25 January 2018

Syarah Atas Qaul "Orang yang Dibenci Allah: Ahli Ibadah yang Mengabaikan Dakwah"

Foto Irfan Abu Naveed Al-Atsari.
Raudhah Tsaqafiyyah Jawa Barat

Syarah Atas Qaul Syaikh Hamad bin Atiq "Orang yang Paling Dibenci Allah", yang Dinukil Oleh Raudhah Tsaqafiyyah Jawa Barat

Pertanyaan

Assalamualaikum ustad, ana mau menanyakan ttg satu quote yg ana dapatkan dari share d bbrp grup dakwah, berikut:

======
ORANG YANG PALING DIBENCI ALLAH

Al-Allamah Hamad bin Atiq rahimahullah berkata:


فلو قدر أن رجلاً يصوم النهار ويقوم الليل ويزهد في الدنيا كلها، وهو مع ذلك لا يغضب ولا يتمعر وجهه ويحمر لله، فلا يأمر بالمعروف ولا ينهى عن المنكر، فهذا الرجل من أبغض الناس عند الله وأقلهم ديناً؛ وأصحاب الكبائر أحسن حالا عند الله منه.
"Seandainya seseorang banyak berpuasa di siang hari dan banyak mengerjakan shalat malam serta zuhud terhadap dunia semuanya, namun bersamaan itu dia tidak marah, tidak berubah wajahnya dan tidak memerah karena Allah, lalu dia tidak menyuruh yang ma'ruf dan tidak pula melarang kemungkaran, maka orang semacam ini termasuk orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling rendah agamanya, dan para pelaku dosa-dosa besar lebih baik keadaannya di sisi Allah dibandingkan orang semacam ini." [Ad-Durarus Saniyyah, jilid 8 hal. 78]. @raudhahtsaqafiyah

======
Apakah maknanya ustad? Ana merasa perlu menanyakan k ust Irfan krn disitu tercantum Raudhah tsaqofiyah (AN)

Jawaban


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Ini pesan penting untuk menegakkan dakwah, al-amr bi al-ma'ruf wa al-nahy 'an al-munkar, kalimat beliau ini:

وهو مع ذلك لا يغضب ولا يتمعر وجهه ويحمر لله، فلا يأمر بالمعروف ولا ينهى عن المنكر
"Namun bersamaan itu dia tidak marah (terhadap kemungkaran), tidak berubah wajahnya dan tidak memerah karena Allah, lalu dia tidak menyuruh yang ma'ruf dan tidak pula melarang kemungkaran."

Itu semua menggambarkan sifat buruk, tidak adanya rasa cemburu (ghirah) terhadap tersebarnya kemungkaran. Ia seperti syaithan bisu (al-syaithan al-sakit), yang mengetahui kemungkaran perbedaannya dengan kema'rufan, namun tidak ada atsar dari ibadah fardiyyahnya terhadap semangatnya membela Din Allah, maka jelas ini merupakan sifat buruk, wal 'iyadzu biLlah.

Frasa "
ولا يتمعر وجهه ويحمر لله" merupakan bentuk majazi (kiasan) dari "tidak adanya rasa ghirah (cemburu) untuk membela Din Allah” dari tersebarnya berbagai kebatilan dan kemungkaran. Dimana sifat ghirah tersebut termasuk buah keimanan yang kokoh, dan murni: ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah.

Terlebih bagi seorang ahli ibadah yang berilmu. Sebagaimana dipesankan dalam banyak nas al-Qur'an dan al-Sunnah. Ulama ketika menafsirkan QS. Âli Imrân [3]: 104, menafsirkan kata ummat[un] adalah jama’ah mereka yang berilmu. Sebagaimana penjelasan Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) yang mengungkapkan:

وقوله: (ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير) أي: جماعة يتخيرون العلم والعمل الصالح يكونون أسوة لغيرهم
Dan firman-Nya (Dan hendaklah ada di antara kalian ummat yang menyeru kepada al-khayr) -kata ummat dalam ayat ini- yakni sebuah jama’ah yang memiliki keutamaan ilmu dan amal shalih, dan mereka menjadi teladan bagi orang lainnya.[1]

Ibn Faris (w. 395 H) pun menjelaskan maknanya jamâ’at al-‘ulamâ’.[2] Sehingga ayat ini, sangat jelas mengandung dorongan yang kuat bagi para ahli ilmu untuk aktif di tengah-tengah umat, menunaikan tanggung jawabnya mendakwahi penguasa dan masyarakat, mendorong mereka kepada yang ma’ruf dan mencegahnya dari kemungkaran.

Orang yang berilmu memiliki pengetahuan untuk membedakan mana yang ma'ruf dan mana yang mungkar, sebagaimana hadits dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ»
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan qalbu dan hal itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hibban)

Hadits ini mengandung perintah dakwah, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar kepada siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, kalimat (مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا), kata kerja lampau (al-fi'l al-mâdhi) "رَأَى" mengisyaratkan pentingnya ilmu sehingga seseorang bisa "melihat" yakni mengetahui perkara yang mungkar dalam pandangan Islam, perbedaannya dengan perkara yang ma’ruf.

Perintah dalam hadits ini, ditandai dengan kalimat perintah fal yughayyirhu.[3] Yakni perintah untuk mengubah kemungkaran, dengan mencegah dan melarangnya.[4] Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali (w. 975 H) bahkan menegaskan bahwa kalimat (وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ) menunjukkan bahwa perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar termasuk cabang keimanan.[5]

Jika orang yang berilmu diam, maka adzab dari Allah akan melingkupi baik orang yang bermaksiat maupun orang yang diam atas kemaksiatan tersebut, padahal ia mengetahuinya. Dipertegas hadits dari Hudzaifah Ibn al-Yaman r.a., dari Nabi bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»‏
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma'ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allâh akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do'a kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. Al-Tirmidzi, Ahmad, al-Baihaqi)

Hadits ini, diungkapkan dengan banyak penegasan (taukîd), yakni qasam (sumpah kepada Allah pada kalimat
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ) dan lam jawab al-qasam, serta nûn al-taukîd al-tsaqîlah pada frasa lata’muranna dan latanhawanna, yang mempertegas kebenaran informasi dalam hadits, menekankan pentingnya perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dengan tuntutan wajib berdasarkan keberadaan peringatan keras bagi siapa saja yang mengabaikan kewajiban ini, yakni kalimat (أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ), yakni ancaman dalam dua bentuk: Pertama, Datangnya azab yang tak pandang bulu, Kedua, Tidak akan dikabulkannya do’a.

Orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya, tahu kewajiban mencegah kemungkaran tapi tidak mencegahnya, bisa jadi termasuk dalam peringatan ayat ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ {٢} كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ {٣}
"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Al-Shaff [61]: 2-3)

Di sisi lain, sikap mengabaikan dakwah, tidak mau mencegah kemungkaran, tidak diingkari dalam hati, bahkan sebaliknya malah mendukung kemungkaran, ini merupakan sifat dan sikap buruk kaum Yahudi, yang banyak diisyaratkan dalam al-Qur'an:

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ {٦٣}
“Mengapa orang-orang berilmu mereka, pendeta-pendeta mereka, tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 63)

Ayat ini mengandung kritik keras dan peringatan dari-Nya terhadap kaum pendeta, rahib Yahudi dan Nasrani yang tidak melarang perkataan mungkar dan perbuatan memakan harta haram. Dimana Allah memvonis perbuatan tersebut sebagai perbuatan yang sangat buruk, la bi’sa mâ kânû yashna’ûn, shadaqaLlâh al-’Azhîm, vonis yang benar dari Rabb al-’ Âlamîn, yang cukup menggetarkan hati orang-orang yang beriman. Lihat pula karakter kaum kuffâr yang memerangi dakwah Islam, sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya QS. Al-Hajj [22]: 72.

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat-sifat buruk dan menjadikan kita para da'i yang berilmu dan beramal karena-Nya, meraih keridhaan-Nya. []

والله أعلم بالصواب
وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

Oleh: Irfan Abu Naveed Al-Atsari
-          Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat
-          Penulis buku kajian tafsir & balaghah "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"




[1] Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad al-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. I, 1412 H, hlm. 86.
[2] Ahmad bin Faris al-Razi, Mu’jam Maqâyîs al-Lughah, Beirut: Dâr al-Fikr, 1399 H/1979, juz I, hlm. 28.
[3] Terdiri dari lâm al-amr di depan kata kerja al-mudhâri’, termasuk shiyagh al-amr (bentuk ungkapan perintah).
[4] Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) merinci hadits ini, diantaranya menjelaskan bahwa kalimat (مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا) menunjukkan bahwa pengingkaran terhadap kemungkaran ini berkaitan dengan penglihatan, begitu pula terhadap kemungkaran yang disembunyikan dari pandangan mata, namun adanya kemungkaran tadi sudah diketahui secara jelas, maka wajib diingkari pula, lihat: Zainuddin Abdurrahman Ibn Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam fî Syarh Khamsîna Hadîts[an] Min Jawâmi’ al-Kalim, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. VII, 1422 H, juz II, hlm. 254.
[5] Ibid, hlm. 254.

No comments :

Post a Comment