15 February 2018

Balaghah Ayat Al-Qur’an & Teori Flat Earth [Soal Jawab]

Foto Irfan Abu Naveed Al-Atsari.

Pertanyaan

Assalamualaikum. Teori flat earth mulai booming. Begitu pula di kalangan 'pemuda'. Ada yang pro, ada yang kontra. Salah satu ayat yang sering kali diperdebatkan adalah an naba ayat 7. Bagaimana sebenarnya tafsir ayat tsb?


Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Pertama, Sampai sejauh ini, saya belum menemukan satu ayat dalam ayat-ayat al-Qur'an yang secara sharih (jelas: lafal dan maknanya), menyatakan bahwa bumi itu datar dan tidak bulat. Adapun ayat-ayat ini:

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًا
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan." (QS. Al-Naba’ [78]: 6)

وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
"Dan bumi bagaimana dihamparkan?" (QS. Al-Gasyiyah [88]: 20)

Jelasnya, ayat-ayat tersebut tidak sedang berbicara bentuk bumi, tidak pula ditemukan di dalamnya pernyataan sharih bahwa bentuk bumi adalah datar dan tidak bulat. Hal ini bisa dikaji berdasarkan sudut pandang ilmu balaghah dan dikomparasikan dengan ilmu sains itu sendiri.

Misalnya sedikit penjelasan terkait kalimat سطحت dalam firman Allah ini:

وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
"Dan bumi bagaimana dihamparkan?" (QS. Al-Gasyiyah [88]: 20)

Ayat ini di awali dengan:

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِ بِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
”Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan” (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 17)

Yakni "apakah mereka tidak melihat", ini merupakan bentuk istifham inkari, yang mengandung peringatan untuk melakukan tadabur dan tafakur terhadap ayat-ayat kauniyyah yang ada di alam semesta, dimana ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan ayat-ayat kauniyyah, seperti ayat ini jelas berkaitan dengan pesan penting untuk mentadaburi dan mentafakuri tanda-tanda (ayat) keagungan Allah ’Azza wa Jalla yang ada di alam semesta, tegasnya itu semua merupakan dalil ’aqliyyah atas keberadaan dan keagungan Sang Pencipta. Tidak sedang berbicara tentang bentuk bumi.

Relevansinya dengan ayat ini:

وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
"Dan bumi bagaimana dihamparkan?" (QS. Al-Gasyiyah [88]: 20)

Bentuk istifham inkari di balik kalimat afala yanzhuruna, pada ayat ke-17 pun berlaku pada ayat-ayat setelahnya, termasuk ayat ke-20 ini, karena kalimat-kalimat pada ayat tersebut dihubungkan dengan waw al-’athf, berfungsi menyatukan dan menyambungkan, menunjukkan adanya relevansi, maksudnya bisa kita pahami pula:

”Apakah mereka tidak menyaksikan: bagaimana bumi dihamparkan?”

Kalimat suthihat, yakni dihamparkan, jelas berkaitan dengan apa yang terlihat dalam pandangan mata manusia, sesuai dengan kapasitas dan keterbatasannya. Kata tersebut diungkapkan dengan kata kerja pasif (mabni li al-majhul), diciptakan oleh Allah dan dihamparkan untuk manusia. Dan manusia menyaksikan bahwa bumi yang luas ini, dalam pandangan mata manusia bagaikan hamparan, daratan yang dihamparkan, سطحت, karena saking luasnya. Analoginya, sama seperti bola yang sangat besar sebesar gedung bertingkat, lalu diletakkan pada bagian puncaknya, seekor anak kucing, tentu dalam pandangan  anak kucing tersebut, ia menyaksikan di hadapan matanya bagaikan hamparan, ketika semakin besar ukurannya, maka semakin tampak pula bagaikan hamparan, hingga tak terlihat lengkungan pada ujungnya karena terbatasnya pandangan menyaksikan sesuatu yang jauh dan lebar.

Dari sudut pandang ilmu balaghah, justru ayat-ayat terkait unta, langit, gunung, bumi dalam surat al-Ghasyiyah ini, jelas merupakan kalam[an] baligh[an], karena memenuhi aspek syarat: Kesesuaian perkataan dengan keadaan pihak yang diseru (المخاطب). Dari sinilah kita bisa memahami perkataan Arab:

لكل مقام مقال 
“Atas setiap kedudukan itu ada perkataan tertentu untuknya.”
           
Sejalan dengan karakter balaghah dalam terminologi ulama balaghah itu sendiri yakni:

أن يكون الكلام مطابقًا لمقتضى أحوال المخاطبين مع فصاحته
“Menjadikan perkataan sesuai dengan keadaan pihak-pihak yang diseru disertai kefasihannya.”

Kata suthihat, jelas sesuai dengan ahwal al-mukhathabin, kondisi manusia yang disebutkan dalam ayat.

Penjelasan tambahan, misalnya dalam tafsir al-jalalayn disebutkan:

أفلا ينظرون: أي كفار مكة نظر اعتبار
“Kalimat (Afalâ yanzhurûna) Yakni orang Kafir Mekkah (tidak melihat?) penglihatan untuk mengambil pelajaran”

Dan orang kafir Makkah tentu yang biasa mereka saksikan adalah unta sebagai bagian penting tunggangan keseharian mereka dalam kehidupan sehari-hari.

وصدرت بالإبل لأنهم أشد ملابسة لها من غيرها
“Dimunculkan istilah unta, karena mereka (orang-orang Mekkah) paling sering menggunakan tunggangan unta daripada selainnya.”

Begitu pula yang terlihat langit itu telah ditinggikan, gunung-gunung ditegakkan, bumi dihamparkan. Kata السماء dalam surat al-Ghasyiyah ayat ke-18 disebutkan mufrad bukan jamak:

وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ
"Dan langit bagaimana ia ditinggikan?" (QS. Al-Gasyiyah [88]: 18)

Padahal dalam ayat lainnya Allah menyebut jamak yang notabene sesuai dengan fakta ilmiah langit berlapis-lapis, semisal dalam potongan ayat:

 إن في خلق السماوات
”Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit.” (QS. Al-Baqarah [2]: 164)

Dikaitkan dengan penciptaan, berbeda dengan penyebutan dalam surat al-Ghasyiyah yang disebut mufrad (tunggal), karena yang terlihat oleh pandangan manusia yang disinggung dalam ayat ini, langit itu seakan satu, karena yang tampak dalam pandangan mata manusia yang terbatas memang terlihat satu. Sehingga semuanya sejalan dengan ahwal (kondisi) pihak yang diajak untuk berpikir, ini sejalan dengan perkataan doktor balaghah dari al-Azhar, seorang ustadz dari Mesir:

لكل حرف من حروف القرآن فيه أسرار
"Setiap huruf dari huruf-huruf al-Qur'an mengandung berbagai rahasia kandungan makna."

Hal ini kemudian diperjelas oleh pendapat sebagian ulama dan ilmuwan muslim, dulu dan sekarang yang menegaskan bahwa bumi itu bulat.

Kedua, Adapun pendapat sebagian ulama masa lampau yang berpandangan bahwa bumi datar, maka tidak dapat dijadikan sebagai rujukan, dengan dua alasan:

1. Kapabilitas ulama tersebut, sebagai ulama tidak pada posisi sebagai ahli sains, padahal pembuktian seputar bentuk bumi ini wilayah saintis.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang, berbeda dulu dan sekarang, dimana bentuk bumi bisa diteliti lebih jauh dengan ilmu dan peralatan teknologi yang lebih canggih.

Dalam hal ini, berlaku kaidah dalam al-Sunnah bahwa pendapat dalam persoalan saintis yang bersifat duniawi, tak berkaitan dengan aspek tasyri'i, maka diambil sesuai dengan pendapat ahlinya, yakni ahli sains terkait. Sama seperti pendapat yang berkaitan dengan ilmu kedokteran yang diambil berdasarkan pandangan ahlinya, yakni dokter dengan spesialisasi terkait. Kaidah pengambilan pendapat seperti ini pun, sebagaimana ditegaskan al-'Allamah Taqiyuddin al-Nabhani.

Hadits dari Anas bin Malik r.a.:

أَنّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ، فَقَالَ: لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ، قَالَ: فَخَرَجَ شِيصًا، فَمَرَّ بِهِمْ، فَقَالَ: مَا لِنَخْلِكُمْ، قَالُوا: قُلْتَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ: أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
Bahwa Nabi pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda: ”Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik.” Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: ”Ada apa dengan pohon kurma kalian?” Mereka menjawab: ”Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu?” Beliau lalu bersabda: ”Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim)

Al-Hafizh al-Nawawi menguraikan:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ قَالَ الْعُلَمَاءُ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ رَأْيِي أَيْ فِي أَمْرِ الدُّنْيَا وَمَعَايِشِهَا لَا عَلَى التَّشْرِيعِ
Kalimat (أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ) para ulama menjelaskan bahwa makna sabda Rasulullah ini yakni berupa pendapatnya dalam perkara duniawi, tidak berkaitan dengan tasyri’ (pensyari’atan hukum, halal dan haram).

Ketiga, Dari segi ilmiah, logika kaum pendukung teori flath earth itu jelas tidak berdasar secara ilmiah. Maka ini domainnya para saintis, ilmuwan yang juga jelas menolak klaim teori flath earth ini. Mempercayai mereka, menurut saya seperti mempercayai orang yang mengklaim tak ada aliran listrik karena tak terlihat.

Keempat, Pesan saya, hentikan perdebatan soal ini, masih banyak permasalahan umat yang lebih urgen untuk dibicarakan, dan agenda dakwah yang diperjuangkan, kita tak perlu menunggu khilafah untuk memastikan bentuk bumi ini, dan untuk menghentikan perdebatan dalam persoalan ini, Allah al-Musta'an. []

والله أعلم بالصواب
وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

No comments :

Post a Comment