Skip to main content

Catatan Ringan: Tulisan Ilmiah atau Mentah? Layak Dibantah atau Perlu Muhasabah?



Hasil gambar untuk ‫البحوث العلمية‬‎

Salah satu konvensi (tradisi) keilmuan dalam penulisan karya ilmiah, yang dijaga dalam dunia akademisi khususnya adalah kelengkapan dan keakuratan data, berupa teori yang dirujuk kepada para ahli. Jika penulis itu sendiri adalah ahli/pakar yang melakukan penelitian teruji dan layak berteori maka tidak menjadi soal.

Poin yang menjadi masalah jika tulisan tersebut ditulis oleh orang yang jelasnya bukan pakar, tidak merujukkan pandangannya kepada para pakar, sehingga tampak seakan berteori sendiri. Tulisan seperti ini, layak dikatakan tulisan mentah minimal dari segi metodologi penulisannya, jika diujikan di hadapan para pakar otomatis tertolak (mardud). Belum lagi jika berbicara tentang uji keakuratan kontennya, jika bukan pakar lalu berteori sendiri maka bisa dibayangkan ada banyak potensi kesalahan, jika tulisan itu berkaitan dengan tsaqafah Islam, maka akan ada banyak potensi kesesatan di dalamnya (sesat informasi), bukti-buktinya tidak sulit untuk dicari.

Bagaimana jadinya jika awam berasumsi soal keilmuan? Berbahaya, maka jika kita tak menjaga tradisi keilmuan ini, akan ada banyak tulisan sesat menyesatkan yang harus dijustifikasi, tanpa verifikasi, dan ini tak bisa dibiarkan.

Terlebih jika tulisan seperti itu ditujukan untuk mengkritisi teori yang dirumuskan pakar, misalnya tulisan yang ditulis oleh orang yang bukan pakar (majhul keilmuannya, bukan pakar ulum syar'iyyah), yang ditujukan untuk mengkritisi produk ilmiah hasil ijtihad ulama yang dikenal kepakarannya berijtihad, maka otomatis tulisan mentah seperti ini mardud, tertolak dari asasnya.

Bagi kita yang memahami kaidah keilmuan, tak perlu sibuk sendiri menanggapi tulisan mentah seperti itu, penulisnya diingatkan saja agar memperbaiki tulisannya, dan lebih jauh lagi diingatkan agar memperbaiki "kesadarannya", kita siapa dibandingkan para ulama mujtahid ini? Allah al-Musta'an.

Al-Imam Al-Hasan al-Bashri -radhiyallahu 'anhu- berpesan:

لا تكن ممن يجمع علم العلماء وطرائف الحكماء ويجري في العمل مجرى السفهاء
”Janganlah engkau menjadi golongan orang yang gemar mengumpulkan ilmu para ahli ilmu, kebajikan-kebajikan orang-orang bijak, namun ia beramal seperti amalan orang-orang pandir.” (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Beirut: Dar al-Ma'rifah, juz I, hlm. 59)

======

Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
:: Dosen Bahasa Arab/ Akademisi di salah satu STIBA & Ma'had Ilmu Al-Qur'an wa Tafsir
:: Penulis buku-buku kajian tafsir & balaghah

Comments

Popular posts from this blog

Buku Menarik "Risalah Nikah & Walimah"

"RISALAH NIKAH & WALIMAH" Dilengkapi dengan Sajian Kitab Kuning (Turats) & Ilmu Kesehatan Reproduksi Pra Nikah Ikhwah fillah, bi fadhliLlahi Ta'ala wa bi tawfiqihi,  telah terbit buku Risalah Nikah & Walimah, menggambarkan kajian turats menyoal topik-topik pernikahan dan syari'at walimah dalam Islam, berikut ilmu menyoal Kesehatan Reproduksi Pra Nikah, ditulis bersama istri yang berlatarbelakang pendidikan kebidanan. Sajian menyoal fikih walimah, penyusun uraikan dalam bentuk soal jawab, disertai ibarat kitab kuning (turats), dipercantik dengan berbagai gambaran walimah syar'i. Daftar Isi Buku: Bab I Keagungan Pernikahan & Hidup Berpasang-Pasangan Bab II Tuntunan Agung Menjemput Pasangan Idaman Bab III Buah Pernikahan; Sakînah, Mawaddah dan Rahmah Bab IV Walimah Nikah Sesuai Syari'ah Bab V Sunnah Mulia; Do'a Pengantin Bab VI Tips Kesehatan Reproduksi Pra Nikah   Info & Pemesanan: wa.me/6285735533668

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia” (Part. I)

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.