04 January 2018

Taujih Qur’ani Menyikapi Kaum Sesat Lagi Dimurkai (Tafsir & Balaghah QS. Al-Baqarah [2]: 120)

Gambar terkait

[Kilas Tafsir Fadhilatusy-Syaikh 'Atha bin Khalil Abu al-Rasytah -hafizhahullah- & Catatan Tambahan Irfan Abu Naveed al-Atsari]

Allah -Subhânahu wa Ta'âlâ- berfirman:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ {١٢٠}

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 120)

Penjelasan Fadhilatusy-Syaikh 'Atha bin Khalil Abu al-Rasytah -hafizhahuLlâh-:
Allah menjelaskan dalam ayat-ayat ini sebagai berikut:
Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepadamu, hingga engkau mengikuti agama mereka, dimana hal ini tidak boleh terjadi, karena:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ {٨٥}
”Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.(QS. Âli Imrân [3]: 85)

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ {١٩}
”Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Âli Imrân [3]: 19)

Maka seharusnya mereka mengetahui bahwa petunjuk adalah apa yang dibawa Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-, bukan apa yang mereka klaim bahwa petunjuk adalah dengan mengikuti agama mereka saat ini, padahal agamanya adalah agama yang menyimpang dan mengalami perubahan (dari agama Allah-pen.), ia adalah agama kufur setelah disimpangkan.
Kemudian Allah -Subhânahu wa Ta'âlâ- menginformasikan kepada Rasul-Nya -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-, dengan bentuk ungkapan sumpah (qasam), karena huruf lâm dalam kata la’in (لئن) merupakan huruf lâm qasam (bentuk sumpah), bahwa jika Rasul -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- mengikuti hawa nafsu mereka, -terdapat petunjuk bahwa agama mereka dan apa yang mereka klaim sebagai petunjuk, sebenarnya adalah hawa nafsu, yakni penyimpangan dari jalan kebenaran-, maka beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- tidak akan pernah menemukan pelindung dan penolong yang mencegah dari adzab Allah.
          Itu semua merupakan penegasan dari Allah betapa jauhnya kaum Yahudi dan Nasrani untuk meridhai Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-, dengan upayanya agar Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- mengikuti agama mereka.[1]

Catatan Tambahan Irfan Abu Naveed al-Atsari

Pertama, Faidah dari Penafian dengan Kata Lan dan Kata La dalam Kalimat "وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ "

Kata lan dan kata la untuk menafikan keridhaan kaum Yahudi dan Nasrani dalam ayat ini dalam ilmu balaghah merupakan bentuk pengulangan makna tanpa lafalnya (tikrâr al-ma'na dûna al-lafzh) dimana ia masuk bahasan al-ithnâb (bentuk penambahan lafal yang memiliki makna dan maksud tertentu).
Lafalnya berbeda, namun semakna dalam konteks mengandung penafian. Perbedaan sedikit maknanya hanya pada segi bahwa kata lan itu awkad (lebih tegas) daripada kata lâ. Lan berkonotasi menunjukkan li ta'bîd (yakni selama-lamanya).
Imam Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H) dalam Kitab al-’Ain menyatakan:

أَلا تَرى أَنَّهَا تُشبه فِي المَعْنى (لَا) وَلكنهَا أَوْكد
“Bukankah engkau melihat bahwa kata lan menyerupai kata dalam pemaknaannya, akan tetapi kata lan lebih kuat maknanya.”[2]

Penjelasan ini pun dinukil oleh Imam al-Azhari dalam Tahdzîb al-Lughah. Atau dalam istilah lain yakni li tab’îd. Kata lan, sebagaimana diungkapkan Imam al-Jauhari (w. 393 H) merupakan kata penafian untuk kata kerja yang akan datang (حرفٌ لنفي الاستقبال) , atau kata penafian untuk hal yang akan terjadi di masa mendatang (حرف نفي لما يأتي) sebagaimana disebutkan Imam Ibn Faris (w. 395 H)[3] yang bermakna ”tidak akan pernah” yakni li ta'bîd (selama-lamanya), perinciannya bisa dirujuk dalam kamus-kamus arab.[4]

Kedua, Faidah dari Kalimat "قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ"

Allah menegaskan bahwa petunjuk-Nya adalah petunjuk yang benar, bukan jalan-jalan kaum Yahudi dan Nasrani yang menyimpang dari agama Allah. Dalam ayat yang agung ini pun, bisa dipahami bahwa Allah menyifati ajaran Yahudi dan Nasrani sebagai ajaran yang menyimpang dari jalan petunjuk, dengan kata lain berasal dari al-hawa (hawa nafsu). Mempertegas pemahaman bahwa segala hal yang bertentangan dengan al-wahyu, itu berasal dari al-hawa/al-jahl. Coba tela'ah tafsir surat al-Fatihah, silahkan nikmati sajian berikut ini: Link Tafsir

Ketiga, Faidah dari Kalimat "وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ"

Dalam ayat yang agung ini terdapat peringatan atas resiko mengikuti jalan-jalan hawa nafsu ini, yakni tidak mendapatkan pertolongan Allah, sebaliknya keta'atan dan konsistensi di atas jalan petunjuk (al-Islam) merupakan sebab turunnya pertolongan Allah 'Azza wa Jalla.
Secara prinsipil, Allah dan Rasul-Nya telah memperingatkan kaum Muslim dari bahaya ideologis meniti jalan mereka, salah satu bentuk jalan tersebut adalah ideologi Neoliberalisme-Kapitalisme dan sistem politik Demokrasi, tentang Demokrasi misalnya, jelas sekali menjadi agenda penyesatan kaum imperialis.
Mantan Presiden AS, Georde W. Bush Junior pada tahun 2003 menyatakan: “Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang, hal terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi”.[5] George W. Bush pun dalam “The National Endowment for Democracy” (Kamis 6/11/2003) menyatakan: “Selama kebebasan (freedom) belum tumbuh di Timur Tengah, kawasan itu akan tetap menjadi wilayah stagnan (jumud), peng’ekskpor’ kekerasan, termasuk menjadi tempat penyebaran senjata yang membahayakan negara AS.”[6] Link kajian Islam atas Demokrasi: Link Video
Padahal Allah ’Azza wa Jalla telah memperingatkan:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ صلى ‏وَسَاءَتْ مَصِيرًا {١١٥}
“Dan siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk, dan mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir-pen.) kemudian Kami seret ke dalam jahannam. Dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 115)

Lafal man dalam ayat di atas menunjukkan keumuman subjeknya, yakni siapa saja yang memenuhi karakteristik yang disebutkan dalam ayat, yakni:

Pertama, Menentang Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- setelah jelas baginya petunjuk Islam (يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ)
Kedua, Mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman (يَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ)

          Dimana kedua karakteristik di atas, dihubungkan oleh waw al-’athf[7] yang menunjukkan kesatuan. Mereka yang menentang jalan petunjuk, bisa dipastikan akan terhempas pada jalan kesesatan. Pilihan ini bukan tanpa resiko, bahkan mengandung resiko serius di balik ancaman, Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir-pen.) kemudian Kami seret ke dalam jahannam”, jelas merupakan istidraj, kerugian dunia dan akhirat.
Diperjelas hadits dari Ibn ’Abbas r.a., ia berkata: “Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- bersabda:

«لَتَتَّبِعُنَّ سنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ»
“Sungguh kamu mengikuti tuntunan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga salah seorang dari mereka masuk lubang biawak pun sungguh kamu mengikutinya.” (HR. Muslim, Ahmad)[8]

Al-Mulla’ Ali al-Qari (w. 1014 H) menjelaskan makna سُنَنَ yakni jalan hidup, manhaj dan perbuatan mereka[9], dan suatu pemikiran jelas termasuk manhaj, jalan hidup yang khas lahir dari suatu peradaban. Sehingga dipahami bahwa hadits ini mengandung larangan, sebagaimana ditegaskan oleh al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1396 H)[10], karena terdapat celaan atas perbuatan mengikuti manhaj dan pola pikir orang kafir.
Apa akibatnya? Dengan mengikuti manhaj dan pola pikir kaum kuffar yang materialistic oriented, kaum Muslim terjangkit penyakit materialisme yang menyebabkan cinta dunia dan takut mati, hingga sulit berkorban memperjuangkan Islam dan hilanglah rasa takut dari musuh-musuh Islam terhadap mereka, hingga terjadi penguasaan musuh atas kaum Muslim, benarlah apa yang diperingatkan dalam hadits yang mulia:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ «حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»
Dari Tsauban r.a, ia berkata bahwa Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadap makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya, ”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- berkata, ”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagaikan buih seperti buih dalam gelombang lautan. Dan sungguh Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan Dia sungguh akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’.” Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- berkata, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud, Abu Nu’aim)[11]

Wahn inilah yang diisyaratkan oleh al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1396 H) sebagai penghadang laju dakwah untuk kebangkitan umat dalam ungkapannya: Kesulitan lain yang menghadang laju dakwah adalah sulitnya mengorbankan kehidupan dunia –berupa harta, perdagangan, dan sejenisnya- di jalan Islam dan dakwah Islam.”[12] Tentu kita berlindung kepada Allah darinya, wal ’iyâdzu biLlâh.
Konsekuensinya dirasakan benar di zaman ini, umat terjerumus ke dalam cengkeraman pusaran neoliberalisme, yang memuluskan jalan imperialisme kaum Kapitalis yang merusak kehidupan, hingga tampak kerusakan di hadapan mata, di daratan dan lautan, bukan fatamorgana semata. Maka wajib segera campakkan jalan-jalan mereka yang sesat menyesatkan lagi dimurkai Allah, Allah al-Musta’an.

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

والله أعلم بالصواب




[1] Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr (Surat al-Baqarah), Beirut: Dâr al-Ummah, hlm. 143-144.
[2] Abu ’Abdurrahman al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, Kitâb Al-’Ain, Dâr wa Maktabah al-Hilâl, juz VIII, hlm. 350.
[3] Ahmad bin Faris bin Zakariya al-Qazwaini al-Razi, Majmal al-Lughah, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. II, 1406 H/1986, juz I, hlm. 790.
[4] Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma’il, Al-Muhkam wa al-Muhîth al-A’zham, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1421 H/2000, juz X, hlm. 361.
[5] Kompas, 6/11/2004
[6] Lihat website: www.globalsecurity.org
[7] Dalam bahasa arab, jenis huruf waw ini berfungsi li muthlaq al-jam’i (menunjukkan penyatuan).
[8] HR. Muslim (no. 2669), bab. Ittibâ’ Sunan al-Yahûdi wa al-Nashârâ; Ahmad dalam Musnad-nya (no. 11817), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Sanadnya shahih sesuai syarat syaikhain (al-Bukhari dan Muslim).”
[9] Nuruddin al-Mulla ‘Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VIII, hlm. 3403.
[10] Taqiyuddin Abu Ibrahim al-Nabhani, Muqaddimah al-Dustûr aw al-Asbâb al-Mûjibah Lahu, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1420 H, juz I, hlm. 44.
[11] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4299); HR. Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’.
[12] Taqiyuddin al-Nabhani, Al-Takattul Al-Hizbi, Beirut: Dâr al-Ummah, hlm. 20.

No comments :

Post a Comment