Skip to main content

Soal Jawab Hadits “Memisahkan Diri Dari Kelompok-Kelompok Ketika Tiada al-Jama’ah”

Info: WA/Telegram: 0858 6183 3427
Soal

Perhatikan penggalan hadits ini :

وى الشيخان عن حذيفة في أثناء حديث : تلزم جماعة المسلمين وإمامهم ، قلت : فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام ؟ قال : فاعتزل تلك الفرق كلها ، ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك

Afwan ust, mhn bantuan antum...maksud maqalah diatas bgm..saya tanya pendapat sifulan ttg khilafah dia kirim tulisan tsb. [Peserta Kajian Tsaqafiyyah]

Jawaban

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Perhatikan hadits tsb lengkapnya: Hudzaifah bin Yaman r.a. berkata:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ» ، قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ: «نَعَمْ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ» ، فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»
“Orang-orang semua bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sementara aku bertanya tentang keburukan karena aku takut akan menimpa diriku. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kami ini telah melewati masa jahiliyyah dan keburukan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?” Beliau menjawab, “Ya.” Aku, “Apakah setelah keburukan itu akan kembali datang kebaikan?” Rasulullah, “Ya, tapi ada sedikit kabut (ketidakjelasan).” Aku, “Apa kabutnya?” Rasulullah, “Adanya kaum yang tidak melaksanakan sunnahku dan tidak berpedoman pada petunjukku. Ada yang kamu dukung perbuatan mereka ada pula yang kamu ingkari.” Aku, “Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan?” Beliau, “Ya, kaum yang menyeru di pintu-pintu jahannam, siapa yang memenuhinya akan terhempas ke dalamnya.” Aku, “Tolong diskripskan kaum itu kepada kami ya Rasulullah.” Beliau, “Orang-orang dari kulit kita sendiri dan bicara dengan bahasa kita.” Aku, “Wahai Rasulullah, apa saran anda kalau aku mendapati itu?” Beliau, “Tetaplah bergabung pada jamaah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku, “Bila tidak ada jamaah tidak pula ada imam?” Beliau, “Tinggalkan semua kelompok itu meski kau harus menggigit akar pohon sampai kematian mendatangimu dalam keadaan seperti itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pertama,
Hadits ini salah satu hadits yang seringkali disalahpahami atau disalahtafsirkan oleh mereka yang tak setuju perjuangan penegakkan Khilafah.

Kesalahan tersebut tampak jelas ketika mereka menggunakan dalil hadits ini untuk membangun kesimpulan yang salah, bahwa ketika jama'ah (yakni khilafah) tidak ada, maka kaum Muslim bukan didorong menegakkan khilafah, tapi didorong untuk meninggalkan seluruh kelompok (firqah) yang ada. Kesimpulan prematur tersebut bertentangan dengan dalil-dalil yang diuraikan para ulama mu’tabar menyoal wajibnya menegakkan Khilafah (al-Jama’ah).

Kedua, Kesimpulan prematur di atas jelas berbahaya, karena:

a. Menafikan dalil-dalil syar'iyyah yang mewajibkan penegakkan Khilafah.

b. Dengan logika aneh mereka, seharusnya mereka pun meninggalkan jama'ah: NU, Persis, dsb. Tak hanya Hizb yang memperjuangkan Khilafah.

Ketiga, Koreksinya:
Hadits ini tak bisa dijadikan dalil untuk mengabaikan perjuangan penegakkan khilafah. Karena wajh istidlalnya terkait mufaraqah 'an firaq, yakni meninggalkan kelompok-kelompok yang disebutkan karakteristiknya dalam hadits tersebut yakni:
Pertama, Kelompok yang dinilai (قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي), yakni kelompok yang tidak melaksanakan sunnah Rasulullah , dan mengambil petunjuk dari selain petunjuk beliau .
Karakter ini melekat kepada kelompok sesat, di luar ahlus sunnah, mereka yang tertimpa syubhat, menyimpang dari al-Qur’an dan al-Sunnah.
Kedua, Kelompok lebih buruk lagi yang dinilai (دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ), yakni kelompok yang menyeru kepada pintu-pintu jahannam. Memisahkan diri dari kelompok ini hukumnya wajib, berdasarkan qarînah jâzimah (petunjuk tegas) kecaman (مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا), yakni ancaman akan dimasukkan ke dalam jahannam bersama mereka.
Al-Hafizh al-Nawawi (w. 676 H) menukil penjelasan para ulama menguraikan makna (دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ), bahwa mereka adalah siapa saja dari para pemimpin yang menyeru kepada bid’ah[1], atau kesesatan lainnya, seperti khawarij[2] dan qaramithah.[3] Al-Nawawi mengisyaratkan dalam penjelasan tersebut, yakni untuk kelompok di luar ahl al-sunnah wa al-jamâ’ah, waLlâhu a’lam bi al-shawâb.
Al-Asyraf, dinukil oleh al-Mulla Ali al-Qari (w 1014 H), menjelaskan makna (دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ), yakni kelompok yang menyeru manusia kepada kesesatan, dan menghalangi mereka dari petunjuk Islam, dengan beragam jenis tipu daya, dan dari kebaikan menuju keburukan, dari sunnah menuju bid’ah, dan dari sifat zuhud kepada cinta dunia.[4]
Sifat jahannam dalam hadits ini, menyiratkan bahwa apa yang mereka serukan adalah hal-hal yang memang akan diganjar Allah dengan jahannam, dan itu bisa dipastikan melekat kepada kelompok yang disebutkan dalam al-Qur’an, yakni mereka yang meniti jalan kaum yang dimurkai (al-maghdhûb ’alaihim) dan jalan kaum yang tersesat (al-dhâllûn), dalam QS. Al-Fâtihah [2]: 7.
Dua karakter khusus yang digambarkan secara jelas oleh Rasulullah dalam hadits ini, dan penyikapan seorang muslim terhadapnya, sama sekali tak bisa dialamatkan pada kelompok-kelompok dakwah di antara kaum Muslim, dari kelompok ahlus sunnah, yakni mereka yang berpijak pada al-Qur’an dan al-Sunnah, dan ilmu syar’i terhadap keduanya, terlebih tidak jika dialamatkan pada kelompok dakwah, yang didasarkan pada QS. Âli Imrân [3]: 104, dengan karakter berpegang teguh pada tali Din Allah (QS. Âli Imrân [3]: 103), yang justru memperjuangkan kekhilafahan, institusi pemersatu kaum Muslim yang disebutkan dalam hadits ini yakni jamâ’at al-muslimin wa imâmahum (جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ), demi memperjuangkan penerapan Islam keseluruhannya dalam kehidupan.
Bahkan kelompok dakwah dengan karakteristik yang memenuhi QS. Âli Imrân [3]: 103-104 ini, justru wajib didukung, mengingat keberadaannya disyari’atkan (masyrû’), bagian dari perintah fardhu dari Allah SWT.
Lengkapnya menyoal kelompok-kelompok kaum Muslim (ahzab): tafsir ayat-ayat al-Qur’an terkait, dan hubungannya dengan hadits ini, sudah kami uraikan dalam buku Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama’ah, silahkan dinikmati sajian lengkap dalam buku tersebut (info WA: 0858 6183 3427). []
والله أعلم بالصواب
وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه



[1] Yakni yang jelas pasti kebid’ahannya, bukan perbedaan dalam wilayah furû’iyyah zhanniyyah seperti yang divonis sebagian kelompok kaum Muslim di zaman ini.
[2] Ini pula yang dijelaskan oleh al-Qadhi ‘Iyadh, dinukil oleh Imam Badruddin al-‘Aini al-Hanafi, lihat: Badruddin al-Aini, ’Umdat al-Qâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, juz XVI, hlm. 140.
[3] Al-Hafizh al-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, juz ke-18, hlm. 13. Qaramithah yakni kelompok syî’ah Isma’iliyyah dari aliran kebatinan Syi’ah.
[4] Al-Mulla Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz VIII, hlm. 3380.

Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Koreksi Atas Penafsiran Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli, Benarkah Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

  Oleh: Irfan Abu Naveed D ewasa ini, kita seringkali dihadapkan dengan slogan atau ungkapan yang seakan-akan benar padahal sebaliknya, hingga ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend setter tersendiri khususnya bagi sebagian kaum awwam . Salah satunya adalah ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Dimana ungkapan ini pun sudah tak asing di telinga kita. Lalu bagaimana pemahaman yang benar? Terlebih jika ungkapan ”fitnah lebih kejam daripada membunuh” biasanya dinukil dari ayat yang agung: {وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}    “ Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan .” (QS. Al-Baqarah [2]: 191) Kata fitnah kembali diulang pada ayat setelahnya: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ} “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kam