20 March 2018

Intoleransi yang Berulang: Pentingnya Kepemimpinan Syar’i Penjaga Islam



[Jawaban Atas Terulangnya Intoleransi Non Muslim Terhadap Syi’ar Islam]

Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
[Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Jawa Barat]

Foto Luthfi Afandi. 
U
mat Islam, baru-baru ini dibuat prihatin dengan aksi oknum-oknum yang mengatasnamakan gereja di Papua, memprotes panggilan adzan dan pembangunan menara Masjid al-Aqsha Sentani Papua. Terlepas apa motif mereka sebenarnya, mereka seharusnya menghargai pemahaman umat Islam yang seharusnya sudah dimaklumi dan tidak dipersoalkan lagi:

Pertama, Adzan, dalam Islam menempati kedudukan yang penting sebagai bagian dari syi’ar Islam. Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) dalam kamus ahli fikihnya, Mu’jam Lughat al-Fuqaha’:

الاذان: الاعلام وأصله من " الاذن " كأن يلقى في اذن السامع * الاعلام بوقت الصلاة بألفاظ ورد بها الشرع.
Adzan adalah pemberitahuan, asal-usul katanya adalah al-udzn, seakan-akan (adzan) itu adalah sesuatu yang diperdengarkan ke telinga pendengarnya. Yakni pemberitahuan atas tibanya waktu shalat, dengan lafal-lafal yang disebutkan oleh syari’at.[1]

Keberadaan adzan sebagai seruan ini, setali tiga uang dengan keberadaan fasilitas masjid dan menaranya. Dalam referensi yang sama, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji ketika memaknai kata (المنارة) menyifati menara sebagai salah satu bagian dari masjid, diistilahkan مئذنة المسجد.[2] Masjid itu sendiri, sebagaimana disifati oleh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji:

المسجد: بسكون السين وكسر الجيم ج مساجد، الموضع الذي يسجد فيه. * المكان الذي أعد للصلاة فيه على الدوام

Masjid: dengan di-sukun-kan huruf sin-nya, dan di-kasrah-kan huruf jim-nya, jamaknya adalah masâjid, adalah tempat dimana umat Islam bersujud (shalat) di dalamnya, yakni tempat yang disediakan untuk ibadah shalat secara berkesinambungan.[3]

Maka baik masjid maupun menara adzan dalam Islam jelas termasuk bagian dari sarana syi’ar Islam itu sendiri. Dan syi’ar Islam, sebagaimana firman-Nya:

ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ {٣٢}
“Demikianlah (perintah Allah) dan siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu. (QS. Al-Hajj [22]: 32)
Yakni sikap yang lahir dari ketakwaan kepada Allah, Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H) menjelaskan bahwa di antara sifat terpuji yang melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, yakni syi’ar-syi’ar Din-Nya.[4] Syi’ar adzan pun misalnya, jelas menjadi salah satu simbol persatuan umat Islam, mengingat kalimat yang termaktub di dalamnya merupakan kalimat tauhid yang menyatukan umat Islam.

Kedua, Berangkat dari penjelasan poin pertama di atas, maka segala bentuk intervensi, semisal pelarangan atas gema suara adzan yang dipasang keluar masjid, serta intervensi atas pembangunan menara masjid, adalah bentuk intervensi yang tidak menghargai hak umat Islam untuk menunaikan syari’at ibadahnya dan syi’ar ajarannya.
Suara adzan yang dikumandangkan menggema keluar masjid, jelas merupakan bentuk pemberitahuan khususnya bagi umat Islam atas tibanya waktu shalat, tak boleh ada seseorang pun yang mengintervensinya, ia menjadi bagian dari syi’ar Islam itu sendiri, sama halnya dengan masjid sebagai tempat ibadah umat Islam, dan menaranya yang menjadi ciri khas dari masjid agung itu sendiri, serta penanda keberadaan masjid yang tampak sejauh mata memandang.
Itu semua jelas senantiasa dijunjung tinggi oleh umat Islam dari masa ke masa, melewati berbagai periode kehidupan umat Islam, bersinggungan dengan umat-umat agama lain, semenjak masa Rasulullah hingga sa   at ini. Maka jika ada non muslim yang mempersoalkan itu semua, jelas termasuk perbuatan intoleransi yang harus segera dihentikan. Pada saat yang sama, umat Islam sudah sangat toleran terhadap keberadaan mereka selama ini. Mengapa harus dilarang-larang? Padahal keberadaan seruan adzan, masjid dan menaranya jelas diperuntukkan terutama untuk umat Islam.

Ketiga, Berbagai peristiwa memprihatinkan ini, akhirnya mengingatkan kita kembali kepada pentingnya persatuan umat Islam, di bawah kepemimpinan Khalifah yang disabdakan oleh yang mulia Rasulullah dalam haditsnya. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad bersabda:

«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alayh)
Hadits yang agung ini, mengandung pesan penting menyoal keberadaan sosok al-Imam (pemimpin), berikut perangkat sistemnya yang diistilahkan al-Khilafah. Ia diungkapkan oleh Rasulullah dalam ungkapan majazi, dimana sosok pemimpin yang dimaksud disifati dengan sifat junnat[un]; menjadi ungkapan tasybih (penyerupaan) yang dikuatkan (tasybih mu’akkad sebagaimana dikenal dalam istilah ilmu balaghah). Dimana kata junnah dalam hadits ini, menjelaskan kedudukan al-Imâm (بيان حال)[5].
Artinya, jelas bahwa hadits ini mengandung pujian istimewa dari yang mulia al-Mushthafa atas kedudukan al-imam (khalifah), jelasnya ditandai oleh dua hal: keberadaan ungkapan pengkhususan (al-qashr huruf innama) dan ungkapan tasybih mu’akkad di balik ungkapan al-Imam junnat[un], pujian benar dari sebaik-baiknya insan, yang sudah seharusnya menggugah kita untuk mewujudkannya di atas manhaj Rasulullah . Hingga para ulama pun menegaskan hadits ini sebagai salah satu dalil wajibnya menegakkan Khilafah.
Pertanyaannya, Imam seperti apa yang dimaksud oleh Rasulullah ini? Jawabannya, ia berkonotasi al-Khalifah atau al-Imam al-A’zham yang mengurusi urusan manusia. Al-Mulla al-Qari (w. 1041 H) secara gamblang menyatakan:
(فَإِنَّمَا الْإِمَامُ) أَيِ الْخَلِيفَةُ أَوْ أَمِيرُهُ     
”Makna kalimat (إنما الإمام) yakni al-Khalifah atau Amirnya.”[6]
            Imam al-Munawi al-Qahiri (w. 1031 H) dan ulama mujtahid penulis kitab Subul al-Salâm, Imam al-Shan’ani (w. 1182 H)[7], dan para ulama lainnya menegaskan bahwa al-Imam dalam hadits ini yakni al-Imam al-A’zham[8], dimana para ulama ketika menyebut al-Imâm al-A’zham berkonotasi Imâm al-Muslimîn, dan Imâm al-Muslimîn adalah al-Khalifah (lihat: penjelasan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) dalam Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’), dan sistem pemerintahan yang dipimpin oleh al-Khalifah adalah al-Khilâfah yang disebut para ulama sebagai al-Imâmah al-Kubrâ’ (kepemimpinan agung)[9], Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) dalam Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’ menegaskan:
الخليفة؛ من ولي الإمامة العامة للمسلمين: الرئيس الاعلى للدولة الاسلامية
Al-Khalifah; seseorang yang memegang tampuk kepemimpinan umum bagi kaum Muslim: pemimpin tertinggi bagi Negara Islam (al-Dawlah al-Islâmiyyah).[10]
Maka jelas bukan sembarang pemimpin, melainkan pemimpin yang menunaikan amanah dalam hadits tersebut sebagai junnah bagi kaum Muslim, yang menjaga kehormatan kaum Muslim, dan mencegah terjadinya kezhaliman dengan menegakkan syari’at Islam dalam kehidupan. Al-Hafizh Abu Zakariya bin Syarf al-Nawawi (w. 676 H) mengutarakan:
قوله صلى الله عليه وسلم: (الإمام جنة) أي: كالستر لأنه يمنع العدو من أذى المسلمين، ويمنع الناس بعضهم من بعض، ويحمي بيضة الإسلام، ويتقيه الناس ويخافون سطوته 
Sabda Rasulullah : (الإمام جنة) yakni seperti al-sitr (pelindung), karena Imam (Khalifah) mencegah musuh dari perbuatan mencelakai kaum Muslim, dan mencegah sesama manusia (melakukan kezhaliman-pen.), memelihara kemurnian ajaran Islam, rakyat berlindung kepadanya dan mereka tunduk kepada kekuasaannya.[11]
Penjelasan senada diuraikan para ulama lainnya, di antaranya Imam al-Thibi (w. 743 H) dalam syarh-nya atas Misykât al-Mashâbîh[12], Imam Syamsuddin al-Kirmani (w. 786 H) dalam syarh-nya atas Shahîh al-Bukhârî[13], Imam Shadruddin al-Munawi (w. 803 H) [14], Imam Ibn al-Mulqan (w. 804 H) dalam syarh-nya atas al-Jâmi’ al-Shaghîr[15], al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) dalam syarh-nya atas Shahîh Muslim[16], dan al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani (w. 852 H) dalam kitab syarh-nya atas Shahîh al-Bukhârî, dan para ulama lainya yang menjelaskan sifat al-Imam sebagai junnah, yakni pelindung dari kejahatan musuh dan kezhaliman.[17]
Imam Ibn Bathal (w. 449 H) menegaskan bahwa (الإمام جنة) yakni sebagai pelindung interaksi manusia satu sama lain, karena dengan fungsi penguasa, Allah melindungi kaum yang lemah di antara manusia yakni pelindung bagi mereka, menjaga harta dan kehormatan-kehormatan orang-orang beriman.[18] Hal ini pula yang menjadi intisari dari atsar Utsman bin Affan r.a. yang menuturkan:
ما يزع الله بالسلطان أكثر مما يزع بالقرآن
Persoalan apa yang Allah selesaikan dengan keberadaan penguasa lebih banyak daripada apa yang diselesaikan oleh al-Qur'an (tanpa kekuasaan yang menjalankannya).
Imam al-Khaththabi (w. 388 H) pun menjelaskan besarnya kedudukan al-Imam (al-Khalifah) dalam melindungi umat dari serangan kaum kuffar dalam perkataannya:
ومعنى الجنة العصمة والوقاية، وليس لغير الإمام أن يجعل لأمة بأسرها من الكفار أمانًا
Dan makna al-junnah yakni pencegah dan pelindung, dan tidak ada bagi selain sosok al-Imam yang mampu mewujudkan keamanan bagi umatnya dari serangan orang-orang kafir.[19]
Imam Badruddin al-‘Aini (w. 855 H) menjelaskan bahwa ia sesungguhnya melindungi kaum Muslim dari tangan-tangan musuh dan melindungi kemurnian ajaran Islam.[20] Imam al-Munawi al-Qahiri (w. 1031 H) menegaskan bahwa (al-Imam) adalah tameng yang memelihara kemurnian ajaran Islam, dan dengannya menolak berbagai kezhaliman, dan umat manusia akan meminta perlindungannya dalam berbagai keadaan genting.[21] Imam al-Shan’ani (w. 1182 H) pun menjelaskan fungsi al-Imam sebagai wiqâyah (pencegah), sâtir (pelindung) dan turs (tameng) yang memelihara kemurnian ajaran Islam.[22]
Hal itu bisa terwujud ketika ada sosok al-Imam (al-Khalifah) menegakkan hukum-hukum Islam kâffah dalam kehidupan, menunaikan amanah agung dari Rasulullah :
«أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Al-Bukhârî, Muslim, Abu Dawud, Ibn Hibban)[23]
Dan lebih terang benderang lagi ketika syari’at, ditunjukkan oleh Rasulullah dan al-khulafâ’ al-râsyidûn, memahamkan kita secara jelas bahwa penerapan Islam dalam kehidupan membutuhkan kekuasaan politik, yang ditafsirkan oleh Rasulullah dalam bentuk praktis yakni dengan tegaknya institusi politik, negara Islam (al-daulah al-Islâmiyyah). Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H)–begitu pula para ulama lainnya- mengumpamakannya sebagai saudara kembar (الدّين وَالسُّلْطَان توأمان)[24], lalu Al-Ghazali pun menegaskan:
الدّين أس وَالسُّلْطَان حارس فَمَا لا أس لَهُ فمهدوم وَمَا لا حارس لَهُ فضائع
“Al-Dîn itu asas dan penguasa itu penjaganya, maka apa-apa yang tidak ada asasnya maka ia akan roboh dan apa-apa yang tidak ada penjaganya maka ia akan hilang.[25]
Lalu, apa lagi yang ditunggu wahai saudara-saudara sekalian? Berjuang untuk menegakkan Islam dalam kehidupan, dengan menegakkan kembali peradaban Islam adalah persoalan yang wajib diperjuangkan dan tak bisa diabaikan, merealisasikan kemuliaan umat Islam:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ  {١١٠}
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Âli Imrân [3]: 110) []
وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه
والله أعلم بالصواب


[1] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, hlm. 52.
[2] Ibid, hlm. 461.
[3] Ibid, hlm. 428.
[4] Nawawi al-Bantani, Syarh Sullam al-Tawfîq, Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. I, 1431 H, hlm. 103.
[5] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 59.
[6] ‘Ali bin Sulthan Muhammad Abu al-Hasan al-Mulla al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz VI, hlm. 2391.
[7] Muhammad bin Isma’il al-Kahlani al-Shan’ani, Al-Tanwiir Syarh al-Jâmi’ al-Shaghiir, Ed: Dr. Muhammad Ishaq, Riyadh: Maktabat Dâr al-Salâm, cet. I, 1432 H/2011, juz IV, hlm. 166.
[8] Abdurra’uf bin Tajul Arifin bin Ali al-Munawi, Faydh al-Qadîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Mesir: Al-Maktabah al-Tijâriyyah al-Kubrâ’, cet. I, 1356 H, juz II, hlm. 559.
[9] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H/1988, hlm. 88.
[10] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, hlm. 200.
[11] Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syarf al-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim bin al-Hijâz, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, cet. II, 1392 H, juz. XII, hlm. 230.
[12] Syarfuddin al-Husain bin ’Abdullah al-Thibi, Al-Kâsyif ’an Haqâ’iq al-Sunan: Syarh al-Thibi ’alâ Misykât al-Mashâbîh, Ed: Dr. Abdul Hamid Handawi, Riyadh: Maktabat Nazar Mushthafa al-Bâz, cet. I, 1417 H/1997, juz VIII, hlm. 2557.
[13]  Muhammad bin Yusuf Syamsuddin al-Kirmani, Al-Kawâkib al-Durârî fî Syarh Shahîh al-Bukhârî, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, cet. I, 1401 H/1981, juz XII, hlm. 197.
[14] Muhammad bin Ibrahim al-Munawi al-Qahiri al-Syafi’i, Kasyf al-Manâhij wa al-Tanâqîh fî Takhrîj Ahâdîts al-Mashâbîh, Ed: Dr. Muhammad Ishaq, Beirut: al-Dâr al-’Arabiyyah li al-Mawsû’ât, cet. I, 1425 H/2004, juz III, hlm. 265.
[15] Ibn al-Mulqan Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali, Al-Tawdhîh li Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Damaskus: Dâr al-Nawâdir, cet. I, 1429 H/2008, juz XVIII, hlm. 67.
[16] Jalaluddin al-Suyuthi ‘Abdurrahman bin Abu Bakr, Al-Dîbâj ‘alâ Shahîh Muslim bin al-Hijâz, KSA: Dâr Ibn ‘Affân, Cet. I, 1416 H, juz IV, hlm. 454.
[17] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fat-h al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz VI, hlm. 116.
[18] Abu al-Husain ‘Ali bin Khalaf (Ibn Bathal), Syarh Shahîh al-Bukhâri, juz V, hlm. 128. 
[19] Abu Sulaiman Hamd bin Muhammad al-Khaththabi, Ma’âlim al-Sunan Syarh Sunan Abi Dawud, Halb: al-Mathba’ah al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1351 H, juz II, hlm. 316.
[20] Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-Hanafi Badruddin al-‘Aini, ‘Umdat al-Qârî Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, t.t, juz XIV, hlm. 222. 
[21] Abdurra’uf bin Tajul Arifin bin Ali al-Munawi, Faydh al-Qadîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, juz II, hlm. 559.
[22] Muhammad bin Isma’il al-Kahlani al-Shan’ani, Al-Tanwîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, juz IV, hlm. 166-167.
[23] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (VI/2611, hadits 6719); Muslim dalam Shahîh-nya (1829); Abu Dawud dalam Sunan-nya (III/91, hadits 2930); Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (X/342, hadits 4490).
[24] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1424 H, hlm. 128.
[25] Ibid. Penuturan senada dutarakan oleh Imam Abu al-Hasan al-Mawardi (w. 450 H), Imam al-Qal’i al-Syafi’i (w. 630 H), Imam Ibnu al-Azraq al-Gharnathi (w. 896 H), dan lainnya.

No comments :

Post a Comment