, masyarakat dan negara. Diramu berdasarkan taujîh al-Qur’an dan al-Sunnah, dengan persepektif ilmu balaghah & tafsirnya, didukung aqwal para ulama, serta pengalaman langsung menerapi ruqyah para pelaku liwâth (homoseksual), dengan penyajian ilmiah:

Bab I: Membaca Peta LGBT; Indonesia & Dunia;

Bab II: LGBT dalam Isu Sains, Psikologi & Medis;

Bab III: LGBT Antara Ilusi Pragmatis Kaum Liberal VS Jawaban Kaum Intelektual;

Bab IV: LGBT dalam Persepektif Islam;

Bab V: Paradigma Asasi Mengatasi LGBT;

Bab VI: LGBT; Solusi Praktis & Ideologis

Buku ini secara apik dan bernas menyajikan fakta-fakta LGBT; LGBT dalam isu sains-psikologi-medis; penelusuran jejak penyesatan kaum liberal dalam isu LGBT berikut bantahan para ulama atasnya; pandangan Islam atas LGBT berikut dalil-dalilnya; paradigma asasi mengatasi LGBT; perincian solusi praktis dan ideologis atas LGBT. Semoga buku ini bermanfaat bagi penyusun dan keluarga, serta kaum Muslim pada umumnya.

=============

Irfan Abu Naveed (Irfan Rhamdan Wijaya, M.Pd): terapis ruqyah syar’iyyah dengan latar belakang Master Pendidikan & Pemikiran Islam UIKA Bogor, aktif menjadi dosen (fikih, manthiq, bahasa arab, filsafat & sosiologi pendidikan Islam), dan mengasuh pengajian tafsir-balaghah al-Qur’an-Hadits Nabawi di sejumlah majelis.

Rizki Utami Handayani, S.ST (Ummu Naveed): Ibu rumah tangga dengan latar belakang pendidikan D4 Kebidanan UNPAD yang berpengalaman menjadi dosen, aktif membina remaja muslimah & narasumber kajian-kajian kesehatan muslimah di berbagai lembaga keislaman.


Kontak Pemesanan:

Kaaffah Penerbit

0857 3553 3668

Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Koreksi Atas Penafsiran Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli, Benarkah Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

  Oleh: Irfan Abu Naveed D ewasa ini, kita seringkali dihadapkan dengan slogan atau ungkapan yang seakan-akan benar padahal sebaliknya, hingga ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend setter tersendiri khususnya bagi sebagian kaum awwam . Salah satunya adalah ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Dimana ungkapan ini pun sudah tak asing di telinga kita. Lalu bagaimana pemahaman yang benar? Terlebih jika ungkapan ”fitnah lebih kejam daripada membunuh” biasanya dinukil dari ayat yang agung: {وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}    “ Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan .” (QS. Al-Baqarah [2]: 191) Kata fitnah kembali diulang pada ayat setelahnya: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ} “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kam