29 January 2018

Silsilah Kajian Ideologis Ruqyah Syar'iyyah [Daurah STIBA Ar-Raayah Sukabumi]

Foto Irfan Abu Naveed Al-Atsari.
Ilustrasi: Salah Satu Momentum Daurah Ruqyah Syar'iyyah
untuk Mahasantri STIBA Ar-Raayah Sukabumi


الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد


Ikhwah fiLlah, berikut ini audio (MP3) dari audio silsilah daurah rutin ruqyah syar'iyyah untuk mahasantri STIBA Ar-Raayah (daurah berbahasa Indonesia), dalam topik:


1. Kajian Alam Jin menurut al-Qur'an dan al-Sunnah.
2. Kajian Sihir (kajian kitab al-Sharim al-Battar karya Syaikh Wahid bin Abdissalam Bali)


Membahas persoalan-persoalan asasi dan pelik seputar alam jin, sihir dan ruqyah syar'iyyah berdasarkan dalil-dalil al-Qur'an dan al-Sunnah yang disajikan berikut sajian tafsir dan balaghahnya.


Kajian selengkapnya mencakup: solusi ideologis mengatasi persoalan sihir dan perdukunan.


Silahkan dikoleksi, karena ia daurah selama kurang lebih satu semester, pertemuan seminggu sekali. Akan al-faqir bagikan secara berkala in sya Allah.


Link Download Archive: http://bit.ly/2FoGnuN
وبالله التوفيق


Irfan Abu Naveed Al-Atsari
▫ Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat
▫ Penulis buku kajian ruqyah syar'iyyah "Menyingkap Jin dan Dukun Hitam Putih Indonesia"

25 January 2018

Syarah Atas Qaul "Orang yang Dibenci Allah: Ahli Ibadah yang Mengabaikan Dakwah"

Foto Irfan Abu Naveed Al-Atsari.
Raudhah Tsaqafiyyah Jawa Barat

Syarah Atas Qaul Syaikh Hamad bin Atiq "Orang yang Paling Dibenci Allah", yang Dinukil Oleh Raudhah Tsaqafiyyah Jawa Barat

Pertanyaan

Assalamualaikum ustad, ana mau menanyakan ttg satu quote yg ana dapatkan dari share d bbrp grup dakwah, berikut:

======
ORANG YANG PALING DIBENCI ALLAH

Al-Allamah Hamad bin Atiq rahimahullah berkata:


فلو قدر أن رجلاً يصوم النهار ويقوم الليل ويزهد في الدنيا كلها، وهو مع ذلك لا يغضب ولا يتمعر وجهه ويحمر لله، فلا يأمر بالمعروف ولا ينهى عن المنكر، فهذا الرجل من أبغض الناس عند الله وأقلهم ديناً؛ وأصحاب الكبائر أحسن حالا عند الله منه.
"Seandainya seseorang banyak berpuasa di siang hari dan banyak mengerjakan shalat malam serta zuhud terhadap dunia semuanya, namun bersamaan itu dia tidak marah, tidak berubah wajahnya dan tidak memerah karena Allah, lalu dia tidak menyuruh yang ma'ruf dan tidak pula melarang kemungkaran, maka orang semacam ini termasuk orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling rendah agamanya, dan para pelaku dosa-dosa besar lebih baik keadaannya di sisi Allah dibandingkan orang semacam ini." [Ad-Durarus Saniyyah, jilid 8 hal. 78]. @raudhahtsaqafiyah

======
Apakah maknanya ustad? Ana merasa perlu menanyakan k ust Irfan krn disitu tercantum Raudhah tsaqofiyah (AN)

Jawaban


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Ini pesan penting untuk menegakkan dakwah, al-amr bi al-ma'ruf wa al-nahy 'an al-munkar, kalimat beliau ini:

وهو مع ذلك لا يغضب ولا يتمعر وجهه ويحمر لله، فلا يأمر بالمعروف ولا ينهى عن المنكر
"Namun bersamaan itu dia tidak marah (terhadap kemungkaran), tidak berubah wajahnya dan tidak memerah karena Allah, lalu dia tidak menyuruh yang ma'ruf dan tidak pula melarang kemungkaran."

Itu semua menggambarkan sifat buruk, tidak adanya rasa cemburu (ghirah) terhadap tersebarnya kemungkaran. Ia seperti syaithan bisu (al-syaithan al-sakit), yang mengetahui kemungkaran perbedaannya dengan kema'rufan, namun tidak ada atsar dari ibadah fardiyyahnya terhadap semangatnya membela Din Allah, maka jelas ini merupakan sifat buruk, wal 'iyadzu biLlah.

Frasa "
ولا يتمعر وجهه ويحمر لله" merupakan bentuk majazi (kiasan) dari "tidak adanya rasa ghirah (cemburu) untuk membela Din Allah” dari tersebarnya berbagai kebatilan dan kemungkaran. Dimana sifat ghirah tersebut termasuk buah keimanan yang kokoh, dan murni: ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah.

Terlebih bagi seorang ahli ibadah yang berilmu. Sebagaimana dipesankan dalam banyak nas al-Qur'an dan al-Sunnah. Ulama ketika menafsirkan QS. Âli Imrân [3]: 104, menafsirkan kata ummat[un] adalah jama’ah mereka yang berilmu. Sebagaimana penjelasan Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) yang mengungkapkan:

وقوله: (ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير) أي: جماعة يتخيرون العلم والعمل الصالح يكونون أسوة لغيرهم
Dan firman-Nya (Dan hendaklah ada di antara kalian ummat yang menyeru kepada al-khayr) -kata ummat dalam ayat ini- yakni sebuah jama’ah yang memiliki keutamaan ilmu dan amal shalih, dan mereka menjadi teladan bagi orang lainnya.[1]

Ibn Faris (w. 395 H) pun menjelaskan maknanya jamâ’at al-‘ulamâ’.[2] Sehingga ayat ini, sangat jelas mengandung dorongan yang kuat bagi para ahli ilmu untuk aktif di tengah-tengah umat, menunaikan tanggung jawabnya mendakwahi penguasa dan masyarakat, mendorong mereka kepada yang ma’ruf dan mencegahnya dari kemungkaran.

Orang yang berilmu memiliki pengetahuan untuk membedakan mana yang ma'ruf dan mana yang mungkar, sebagaimana hadits dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ»
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan qalbu dan hal itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hibban)

Hadits ini mengandung perintah dakwah, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar kepada siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, kalimat (مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا), kata kerja lampau (al-fi'l al-mâdhi) "رَأَى" mengisyaratkan pentingnya ilmu sehingga seseorang bisa "melihat" yakni mengetahui perkara yang mungkar dalam pandangan Islam, perbedaannya dengan perkara yang ma’ruf.

Perintah dalam hadits ini, ditandai dengan kalimat perintah fal yughayyirhu.[3] Yakni perintah untuk mengubah kemungkaran, dengan mencegah dan melarangnya.[4] Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali (w. 975 H) bahkan menegaskan bahwa kalimat (وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ) menunjukkan bahwa perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar termasuk cabang keimanan.[5]

Jika orang yang berilmu diam, maka adzab dari Allah akan melingkupi baik orang yang bermaksiat maupun orang yang diam atas kemaksiatan tersebut, padahal ia mengetahuinya. Dipertegas hadits dari Hudzaifah Ibn al-Yaman r.a., dari Nabi bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»‏
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma'ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allâh akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do'a kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. Al-Tirmidzi, Ahmad, al-Baihaqi)

Hadits ini, diungkapkan dengan banyak penegasan (taukîd), yakni qasam (sumpah kepada Allah pada kalimat
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ) dan lam jawab al-qasam, serta nûn al-taukîd al-tsaqîlah pada frasa lata’muranna dan latanhawanna, yang mempertegas kebenaran informasi dalam hadits, menekankan pentingnya perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dengan tuntutan wajib berdasarkan keberadaan peringatan keras bagi siapa saja yang mengabaikan kewajiban ini, yakni kalimat (أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ), yakni ancaman dalam dua bentuk: Pertama, Datangnya azab yang tak pandang bulu, Kedua, Tidak akan dikabulkannya do’a.

Orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya, tahu kewajiban mencegah kemungkaran tapi tidak mencegahnya, bisa jadi termasuk dalam peringatan ayat ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ {٢} كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ {٣}
"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Al-Shaff [61]: 2-3)

Di sisi lain, sikap mengabaikan dakwah, tidak mau mencegah kemungkaran, tidak diingkari dalam hati, bahkan sebaliknya malah mendukung kemungkaran, ini merupakan sifat dan sikap buruk kaum Yahudi, yang banyak diisyaratkan dalam al-Qur'an:

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ {٦٣}
“Mengapa orang-orang berilmu mereka, pendeta-pendeta mereka, tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 63)

Ayat ini mengandung kritik keras dan peringatan dari-Nya terhadap kaum pendeta, rahib Yahudi dan Nasrani yang tidak melarang perkataan mungkar dan perbuatan memakan harta haram. Dimana Allah memvonis perbuatan tersebut sebagai perbuatan yang sangat buruk, la bi’sa mâ kânû yashna’ûn, shadaqaLlâh al-’Azhîm, vonis yang benar dari Rabb al-’ Âlamîn, yang cukup menggetarkan hati orang-orang yang beriman. Lihat pula karakter kaum kuffâr yang memerangi dakwah Islam, sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya QS. Al-Hajj [22]: 72.

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat-sifat buruk dan menjadikan kita para da'i yang berilmu dan beramal karena-Nya, meraih keridhaan-Nya. []

والله أعلم بالصواب
وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

Oleh: Irfan Abu Naveed Al-Atsari
-          Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat
-          Penulis buku kajian tafsir & balaghah "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"




[1] Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad al-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. I, 1412 H, hlm. 86.
[2] Ahmad bin Faris al-Razi, Mu’jam Maqâyîs al-Lughah, Beirut: Dâr al-Fikr, 1399 H/1979, juz I, hlm. 28.
[3] Terdiri dari lâm al-amr di depan kata kerja al-mudhâri’, termasuk shiyagh al-amr (bentuk ungkapan perintah).
[4] Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) merinci hadits ini, diantaranya menjelaskan bahwa kalimat (مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا) menunjukkan bahwa pengingkaran terhadap kemungkaran ini berkaitan dengan penglihatan, begitu pula terhadap kemungkaran yang disembunyikan dari pandangan mata, namun adanya kemungkaran tadi sudah diketahui secara jelas, maka wajib diingkari pula, lihat: Zainuddin Abdurrahman Ibn Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam fî Syarh Khamsîna Hadîts[an] Min Jawâmi’ al-Kalim, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. VII, 1422 H, juz II, hlm. 254.
[5] Ibid, hlm. 254.

15 January 2018

Sahabat Umar bin Al-Khaththab r.a Cinta pada Topik Khilafah


:: Sekilas Kajian Syarah Hadits, Atsar & Balaghahnya ::

Oleh: Irfan Abu Naveed Al-Atsari
[Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat, Penulis buku kajian tafsir & balaghah "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"]

Ada hal yang menarik disebutkan dalam riwayat yang menggambarkan Umar bin Al-Khaththab r.a. mencintai topik pembicaraan Rasulullah seputar Khilafah. Umar bin al-Khaththab r.a. berkata:

ثَلَاثٌ لَأَنْ يَكُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيَّنَهُمْ لَنَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا: الْخِلَافَةُ، وَالْكَلَالَةُ وَالرِّبَا
“Tiga perkara, jika Rasûlullâh menerangkannya kepada kami, lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya adalah: Al-Khilafah, al-kalalah dan riba.” (HR. Al-Hakim, Abu Dawud al-Thayalisi, al-Baihaqi. Redaksi al-Hakim)

A.   Keterangan Singkat Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam al-Mustadrak 'ala al-Shahihain (no. 3188), al-Hakim menuturkan:

هذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ
"Ini merupakan hadits shahih sesuai syarat al-Syaikhayn (al-Bukhari dan Muslim) meskipun keduanya tidak meriwayatkannya."

Dikomentari al-Hafizh al-Dzahabi: "Sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim".

Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 60), dengan redaksi: "أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ". Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra (no. 12645).

B.   Penjelasan Hadits:

1- Keistimewaan Sosok Umar bin al-Khaththab r.a.

Umar bin al-Khaththab r.a. termasuk seutama-utamanya sahabat Rasulullah , Khalifah pertama yang digelari Amir al-Mu'minin, dan dijuluki sebagai al-faruq (pemisah antara haq dan batil).

Menariknya, riwayat ini mengaminkan banyaknya pembicaraan Rasulullah soal khilafah, dipertegas dengan banyaknya riwayat terkait, nikmati sajian berikut ini:

Khilafah dalam Islam: http://bit.ly/2CE7oxh

2- Makna Istilah Khilafah

Khilafah dalam riwayat ini, begitu pula dalam riwayat-riwayat lainnya dalam sudut pandang ilmu al-bayan (balaghah) termasuk lafal hakiki, bukan majazi, faidahnya untuk menekankan pada aspek kejelasan hal yang dimaksud.

Dari sudut pandang ilmu ushul, istilah khilafah termasuk istilah fiqhiyyah sebagaimana ditegaskan Syaikhul Ushul 'Atha bin Khalil Abu al-Rasytah -hafizhahuLlah- dalam rubrik soal jawabnya, dalam perinciannya jelas ia mengandung haqiqah lughawiyyah dan syar'iyyah. Bukan sembarang istilah dan tak sembarang orang bisa seenaknya mendefinisikannya, wajib digali dari nas-nas syari'ah.

Apa itu al-Khilafah? Al-Khilafah: topik ini berbicara tentang sistem pemerintahan yang khash dalam Islam, sebagaimana diuraikan oleh para ulama. Al-'Allamah Al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1396 H) mendefinisikan secara mapan:

الخلافة هي رئاسة عامة للمسلمين جميعا في الدنيا لإقامة الأحكام الشرعية، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم
“Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syari’ah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.”

Menyoal makna khilafah, silahkan nikmati sajian berikut ini:

Memahami Makna Khilafah & Khalifah: http://bit.ly/2E7DIoG

3- Keistimewaan Topik Khilafah

Dalam hadits di atas, digambarkan bahwa Umar bin al-Khaththab r.a. sangat mencintai topik pembicaraan Rasulullah tentang Khilafah, Kalalah dan Riba. Kecintaan tersebut diungkapkan dengan perumpamaan:

أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
"Lebih aku cintai daripada dunia dan isinya".

Dalam redaksi lainnya:

"أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ"
"Lebih aku cintai daripada unta merah".

Ungkapan perumpamaan di atas merupakan perumpamaan dari betapa kuatnya kecintaan tersebut, hatta dilebihkan daripada dunia dan segala isinya, dan daripada unta merah yang menjadi simbol kemewahan duniawi pada masa itu. Hal itu terbukti kemudian, ketika topik al-kalalah dan al-khilafah pun kembali diingatkan oleh lisan Umar bin al-Khaththab sendiri ketika ia menjabat sebagai seorang Khalifah.

Dalam perinciannya, kecintaan Umar bin al-Khaththab r.a. ini mengandung dimensi ukhrawi, hingga ia tak ternilai dengan nilai dunia dan segala isinya. Sehingga relevan jika para sahabat pun berijma' atas kewajiban menegakkan kekhilafahan ini, ini buktinya:

Ijma' Sahabat atas Wajibnya Khilafah: http://bit.ly/2CpRC4W

Kecintaan Umar ini, relevan dengan pentingnya kedudukan khilafah dalam Islam, sebagaimana disaksikan oleh banyak hadits Rasulullah , dan ditegaskan para ulama mu'tabar dalam maqalat mereka.

Silahkan nikmati sajian ini:

Kedudukan Khalifah menurut Rasulullah : http://bit.ly/2lUee7q
Surat politik warisan Rasulullah : http://bit.ly/2CqDsRf

Tadzkirah:

Poin ini hendaknya menjadi bahan perenungan orang-orang di zaman ini yang giat menstigma negatif isu khilafah dengan tuduhan "bukan ajaran Islam", "ajaran radikal (dalam konotasi negatif)", sehingga hakikatnya menikam ajaran Islam itu sendiri. Lalu, siapa yang lebih layak dipercaya soal Khilafah ini? Rasulullah dan Umar bin al-Khaththab r.a. atau oknum-oknum zaman ini yang anti khilafah?! (bersambung).


والله أعلم بالصواب

Soal Jawab Hadits “Memisahkan Diri Dari Kelompok-Kelompok Ketika Tiada al-Jama’ah”

Info: WA/Telegram: 0858 6183 3427
Soal

Perhatikan penggalan hadits ini :

وى الشيخان عن حذيفة في أثناء حديث : تلزم جماعة المسلمين وإمامهم ، قلت : فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام ؟ قال : فاعتزل تلك الفرق كلها ، ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك

Afwan ust, mhn bantuan antum...maksud maqalah diatas bgm..saya tanya pendapat sifulan ttg khilafah dia kirim tulisan tsb. [Peserta Kajian Tsaqafiyyah]

Jawaban

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Perhatikan hadits tsb lengkapnya: Hudzaifah bin Yaman r.a. berkata:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ» ، قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ: «نَعَمْ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ» ، فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»
“Orang-orang semua bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sementara aku bertanya tentang keburukan karena aku takut akan menimpa diriku. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kami ini telah melewati masa jahiliyyah dan keburukan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?” Beliau menjawab, “Ya.” Aku, “Apakah setelah keburukan itu akan kembali datang kebaikan?” Rasulullah, “Ya, tapi ada sedikit kabut (ketidakjelasan).” Aku, “Apa kabutnya?” Rasulullah, “Adanya kaum yang tidak melaksanakan sunnahku dan tidak berpedoman pada petunjukku. Ada yang kamu dukung perbuatan mereka ada pula yang kamu ingkari.” Aku, “Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan?” Beliau, “Ya, kaum yang menyeru di pintu-pintu jahannam, siapa yang memenuhinya akan terhempas ke dalamnya.” Aku, “Tolong diskripskan kaum itu kepada kami ya Rasulullah.” Beliau, “Orang-orang dari kulit kita sendiri dan bicara dengan bahasa kita.” Aku, “Wahai Rasulullah, apa saran anda kalau aku mendapati itu?” Beliau, “Tetaplah bergabung pada jamaah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku, “Bila tidak ada jamaah tidak pula ada imam?” Beliau, “Tinggalkan semua kelompok itu meski kau harus menggigit akar pohon sampai kematian mendatangimu dalam keadaan seperti itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pertama,
Hadits ini salah satu hadits yang seringkali disalahpahami atau disalahtafsirkan oleh mereka yang tak setuju perjuangan penegakkan Khilafah.

Kesalahan tersebut tampak jelas ketika mereka menggunakan dalil hadits ini untuk membangun kesimpulan yang salah, bahwa ketika jama'ah (yakni khilafah) tidak ada, maka kaum Muslim bukan didorong menegakkan khilafah, tapi didorong untuk meninggalkan seluruh kelompok (firqah) yang ada. Kesimpulan prematur tersebut bertentangan dengan dalil-dalil yang diuraikan para ulama mu’tabar menyoal wajibnya menegakkan Khilafah (al-Jama’ah).

Kedua, Kesimpulan prematur di atas jelas berbahaya, karena:

a. Menafikan dalil-dalil syar'iyyah yang mewajibkan penegakkan Khilafah.

b. Dengan logika aneh mereka, seharusnya mereka pun meninggalkan jama'ah: NU, Persis, dsb. Tak hanya Hizb yang memperjuangkan Khilafah.

Ketiga, Koreksinya:
Hadits ini tak bisa dijadikan dalil untuk mengabaikan perjuangan penegakkan khilafah. Karena wajh istidlalnya terkait mufaraqah 'an firaq, yakni meninggalkan kelompok-kelompok yang disebutkan karakteristiknya dalam hadits tersebut yakni:
Pertama, Kelompok yang dinilai (قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي), yakni kelompok yang tidak melaksanakan sunnah Rasulullah , dan mengambil petunjuk dari selain petunjuk beliau .
Karakter ini melekat kepada kelompok sesat, di luar ahlus sunnah, mereka yang tertimpa syubhat, menyimpang dari al-Qur’an dan al-Sunnah.
Kedua, Kelompok lebih buruk lagi yang dinilai (دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ), yakni kelompok yang menyeru kepada pintu-pintu jahannam. Memisahkan diri dari kelompok ini hukumnya wajib, berdasarkan qarînah jâzimah (petunjuk tegas) kecaman (مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا), yakni ancaman akan dimasukkan ke dalam jahannam bersama mereka.
Al-Hafizh al-Nawawi (w. 676 H) menukil penjelasan para ulama menguraikan makna (دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ), bahwa mereka adalah siapa saja dari para pemimpin yang menyeru kepada bid’ah[1], atau kesesatan lainnya, seperti khawarij[2] dan qaramithah.[3] Al-Nawawi mengisyaratkan dalam penjelasan tersebut, yakni untuk kelompok di luar ahl al-sunnah wa al-jamâ’ah, waLlâhu a’lam bi al-shawâb.
Al-Asyraf, dinukil oleh al-Mulla Ali al-Qari (w 1014 H), menjelaskan makna (دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ), yakni kelompok yang menyeru manusia kepada kesesatan, dan menghalangi mereka dari petunjuk Islam, dengan beragam jenis tipu daya, dan dari kebaikan menuju keburukan, dari sunnah menuju bid’ah, dan dari sifat zuhud kepada cinta dunia.[4]
Sifat jahannam dalam hadits ini, menyiratkan bahwa apa yang mereka serukan adalah hal-hal yang memang akan diganjar Allah dengan jahannam, dan itu bisa dipastikan melekat kepada kelompok yang disebutkan dalam al-Qur’an, yakni mereka yang meniti jalan kaum yang dimurkai (al-maghdhûb ’alaihim) dan jalan kaum yang tersesat (al-dhâllûn), dalam QS. Al-Fâtihah [2]: 7.
Dua karakter khusus yang digambarkan secara jelas oleh Rasulullah dalam hadits ini, dan penyikapan seorang muslim terhadapnya, sama sekali tak bisa dialamatkan pada kelompok-kelompok dakwah di antara kaum Muslim, dari kelompok ahlus sunnah, yakni mereka yang berpijak pada al-Qur’an dan al-Sunnah, dan ilmu syar’i terhadap keduanya, terlebih tidak jika dialamatkan pada kelompok dakwah, yang didasarkan pada QS. Âli Imrân [3]: 104, dengan karakter berpegang teguh pada tali Din Allah (QS. Âli Imrân [3]: 103), yang justru memperjuangkan kekhilafahan, institusi pemersatu kaum Muslim yang disebutkan dalam hadits ini yakni jamâ’at al-muslimin wa imâmahum (جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ), demi memperjuangkan penerapan Islam keseluruhannya dalam kehidupan.
Bahkan kelompok dakwah dengan karakteristik yang memenuhi QS. Âli Imrân [3]: 103-104 ini, justru wajib didukung, mengingat keberadaannya disyari’atkan (masyrû’), bagian dari perintah fardhu dari Allah SWT.
Lengkapnya menyoal kelompok-kelompok kaum Muslim (ahzab): tafsir ayat-ayat al-Qur’an terkait, dan hubungannya dengan hadits ini, sudah kami uraikan dalam buku Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama’ah, silahkan dinikmati sajian lengkap dalam buku tersebut (info WA: 0858 6183 3427). []
والله أعلم بالصواب
وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه



[1] Yakni yang jelas pasti kebid’ahannya, bukan perbedaan dalam wilayah furû’iyyah zhanniyyah seperti yang divonis sebagian kelompok kaum Muslim di zaman ini.
[2] Ini pula yang dijelaskan oleh al-Qadhi ‘Iyadh, dinukil oleh Imam Badruddin al-‘Aini al-Hanafi, lihat: Badruddin al-Aini, ’Umdat al-Qâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, juz XVI, hlm. 140.
[3] Al-Hafizh al-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, juz ke-18, hlm. 13. Qaramithah yakni kelompok syî’ah Isma’iliyyah dari aliran kebatinan Syi’ah.
[4] Al-Mulla Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz VIII, hlm. 3380.