11 April 2018

HTI, Jihad & Tuduhan Radikalisme [Bantahan Atas Tuduhan]-Bag. II


Hasil gambar untuk Hizbut Tahrir
[Koreksi Argumentatif Atas Tuduhan Ansyaad Mbay Terhadap HTI][1]
Editor: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
[Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Jawa Barat, Dosen, Penulis Buku Tafsir & Balaghah ‎‎”Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama’ah]

Mukadimah
D
i antara persoalan yang cukup memprihatinkan di zaman ini adalah, munculnya suara-suara sumbang sebagian oknum terhadap istilah dan syari’at jihad, yang disebutkan secara sharih dalam nas al-Qur’an al-Karim, al-Sunnah al-Nabawiyyah dan turats ulama ahlus sunnah dengan istilah al-jihâd (fi sabîliLlâh).
            Ironisnya, tak hanya menyoal term jihad, khalifah dan khilafah serta gerakan yang dibidani kelahirannya oleh para ulama dan dibesarkan oleh para mukhlishin; Hizbut Tahrir (HT) pun tak luput dari ketajaman lisan mereka yang selama ini mengklaim anti radikalisme dan aktif mengkampanyekan deradikalisasi. Sikap antipati pun diungkapkan secara verbal, diungkapkan dengan berbagai ungkapan yang cukup memprihatinkan, padahal Hizbut Tahrir didirikan oleh para ulama, berdasarkan taujih al-Qur’an:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {١٠٤}
Dan hendaklah ada di antara kalian golongan yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Âli Imrân [3]: 104)
Dimana ayat ini, menjadi landasan filosofis atas pendirian Hizbut Tahrir dengan dengan visi dan misi agung dalam perjuangannya, sebagaimana disebutkan dalam Ta’rif Hizb al-Tahrîr itu sendiri:
غاية حزب التحرير هي استئناف الحياة الإسلامية، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم. وهذه الغاية تعني إعادة المسلمين إلى العيش عيشًا إسلاميًا في دار الإسلام، وفي مجتمع إسلامي، بحيث تكون جميع شؤون الحياة فيه مسيرة وفق الأحكام الشرعية 
Tujuan Hizbut Tahrir adalah melanjutkan kehidupan Islam, dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Dan tujuan ini yakni (terwujud) dengan mengembalikan kaum muslimin kepada kehidupan islami dalam naungan Dâr al-Islâm, dalam masyarakat islami, dimana seluruh urusan kehidupan di dalamnya sejalan dengan hukum-hukum syar’iyyah.[2]
Visi misi agung ini pun, direalisasikan dengan track record dakwah HT yang cukup elegan, terhormat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Hal itu dibuktikan oleh data-data penelitian terukur dan teruji secara ilmiah, salah satunya hasil penelitian berupa tesis master karya Muhammad Muhsin Rodhi, disamping hasil penelitian-penelitian ilmiah lainnya.
Maka hendaknya mereka yang memberanikan diri menuduh tanpa bukti mawas diri, agar tak menjadi bagian dari orang yang Allah sifati dalam ayat-Nya yang agung:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ {٦}
“Dan di antara manusia (ada) orang yang menggunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu, dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqmân [31]: 6)
Frasa lahw al-hadits, mencakup perkara-perkara kebatilan yang disuarakan atau dituliskan untuk menyesatkan manusia, menyimpangkan mereka dari jalan Allah (Islam). Al-Hafizh Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H) menuturkan bahwa cakupan frasa (lahw al-hadits) segala hal berupa ucapan yang menyimpangkan (manusia) dari jalan Allah, berupa hal-hal yang Allah dan Rasul-Nya larang untuk mendengarkannya, karena Allah SWT mengungkapkan keumuman dalam firman-Nya: (lahw al-hadits), dan Dia tidak mengkhususkannya. Oleh karena itu, ia tetap dalam keumumannya hingga ada dalil yang mengkhususkannya.[3]

A.   Menimbang Tuduhan Ansyaad Mbay

Di antara ciri organisasi yang menganut paham radikal, menurut Ansyaad Mbay, adalah pemahamannya tentang jihad yang bersifat ekstrem. “Jihad diartikan sebagai perang,” ujar mantan Ketua BNPT dalam sidang gugatan HTI kepada Menkumham di PTUN pada Kamis 1/3/18 yang lalu. Lebih lanjut Mbay mengatakan bahwa perang yang dimaksud adalah untuk mendirikan khilafah. Dengan begitu, syariah dapat ditegakkan.
Bertolak dari ciri tersebut, ahli yang didatangkan oleh pemerintah itu mengatakan bahwa HTI termasuk organisasi yang berpaham radikal. Selain karena menafsirkan jihad dengan makna ekstrem, yakni perang, menurutnya HTI juga menganut paham takfiri. Mengenai tuduhan bahwa HTI berpaham takfiri sudah dibantah dalam tulisan sebelumnya. Intinya, tuduhan tersebut merupakan fitnah keji dan tak berdasar. Namun tak berhenti pada tuduhan serius menyoal takfir, Mbay pun melanjutkan tuduhannya menyoal jihad, HTI dan radikalisme (dalam konotasi negatif).
Perlu ditegaskan bahwa dalam perinciannya, berbagai macam istilah dan konsep (al-ism wa al-musamma) itu tak bisa sembarang dirumuskan dan dikritisi. Ada kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip (al-qawâ’id wa al-dhawâbith) menyoal perumusannya, terlebih istilah-istilah yang berkaitan dengan syari’at (al-mushthalahât al-syar’iyyah) semisal istilah jihad. Untuk sampai pada pengkajian komperhensif atas makna syar’i jihad, maka harus diteliti secara mendalam berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah, mengingat istilah jihad banyak disebutkan hadits-hadits nabawiyyah, dengan konotasi qital (perang), lebih dari sekedar makna bahasa ”bersungguh-sungguh”. Hingga para ulama muhaddits, salah satunya Imam Muslim mengumpulkan hadits-hadits jihad (كتاب الجهاد) dalam Shahih-nya, yang jelas-jelas menukil hadits-hadits Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- terkait jihad (peperangan) di jalan Allah, yang menggambarkan pesan-pesan nabawiyyah terkait jihad di jalan Allah. Sisi ini sudah cukup menunjukkan pentingnya merujuk kepada para ulama terkait pendefinisian kata jihad secara syar’i.
            Dalam hal ini, tuduhan-tuduhan Ansyaad Mbay terkait jihad dan HTI serta kaitan keduanya dengan radikalisme (dalam konotasi negatif yakni terorisme) jelas merupakan tuduhan yang salah alamat. Nasihat saya bagi siapapun yang hendak mengkritisi pihak lain, hendaklah mawas diri, sebelum menyesal di kemudian hari, tak terjatuh dalam kesalahan fatal ”fitnah” yang berat pertanggungjawabannya di akhirat yang tak mungkin bisa dipungkiri.

B.  Kaidah Ushul Mendefinisikan Istilah Jihad

Istilah jihad (الجهاد), termasuk lafal arab, yang banyak disebutkan dalam nas al-Qur’an dan al-Sunnah, sehingga ia lebih dari lafal arab yang mengandung makna haqiqah lughawiyyah, melainkan termasuk mushthalahat syar’iyyah, sehingga dalam persepektif ilmu ushul ia menandung makna hakiki secara bahasa (al-haqiqah al-lughawiyyah), dan makna hakiki secara syar’i (al-haqiqah al-syar’iyyah), sama seperti istilah shalat, zakat, shaum, haji, iman, Islam, takwa, kufur, nifaq, khalifah, khilafah dan yang semisalnya dari berbagai istilah syari’at.
Kaidahnya: memaknai istilah seperti ini wajib digali berdasarkan petunjuk-petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah dengan ilmunya, tidak boleh didefinisikan sembarang orang, secara serampangan dan ditarik kesimpulan secara gegabah, ini domainnya para ulama dengan ilmunya (sebenar-benarnya ahli ilmu) dan melakukan penelitian mendalam, bukan muqallid rasa mujtahid, yang memberanikan diri membahas persoalan besar berbekal riset kecil-kecilan. Kaidah ini relevan dengan kedudukan istilah-istilah Islam (al-alfazh al-syar’iyyah) itu sendiri, sebagaimana ditegaskan para pakar. Diantaranya Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili menegaskan:
وهذا ما بينه الله ورسوله فيجب الالتزام بدلالتها الشرعية
Dan ini (lafal-lafal syar’i) adalah apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya jelaskan, maka wajib berpegang teguh padanya, berdasarkan petunjuk syar’inya.[4]
Hal senada diutarakan oleh Dr. Muhammad Ahmad ‘Abdul Ghani:
فاللفظة حين تكون منتمية إلى الإسلام فإنها تكتسب المعنى الشَّرْعي الذي يجب الالتزام به اعتقاداً وعملاً
Maka suatu lafal ketika termasuk istilah islam, maka ia memiliki makna syar’i dimana Islam mewajibkan kita terikat dengan makna ini, baik dari sisi i’tikad maupun pengamalan.[5]
Dimana dalam perinciannya, makna syar’i ini dikedepankan daripada makna bahasanya, sebagaimana diulas dalam kajian ushul.[6] Tidak sah jika makna bahasa suatu lafal digunakan sebagai alat untuk menafikan makna syar’inya, tidak sah meskipun seluruh manusia menyepakatinya.
Al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani (w. 1397 H) pun menegaskan kaidahnya, bahwa perkara-perkara yang berhubungan dengan definisi suatu perkara dari berbagai macam perkara, baik definisi yang bersifat syar’i, seperti definisi hukum syara’, maupun non-syar’i seperti definisi akal, masyarakat, dan lain sebagainya.[7] Perkara semacam ini dikembalikan kepada definisi yang paling sesuai dengan fakta yang hendak didefinisikan, jika ia merupakan istilah syar’i, maka dikembalikan kepada petunjuk syari’at itu sendiri. Tidak ada pengambilan pendapat dalam masalah ini. Pada perkara-perkara semacam ini, prinsip suara mayoritas tidak berlaku bahkan tidak boleh diberlakukan.
Ini sama seperti perkara-perkara yang berhubungan dengan masalah hukum syari’at dan pendapat-pendapat syar’i secara umum, tidak boleh dimusyawarahkan atau divooting. Karena perkara-perkara semacam ini sudah ditetapkan berdasarkan nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah. Kaum muslim hanya diperintahkan berijtihad untuk menggali hukum-hukum dari keduanya. Suara mayoritas tidak berlaku pada perkara-perkara semacam ini.
Bahkan ini merupakan kesepakatan para ulama, Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) ketika menafsirkan QS. Âli Imrân [3]: 159, menegaskan bahwa dalam perkara yang telah tetap nasnya berdasarkan wahyu maka tidak boleh dimusyawarahkan dan ini merupakan kesepakatan para ulama. Ia berkata:
اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ كُلَّ مَا نَزَلَ فِيهِ وَحْيٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لَمْ يَجُزْ لِلرَّسُولِ أَنْ يُشَاوِرَ فِيهِ الْأُمَّةَ، لِأَنَّهُ إِذَا جَاءَ النَّصُّ بَطَلَ الرَّأْيُ وَالْقِيَاسُ
Para ulama bersepakat bahwa segala hal dimana turun wahyu di dalamnya dari sisi Allah maka tidak boleh bagi Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- untuk memusyawarahkannya dengan umatnya, karena jika datang nas maka batal pendapat pribadi dan qiyas.[8]
Poinnya, jika suatu istilah termasuk istilah syari’at, maka didefinisikan sesuai petunjuk syari’at itu sendiri. Jika tidak, betapa berbahayanya jika setiap orang bebas mendefinisikan suatu istilah, akan membuka kesempatan kepada orang-orang yang rusak akidah dan pemahamannya untuk mengaburkan makna-makna istilah, dengan tujuan menimbulkan bencana kerancuan dalam pemahaman Islam, melibas batas-batas kebenaran dan kebatilan yang sebelumnya tiada kesamaran. Semisal istilah sesat menyesatkan “Islam Liberal”.
Dr. Muhammad Ahmad ‘Abdul Ghani menuturkan:
ويترتب على هذا الانتماء حظر أيّ تداخل بين الألفاظ ذات المصطلحات الإسْلاميَّة من جهة وكل المصطلحات غير الإسْلاميَّة من جهةٍ أخرى، ويترتب على هذه الاستقلالية للإسلام حظر استعمال كل مصطلح له انتماء إلى عقيدة غير الإسلام. بل المفترض أن يكون منع التداخل في المفاهيم والمصطلحات عاماً لكل مذهب أو عقيدة
Dan menggagas penggabungan ini (baca: pengaburan istilah-istilah-pen.) berbahaya, yakni menyebabkan tumpang tindih antara lafal-lafal yang termasuk istilah islami di satu sisi dan istilah-istilah di luar islam di sisi yang lain. Dan berbahaya pula terhadap islam, gagasan atas kebebasan penggunaan istilah-istilah di luar akidah islam untuk diterapkan ke dalam istilah islam. Maka, wajib dicegah adanya tumpang tindih dalam pemahaman-pemahaman dan istilah-istilah ini secara umum bagi seluruh aliran atau keyakinan.[9]

Definisi itu sendiri merupakan deskripsi realitas yang bersifat jâmi’ (komprehensif) dan mâni’ (protektif). Artinya, definisi itu harus menyeluruh meliputi seluruh aspek yang dideskripsikan, dan memproteksi sifat-sifat di luar substansi yang dideskripsikan. Inilah gambaran mengenai definisi yang benar. Kesalahan mendefinisikan, bisa berimbas pada kesalahan pemahaman, dan akhirnya berujung pada kesalahan dalam penyikapan. Dukungan sebagian kaum Muslim terhadap demokrasi, pada saat yang sama anti terhadap sistem politik Islam, khilafah, menjadi salah satu buktinya.

C.  Mendudukkan Pemaknaan Jihad Secara Bahasa & Syar’i

1.   Makna Jihad Secara Bahasa (al-Haqiqah al-Lughawiyyah)

Kata jihad (الجهاد) jelas termasuk lafal arab. Secara bahasa, kata ini dalam persepektif ilmu ushul mengandung konotasi al-haqiqah al-lughawiyyah (makna hakiki secara bahasa), istilah jihad secara bahasa berkonotasi “bersungguh-sungguh” (badzl al-juhd) sebagaimana disebutkan dalam kamus-kamus arab.

2.   Makna Jihad Secara Syar’i

Apa makna jihad secara syar’i (al-haqiqah al-syar’iyyah)? Istilah jihad disebutkan secara sharih dalam nas al-Qur’an, al-Sunnah al-Nabawiyyah, dirinci penjelasan para fuqaha’, mufassirun, muhadditsun, dan mufakkirun, yang mencirikan istilah tersebut secara syar’i sebagai qital al-’aduww fi sabiliLlah.
Di antara penjelasan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H), dalam kamus bahasa ahli fikih dua bahasanya, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, menjelaskan makna jihad:
قتال العدو الكافر : going to fight in the cause of Islam
Al-Jihad; memerangi musuh kafir (harbi-pen.), yakni berangkat untuk berperang karena membela ajaran Islam.[10]
Kata ’aduww, jelas membatasi objek jihad di jalan Allah, ditujukan kepada mereka yang memusuhi Islam dan kaum Muslim, diistilahkan sebagai kafir harbi (muharrib[an] fi’l[an]). Frasa fi sabiliLlah, pun membatasi tujuannya sebagai aktivitas membela ajaran Islam. Dimana dalam praktiknya, ia diwujudkan dengan mengorbankan harta benda dan jiwa d jalan Allah, sebagai konsekuensi keimanan:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurât [49]: 15)
Memerangi kaum kafir harbi, lugasnya kaum yang memerangi Islam dan kaum Muslim maka memiliki perincian hukum yang lebih spesifik. Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H), menjelaskan perinciannya:

دار الحرب: بلاد العدو الكافر المحارب / الحربي: منسوب إلى الحرب : الكافر الذي يحمل جنسية الدولة الكافرة المحاربة للمسلمين
Dar al-Harb: negeri musuh yang kafir serta memerangi (Islam dan kaum Muslim)/ Kafir al-Harbi: dinisbatkan pada aktivitas perang. Kafir harbi: kafir yang memiliki kewarganegaraan Negara Kafir yang memerangi kaum Muslim.[11]

Dalam perinciannya, jihad itu sendiri memiliki perincian hukum yang sangat agung, tidak lantas bisa dilakukan begitu saja tanpa ilmu, dan ini telah diuraikan para ulama Rabbani dalam turats mereka, termasuk kaitannya dengan komando Khalifah. Terdapat banyak rincian fakta dan keadaan yang mengandung banyak konsekuensi hukum. Yang pasti, membunuh dan memerangi mereka di medan pertempuran bukan sesuatu yang terlarang, bahkan diperintahkan sebagai bagian dari syari’at Islam yang agung dan mengandung hikmah serta kemaslahatan. Allah ’Azza wa Jalla pun berfirman salah satunya dalam al-Qur’an:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ {٢١٦}
“Difardhukan bagi kamu berperang, padahal ia adalah sesuatu yang engkau benci. Bisa jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Kata (كُتِبَ) berkonotasi (فُرِضَ) yakni difardhukan sebagaimana banyak diuraikan para ulama dalam turats mereka, ayat ini merupakan salah satu sejelas-jelasnya dalil yang mensyari’atkan adanya jihad dalam Islam, berikut perincian prinsip-prinsip dan kaidah-kaidahnya (al-dhawabith wa al-qawa’id), yang dirinci oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka, salah satunya al-’Alim Syaikhul Ushul Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 208. Syaikh ’Atha bin Khalil misalnya, menegaskan adanya syari’at jihad berdasarkan dalil-dalil: QS. Al-Anfâl [8]: 39 dan QS. Al-Taubah [9]: 29. Diperjelas hadits lainnya:

«مَنِ احْتَبَسَ فَرَسًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِيمَانًا بِاللَّهِ وَتَصْدِيقًا بِوَعْدِهِ، فَإِنَّ شِبَعَهُ وَرِيَّهُ وَرَوْثَهُ وَبَوْلَهُ فِي مِيزَانِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ»
Siapa saja yang mempersiapkan seekor kuda di jalan Allah karena keimanan kepada Allah, dan membenarkan janji-Nya, maka sesungguhnya asupan makanan untuknya, air minumnya, kotoran dan air seninya menjadi timbangan (pemberat amal kebaikan) pada Hari Kiamat kelak.” (HR. Al-Bukhari)[12]

Imam HibatuLlah bin al-Hasan al-Razi (w. 418 H) menegaskan:

وَأَنَّ الْجِهَادَ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ مَعَ أُولِي الْأَمْرِ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُبْطِلُهُ شَيْءٌ.
Bahwa jihad harus senantiasa ada (tegak) semenjak Allah mengutus nabi-Nya Saw, hingga Hari Kiamat, (ditegakkan) bersama ulil amri dari penguasa kaum Muslim, tidak boleh ada sesuatu apapun yang bisa membatalkannya.[13]

            Berkaitan dengan syari’at jihad memerangi kaum Kafir harbi, maka jelas bahwa ia bagian dari ajaran Islam dengan segala kebaikannya. Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat ke-216 di atas, dan QS. Al-Anbiya’ [21]: 107 pun menjadi dalil kaidah syar’iyyah yang ditegaskan para ulama:

حيثما يكن الشرع تكن المصلحة
Dimana tegak syari’at maka akan ada kemaslahatan.”[14]

Hal ini terang benderang diyakini oleh mereka yang mengimani standar baik dan buruk adalah standar Islam itu sendiri, yakni prinsip halal dan haram menurut syari’at. Hal itu karena akal manusia terbatas untuk memahami hakikat kebaikan dan keburukan. Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) mengatakan bahwa akal dengan sendirinya lemah tidak mampu menjangkau segala sesuatu dengan bagian-bagiannya seperti mengetahui secara umum baiknya keyakinan yang benar, perkataan jujur, perbuatan yang terpuji, baiknya keadilan dan memelihara kehormatan... Adapun syari’at mengetahui segala sesuatu dan bagian-bagiannya dan menjelaskan apa-apa yang wajib diyakini satu per satu.[15]

D.  Bantahan Argumentatif Atas Tuduhan Ansyaad Mbay

1.   HT & Pemaknaan Jihad

HTI memang memahami bahwa jihad adalah perang di jalan Allah Swt. Inilah makna syar’i jihad yang ditunjukkan oleh nas al-Quran dan al-Sunnah. Dalam Kitab al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah (III/146), al-Allamah Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H) menjelaskan:

الجهاد هو بذل الوُسْع في القتال في سبيل الله مباشرة أو معاونة بمال أو رأي أو تكثير سواد أو غير ذلك فالقتال لإعلاء كلمة الله هو الجهاد
Jihad adalah mengerahkan segenap kemampuan dalam perang di jalan Allah, baik secara langsung maupun pemberian bantuan berupa harta, pendapat, memperbanyak perbekalan, atau lainnya. Jadi, perang untuk meninggikan kalimat Allah adalah jihad.

Kalau begitu, benar apa yang dikatakan oleh Ansyaad Bay? Tidak seperti itu kesimpulannya. Memang benar bahwa HTI memahami bahwa makna jihad secara syar’i adalah perang. Namun, menyebut orang atau kelompok yang memiliki pendapat seperti itu sebagai radikal dengan konotasi negatif jelas merupakan sebuah tuduhan serius. Mengapa? Karena yang memaknai jihad dengan perang bukan hanya HTI. Para ulama mu’tabar juga memiliki pandangan yang sama. Silakan periksa dalam berbagai literatur, baik tafsir,hadits, fiqh, sirah, dan lain-lain. Dalam kitab-kitab fiqh dan hadits, ketika disebutkan bab al-Jihâd, maka yang dimaksudkan adalah bab yang membahas tentang perang.
Ada beberapa contoh ulama yang memahami bahwa jihad adalah perang. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, seorang ulama terkemuka Madzhab Syafi’i, berkata:

وَشَرْعًا بَذْل الْجَهْد فِي قِتَال الْكُفَّار
Dan secara syar’i, (jihad) adalah mengerahkan segala kemampuan dalam perang melawan orang-orang kafir (Fat-h al-Bari, 8/365).

Imam Ala`uddin al-Kassani, seorang ulama Madzhab Hanafi, berkata:
وفي عرف الشرع يستعمل في بذل الوسع والطاقة بالقتال في سبيل الله عز و جل بالنفس والمال واللسان أو غير ذلك أو المبالغة في ذلك
Dalam dalam pengertian syar’i, kata (jihad) digunakan untuk menyebut pengerahan kemampuan dan kekuatan dalam perang di jalan Allah Swt, baik dengan jiwa, harta, lisan, atau selainnya, atau lebih dari itu (Badâ`i’ al-Shanâi’, VI/57).

Al-Syaikh ‘Alisy, seorang ulama Madzhab Maliki, mendefinisikan jihad sebagai berikut:

قِتَالُ مُسْلِمٍ كَافِرًا غَيْرَ ذِي عَهْدٍ لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللَّهِ تَعَالَى
Perangnya seorang Muslim melawan orang Kafir yang tidak mempunyai ikatan perjanjian, untuk menggikan kalimat Allah Swt (Munah al-Jalîl Syar-h Mukhtashar, v/484).

Al-Syaikh Musthafa bin Sa’ad al-Dimasqi, seorang ulama dari Madzhab Hambali, berkata:

وَشَرْعًا : (قِتَالُ الْكُفَّارِ)
Dan secara syar’i, jihad berarti perang melawan orang-orang kafir (Mathâlib Uli al-Nuhâ fî Syarh Ghâyah al-Muntahâ, VI/465).

Itu hanya sekadar contoh. Sekalipun berbeda redaksional bahasanya, maksudnya sama. Bahwa jihad adalah perang di jalan Allah Swt. Pertanyaannya: Apakah karena memaknai jihad sebagai perang para ulama mu’tabar itu disebut sebegai penganut paham radikal dengan konotasi negatif dan ajarannya harus dilarang dan dimusuhi?
Patut juga dicatat, selain kata al-jihâd yang secara bahasa tidak selalu bermakna perang, dalam al-Quran juga digunakan kata lain menunjukkan makna perang secara fisik., yakni al-qitâl (perang). Kata ini tidak memiliki makna lain kecuali perang dalam arti perang fisik. Dan secara tegas al-Quran pun menyebutnya sebagai sebuah kewajiban. Allah Swt berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ {٢١٦}
“Difardhukan bagi kamu berperang, padahal ia adalah sesuatu yang engkau benci. Bisa jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir berkata:

هَذَا إِيجَابٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى لِلْجِهَادِ عَلَى الْمُسْلِمِينَ: أَنْ يكُفُّوا شَرَّ الْأَعْدَاءِ عَنْ حَوْزة الْإِسْلَامِ وَقَالَ الزُّهْرِيُّ: الجهادُ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ، غَزَا أَوْ قَعَدَ؛ فَالْقَاعِدُ عَلَيْهِ إذَا اسْتُعِينَ أَنْ يَعينَ، وَإِذَا استُغيثَ أَنْ يُغيثَ، وَإِذَا استُنْفرَ أَنْ يَنْفِرَ، وَإِنْ لَمْ يُحتَجْ إِلَيْهِ قَعَدَ
Ini merupakan penetapan kewajiban jihad dari Allah Swt atas kaum Muslimin, agar mereka bisa menghentikan kejahatan musuh-musuh dari wilayah Islam. Al-Zuhri berkata, ”Jihad wajib atas setiap orang, baik yang berperang maupun yang tidak ikut. Orang yang tidak ikut berperang, apabila dimintai bantuan, harus membantu; apabila dimintai tolong, harus menolong; jika diminta berangkat, harus berangkat; dan apabila tidak dibutuhkan, tetaplah dia berada di tempatnya (Tafsir al-Qur`ân al-‘Azhîm, I/(1/ 573).

Al-Hafizh Ibn Katsir kemudian mengutip hadits Nabi shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-:

«مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ، وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِغَزْوٍ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»
“Barangsiapa yang meninggal sedangkan ia belum pernah berperang dan berniat untuk berperang, maka ia meninggal seperti meninngal dalam keadaan jahiliyyah.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Dengan demikian jelaslah bahwa jihad dalam perang merupakan ajaran Islam, termaktub dalam al-Quran dan al-Sunnah. Apakah berani menyebut radikal dengan konotasi negatif kepada al-Quran dan al-Sunnah karena memerintahkan umatnya untuk berperang di jalan Allah Swt? Dalam kehidupannya, Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- juga telah mempraktekkan pelaksanaan jihad. Ibnu Hisyam meriwayatkan beliau ikut terlibat dalam 27 kali peperangan. Sebanyak 9 kali ikut terjun langsung, dan selebihnya beliau mengatur dan mengorganisirnya. Apakah berani menyebut Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- radikal karena telah memobilisasi kaum muslimin untuk perang dan terjun langsung di medan pertempuran?
Mereka yang memusuhi ajaran Islam tentang jihad untuk juga melihat sejarah. Sejarah kemerdekaan negei ini tak bisa dilepaskan dari ajaran jihad. Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Sultan Baabullah, Sultan Agung, Sultan Ageng Tirtaya, dan lain-lain, semua melawan penjajah karena dorongan jihad. Demikian pula pasca proklamasi ketika Belanda dan sekutu datang hendak menjajah kembali. Umat Islam negeri ini bangkit melakukan perlawanan juga karena seruan jihad. Lalu mengapa setelah negara kafir penjajah itu angkat kaki, sekarang jihad justru dimusuhi dan dikriminalisasi?

2.   HT, Jihad & Metode Memperjuangkan Khilafah

Tentang metode HTI dalam memperjuangkan khilafah. HTI dengan tegas menyatakan bahwa jihad bukan merupakan thariqah atau metode untuk menegakkan khilafah. Sekalipun menyampaikan seruan yang menantang dan terus terang, namun HTI membatasi aktivitasnya hanya dengan dakwah, tidak menggunakan kekerasan. Hal ini dengan jelas disebutkan dalam Kitab Ta’rîf Hizb al-Tahrîr:

إلاّ أنه اقتصر على الأعمال السياسية في ذلك، ولم يتجاوزها إلى الأعمال المادية ضد الحكام، أو ضد من يقفون أمام دعوته، إقتداء برسول الله - صلى الله عليه وسلم - من اقتصاره في مكة على الدعوة، ولم يقم بأيّة أعمال مادية حتى هاجر
Hanya saja Hizb telah membatasi kegiatannya hanya bersifat politik tanpa menempuh aktivitas fisik (kekerasan atau senjata) dalam menghadapi para penguasa maupun dalam mennghadapi orang-orang yang menghalangi dakwahnya. Itu dilakukan untuk meneladani Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- yang membatasi kegiatannya di Makkah hanya dengan dakwah dan tidak melakukanb kegiatan fisik sama sekali hingga hijrah (Ta’rîf Hizb al-Tahrîr, hal. 11).

Ini adalah thariqah atau metode yang ditempuh HTI. Dalam pandangan HTI, metode ini merupakan hukum syara’ yang harus ditaati. Oleh karena itu, HTI pun konsekuen dan terikat dengan ketentuan tersebut. Dalam praktenya, HTI sama sekali tidak pernah menggunakan kekerasan dalamn kegiatannya. Termasuk dalam aksi-aksi demonstransi, semuanya dilakukan secara damai.
Terhadap berbagai aksi bom dan kekerasan di negeri ini yang mengakibatkan timbulnya korban nyawa dan harta orang yang tak berdosa, HTI juga menyampaikan kecaman dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan. Dengan fakta tesebut, tuduhan Ansyaad Mbay jelas salah dan tak berdasar. Bisa disebut sebagai fitnah yang sangat keji. Kami perlu mengingatkan Pak Ansyaad Mbay untuk bersikap adil. Jika selama ini tudingan terorisme hanya diarahkan kepada kaum Muslimin, mengapa tudingan yang sama tidak pernah diarahkan kepada Amerika dan negara-negara kafir penjajah lainnya. Padahal apa yang mereka lakukan jelas-jelas menimbulkan kerusakan dan kehancuran luar biasa. Bukankah itu terorisme yang sebenarnya? Lihatlah, Afghanistan dan Irak. Kedua negara itu hancur dan porak poranda akibat serbuan brutal tentara Amerika. Demikian pula Rusia yang telah membantai kaum Muslimin di Suriah dan menghancurkan negeri mereka. Pula, Israel yang telah merampas tanah Palestina dan mengusir dan membunuhi penduduknya. Mengapa mereka tidak pernah disebut teroris?
Semua realitas itu menunjukkan dengan jelas bahwa isu radikalisme adalah propaganda melawan Islam. Demikian pula war on terrorisme yang dipimpin Amerika sejatinya adalah memerangi Islam. Dalam keadaan seperti ini, di manakah kita berdiri: di barisan Islam dan kaum Muslimin atau di barisan negara-negara-kafir penjajah? Sungguh, pilihan kita sekarang menentukan nasib kita di akhirat kelak.

E.   Kesimpulan

            Dari penjelasan di atas, telah jelas makna syar’i jihad berdasarkan penjelasan para ulama mu’tabar, senada dengan apa yang diadopsi oleh Hizbut Tahrir. Kejelasan pemaknaan ini, sekaligus membuktikan kesalahan Ansyaad Mbay dalam memaknai jihad dan kesalahan fatalnya menstigma negatif syari’at jihad dan HT dikaitkan dengan radikalisme dalam konotasi negatif. []
والله أعلم بالصواب


[1] Diadaptasi, ditambahkan penjelasan dan disusun ulang dari tulisan KH. Rokhmat Labib.
[2] Hizbut Tahrir, Hizbut Tahrîr, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1431 H, hlm. 23.
[3] Muhammad bin Jarîr Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Ed: Ahmad Muhammad Syakir, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H/2000, juz ke-20, hlm. 130
[4] Dr. Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Madzahib al-Arba’ah, Damaskus: Dar al-Fikr, cet. I, 1427 H, juz I, hlm. 314.
[5] Dr. Muhammad Ahmad Abdul Ghani, Al-’Adâlah al-Ijtimâ’iyyah fi Dhaw’i al-Fikr al-Islâmi al-Mu’âshir, 1424 H, hlm. 22.
[6] Lihat perincian pembahasan ini dalam; Dr. Muhammad Shidqi al-Ghazi, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyyah, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. IV, 1416 H, hlm. 278; Dr. Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh al-Islami, Damaskus: Dar al-Khayr, cet. II, 1427 H, juz I, hlm. 170.
[7] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, 1994, juz. I, hlm. 247-248; Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Muqaddimah al-Dustuur, 1963, hlm. 116-117.
[8] Muhammad bin ‘Umar bin al-Hasan al-Razi, Mafâtih al-Ghayb, Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, cet. III, 1420 H, juz IX, hlm. 409.
[9] Dr. Muhammad ‘Abdul Ghani, Al-’Adâlah al-Ijtimâ’iyyah fi Dhaw’i al-Fikr al-Islâmi al-Mu’âshir, _.
[10] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, , Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, hlm. 200.
[11] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, hlm. 178.
[12] HR. Al-Bukhari (no. 2853).
[13] Abu al-Qasim HibatuLlah bin al-Hasan al-Razi, Syarh Ushûl al-I’tiqâd Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah, KSA: Dar Thayyibah, cet. VIII, 1423 H, juz I, hlm. 197.
[14] Ahmad al-Mahmud, Al-Da’wah ila al-Islâm, juz I, hlm. 255; Muhammad Isma’il, al-Fikr al-Islâmi juz I, hlm. 48.
[15] Abu Hamid Muhammad al-Ghazali al-Thusi, Ma’ârij al-Quds fii Madrâj Ma’rifat al-Nafs, Beirut: Dâr al-Âfâq al-Jadîdah, cet. II, 1975, juz I, hlm. 58.