Skip to main content

Program Majelis Tahsin & Tafsir Al-Qur'an STIQ ZAD Cianjur


Telah dibuka untuk umum, ikhwan dan akhwat, pendaftaran majelis tahsin dan tafsir al-Qur'an STIQ ZAD Cianjur, dibimbing oleh para pakar bersanad:

Keunggulan
1. Dibimbing oleh pakar, Syaikh Dr.
Sameh Salem, Lc., MA (seorang pakar tafsir dan qira'at dari Mesir), didukung para dosen STIQ ZAD Cianjur
2. Diberikan sanad ilmu tajwid oleh Syaikh Dr. Sameh Salem, Lc., MA bagi yang berprestasi;
3. Tempat yang kondusif dan mudah dijangkau oleh angkutan umum;
4. Waktu bisa disesuaikan (Pagi - Siang - Sore - Malam);
5. Peserta dibatasi (lebih fokus, setiap kelas dibatasi maksimal 10 orang dengan satu pengajar);
6. Usia tidak dibatasi.

Tujuan
1. Memberikan kemudahan kepada umat untuk mempelajari al-Qur'an dan tafsirnya;
2. Memberikan kemudahan kepada umat untuk membaca al-Qur'an dengan baik dan benar.

Pertemuan
Halqah/Tatap muka dilaksanakan 2 kali seminggu (jadwalnya disesuaikan)

Pilihan Waktu
Pilihan waktu yang menyesuaikan antarpeserta dan pengajar:
Waktu pilihan:
- Pagi (Pkl. 10:00 - 12:00 WIB)
- Siang (Pkl. 13:00 - 15:00 WIB)
- Sore (Pkl. 16:00 - 18:00 WIB)
- Malam (Pkl. 18:30 - 20:30 WIB)

Tempo Pembelajaran
Pembelajaran memerlukan waktu 3 bulan dan setelah itu bisa mengikuti program lanjutan.

Biaya
- Pendaftaran Rp. 50.000,-
- Infaq bulanan Rp. 100.000,-/bulan

Pendaftaran
Langsung datang ke kampus STIQ ZAD Cianjur.

Daftar via WA
DaftarTahsin#Nama#Alamat#Pekerjaan#Umur#No.HP
Kirim ke no. WA: 081364447879
Datang pada waktu pembukaan acara Majelis Tahsin al-Qur'an dan waktu diberitahukan via telephon atau WA.

Alamat Majelis Tahsin
Jalan Nasional 11, Kp Cibeureum, RT/RW. 01/01, Desa Cibeureum, Kec. Cugenang, Kab. Cianjur, Provinsi Jawa Barat (20 meter dari jembatan Cibeureum Cugenang).





Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Koreksi Atas Penafsiran Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli, Benarkah Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

  Oleh: Irfan Abu Naveed D ewasa ini, kita seringkali dihadapkan dengan slogan atau ungkapan yang seakan-akan benar padahal sebaliknya, hingga ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend setter tersendiri khususnya bagi sebagian kaum awwam . Salah satunya adalah ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Dimana ungkapan ini pun sudah tak asing di telinga kita. Lalu bagaimana pemahaman yang benar? Terlebih jika ungkapan ”fitnah lebih kejam daripada membunuh” biasanya dinukil dari ayat yang agung: {وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}    “ Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan .” (QS. Al-Baqarah [2]: 191) Kata fitnah kembali diulang pada ayat setelahnya: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ} “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kam