15 July 2018

Paradigma Islam Menimbang ”Islam Nusantara”




Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

I
slam Nusantara (disingkat: Isnus), topik kontroversial ini kembali mengemuka setelah sebelumnya senyap sejak awal kemunculannya pada beberapa tahun lalu. Bukan tanpa sebab, kontroversi Isnus mencakup kontoversi istilah, konsepsi hingga isu politisasi, bagaimana menyikapinya?



A.   Kesesatan Paradigma Isnus
Dari aspek istilah dan konsepsi (al-ism wa al-musammâ), Isnus dihadirkan untuk menegaskan perbedaan antara praktik ke-Islam-an di Indonesia dan Timur Tengah, yang berujung pada sikap merendahkan praktik keberagamaan apa yang mereka istilahkan “Islam Arab”, dan menudingnya sebagai sumber konflik kekerasan yang berbeda dengan Isnus. Sikap seperti ini akhirnya mengundang kritik para tokoh Timur Tengah dalam banyak momentum ketika mereka berkunjung ke Indonesia dan berjumpa dengan penggiat Isnus, semisal Said Aqil Siroj.
Ironisnya, sebagai sebuah konsep beragama Isnus pun dianalogikan sebagai aliran madzhab dalam Islam yang harus diakomodasi sebagai corak keberagaman. Klaim ini bertolak belakang dengan kenyataan manakala Isnus digunakan untuk menghantam kelompok-kelompok kaum Muslim lainnya, dan menjadi alasan untuk mencibir praktik ke-Islam-an di Timur Tengah. Dibuktikan dengan pengakuan jujur para penggiat Isnus yang menegaskan eksistensinya untuk membendung apa yang mereka namakan “kelompok radikalisme”, yang pada prinsipnya masih tergolong kelompok kaum Muslim.
Terlebih pada tataran konsepsi, Isnus mengusung ide-ide yang mengakomodasi nilai-nilai lokal budaya dan adat istiadat yang bias standar, rawan menjerumuskan pada sinkretisme, maka analogi tersebut adalah analogi yang cacat secara asasi (qiyâs ma’a al-fâriq) dan wajib ditimbang dengan standar Islam.

B.   Meluruskan Paradigma: Keistimewaan Islam

Pertama, Standar Islam dalam Kehidupan
Perlu ditegaskan bahwa Islam, baik istilah maupun konsepsinya wajib digali berdasarkan petunjuk nas al-Qur’an dan al-Sunnah. Dari segi istilah misalnya, Islam merupakan istilah syar’i yang menggambarkan konsepsi sempurna (dîn) yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad untuk umat manusia baik bangsa arab maupun ‘ajam, yang mengatur segala aspek kehidupan mereka, mengeluarkannya dari kegelapan (kebatilan) menuju cahaya (Islam):

الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ {١}
“Alif, lâm râ. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrâhîm [14]: 1)

Dalam ayat yang agung ini, Allah menyifati al-Qur'an sebagai Kitab Suci yang Dia turunkan kepada Rasulullah , dengan hikmah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, diungkapkan  secara majazi (kiasan) dengan meminjam istilah (al-isti’ârah) untuk mengumpamakan Islam sebagai sesuatu yang baik (cahaya) dan kekufuran sebagai sesuatu yang buruk (kegelapan). Rasulullah bersabda:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»
Wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu KitabuLlâh dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim, al-Baihaqi)

Hadits ini diungkapkan dalam bentuk kalimat syarat (jumlah syarthiyyah), yang secara jelas menetapkan standar agung dalam kehidupan, agar meraih keselamatan dunia akhirat yakni dengan berpegang teguh pada al-Qur’an dan al-Sunnah. Hal ini menuntut setiap muslim mengembalikan segala perkara kepada keduanya, termasuk tradisi dan adat istiadat yang wajib dipastikan agar senantiasa berada di atas rel Islam. Diperjelas isyarat dalam al-Qur’an yang menunjukkan celaan atas tradisi-tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan Islam, dan mencela taklid buta atasnya (lihat: QS. Al-Ma’idah [5]: 104), serta realitas penentangan kaum Musyrik Quraysyi atas dakwah Rasulullah dan para sahabat yang meluruskan tradisi-tradisi kaum Musyrik yang menyalahi Islam, itu semua adalah bukti keistimewaan konsepsi Islam dalam membangun kehidupan. Dari Al-’Irbadh bin Sariyah r.a ia berkata: Rasulullah bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»
“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku, dan sunnah para khalifah al-rasyidin al-mahdiyyin, gigitlah oleh kalian hal tersebut) dengan geraham yang kuat.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

Standar Islam ini pula yang harus dijadikan standar pembuktian atas klaim bahwa Isnus adalah refleksi Islam rahmatan lil alamin. Klaim ini hanya bisa terbukti dengan menunjukkan kesesuaian konsep Isnus dengan konsep al-Qur’an dan al-Sunnah (QS. Âli Imrân [3]: 103), karena kerahmatan Islam bagi kehidupan mengandung makna menegakkan Islam: akidah dan syari’ah kâffah hingga membuahkan kebaikan hakiki bagi alam semesta (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107, QS. Al-Qashash [28]: 86), bukan dengan menundukkan Islam pada adat istiadat atau apapun yang menyalahi Islam. Bagaimana mungkin berbuah jika akar dan batang pohonnya tidak ada atau rusak dipenuhi hama?

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ {١٠٧}
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107)

Menafsirkan ayat ini, Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi’i (w. 1316 H) dalam tafsirnya (II/62) menegaskan: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syari’at-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.”
Syaikh Nawawi pun menegaskan kewajiban mengamalkan keseluruhan ajaran Islam dalam kehidupan dalam turats-nya, salah satunya Syarh Sullam al-Taufiq (hlm. 8). Diperjelas petuah muridnya, Mbah Hasyim Asy’ari (w. 1366 H) dalam al-Mawâ’izh yang berpesan agar kaum Muslim berpegangteguh pada al-Qur’an dan al-Sunnah bukan fanatisme buta pada golongan: ”Wahai kaum Muslim, bertakwalah kepada Allah, kembalilah kepada Kitab Rabb kalian (al-Qur’an), beramalah sesuai dengan Sunnah Nabi kalian. Teladani lah orang-orang shalih sebelum kalian, niscaya kalian akan beruntung sebagaimana mereka telah meraih keberuntungan, dan niscaya kalian akan berbahagia sebagaimana mereka berbahagia. Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian. Dan tolong-menolonglah kalian dalam menunaikan kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran, niscaya Allah melimpahkan rahmat dan ihsan-Nya kepada kalian.”

Kedua, Kesempurnaan Din Islam
Keistimewaan Islam pun mencakup kesempurnaan dan cakupan ajarannya yang menyeluruh mengatur segala aspek kehidupan manusia, IPOLEKSOSBUDHANKAM, hal itu ditunjukkan oleh nas-nas al-Qur’an dan praktik kehidupan Rasulullah . Allah Swt berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ {٨٩}
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)
            Lihat pula QS. Al-Mâ’idah [5]: 3, QS. Al-Baqarah [2]: 208 dan lainnya, dimana kesempurnaan Islam ditunjukkan secara praktis dalam kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, ini merupakan standar hakiki keberislaman seseorang, bukan konsep beragama yang akhirnya justru mereduksi ajaran Islam. Al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) dalam Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm (III/131) ketika menafsirkan QS. Al-Mâ’idah [5]: 50 menjelaskan: ”Allah mengingkari siapa saja yang keluar dari hukum Allah yang jelas mencakup seluruh kebaikan, mencegah dari segala keburukan, serta mengandung keadilan (bersih) dari segala hal selain al-Qur’an, berupa pandangan-pandangan pribadi, hawa nafsu serta istilah-istilah (menyesatkan-pen.) yang dibuat-buat oleh manusia tanpa mengaitkannya dengan syari’at Allah, sebagaimana kaum jahiliyyah dahulu berhukum dengannya berupa kesesatan-kesesatan dan kejahilan-kejahilan.”

Ketiga, Universalitas Dakwah Islam
Di sisi lain wajib dipahami bahwa dakwah Islam bersifat universal, hal ini meniscayakan visi dakwah tanpa melihat warna kulit (suku bangsa) dan asal-usul (wilayah), sebagaimana firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ {٢٨}
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ [34]: 28)

Diperjelas QS. Al-A’râf [7] 158 dan QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107. Lafal kâffah menjadi petunjuk penting universalitas dakwah Islam, karena lafal ini berkonotasi sesuatu yang tidak bisa dibagi-bagi ke dalam pecahan (mâni’ li ajzâ’ihi min al-tafarruq), dengan kata lain frasa kâffata li al-nâs menunjukkan bahwa dakwah Islam yang dicontohkan Rasulullah adalah dakwah untuk seluruh umat tanpa memandang batas-batas wilayah dan warna kulit, yang meniscayakan visi persatuan kaum Muslim tanpa sekat-sekat ashabiyyah (fanatisme buta yang pada selain Islam).

C.   Islam dan Visi Persatuan Kaum Muslim
Islam secara tegas mengajarkan umatnya untuk menjunjung tinggi persatuan di atas asas akidah Islam, dan diikat dalam institusi kepemimpinan Islam (al-Khilâfah al-Islâmiyyah), hal itu tersurat dan tersirat dalam al-Qur’an, al-Sunnah dan aqwâl para ulama mu’tabar:
Pertama, Islam mewajibkan kaum Muslim menjadikan ikatan akidah Islam sebagai pengikat kaum Muslim (ukhuwwah Islamiyyah) (QS. Al-Hujurat [49]: 10), sebagaimana Islam pun mengharamkan ikatan-ikatan jahiliyyah (ashabiyyah) yang bisa merusak kesatuan kaum Muslim, seperti fanatisme buta pada kelompok, kesukuan, dan lainnya. Islam misalnya, jelas mencela paham fanatisme buta (‘ashabiyyah), Rasulullah bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ»
Bukan dari golongan kami, siapa saja yang menyeru kepada ‘ashabiyyah (fanatisme golongan). Dan bukan dari golongan kami, siapa saja yang berperang atas dasar ‘ashabiyyah. Dan bukan dari golongan kami, siapa saja yang mati diatas ‘ashabiyyah.” (HR. Abu Dawud)

Sisi ini bertolak belakang dengan dampak negatif yang bisa dimunculkan oleh isu “Islam Nusantara” dengan memprovokasi munculnya aliran-aliran lainnya yang bersifat regional atau domestik: “Islam Asia”, “Islam Prancis” dsb, dimanfaatkan oleh kaum imperialis dan liberalis untuk memecah belah barisan kaum Muslim, mencegah persatuan mereka dan menghujamkan imperialisme di jantung negeri-negeri kaum Muslim. Strategi ini sejalan dengan strategi yang direkomendasikan Ariel Cohen kepada AS untuk menghadapi gerakan Islam yang mengusung syariah dan khilafah. Cohen pernah mempublikasikan hasil risetnya itu yang dibiayai oleh The Heritage Foundation berjudul ‘Hizb ut-Tahrir: An Emerging Threat to U.S. Interests in Central Asia’ (lihat: www.heritage.org). Menurut Cohen, salah satu cara melawan kelompok “Islam radikal” adalah dengan cara membenturkan kelompok tersebut dengan kelompok “Islam moderat”.
Kedua, Islam mewajibkan kaum Muslim menegakkan Khilafah sebagai institusi pemersatu kalimat kaum Muslim, sebagaimana Islam pun mengharamkan segala tindak tanduk yang bisa memecah belah jama’ah kaum Muslim, seperti bughat (pemberontakan) atas Khilafah.
Kenyataannya, gagasan “Islam Nusantara” diusung oleh mereka yang selama ini aktif mengusung ide “Islam Moderat” yang merupakan refleksi lebih halus dari “Islam Liberal”. Hal ini meniscayakan ketidakbolehan penggunaan istilah ini, mengingat setiap istilah yang berpotensi mereduksi ajaran Islam, sesat menyesatkan serta memecah belah barisan kaum Muslim maka tidak boleh digunakan, sebagaimana istidlal para ulama atas QS. Al-Baqarah [2]: 104. []


No comments :

Post a Comment