19 December 2017

Cinta Rasulullah ﷺ (Bag. IV): Menolong Rasulullah ﷺ, Sunnahnya & Golongannya

Oleh: Irfan Abu Naveed al-Atsari
[Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat]

Foto Irfan Abu Naveed Al-Atsari.Imam Izzuddin al-Shan’ani ketika menguraikan makna (فَقَدْ أَحَبَّنِي) dalam hadits dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- bersabda:    
  
«مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ»
“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Marwazi, al-Thabrani, al-Lalika’i, Ibn Baththah dan Ibn Syahin)[1]

Beliau menguraikan, yakni benar-benar cinta kepada beliau shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, karena sesungguhnya siapa saja yang mencintai seseorang, maka ia akan bertingkah laku seperti pihak yang dicintainya, maka tanda cinta seseorang kepada Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam- adalah bertingkah laku sesuai sunnahnya, menolong sunnahnya serta menyeru manusia kepadanya.[2]
Menolong Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- dan sunnahnya, yakni dengan membela ajaran-ajaran Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- dari berbagai penyimpangan (tahrîf) dan penyesatan (tadhlîl) yang dibuat-buat oleh kaum yang terpedaya.

A.  Menolong Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, Sunnahnya & Golongannya
Menolong Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, sunnahnya dan golongannya (ahl al-sunnah), termasuk dalam cakupan menolong DinuLlah dalam QS. Muhammad [47]: 7:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ {٧}
“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)

Dalam ayat yang agung ini, Allah menggunakan bentuk ungkapan syarat dan jawabnya (al-jumlah al-syarthiyyah), dengan perangkat (adat al-syarth) yakni in (إِنْ): jika kalian menolong Allah (إن تنصروا الله). Kalimat menolong, setelah sebelumnya diawali dengan seruan yang berkaitan dengan keyakinan (akidah), menunjukkan bahwa aktivitas menolong ini merupakan aktivitas yang berkenaan dengan perbuatan (hukum syara’) yang dilandasi oleh keimanan (akidah Islam), tidak terpisahkan.
Istimewanya, dalam kalimat ini Allah menisbatkan pertolongan hamba-hamba-Nya kepada-Nya, padahal Allah Maha Kuasa atas segala perkara, tidak membutuhkan pertolongan makhluk-Nya.

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ {٦}
“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.” (QS. Al-’Ankabût [29]: 6)

Imam Abu Ja’far al-Nahhas al-Nahwi (w. 338 H) dan al-Qadhi Badruddin Ibn Jama’ah al-Syafi’i (w. 733 H) menjelaskan bahwa  bentuk ungkapan tersebut merupakan bentuk kiasan (majâz).[3] Yang disebutkan langsung dinisbatkan kepada ”Allah”, namun maksudnya adalah dînuLlâh (agama Allah). Perinciannya, yakni dengan menghilangkan bentuk idhâfah dari kata Allah[4]: yakni menghilangkan kata dîn di depan lafal jalâlah (Allah), karena makna sebenarnya adalah menolong Rasul-Nya, Dîn-Nya[5], syari’at-Nya, dan kelompok pembela Dîn-Nya (hizbuLlâh)[6], dalam ilmu balaghah (al-ma’âni), ini yang diistilahkan al-îjâz bi al-hadzf (bentuk meringkas perkataan dengan menghilangkan bagian), yang berfaidah lebih menguatkan makna yang dikehendaki daripada penyebutannya secara lengkap.[7]
          Relevansinya dalam ayat ini, menunjukkan pentingnya perbuatan menolong agama Allah, karena seakan menisbatkan pertolongan makhluk langsung pada Allah ’Azza wa Jalla, ini sudah cukup menunjukkan besarnya kedudukan amal perbuatan tersebut, sehingga cukup menjadi dorongan kuat, targhîb, bagi hamba Allah yang mencintai-Nya, Din-Nya dan mengharapkan perjumpaan dengan-Nya. Bahkan jika seandainya Allah tidak menginformasikan ganjaran agung bagi mereka yang menolong Din-Nya: {يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ}.
          Bahkan menolong dînuLlâh itu sendiri merupakan wasiat para nabi dan rasul, Syaikh ’Atha bin Khalil menjelaskan bahwa sesungguhnya KhaliluLlah Ibrahim a.s. menunaikan perintah Allah, dan tunduk patuh serta ikhlas kepada Allah, hal ini yang beliau a.s. wasiatkan kepada anak-anaknya. Begitu pula wasiat Ya’qub a.s. terhadap anak-anaknya, agar mereka senantiasa berpegang teguh terhadap agama mereka, yang Allah pilih untuk mereka, dan agar mereka senantiasa berada dalam agama ini hingga mereka diwafatkan oleh Allah, dan mereka dalam keadaan tunduk dan ta’at kepada-Nya, tak pernah berpaling kepentingan mereka dari keta’atan kepada Allah, tunduk dan ner-Islam, karena mereka tidak mengetahui kapan tibanya kematian.[8]
Jika lantas timbul pertanyaan, “Dengan cara apa menolong dînuLlâh?” Jawabannya, yakni dengan beriman dan beramal shalih, salah satunya dengan berdakwah dengan meniti metode dakwah Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, dakwah pemikiran, memahamkan umat agar menjadikan Islam sebagai ideologi kehidupan.

B.  Kemenangan: Ganjaran Bagi Mereka yang Menolong Din-Nya dan Rasul-Nya
Kalimat {يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} merupakan jawaban (jawâb al-syarth) jika terpenuhinya apa yang menjadi syarat yakni ”menolong dînuLlâh” {إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ}. Pertolongan dari Allah, merupakan pertolongan untuk meraih keberhasilan atau keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Imam al-Sam’ani menafsirkan makna al-nashr minaLlâh (pertolongan dari Allah) yakni al-hifzh (pemeliharaan dan penjagaan dari segala keburukan) dan al-hidâyah (bimbingan petunjuk untuk senantiasa berada di atas kebenaran).
Ungkapan agung yutsabbit aqdâmakum (Dia akan meneguhkan kaki-kaki kalian), merupakan bentuk kiasan (majâz mursal), disebutkan sebagian yakni aqdâm (kaki-kaki) padahal yang dimaksud adalah keseluruhan diri orang yang Allah teguhkan (ithlâq al-juz’i wa irâdat al-kulli). Digunakan istilah kaki-kaki ini, karena ia adalah alat untuk berpijak (adât al-tsabât), sebagaimana diuraikan oleh Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili[9]. Hal ini dimaksudkan untuk menguatkan rasa, menggambarkan keteguhan, yakni teguh dalam Islam, dan dalam peperangan (jihad)[10], serta teguh dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk tantangan-tantangan dalam berdakwah, sebagaimana dialami oleh para nabi dan rasul –’alayhi al-salâm-.
Bukankah tiada kenikmatan yang lebih agung daripada nikmat iman dan Islam? Hingga Allah berfirman:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ {١٠٢}
“Dan janganlah sekali-kali kamu (wahai orang-orang yang beriman) mati melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., bahwa Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam- bersabda:

«مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإسْلاَمِ ديناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ»
“Siapa saja yang ridha Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai Din-nya, Muhammad sebagai rasul baginya, maka wajib baginya ganjaran surga.”

Maka Abu Sa’id merasa takjub, lalu ia berkata: “Tolong ulang kembali untukku wahai Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam-?” Kemudian Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam- mengulang kembali perkataannya (HR. Muslim, Ahmad, Ibn Hibban, al-Nasa’i)[11]
Imam Muhammad Ali Ibn ’Allan al-Syafi’i (w. 1057 H) menjelaskan bahwa di dalam hadits ini terdapat dorongan untuk mati dalam keadaan Islam.[12] Dimana hal tersebut bisa diraih di antaranya dengan menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan, menolong tegaknya DinuLlah dalam kehidupan, mengupayakan tegaknya Islam secara totalitas dalam kehidupan, dengan berada di barisan pejuang yang memperjuangkan Din al-Islam. []



[1] HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2678, bab بَابُ مَا جَاءَ فِي الأَخْذِ بِالسُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ البِدَعِ), ia berkata: “Hadits ini hasan gharib dari jalur ini.”; Abu Abdillah al-Marwazi dalam Ta’zhim Qadr al-Shalat (no. 714); Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath (no. 9439); Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (no. 8); Ibn Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra (no. 51); Ibn Syahin dalam Al-Targhib fi Fadhâ’il al-A’mal (no. 527).
[2] Muhammad bin Isma’il ‘Izzuddin al-Shan’ani, Al-Tanwir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz X, hlm. 55.
[3] Yakni dalam tinjauan ilmu balaghah: ‘ilm al-bayân. Lihat: Abu Ja’far al-Nahhas al-Nahwi, I’râb al-Qur’ân, juz IV, hlm. 119; Badruddin Ibn Jama’ah, Îdhâh al-Dalîl fî Qath’i Hujjaj Ahl al-Ta’thîl, Mesir: Dâr al-Salâm, cet. I, 1410 H, hlm. 117.
[4] Abu al-Fath ‘Utsman bin Jinni al-Maushuli, Al-Muhtasib fî Tabyîn Wujûh Sawâdz al-Qirâ’ât wa al-Îdhâh ‘anhâ, Wizârat al-Awqâf, 1420 H/1999, juz I, hlm. 188.
[5] Ahmad bin Muhammad al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, juz IX, hlm. 31.
[6] Fakhruddin al-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, juz VIII, hlm. 42.
[7] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 51.
[8] Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl, hlm. 163-164.
[9] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, juz ke-26, hlm. 83.
[10] Ahmad bin Muhammad al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, juz IX, hlm. 31.
[11] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (no. 1884); Ahmad dalam Musnad-nya (no. 11117); Ibn Hibban dalam Shahîh-nya (no. 4612), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Hadits hasan gharib”; Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (no. 8742); Al-Nasa’i dalam Sunan-nya (no. 3131).
[12] Muhammad Ali Ibn ‘Allan al-Syafi’i, Dalîl al-Fâlihîn Li Thuruq Riyâdh al-Shâlihîn, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. IV, 1425 H, juz VII, hlm. 102-103.

No comments :

Post a Comment