25 June 2018

Peringatan Baginda Nabi Saw: Iblis & Bala Tentara Penebar Fitnah Kesesatan




Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
(Peneliti Kajian Balaghah al-Qur'an dan Hadits Nabawi)
Dari Jabir bin Abdillah r.a., ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda:

«إِنَّ عَرْشَ إِبْلِيسَ عَلَى الْبَحْرِ، فَيَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَيَفْتِنُونَ النَّاسَ، فَأَعْظَمُهُمْ عِنْدَهُ أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً»
”Sesungguhnya singgasana Iblis berada di lautan, ia mengutus bala tentaranya untuk menimbulkan fitnah kepada manusia, yang paling tinggi kedudukannya di antara mereka bagi Iblis adalah yang paling besar fitnahnya.” (HR. Muslim, Ahmad. Lafal Imam Muslim)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya pada bab ’Arsy Iblis wa Ba’ts Saraayaahu (Singgasana Iblis & Pengutusan Bala Tentaranya), dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (hadits no. 15119) dengan sanad kuat sesuai syarat Imam Muslim.

A.    Iblis & Eksistensi Bala Tentaranya
Hadits ini mengandung informasi penting berkaitan dengan musuh abadi Allah dan Rasul-Nya, yakni Iblis dan bala tentaranya syaithan. Dimana hadits ini menggambarkan keberadaan Iblis dan bala tentara yang siap sedia menebar fitnah ke tengah-tengah umat manusia, menegaskan adanya permusuhan mereka, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya yang agung:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا {١١٢}
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’âm [6]: 112)

Dimana dalam ayat yang agung ini, Allah menegaskan keberadaan musuh para nabi, syaithan dari golongan jin dan manusia. Jika para ulama adalah pewaris para nabi, maka musuh para nabi adalah musuh para pewarisnya, para ulama, serta musuh umat yang meniti jalan mereka. Permusuhan tersebut, didukung informasi-informasi dalam al-Qur’an dan al-Sunnah, di antaranya: QS. Al-Baqarah [2]: 168 & 208, QS. Al-An’âm [6]: 142, QS. Al-Kahfi [18]: 50, QS. Fâthir [35]: 6, QS. Yâsîn [36]: 60, QS. Al-Zukhruf [43]: 62.
Perlu dipahami bahwa Iblis adalah golongan jin yang durhaka kepada Allah Swt (lihat: QS. Al-Kahfi [18]: 50), berasal dari kata ablasa yang artinya berputus asa dari kebaikan (rahmat Allâh), sebagaimana ditegaskan al-Khalil bin Ahmad dalam Al-’Ain (hlm. 262), yang berkedudukan sebagai ra’s al-syayâthîn yakni pemimpin para syaithân (lihat: Al-Mu’jam Al-Wasîth (hlm. 12)) Kepemimpinan jahat ini diperjelas frasa sarayahu (bala tentaranya) dalam teks hadits. Lafal saraya yang merupakan kata benda jamak (plural) dari kata sariyyah yang berkonotasi tentara/pasukan, yang diperjelas dalam nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah lainnya dalam hal ini yakni syaithan golongan jin dan manusia (lihat: QS. Al-An’âm [6]: 112, QS. Al-Nâs [114]: 4-6).
Iblis dan bala tentaranya jelas bergerak menyesatkan umat dengan cara berjama’ah, setahap demi setahap (khuthuwât), sehingga ia menjadi tantangan tersendiri bagi para pejuang Islam, dan menjadi salah satu bukti pentingnya soliditas para pejuang Islam, berjama’ah tolong menolong memperjuangkan kebenaran, mengentaskan kebatilan:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا {٨١}
“Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isrâ [17]: 81)

B.   Iblis & Visi Penyesatan yang Wajib Diwaspadai
            Hadits ini, jelas mengandung informasi sekaligus peringatan atas fitnah yang diemban oleh Iblis dan bala tentaranya. Secara bahasa, kata al-fitnah (jamaknya al-fitan) bermakna memasukkan sesuatu ke dalam api, sebagaimana diungkapkan oleh Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) dalam al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân (I/623):

أصل الفَتْنِ: إدخال الذّهب النار لتظهر جودته من رداءته
“Asal-usul kata al-fitan: memasukkan emas ke dalam api untuk menampakkan keindahannya dari bagian yang cacat (rusak).”

Dimana penjelasan ini dinukil oleh para ulama semisal, Imam Abu al-‘Ala al-Mubarakfuri (w. 1353 H) dalam Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarh Jâmi’ al-Tirmidzi (VI/310) dan disebutkan pula oleh Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil dalam Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr (hlm. 237). Namun jika ditelusuri lebih jauh, kata “fitnah” (الفتنة) dalam bahasa arab termasuk suatu lafal yang mengandung lebih dari satu makna (lafzh musytarak), dalam Mu’jam Lughat al-Fuqâhâ’ dijelaskan bahwa al-musytarak itu adalah isim maf’ul berasal dari ungkapan isytaraka fil amr (berserikat dalam suatu hal): yakni menjadi bagian darinya, yakni berserikat di dalamnya lebih dari satu makna. Lafal musytarak, sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1436 H) yakni: 

ما وضع لأكثر من معنى ولا يتعين المراد منه إلا بقرينه
Lafazh yang mengandung lebih dari satu makna dan maksudnya tidak bisa ditentukan kecuali berdasarkan suatu petunjuk. (Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’, hlm. 430)

Imam Ibrahim al-Harbi (w. 285 H) pun merinci makna al-fitnah lengkap berikut contoh-contohnya dalam al-Qur’an dalam kitab Gharîb al-Hadîts (hlm. 930-939), yakni dengan konotasi-konotasi sebagai berikut:
Pertama, Bermakna الشرك (Kesyirikan), misalnya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 193 (وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ).
Kedua, Bermakna الضلالة (Kesesatan). misalnya dalam QS. Âli Imrân [3]: 7: (ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ).
Ketiga, Bermakna النفاق (Kemunafikan), misalnya dalam QS. Al-Hadîd [57]: 14: (فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ).
Keempat, Bermakna البلاء (Ujian), misalnya dalam QS. Al-’Ankabût [29]: 2: (وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ).
Kelima, Bermakna عذاب الناس (Siksaan Manusia), misalnya dalam QS. Al-’Ankabût [29]: 10: (جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ).
Keenam, Bermakna الحرق بالنار (Siksaan dengan Api), misalnya dalam QS. Al-Burûj [85]: 10; {إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ},
Ketujuh, Bermakna الصَّدُّ، وَالِاسْتِنْزَالُ (Menghalang-halangi), misalnya dalam QS. Al-Isrâ’ [17]: 73: {إِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ.
Kedelapan, Bermakna الْفِتْنَةُ الضَّلَالَةُ (Fitnah Kesesatan), misalnya dalam QS. Al-Shaffât [37]: 162; {مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ}.
Kesembilan, Bermakna الْمَعْذِرَةُ (Argumentasi), misalnya dalam QS. Al-An’âm [6]: 23; {ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ}.
Kesepuluh, Bermakna الِافْتِتَانُ، وَالْإِعْجَابُ (Berbangga), misalnya dalam QS. Yûnus [10]: 85; {لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ}.
Kesebelas, Bermakna الْقَتْلُ (Pembunuhan), misalnya dalam QS. Al-Nisâ’ [3]: 101; {إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا}.
Adapun makna kata al-fitnah dalam hadits ini lebih tepat dimaknai sebagai al-dhalalah (kesesatan), berdasarkan banyak indikasi, ia menegaskan apa yang menjadi bagian dari visi misi Iblis yang berjanji menghiasi keburukan dengan wajah kebaikan dan menyesatkan manusia dari jalan kebenaran, sebagaimana diinformasikan dalam ayat:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ {٣٩}
“Iblis berkata: "Ya Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.(QS. Al-Hijr [15]: 39)

Allah menginformasikan dalam ayat ini, bahwa Iblis mengungkapkan berbagai pernyataan visi misi jahatnya dengan kata-kata yang diperkuat, yakni diawali dengan qasam (sumpah), lâm dan nûn al-tawkîd al-tsaqîlah, dalam kata lauzayyinanna dan laughwiyanna. Fungsi penegasan-penegasan ini memberi arti sangat serius dan menuntut keseriusan, dalam ilmu balaghah dua bentuk penegasan ini menafikan adanya keraguan dan pengingkaran atas kebenaran informasi di dalamnya (ia dinamakan al-khabar al-inkâri sebagaimana diuraikan dalam banyak buku-buku balaghah, atau meminjam istilah Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, yakni al-ta’kîd al-inkâri.
Frase lauzayyinanna yang diawali dengan dua penegasan-penegasan tersebut, bermakna menampakkan keburukan dengan wajah kebaikan, karena kata kerja (زَيَّنَ), sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) dalam bermakna jika menampakkan kebaikannya, baik dalam bentuk perbuatan maupun perkataan (Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an (hlm. 389)), jika keburukan maka kebaikan yang ditampakkan tersebut merupakan kedustaan yang bisa mengelabui mereka yang lalai. Dan ketika kedustaan tersebut diyakini, maka jadilah ia khurafat yang berbahaya yang bisa menjerumuskan seseorang kepada kekufuran, kesyirikan, padahal tidak ada kezhaliman yang lebih besar daripada kesyirikan (lihat: QS. Luqmân [31]: 13).
Diperkuat informasi dalam QS. Al-A’râf [7]: 16-17, artinya jelas merupakan ancaman yang nyata. Al-Hafizh Ibn al-Jawzi (w. 597 H) menegaskan: “Maka wajib bagi orang yang berakal untuk mawas diri terhadap musuh yang satu ini (Iblis, syaithan-pen.) yang telah menyatakan permusuhannya semenjak masa Adam a.s. dan ia bersungguh-sungguh mengerahkan segenap waktunya, jiwanya untuk merusak Bani Adam dan Allah telah memperingatkan kita darinya.(Talbîs Iblîs (hlm. 203-204))
Maka jelas bahwa sepak terjang musuh-musuh Islam ini, Iblis dan sekutunya –syaithan golongan jin dan manusia-, merupakan perkara yang wajib diwaspadai dan dihadapi dengan menegakkan dakwah, sebagaimana dikatakan sya’ir yang dinukil Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) dalam Ihyâ’ ’Ulûm al-Dîn (I/77):

عرفتُ الشرّ لا للشرّ * لكن لتوقيه
ومن لا يعرف الشرّ * من الناس يقع فيه
“Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan # Melainkan untuk menghindarkan diri darinya.”
“Dan barangsiapa tidak mengetahui keburukan # Di antara manusia maka akan terjerumus ke dalamnya.

Video terkait kultum tafsir dan balaghah: 


No comments :

Post a Comment