18 October 2018

Balaghah Hadits Nabawi: Pentingnya Institusi Negara & Keluarga




Rasulullah bersabda:

«أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ»
“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan isteri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka.” (HR. Al-Bukhârî, Muslim)[1]

Pesan agung dalam hadits yang mulia ini, diawali dengan huruf tanbih, alâ, yang berfaidah menarik perhatian pendengar untuk menyimak perkataan sekaligus menegaskannya (taukid). Diungkapkan dengan gaya pengungkapan majazi (kiasan), dalam bentuk al-isti’ârah, yang menyerupakan pengurusan rakyat dengan penggembalaan.[2]

Imam al-Baghawi (w. 516 H) menjelaskan makna al-râ’i dalam hadits ini yakni pemelihara yang dipercaya atas apa yang ada padanya, Nabi memerintahkan mereka dengan menasihati apa-apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan memperingatkan mereka dari mengkhianatinya dengan pemberitahuannya bahwa mereka adalah orang yang akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Maka al-ri’âyah: adalah memelihara sesuatu dan baiknya pengurusan.

Imam al-Baghawi pun ketika menjelaskan hadits ini merinci tugas seorang pemimpin (khalifah) dalam Sistem Politik Islam:

فَرِعَايَةُ الإِمَامِ وِلايَةُ أُمُورِ الرَّعِيَّةِ، وَالْحِيَاطَةُ مِنْ وَرَائِهِمْ، وَإِقَامَةُ الْحُدُودِ وَالأَحْكَامِ فِيهِمْ
“Maka pemeliharaan seorang al-Imam (khalifah) adalah wilayah urusan-urusan rakyatnya, dan melindungi mereka, menegakkan sanksi-sanksi had, dan hukum-hukum bagi mereka.”[3]

Dengan kata lain, hadits yang mulia ini menegaskan besarnya kedudukan khalifah, namun tak hanya khalifah, hadits ini pun menegaskan besarnya kedudukan institusi keluarga; suami dan istri atas keluarganya.

Dimana Rasulullah secara khusus menyebutkan kedudukan kepala negara (khalifah), lalu kepala keluarga (suami) dan ibu rumah tangga atas keluarganya, disamping manusia secara umum (كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ), dalam ilmu balaghah menunjukkan bentuk al-ithnab (dzikr al-khash ba'da al-'am), yakni penyebutan kalimat yang khusus setelah lafal umum, untuk menunjukkan betapa pentingnya perkara yang khusus tersebut (li al-tanbih 'ala fadhl al-khash). Artinya menunjukkan pentingnya kedudukan kepala negara (khalifah) sebagai penanggungjawab institusi negara dan kepala keluarga sebagai penanggungjawab institusi keluarga dalam memelihara masyarakat dari berbagai keburukan.

Dengan kata lain, hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan besarnya kedudukan institusi negara dan keluarga dalam menjaga masyarakat dari berbagai penyimpangan dari Islam.

Silahkan ikuti kajian rutin ilmu balaghah yang kami selenggarakan di Cianjur, dan daurah singkat ilmu balaghah yang diselenggarakan di kota-kota antum.

Irfan Abu Naveed Al-Atsari

Footnotes:
[1] HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya (VI/2611, hadits 6719); Muslim dalam Shahih-nya (VI/7, hadits 4751); Abu Dawud dalam Sunan-nya (III/91, hadits 2930); Ibn Hibban dalam Shahih-nya (X/342, hadits 4490).
[2] Cantiknya ungkapan hadits ini dalam persepektif ilmu balaghah (yakni ilmu al-bayan), mengandung ungkapan majazi (kiasan), jenis al-isti'arah (gaya pengungkapan dengan meminjam istilah (al-musta'ar minhu) untuk mewakili istilah lain (al-musta'ar lahu), kata kuncinya pada kata راع, yang menyerupakan bentuk pengurusan dan pemeliharaan urusan rakyat dengan penggembalaan.
[3] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Syarh al-Sunnah, juz X, hlm. 61.

No comments :

Post a Comment