24 October 2018

Syi’ar Bendera Tauhid: Bukti Cinta Pada Sunnah Nabi ﷺ (Kajian Tsaqafah-Part. II)



Kajian Tsaqafiyyah Menyoal Bendera Islam (Bagian II)

Oleh: Irfan Abu Naveed al-Atsari
Pengasuh Ponpes STIQ & Majelis Ta’lim KH. Sholeh Madani di Kota Santri Cianjur
Dosen Fikih & Bahasa Arab

T
elah jelas nan terang benderang bahwa bendera tauhid merupakan syi’ar Islam, bukan hanya itu, kedudukannya sebagai bendera dan panji Rasulullah pun menunjukkan kedudukannya sebagai bagian dari sunnah beliau , sebagaimana diisyaratkan oleh Imam Ibn Bathal, sehingga menyi’arkannya merupakan bagian dari upaya menghidupkan sunnah Rasulullah , dengan perincian argumentasi mapan berikut ini:

A.   Menyi’arkan Panji Tauhid: Menghidupkan Sunnah Rasulullah
Al-liwâ’ dan al-râyah merupakan nama untuk bendera dan panji Rasulullah . Secara bahasa, keduanya berkonotasi al-’alam (bendera).[1] Namun secara syar’i, al-liwâ’ (jamak: al-alwiyah) dinamakan pula al-râyah al-’azhîmah (panji agung)[2], dikenal sebagai bendera negara atau simbol kedudukan pemimpin,[3] yang tidak dipegang kecuali oleh pemimpin tertinggi peperangan atau komandan brigade pasukan (amîr al-jaisy) yakni Khalifah itu sendiri[4], atau orang yang menerima mandat dari Khalifah, sebagai simbol kedudukan komandan pasukan. Ia memiliki karakteristik berwarna putih, dengan khath berwarna hitam “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”, berjumlah satu.[5]
Sedangkan al-râyah (jamak: al-râyât), ia adalah panji (al-’alam) berwarna hitam, dengan khath berwarna putih “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”, dinamakan pula al-’uqâb. al-râyah berukuran lebih kecil daripada al-liwâ’, dan digunakan sebagai panji jihad para pemimpin detasemen pasukan (satuan-satuan pasukan (katâ’ib)), tersebar sesuai dengan jumlah pemimpin detasemen dalam pasukan, sehingga berjumlah lebih dari satu.[6]
Dijelaskan pula oleh pakar hadits dan fikih kontemporer, Dr. Mushthafa Dib al-Bugha’ yakni panji pasukan, dikatakan pula bahwa ia adalah simbol kesatuan seorang Pemimpin Negara, dimana ia berada di sisinya dimanapun berada. Hal ini relevan, banyak dalil-dalil al-sunnah dan atsar yang menjelaskan tentang al-liwâ’ dan al-râyah, diantaranya dari Ibn Abbas r.a.:
«كَانَ لِوَاءُ -صلى الله عليه وسلم- أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ»
“Bendera (liwâ’) Rasulullah berwarna putih, dan panjinya (râyah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, al-Baghawi, al-Tirmidzi. Lafal al-Hakim)[7]

            Dari Ibn Abbas r.a:

«كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ»
“Panjinya (râyah) Rasulullah berwarna hitam, dan benderanya (liwâ’) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”.” (HR. Al-Thabrani)[8]

            Dari Jabir bin Abdullah r.a.:

«أَنَّ النبي -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لِوَاؤُهُ يَوْمَ دَخَلَ مَكَّةَ أَبْيَضَ»
“Bahwa Nabi liwa’-nya pada hari penaklukkan Kota Mekkah berwarna putih.” (HR. Ibn Majah, Al-Hakim, Ibn Hibban. Lafal al-Hakim)[9]

Dari Yunus bin Ubaid mawla’ Muhammad bin al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin al-Qasim mengutusku kepada al-Bara’ bin ‘Azib, aku bertanya tentang râyah Rasulullah seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib menjawab:

«كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ»
”(Al-Râyah) ia berwarna hitam, berbentuk persegi panjang terbuat dari kain wol.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Baghawi, al-Nasa’i)[10]

Dari al-Hasan r.a, ia berkata:

«كَانَتْ رَايَةُ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ تُسَمَّى الْعُقَابَ»
“Râyah Nabi berwarna hitam disebut al-‘Uqab.” (HR. Ibn Abi Syaibah)[11]

Dari Ibn Abbas r.a.:

«كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ»
“Panjinya (râyah) Rasulullah berwarna hitam, dan benderanya (liwâ’) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”.” (HR. Abu al-Syaikh al-Ashbahani)[12]

Imam Ali bin Muhammad Abu al-Hasan Al-Khuza’i (w. 789 H) begitu pula Syaikh Abdul Hayy al-Kattani (w. 1382 H) pun menukil hadits di atas, dalam satu subjudul mâ kâna maktûban fîhâ (apa yang tertulis pada bendera dan panji Rasulullah ). Dimana keduanya menegaskan, Ibn Abbas r.a. menambahkan, tertulis pada benderanya kalimat lâ ilâha illaLlâh.[13] Intinya, dari sejumlah jalur periwayatan menyoal tulisan yang termaktub pada bendera dan panji Islam ini, riwayat Abu al-Syaikh dari Ibn ‘Abbas r.a., adalah riwayat maqbul, bahwa bendera dan panji Rasulullah bertuliskan kalimat tauhid: syahadatain. Sedangkan khath (tulisan)-nya adalah khath yang masyhur di masa Rasulullah , yakni khath Makkiy (khath Makkah) dan Madaniy (khath Madinah). Ini didasarkan pada keterangan yang disampaikan oleh Ibn al-Nadim.[14]
Didukung oleh argumentasi bahwa kalimat tauhid, adalah kalimat yang paling layak menjadi syi’ar pada bendera dan panji kepemimpinan Islam, sejalan dengan tauhid yang menjadi fondasi Daulah Islamiyyah yang ditegakkan Rasulullah , dilanjutkan para khalifah setelahnya (khususnya al-khulafa’ al-rasyidun), sebagaimana ditegaskan para ulama, salah satunya al-’Allamah al-Syaikh Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani[15], di antaranya berdasarkan hadits dari Abdullah bin ‘Umar ra., ia menuturkan bahwa Rasulullah bersabda:

«أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ»
“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan, “Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan itu, terpeliharalah harta dan darah mereka dariku, kecuali karena alasan yang haq, dan perhitungan mereka di sisi Allah.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)

            Begitu pula al-‘Allamah Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) pun menegaskan kalimat tauhid yang tersurat dalam kalimat adzan mengandung filosofi asas negara (al-Daulah al-Islâmiyyah) yang dibangun Rasulullah , hal itu ia uraikan secara apik dalam salah satu magnum opus-nya, kitab Ru’yat[un] Siyâsiyyat[un] li al-Sîrah al-Nabawiyyah. Maka relevan jika kalimat tauhid ditegaskan sebagai simbol yang termaktub pada bendera dan panji Rasulullah .
Dalil-dalil di atas secara sharîh menisbatkan bendera dan panji dengan karakteristiknya yang istimewa kepada Rasulullah . Maka tidak mengherankan jika para ulama hadits bahkan menuliskan satu subbab khusus berkenaan dengan al-liwâ’ dan al-râyah, diantaranya: Al-Bukhari dalam Shahih-nya menuliskan subbab (مَا قِيْلَ فِي لِوَاء النَّبِي صلى الله عليه و سلم), Ibn Majah dalam Sunan-nya menuliskan subbab (باب الرَّايَات والأَلْوِيَّة), Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya menuliskan subbab (مَا جَاءَ فِيْ الرَّايَات), Ibn Hibban dalam Shahih-nya menuliskan subbab (ذِكْرُ وَصْفِ لِوَاءِ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ دُخُولِهِ مَكَّةَ يَوْمَ الْفَتْحِ) dan lainnya, yang cukup menunjukkan keberadaan bendera dan panji istimewa Rasulullah .
Bendera dan panji dalam hadits-hadits ini, merupakan simbol kenegaraan Rasulullah , hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah pun mengatur masyarakat Madinah dalam ruang lingkup kenegaraan, dan menetapkan adanya bentuk bendera dan panji dengan karakteristik istimewa, ketika bendera dan panji tersebut bertuliskan kalimat tauhid, maka hal tersebut relevan dengan realitas bahwa Rasulullah membangun Daulah Islamiyyah di Madinah al-Munawwarah di atas fondasi tauhid, akidah Islam.[16]
Diperjelas sabda Rasulullah ketika Perang Khaibar:

«لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ»
”Sungguh aku akan memberikan al-râyah kepada seseorang, ditaklukkan (benteng) melalui kedua tangannya, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya)[17]

Imam Ibn Bathal (w. 449 H)[18] ketika menjelaskan hadits ini bahkan mencirikan panji tauhid al-rayah sebagai sunnah Rasulullah , Ibn Bathal menegaskan:

(لأعطين الراية) فعرفها بالألف واللام يدل أنها كانت من سنته - (صلى الله عليه وسلم) - فى حروبه فينبغى أن يسار بسيرته فى ذلك.
“Rasulullah bersabda, Sungguh aku akan menyerahkan al-Raayah”, kata al-Raayah yang diungkapkan dalam bentuk ma’rifat (ada alif dan lam) menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan sunnah Rasulullah dalam peperangan, maka sudah seharusnya kaum Muslim meneladani Rasulullah dalam hal tersebut.”[19]

Berangkat dari argumentasi terang benderang di atas, maka jelas menghidupkan syi’ar panji tauhid termasuk dalam keumuman menghidupkan sunnah nabi , dan menghidupkan sunnah nabi adalah syarat bukti kecintaan padanya, dan kecintaan padanya adalah syarat untuk memasuki surga-Nya.

B.  Menyi’arkan Panji Tauhid: Bukti Cinta Kepada Rasulullah
Menyi’arkan panji tauhid merupakan bentuk menghidupkan sunnah Nabi , dan menghidupkan sunnah Nabi adalah bukti kecintaan padanya , berdasarkan dalil hadits dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah bersabda:

«مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ»
“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Thabrani)[20]

Kata sunnati, berkonotasi thariqi, yakni jalan hidupku,[21] mencakup seluruh ajaran-ajaran yang beliau gariskan untuk umatnya, baik berupa ucapan (qauliyyah), perbuatan (fi’liyyah) yang dicontohkan Rasulullah bagi umatnya. Al-Hafizh Ibn al-Atsir (w. 606 H) menguraikan:
Sunnah asalnya bermakna thariqah (metode) dan sirah (jalan hidup), dan disebutan secara syar’i, yang dimaksud dengannya adalah apa-apa yang Nabi perintahkan, dan beliau larang, serta puji baik berupa perkataan, maupun perbuatan, selain ungkapan ayat al-Qur’an.[22]
Menghidupkan sunnah Nabi adalah syarat mencintainya, berdasarkan ungkapan (مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي), dimana informasi (khabar) agung ini pun diungkapkan Rasulullah dengan penegasan berupa huruf qad di depan kata kerja lampau (al-fi’l al-madhi), yang berfaidah menafikan adanya keraguan atas kebenaran informasi tersebut, kebenaran cinta bagi siapa saja yang menghidupkan sunnah Nabi .
Kata kerja ahya dalam ungkapan (مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي), berkonotasi “menghidupkan”, yakni dengan mengamalkan sunnah tersebut.[23] Dalam ilmu balaghah, kalimat ahya sunnati merupakan bentuk majazi (kiasan), yakni bentuk isti’arah (peminjaman istilah), menggambarkan upaya mengimani, mengagungkan, mempelajari, mengajarkan, serta membela dari segala bentuk penyimpangan dan penistaan atasnya. Syaikh Abdurrahman al-Mubarakfuri (w. 1353 H) menegaskan, yakni dengan mengunggulkannya dan menyebarkannya dengan perkataan atau perbuatan.[24]
Namun penjelasan lebih terperinci, diuraikan Imam Izzuddin al-Shan’ani (w. 1182 H) bahwa menghidupkan sunnah, terwujud dengan mengamalkannya, menyiarkannya, dan menafikan penyimpangan kaum yang menyimpang atasnya.[25]  Imam Izzuddin al-Shan’ani menguraikan makna (فَقَدْ أَحَبَّنِي), yakni benar-benar cinta kepada Rasulullah , karena sesungguhnya siapa saja yang mencintai seseorang, maka ia akan bertingkah laku seperti pihak yang dicintainya, maka tanda cinta seseorang kepada Rasulullah adalah bertingkah laku sesuai sunnahnya, menolong sunnahnya, serta menyeru manusia kepadanya.[26]
Padahal mencintai Rasulullah merupakan tuntutan keimanan dan sifat yang terpuji. Al-‘Allamah al-Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi’i (w. 1314 H) menguraikan bahwa cinta kepada Rasulullah termasuk sifat yang terpuji, berdasarkan hadits dari Anas bin Malik r.a., dari Nabi bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا»
“Tidak beriman salah satu di antara kamu, hingga menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada kepada selain keduanya.” (HR. Ahmad, al-Bazzar)[27]

            Frasa (لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ) berkonotasi tidak beriman dengan iman yang sempurna (îmân[an] kâmil[an]), yang menunjukkan kesempurnaan iman dibuktikan dengan menjadikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya, dimana kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya, dibuktikan dengan cara ittiba’ terhadap Rasulullah :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ {٣١}
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Âli Imrân [3]: 31)

Dan kita, sebagaimana sya’ir yang dinukil al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H):

نَبْنِي كَمَا كَانَتْ أَوَائِلُنَا * تَبْنِي، وَنَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلُوْا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun * Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.[28]



[1] Ibn Manzhur, Lisân al-‘Arab, Kairo: Dâr al-Ma’ârif, juz V, hlm. 4109.
[2] Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syarf Al-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turats al-‘Arabi, cet. II, 1392 H, juz XII, hlm. 43.
[3] Ibn Manzhur, Lisân al-‘Arab, juz V, hlm. 4109.
[4] Ibid.
[5] Berdasarkan dalil-dalil al-sunnah dan atsar.
[6] Berdasarkan dalil-dalil al-sunnah dan atsar.
[7] HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak (2506), Al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah (2663), al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (1681): “Hadits hasan gharib”.
[8] Abu al-Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlaq al-Nabi (424) adalah riwayat maqbul. Periwayatan hadits dari Jalur Ibn Abbas ini, semua rawinya dapat diterima. Dari rangkaian perawinya, hanya ada satu perawi saja yang diperdebatkan yakni Hayyan bin Ubaidillah. Sebagian mengatakan dha’if karena tafarrud (seperti pendapat Ibn Adi), tetapi Ibn Hibban menempatkan dalam “al-Tsiqqat’, Abu Hatim mengatakan shaduq, Abu Bakar al-Bazzar mengatakan masyhur dan “laisa bihi ba’sa”. Tafarrudnya Hayyan bin Ubaidillah tidak memadharatkan hadits karena keadaannya tsiqah atau shaduq (lihat Muqaddimah Ibn Shalah). Demikian juga ikhtilath nama antara Hayyan bin Ubaidillah (حيان) dan Haban bin Yassar (حبان) sudah dijelaskan oleh para ulama, semisal dalam Tarikh al-Kabir, Tahdzib al-Kamal, al-Kamil fi al-Dhu’afa, Mizan al-I’tidal, dll. Penjelasan terkait dengan tafarrud dan ikhtilath Hayyan bin Ubaidillah bisa dijelaskan dalam tulisan khusus. Kesimpulannya, hadits dari Abu Syaikh dari jalur Ibn Abbas maqbul (Yuana Ryan Tresna, Pengasuh Ma’had Khadimus Sunnah).
[9] HR. Ibn Majah dalam Sunan-nya (2817), Al-Hakim dalam al-Mustadrak (2505): “Hadits shahih memenuhi syarat syaikhayn (al-Bukhari dan Muslim) meski keduanya tidak meriwayatkannya”, Ibn Hibban dalam Shahîh-nya (4743) dengan sedikit perbedaan redaksi.
[10] HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (1680): “Hadits hasan gharib.”, Al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah (2663), al-Nasa’i dalam Sunan-nya (8552).
[11] HR. Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (33604).
[12] HR. Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath (219).
[13] Ali bin Muhammad Abu al-Hasan al-Khuza’i, Takhrij al-Dilalat al-Sam’iyyah ’ala Ma Kana fi ’Ahd Rasulillah , Ed: Dr. Ihsan Abbas, Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, cet. II, 1419 H, hlm. 366.
Muhammad Abdul Hayy al-Kattani, Al-Taraatiib al-Idaariyyah, Beirut: Dar al-Arqam, cet. II, juz I, hlm. 266.
[14] Muhammad bin Ishaq Ibn Al-Nadim, Al-Fihrist, Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet. II, 1417 H, hlm. 16.
[15] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Muqaddimah al-Dustûr, Beirut: Dar al-Ummah, hlm. 5.
[16] Hal ini sekaligus menguatkan sekian banyak bantahan yang meruntuhkan tuduhan bahwa Rasulullah bukan kepala negara dan tidak mengatur urusan kenegaraan.
[17] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (2847), Muslim dalam Shahîh-nya (6299), Ahmad dalam Musnad-nya (1608), Ibn Majah dalam Sunan-nya (121), lafal al-Bukhari.
[18] Abu al-Hasan Ali bin Khalaf Ibn Bathal, Syarh Shahiih al-Bukhaari, Riyadh: Maktabat al-Rusyd, cet. II, 1423 H/2003, juz V, hlm. 141.
[19] Ibid.
[20] HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2678, bab بَابُ مَا جَاءَ فِي الأَخْذِ بِالسُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ البِدَعِ), ia berkata: “Hadits ini hasan gharib dari jalur ini.”; Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath (no. 9439).
[21] Ubaidullah al-Rahmani al-Mubarakfuri, Mirât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, India: Idarat al-Buhuts al-‘Ilmiyyah, cet. III, 1404 H, hlm. 281.
[22] Majduddin Abu al-Sa’adat Al-Mubarak Ibn al-Atsir, Al-Nihâyah fi Gharib al-Hadîts, Beirut: Al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, 1399 H, juz II, hlm. 409.
[23] Ubaidullah al-Rahmani al-Mubarakfuri, Mirât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, India: Idarat al-Buhuts al-‘Ilmiyyah, cet. III, 1404 H, hlm. 281.
[24] Abdurrahman al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarh Jâmi’ al-Tirmidzi, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz VII, hlm. 371.
[25] Muhammad bin Isma’il ‘Izzuddin al-Shan’ani, Al-Tanwîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Riyadh: Maktabah Dar al-Salam, cet. I, 1432 H, juz X, hlm. 55.
[26] Muhammad bin Isma’il ‘Izzuddin al-Shan’ani, Al-Tanwir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz X, hlm. 55.
[27] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 13151) Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari “Sanadnya shahih sesuai syarat Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim)”; Al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 7540).      
[28] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadrîb al-Râwi fî Syarh Taqrîb al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, Cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.

No comments :

Post a Comment