Skip to main content

Posts

Showing posts from 2019

Kritik Atas Halusinasi “Tekstual-Kontekstual” Ala Kaum Liberal

Oleh: Irfan Abu Naveed [Dosen Fikih/Manthiq, Peneliti Kajian Balaghah al-Qur'an & Hadits Nabawi] Membaca tulisan berjudul “Banalitas Di Sekitar Radikalisme”, yang secara terang-terangan membawa pembacanya pada wacana: membenarkan halusinasi soal “kontekstual”, sekaligus mengkritisi kaum radikal yang lazim mereka stempel buruk sebagai kaum “tekstual”, sebagai antitesis dari kaum kontekstual (mereka), maka perlu saya kritisi dan koreksi sebagai berikut: Mereka yang berhalusinasi soal tekstual dan kontekstual itu sedang mengigau, seakan-akan teks yang telah turun selama belasan abad, nas al-Qur'an dan al-Sunnah itu, harus tunduk pada halusinasi mereka soal "kontekstual", hingga hukum syari'at yang mapan pun harus dikalahkan oleh produk halusinasi mereka. Nas yang mengharamkan wanita menjadi pemimpin dalam hadits " lan yufliha qawmun " misalnya, harus tunduk pada halusinasi mereka soal "kontekstual", seakan-akan wanita dulu dan

Bantahan Atas Dalih "Membangun Relasi" Dibalik Ucapan Selamat Hari Raya Kufur

Oleh: Irfan Abu Naveed [Dosen Fikih/Manthiq] Pertama, Dasar pengharaman mengucapkan al-tahni'ah bi a'yad al-musyrikin/al-kafirin (ucapan selamat atas perayaan kufur non muslim), ditegaskan para ulama bukan karena wacana relasi antara muslim dan kuffar baik dari kalangan dzimmi, musta'min, mu'ahid. Tapi karena banyaknya nas al-Qur'an dan al-Sunnah yang mengharamkan ucapan kufur, taqrir atas kekufuran serta keharaman tasyabbuh bi al-kuffar, mencakup tasyabbih bil aqwal (lisan). Justru harusnya sampai pada pemahaman, jika dahulu saja tatkala kafir dzimmi yang nb "dekat" dengan kehidupan kaum Muslim; tunduk kepada Khilafah hingga membayar jizyah, dimana hak-hak mereka dijamin oleh Khilafah mencakup kehormatan, darah dan hartanya saja; kaum Muslim, mencakup Rasulullah Saw, para Khulafa' Rasyidun, diteruskan oleh khalifah dan kaum Muslim setelahnya *tak pernah mengucapkan selamat atas perayaan mereka karena haram*, maka apalagi di zaman ini tatk

Hujjah Syar'iyyah Haramnya Mengucapkan Selamat Atas Perayaan Kufur

Oleh: Irfan Abu Naveed Ucapan selamat, dalam bahasa arab dikenal dengan istilah al-tahni’ah. Dalam ’urf (tradisi), ucapan selamat jelas merupakan ungkapan do’a, keridhaan, persetujuan serta simpati atas apa yang menjadi objek dari ucapan selamat tersebut. Ini merupakan perkara yang ma’lûm, sudah diketahui dan dipahami secara umum.  Sebagaimana keterangan makna kata selamat dalam KBBI: se.la.mat 1 a terhindar dr bencana; aman sentosa; sejahtera; tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan, dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal: ~ dr bahaya maut; biar lambat asal ~; 2 n doa (ucapan, pernyataan, dsb) yg mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dsb): doa ~; ketika ia kawin banyak handai tolannya yg memberi ucapan ~ kepadanya; 3 n pemberian salam mudah-mudahan dl keadaan baik (sejahtera, sehat dan afiat, dsb). Sehingga bisa disimpulkan bahwa secara lafzhiyyah, dalam ilmu manthiq, ia mengandung dilala

Diksi “Islam Kaffah” Apa yang Jadi Masalah? [Koreksi Atas Pemahaman Berbahaya] [Bag. II]

1.       Memahami Makna & Kedudukan Kata Kâffat[an] dalam Tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 208: Hâl Min al-Silm Lalu apa makna  kâffah  ( كافّة ) dalam ayat yang mulia ini? Dan bagaimana kedudukannya dalam perspektif i’rab al-Qur’an? Jawab: Lafal ini berkonotasi keseluruhan ( جميعًا ). Ibn ‘Abbas, Qatadah, Al-Dhahhak dan Mujahid sebagaimana penuturan Al-Hafizh Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H) menegaskan ia bermakna  jamî’an  ( جميعًا ) yakni keseluruhan . Imam al-Alusi (w. 1270 H) mengatakan: وكافة في الأصل صفة من كف بمعنى منع ، استعمل بمعنى الجملة بعلاقة أنها مانعة للأجزاء عن التفرق والتاء فيه للتأنيث أو النقل من الوصفية إلى الإسمية كعامة وخاصة وقاطبة ، أو للمبالغة Dan kata  kâffah  pada asalnya adalah sifat dari kata kerja  kaffa  yang artinya menghalangi, penggunaan dengan makna kalimat ini dengan keterkaitan bahwa ia adalah yang menghalangi untuk dibagi-bagi dalam pembagian, dan tambahan huruf  tâ’  di dalamnya untuk  ta’nîts  (mu’annats) atau mengubahnya dari kata sifa