28 July 2018

Esensi Berhijab dalam Islam [Bantahan Atas Paradigma Sesat Soal Hijab]



Meluruskan Paradigma Sesat Soal Hijab & Prinsip Beragama

Irfan Abu Naveed al-Atsari

Membaca tulisan curhat "Gayatri" yang cukup viral di laman FB menyoal hijab dan prinsip beragama, maka saya terdorong untuk memberikan catatan kritis, sebagai tanggung jawab dakwah membela Din Islam dari segala bentuk penyesatan paradigma.

Pada prinsipnya, saya mendapati bahwa ia tampak tak memahami esensi berhijab bagi seorang muslimah. 
Maka perlu kita pahamkan:

Foto Irfan Abu Naveed Al-Atsari.Berhijab itu bukan soal mode, sehingga muslimah yang cerdas tak perlu menghabiskan banyak waktu mengumpulkan berbagai potret model mode "hijab", terlebih tidak mode "hijab" ala non muslim, pemborosan waktu seperti ini bukan sikap orang yang cerdas paham Islam, kontraproduktif, tidak berfaidah bagi kehidupan sebagai seorang muslimah yang punya prinsip dalam hidupnya, bahkan justru berpotensi menjerumuskan muslimah kepada perbuatan menyerupai pakaian non muslim yang menjadi identitas keagamaannya, ini jelas mengundang malapetaka bagi kehidupan.

Dari Ibn ’Umar –radhiyallâhu ’anhu--, ia berkata bahwa Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah)

Ingat, di antara tanda kebaikan Islam seseorang, adalah apa yang diungkapkan dalam sabda yang mulia Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Al-Tirmidzi, Ibn Majah & Ibn Hibban)

Cobalah belajar, beragama itu soal prinsip, jika merasa sebagai muslimah maka belajar lah menghargai diri dengan hidup di atas prinsip Islam. Jangan nodai potensi kecerdasan dengan menjunjung tinggi pluralisme, suatu ajaran kufur yang sebenarnya menggambarkan orang bingung yang tak memiliki sandaran dalam hidup.

Belajar lah, hijab dalam Islam itu bukan soal mode, melainkan sebagai bukti keta'atan kepada Rabb, Penguasa Alam Semesta. Esensi agung ini jelas jauh lebih berharga daripada motivasi duniawi, agar tampil modis di depan manusia. Esensi ini tampaknya sulit diterima oleh mereka yang kadung percaya diri pada kebodohannya, "ini gue, terserah gue mau pakai baju apa", ini tipe orang yang tak tahu terima kasih, diberi tapi jelasnya tak tahu diri.

Bagaimana mungkin orang cerdas mau berprinsip egois seperti itu?! Pada saat yang sama setiap hembusan nafasnya milik Allah, Rabb Penguasa Alam Semesta yang mewajibkannya berhijab berikut syarat-syarat yang dikehendaki oleh-Nya dalam Kalam Suci-Nya, diperjelas oleh hadits Rasul-Nya, dan disampaikan oleh para pewaris rasul-Nya, dari generasi ke generasi dalam rentetan sanad keilmuan yang panjang dan terjaga, lalu anda sudah belajar Islam berapa lama untuk menggugat ajaran agung Islam soal hijab?!

Bahkan jika seseorang benar-benar mempelajari Islam dengan cara yang tepat: berguru kepada para ulama Rabbani, dan dilandasi niat yang tulus, maka ilmu tersebut akan membuahkan ketundukan kepada Rabb Penguasa Semesta Alam, hal itu karena ilmu yang benar membuahkan khasyyah (rasa ta'zhim, tunduk dan patuh) kepada Allah 'Azza wa Jalla. Cobalah sejenak berpikir tentang firman-Nya yang agung ini:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama.” (QS. Fâthir [35]: 28)

Anda merasa menjadi ulama? Sudah sejauh mana anda belajar ilmu-ilmu syar'i?! Ilmu al-Qur'an, ilmu hadits, ilmu ushul fikih, ilmu fikih, dan banyak lainnya dimana setiap fan ilmu ini harus dikuasai dari mulai tingkat pemula hingga expert.

Pengamalan hijab yang benar sesuai ketentuan syari’at, jelasnya hanya bisa dipahami dan diamalkan oleh muslimah cerdas yang belajar ilmunya dan lurus niatnya, sehingga tak perlu menjadi orang yang bingung memikirkan soal mode hijab. Allâh ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Nûr [24]: 31)

Coba perhatikan permulaan kalimat dalam ayat yang agung ini, ayat ini berbicara tentang kewajiban menutup aurat dan mengenakan hijab, namun diawali dengan diksi "al-mu'minat", yakni perempuan-perempuan yang telah beriman kepada Allah dengan memeluk akidah Islam. Ini tak sulit untuk dipahami, menunjukkan bahwa esensi hijab adalah keta'atan kepada Rabb Penguasa Semesta Alam, Allah 'Azza wa Jalla.

Ajaran Islam pun jelas sangat memuliakan kaum wanita, hingga auratnya pun diungkapkan secara majazi dengan istilah al-zînah. Makna (
وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ) dalam ilmu balaghah merupakan majaz mursal, yang bermakna mahallu al-zînah (menurut istilah al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani dalam al-Nizhâm al-Ijtimâ’i) atau mawâdhi' al-zînah (menurut istilah Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam tafsir al-Munîr) yang artinya tempat melekatnya hiasan. Ini satu sisi batasan auratnya.

Bahkan dalam bahasa Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-, wanita shalihah yakni wanita cerdas punya prinsip hidup pada Islam diumpamakan secara majazi dengan istilah khayr mata' al-dunya (sebaik-baiknya perhiasan dunia), bukan permata, tapi wanita shalihah:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Jadi tak bernilai sama sekali klaim memiliki nilai studi Islam yang tinggi, jika akhirnya tak menyampaikan pada pemahaman yang benar tentang esensi hidup sebagai seorang muslim/muslimah. Coretan curhat Gayatri, menunjukkan ketidakpahaman dirinya pada keagungan ajaran Islam.

Nilai pada lembaran kertas itu, tak menunjukkan kecerdasan memahami Din Islam. Coba tengok di luar sana, tak sedikit kaum orientalis yang pintar bahasa arab, belajar banyak studi Islam, namun itu semua tak menjadi bukti mereka lebih cerdas daripada seorang muslim yang hanya lulusan sekolah umum, namun mau mengkaji Islam, memiliki prinsip dalam hidup dengan berpegang teguh pada Islam.

Allah pun berfirman mengenai orang-orang beriman dan beramal shalih:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7)

Bandingkan dengan mereka yang tidak beriman, hatta jika seandainya mereka adalah kaum orientalis:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk “. (QS. Al-Bayyinah [98]: 6)

:: Coretan ringan Irfan Abu Naveed al-Atsari.
Seorang suami sekaligus ayah yang sedang belajar menjadi orang cerdas yang punya prinsip dalam hidup.


15 July 2018

Paradigma Islam Menimbang ”Islam Nusantara”




Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

I
slam Nusantara (disingkat: Isnus), topik kontroversial ini kembali mengemuka setelah sebelumnya senyap sejak awal kemunculannya pada beberapa tahun lalu. Bukan tanpa sebab, kontroversi Isnus mencakup kontoversi istilah, konsepsi hingga isu politisasi, bagaimana menyikapinya?



A.   Kesesatan Paradigma Isnus
Dari aspek istilah dan konsepsi (al-ism wa al-musammâ), Isnus dihadirkan untuk menegaskan perbedaan antara praktik ke-Islam-an di Indonesia dan Timur Tengah, yang berujung pada sikap merendahkan praktik keberagamaan apa yang mereka istilahkan “Islam Arab”, dan menudingnya sebagai sumber konflik kekerasan yang berbeda dengan Isnus. Sikap seperti ini akhirnya mengundang kritik para tokoh Timur Tengah dalam banyak momentum ketika mereka berkunjung ke Indonesia dan berjumpa dengan penggiat Isnus, semisal Said Aqil Siroj.
Ironisnya, sebagai sebuah konsep beragama Isnus pun dianalogikan sebagai aliran madzhab dalam Islam yang harus diakomodasi sebagai corak keberagaman. Klaim ini bertolak belakang dengan kenyataan manakala Isnus digunakan untuk menghantam kelompok-kelompok kaum Muslim lainnya, dan menjadi alasan untuk mencibir praktik ke-Islam-an di Timur Tengah. Dibuktikan dengan pengakuan jujur para penggiat Isnus yang menegaskan eksistensinya untuk membendung apa yang mereka namakan “kelompok radikalisme”, yang pada prinsipnya masih tergolong kelompok kaum Muslim.
Terlebih pada tataran konsepsi, Isnus mengusung ide-ide yang mengakomodasi nilai-nilai lokal budaya dan adat istiadat yang bias standar, rawan menjerumuskan pada sinkretisme, maka analogi tersebut adalah analogi yang cacat secara asasi (qiyâs ma’a al-fâriq) dan wajib ditimbang dengan standar Islam.

B.   Meluruskan Paradigma: Keistimewaan Islam

Pertama, Standar Islam dalam Kehidupan
Perlu ditegaskan bahwa Islam, baik istilah maupun konsepsinya wajib digali berdasarkan petunjuk nas al-Qur’an dan al-Sunnah. Dari segi istilah misalnya, Islam merupakan istilah syar’i yang menggambarkan konsepsi sempurna (dîn) yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad untuk umat manusia baik bangsa arab maupun ‘ajam, yang mengatur segala aspek kehidupan mereka, mengeluarkannya dari kegelapan (kebatilan) menuju cahaya (Islam):

الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ {١}
“Alif, lâm râ. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrâhîm [14]: 1)

Dalam ayat yang agung ini, Allah menyifati al-Qur'an sebagai Kitab Suci yang Dia turunkan kepada Rasulullah , dengan hikmah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, diungkapkan  secara majazi (kiasan) dengan meminjam istilah (al-isti’ârah) untuk mengumpamakan Islam sebagai sesuatu yang baik (cahaya) dan kekufuran sebagai sesuatu yang buruk (kegelapan). Rasulullah bersabda:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»
Wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu KitabuLlâh dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim, al-Baihaqi)

Hadits ini diungkapkan dalam bentuk kalimat syarat (jumlah syarthiyyah), yang secara jelas menetapkan standar agung dalam kehidupan, agar meraih keselamatan dunia akhirat yakni dengan berpegang teguh pada al-Qur’an dan al-Sunnah. Hal ini menuntut setiap muslim mengembalikan segala perkara kepada keduanya, termasuk tradisi dan adat istiadat yang wajib dipastikan agar senantiasa berada di atas rel Islam. Diperjelas isyarat dalam al-Qur’an yang menunjukkan celaan atas tradisi-tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan Islam, dan mencela taklid buta atasnya (lihat: QS. Al-Ma’idah [5]: 104), serta realitas penentangan kaum Musyrik Quraysyi atas dakwah Rasulullah dan para sahabat yang meluruskan tradisi-tradisi kaum Musyrik yang menyalahi Islam, itu semua adalah bukti keistimewaan konsepsi Islam dalam membangun kehidupan. Dari Al-’Irbadh bin Sariyah r.a ia berkata: Rasulullah bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»
“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku, dan sunnah para khalifah al-rasyidin al-mahdiyyin, gigitlah oleh kalian hal tersebut) dengan geraham yang kuat.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

Standar Islam ini pula yang harus dijadikan standar pembuktian atas klaim bahwa Isnus adalah refleksi Islam rahmatan lil alamin. Klaim ini hanya bisa terbukti dengan menunjukkan kesesuaian konsep Isnus dengan konsep al-Qur’an dan al-Sunnah (QS. Âli Imrân [3]: 103), karena kerahmatan Islam bagi kehidupan mengandung makna menegakkan Islam: akidah dan syari’ah kâffah hingga membuahkan kebaikan hakiki bagi alam semesta (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107, QS. Al-Qashash [28]: 86), bukan dengan menundukkan Islam pada adat istiadat atau apapun yang menyalahi Islam. Bagaimana mungkin berbuah jika akar dan batang pohonnya tidak ada atau rusak dipenuhi hama?

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ {١٠٧}
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107)

Menafsirkan ayat ini, Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi’i (w. 1316 H) dalam tafsirnya (II/62) menegaskan: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syari’at-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.”
Syaikh Nawawi pun menegaskan kewajiban mengamalkan keseluruhan ajaran Islam dalam kehidupan dalam turats-nya, salah satunya Syarh Sullam al-Taufiq (hlm. 8). Diperjelas petuah muridnya, Mbah Hasyim Asy’ari (w. 1366 H) dalam al-Mawâ’izh yang berpesan agar kaum Muslim berpegangteguh pada al-Qur’an dan al-Sunnah bukan fanatisme buta pada golongan: ”Wahai kaum Muslim, bertakwalah kepada Allah, kembalilah kepada Kitab Rabb kalian (al-Qur’an), beramalah sesuai dengan Sunnah Nabi kalian. Teladani lah orang-orang shalih sebelum kalian, niscaya kalian akan beruntung sebagaimana mereka telah meraih keberuntungan, dan niscaya kalian akan berbahagia sebagaimana mereka berbahagia. Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian. Dan tolong-menolonglah kalian dalam menunaikan kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran, niscaya Allah melimpahkan rahmat dan ihsan-Nya kepada kalian.”

Kedua, Kesempurnaan Din Islam
Keistimewaan Islam pun mencakup kesempurnaan dan cakupan ajarannya yang menyeluruh mengatur segala aspek kehidupan manusia, IPOLEKSOSBUDHANKAM, hal itu ditunjukkan oleh nas-nas al-Qur’an dan praktik kehidupan Rasulullah . Allah Swt berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ {٨٩}
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)
            Lihat pula QS. Al-Mâ’idah [5]: 3, QS. Al-Baqarah [2]: 208 dan lainnya, dimana kesempurnaan Islam ditunjukkan secara praktis dalam kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, ini merupakan standar hakiki keberislaman seseorang, bukan konsep beragama yang akhirnya justru mereduksi ajaran Islam. Al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) dalam Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm (III/131) ketika menafsirkan QS. Al-Mâ’idah [5]: 50 menjelaskan: ”Allah mengingkari siapa saja yang keluar dari hukum Allah yang jelas mencakup seluruh kebaikan, mencegah dari segala keburukan, serta mengandung keadilan (bersih) dari segala hal selain al-Qur’an, berupa pandangan-pandangan pribadi, hawa nafsu serta istilah-istilah (menyesatkan-pen.) yang dibuat-buat oleh manusia tanpa mengaitkannya dengan syari’at Allah, sebagaimana kaum jahiliyyah dahulu berhukum dengannya berupa kesesatan-kesesatan dan kejahilan-kejahilan.”

Ketiga, Universalitas Dakwah Islam
Di sisi lain wajib dipahami bahwa dakwah Islam bersifat universal, hal ini meniscayakan visi dakwah tanpa melihat warna kulit (suku bangsa) dan asal-usul (wilayah), sebagaimana firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ {٢٨}
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ [34]: 28)

Diperjelas QS. Al-A’râf [7] 158 dan QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107. Lafal kâffah menjadi petunjuk penting universalitas dakwah Islam, karena lafal ini berkonotasi sesuatu yang tidak bisa dibagi-bagi ke dalam pecahan (mâni’ li ajzâ’ihi min al-tafarruq), dengan kata lain frasa kâffata li al-nâs menunjukkan bahwa dakwah Islam yang dicontohkan Rasulullah adalah dakwah untuk seluruh umat tanpa memandang batas-batas wilayah dan warna kulit, yang meniscayakan visi persatuan kaum Muslim tanpa sekat-sekat ashabiyyah (fanatisme buta yang pada selain Islam).

C.   Islam dan Visi Persatuan Kaum Muslim
Islam secara tegas mengajarkan umatnya untuk menjunjung tinggi persatuan di atas asas akidah Islam, dan diikat dalam institusi kepemimpinan Islam (al-Khilâfah al-Islâmiyyah), hal itu tersurat dan tersirat dalam al-Qur’an, al-Sunnah dan aqwâl para ulama mu’tabar:
Pertama, Islam mewajibkan kaum Muslim menjadikan ikatan akidah Islam sebagai pengikat kaum Muslim (ukhuwwah Islamiyyah) (QS. Al-Hujurat [49]: 10), sebagaimana Islam pun mengharamkan ikatan-ikatan jahiliyyah (ashabiyyah) yang bisa merusak kesatuan kaum Muslim, seperti fanatisme buta pada kelompok, kesukuan, dan lainnya. Islam misalnya, jelas mencela paham fanatisme buta (‘ashabiyyah), Rasulullah bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ»
Bukan dari golongan kami, siapa saja yang menyeru kepada ‘ashabiyyah (fanatisme golongan). Dan bukan dari golongan kami, siapa saja yang berperang atas dasar ‘ashabiyyah. Dan bukan dari golongan kami, siapa saja yang mati diatas ‘ashabiyyah.” (HR. Abu Dawud)

Sisi ini bertolak belakang dengan dampak negatif yang bisa dimunculkan oleh isu “Islam Nusantara” dengan memprovokasi munculnya aliran-aliran lainnya yang bersifat regional atau domestik: “Islam Asia”, “Islam Prancis” dsb, dimanfaatkan oleh kaum imperialis dan liberalis untuk memecah belah barisan kaum Muslim, mencegah persatuan mereka dan menghujamkan imperialisme di jantung negeri-negeri kaum Muslim. Strategi ini sejalan dengan strategi yang direkomendasikan Ariel Cohen kepada AS untuk menghadapi gerakan Islam yang mengusung syariah dan khilafah. Cohen pernah mempublikasikan hasil risetnya itu yang dibiayai oleh The Heritage Foundation berjudul ‘Hizb ut-Tahrir: An Emerging Threat to U.S. Interests in Central Asia’ (lihat: www.heritage.org). Menurut Cohen, salah satu cara melawan kelompok “Islam radikal” adalah dengan cara membenturkan kelompok tersebut dengan kelompok “Islam moderat”.
Kedua, Islam mewajibkan kaum Muslim menegakkan Khilafah sebagai institusi pemersatu kalimat kaum Muslim, sebagaimana Islam pun mengharamkan segala tindak tanduk yang bisa memecah belah jama’ah kaum Muslim, seperti bughat (pemberontakan) atas Khilafah.
Kenyataannya, gagasan “Islam Nusantara” diusung oleh mereka yang selama ini aktif mengusung ide “Islam Moderat” yang merupakan refleksi lebih halus dari “Islam Liberal”. Hal ini meniscayakan ketidakbolehan penggunaan istilah ini, mengingat setiap istilah yang berpotensi mereduksi ajaran Islam, sesat menyesatkan serta memecah belah barisan kaum Muslim maka tidak boleh digunakan, sebagaimana istidlal para ulama atas QS. Al-Baqarah [2]: 104. []