27 October 2018

Bantahan Atas Syubhat I: Bendera yang Dibakar Bendera HTI Bukan Bendera Tauhid



Kritik Ushuli, Manthiqi & Lughawi

Oleh: Irfan Abu Naveed
Pengasuh Ponpes-STIQ & Majelis Ta’lim KH. Sholeh Madani di Kota Santri Cianjur
Dosen Fikih, Manthiq & Bahasa Arab
Syubhat I:
Bendera yang dibakar adalah bendera hti, bukan bendera tauhid!
Bantahan:
Salah satu dalih yang didengungkan berulang kali untuk menjustifikasi pembakaran bendera tauhid adalah:

“Bendera yang dibakar adalah bendera HTI, bukan bendera tauhid!”

Benarkah pernyataan tersebut logis?

Saya tegaskan, ini adalah pernyataan absurd yang dibangun dari logika yang rusak, sesuai dengan kaidah shahihah yang disebutkan para ulama:

كل ما بني على باطل فهو باطل
“Segala hal yang dibangun di atas asas yang batil maka ia pun batil.”[1]

كل ما بني على فاسد فهو فاسد
“Segala hal yang dibangun di atas asas yang rusak maka ia pun rusak.”

Hal itu terbukti dengan mengkritisi dalih mereka ini secara manthiqiyyah. Dalih ini bisa dikatakan dalih khayali, berangkat dari pemikiran yang salah sedari awal, dalam ilmu manthiq bisa diistilahkan merupakan tashdhiqi nazhari yang salah, bahwa bendera yang dibakar adalah bendera HTI. Padahal kenyataannya -jelas tampak terlihat (bisa terindera) pada video yang viral-, bendera yang dibakar adalah bendera berwarna hitam dan bertuliskan kalimat tauhid yakni syahadatayn, tanpa ada tulisan “Hizbut Tahrir Indonesia”.
Dengan kata lain, fakta yang tak terbantahkan ini (jelas terindera), dalam ilmu manthiq menggambarkan wujud tashawwuri yang dharuri (badihi: terang benderang) dari “bendera tauhid”; gambaran fisik dari objek terindera yang tak terbantahkan, bahwa objek yang dibakar adalah bendera tauhid (bendera bertuliskan kalimat tauhid), fakta ini maklum sudah diketahui oleh kaum Muslim, termasuk orang awam sekalipun, tak perlu menjadi ulama untuk mengetahui kalimat yang tertulis pada objek pembakaran tersebut adalah kalimat tauhid. Jadi tidak logis, bahkan rusak logika mereka yang merasa boleh membakar bendera tauhid dengan dalih itu adalah bendera HTI.
Pertanyaannya:

Mana tulisan HTI nya? Tidak ada!
Mana hak patennya? Tidak ada!
Mana bukti AD/ART HTI bahwa itu adalah “Bendera HTI”? Tidak ada!

Dalam kaidah ilmiah disebutkan, penuduh wajib menunjukkan bukti, jika tidak ingin mendapat predikat sebagai pendusta. Kenyataannya, bendera dan panji tersebut telah ada jauh sebelum HTI lahir ratusan tahun lalu, didukung bukti banyaknya riwayat yang menggambarkan penisbatan panji berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid sebagai panji Rasulullah , yang lantas dinamakan panji Al-Rayah atau panji Al-‘Uqab.

Dari Ibn Abbas r.a.:

«كَانَ لِوَاءُ -صلى الله عليه وسلم- أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ»
“Bendera (liwâ’) Rasulullah berwarna putih, dan panjinya (râyah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, al-Baghawi, al-Tirmidzi. Lafal al-Hakim)[2]

            Dari Jabir bin Abdullah r.a.:

«أَنَّ النبي -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لِوَاؤُهُ يَوْمَ دَخَلَ مَكَّةَ أَبْيَضَ»
“Bahwa Nabi liwa’-nya pada hari penaklukkan Kota Mekkah berwarna putih.” (HR. Ibn Majah, Al-Hakim, Ibn Hibban. Lafal al-Hakim)[3]

            Dari Ibn Abbas r.a:

«كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ»
“Panjinya (râyah) Rasulullah berwarna hitam, dan benderanya (liwâ’) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”.” (HR. Abu al-Syaikh al-Ashbahani)[4]

Dalil-dalil di atas adalah sebagian kecil dari dalil-dalil hadits yang secara sharîh menisbatkan bendera dan panji kepada Rasulullah dengan karakteristiknya yang istimewa. Maka tidak mengherankan jika dalam banyak kutub hadits, tertulis subbab khusus berkenaan dengan al-liwâ’ dan al-râyah, diantaranya: dalam Shahih al-Bukhari tertulis subbab (مَا قِيْلَ فِي لِوَاء النَّبِي صلى الله عليه و سلم), dalam Sunan Ibn Majah tertulis subbab (باب الرَّايَات والأَلْوِيَّة), dalam Sunan al-Tirmidzi tertulis subbab (مَا جَاءَ فِيْ الرَّايَات), dalam Shahih Ibn Hibban tertulis subbab (ذِكْرُ وَصْفِ لِوَاءِ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ دُخُولِهِ مَكَّةَ يَوْمَ الْفَتْحِ) dan lainnya, yang cukup menunjukkan keberadaan bendera dan panji istimewa Rasulullah .
Di sisi lain, redaksi rayat al-nabi , dan liwa’uhu (liwa’ al-nabi ), dalam persepektif lughawi (bahasa arab) sebagaimana diuraikan dalam teori ilmu nahwu, jelas diungkapkan dalam bentuk redaksi al-idhafah (penautan kata: mudhaf mudhaf ilaih), menunjukkan makna: rayat li al-nabi  dan liwa’ li al-nabi , yakni rayah dan liwa’ milik Nabi . Artinya secara lingustik (lughawi) tak bisa dipungkiri eksistensi ”bendera dan panji” yang dinisbatkan kepada Nabi , menjadi hujjah tak terbantahkan dari apa yang digemakan oleh para aktivis HTI, bahwa apa yang mereka bawa selama ini (al-liwa’ dan al-Rayah) adalah model dari bendera dan panji warisan Rasulullah , sebagaimana benarnya penyebutan ”bendera tauhid”, untuk disematkan kepada al-liwa’ dan al-rayah yang memuat kalimat tauhid, didukung banyaknya hadits terkait.
Sebagai pembuktian lebih mapan, silahkan baca artikel argumentatif berikut ini:


Maka berhentilah membuat-buat kedustaan untuk kemudian menjustifikasi kemungkaran pembakaran bendera tauhid, mengingat penghisabannya kelak sangat berat di hadapan Allah, bersikap adillah, jangan bela kemungkaran akibat kebencian kepada pihak lain. Ingat, Allah ’Azza wa Jalla memperingatkan orang-orang beriman untuk senantiasa bersikap adil, tidak zhalim:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَداءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِما تَعْمَلُونَ {٨}
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 8)

          Ayat ini seruan bagi orang-orang beriman, dimana Allah ’Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk bersikap adil baik dalam perbuatan maupun ucapan, sebagaimana ditegaskan oleh Muhyis-Sunnah al-Imam al-Baghawi al-Syafi’i (w. 510 H):

أَمَرَهُمْ بِالْعَدْلِ وَالصِّدْقِ فِي أَفْعَالِهِمْ وَأَقْوَالِهِمْ
“Allah memerintahkan mereka bersikap adil dan jujur baik dalam perbuatan-perbuatan mereka maupun perkataan-perkataannya.”[5]

            Makna (عَلى أَلَّا تَعْدِلُوا) yakni meninggalkan berbuat adil terhadap mereka dikarenakan permusuhan terhadap mereka.[6] Allah ‘Azza wa Jalla pun dalam ayat ini menurut al-Baghawi, memerintahkan berbuat adil baik terhadap kawan maupun lawan[7], dan hal tersebut merupakan ketakwaan.[8] Sikap adil ini, diwujudkan dengan nasihat yang baik, tidak mengedepankan vonis buruk, nasihat yang didasarkan pada tuntutan persaudaraan seakidah. []




[1] Prof. Dr. Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh al-Islâmi, Damaskus: Dar al-Khayr, cet. II, 1427 H, juz I, hlm. 264; Abdul Muhsin bin Abdullah al-Zamil, Syarh al-Qawâ’id al-Sa’diyyah, Riyadh: Dar Athlas al-Khadra’, cet. I, 1422 H, hlm. 343..
[2] HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak (2506), Al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah (2663), al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (1681): “Hadits hasan gharib”.
[3] HR. Ibn Majah dalam Sunan-nya (2817), Al-Hakim dalam al-Mustadrak (2505): “Hadits shahih memenuhi syarat syaikhayn (al-Bukhari dan Muslim) meski keduanya tidak meriwayatkannya”, Ibn Hibban dalam Shahîh-nya (4743) dengan sedikit perbedaan redaksi.
[4] Abu al-Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlaq al-Nabi (424) dengan derajat shahih, maqbul. Periwayatan hadits dari Jalur Ibn Abbas ini, semua rawinya dapat diterima. Dari rangkaian perawinya, hanya ada satu perawi saja yang diperdebatkan yakni Hayyan bin Ubaidillah. Sebagian mengatakan dha’if karena tafarrud (seperti pendapat Ibn Adi), tetapi Ibn Hibban menempatkan dalam “al-Tsiqqat’, Abu Hatim mengatakan shaduq, Abu Bakar al-Bazzar mengatakan masyhur dan “laisa bihi ba’sa”. Tafarrudnya Hayyan bin Ubaidillah tidak memadharatkan hadits karena keadaannya tsiqah atau shaduq (lihat Muqaddimah Ibn Shalah). Demikian juga ikhtilath nama antara Hayyan bin Ubaidillah (حيان) dan Haban bin Yassar (حبان) sudah dijelaskan oleh para ulama, semisal dalam Tarikh al-Kabir, Tahdzib al-Kamal, al-Kamil fi al-Dhu’afa, Mizan al-I’tidal, dll. Penjelasan terkait dengan tafarrud dan ikhtilath Hayyan bin Ubaidillah bisa dijelaskan dalam tulisan khusus. Kesimpulannya, hadits dari Abu Syaikh dari jalur Ibn Abbas maqbul (Yuana Ryan Tresna, Pengasuh Ma’had Khadimus Sunnah).
[5] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi al-Syafi’i, Ma’âlim al-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabiy, cet. I, 1420 H, juz II, hlm. 28.
[6] Ibid.
[7] Ibid.
[8] Ibid.

No comments :

Post a Comment