19 December 2017

Cinta Rasulullah ﷺ (Bag. II): Ittiba’ Kepada Rasulullah ﷺ, Meniti Metode Dakwahnya

Oleh: Irfan Abu Naveed al-Atsari
[Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat]

A.  Ittiba’ Kepada Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-
Foto Irfan Abu Naveed Al-Atsari.Berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- merupakan gambaran ittiba’ kepada beliau, yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’âlâ- berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا {٢١}
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 21)

Allah yang memberikan pujian, menunjukkan kebenaran pihak yang dipuji, karena Allah yang Maha Benar tidak mungkin keliru dalam menilai hamba-Nya, dimana Dia memberikan predikat kepada Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- sebagai uswat[un] hasanat[un] (teladan yang baik) bagi kita, yang disebut Imam al-Baghawi (w. 516 H) sebagai qudwah shâlihah (panutan yang shalih).[1] Dalam ayat ini pun terdapat dua penegasan (taukîd) yakni lâm dan qad di depan kata kerja lampau (al-fi’l al-mâdhi) yang berfaidah menafikan segala bentuk keraguan dan pengingkaran terhadap kebenaran informasi yang disampaikan, dan menuntut pembenaran atasnya tanpa ada sedikit pun keraguan.[2] Dimana ayat yang agung ini pun dinukil oleh Dr. Muhammad bin Hamid Hawari untuk menegaskan wajibnya ittiba’ kepada Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-. Allah Ta’âlâ- pun berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ {٧}
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata telah mendengar Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-  bersabda:

«مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»
“Apa-apa yang aku larang atas kalian maka jauhilah ia, dan apa-apa yang aku perintahkan kepada kalian maka laksanakanlah ia sesuai dengan kemampuan kalian (dengan segenap kemampuan-pen.).(HR. Muslim, Ahmad, Ibn Majah, al-Bazzar dan al-Thabrani. Lafal Muslim)[3]

Kata dalam ayat dan hadits di atas menjadi petunjuk keumuman pesan dalam keduanya, perintah melaksanakan apa yang Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- contohkan dan ajarkan kepada umatnya, termasuk metode dakwah dalam upaya menegakkan kehidupan Islam menerapkan Islam kâffah dalam kehidupan. Menetapinya merupakan bentuk ittibâ’ terhadap Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- yang memang diwajibkan Allah Ta’âlâ-, dan Dia jadikan sebagai salah satu syarat meraih kemenangan.
Dalam buku Ta'rîf Hizb al-Tahrir ditegaskan bahwa wajib hukumnya ittibâ’ (meniti jalan baik i'tiqad maupun amal) terhadap Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, berdasarkan dalil:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ {٣١}
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Âli Imrân [3]: 31)

Ayat yang agung ini, mengandung ungkapan syarat, in syarthiyyah, yang menjadikan perbuatan ittibâ’ kepada Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, sebagai bukti kecintaan kepada Allah. Ungkapan syarthiyyah ini menunjukkan betapa konsistensi untuk meniti jalan Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- merupakan hal yang mutlak, harus ada dan senantiasa ada sebagai bukti kecintaan terhadap Allah ’Azza wa Jalla.
Dimana pelakunya akan diganjar dengan ganjaran yang sangat istimewa, yakni rahmat dan ampunan-Nya. Luar biasanya, ittiba’ terhadap Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- pun sekaligus menjadi bukti kecintaan terhadap beliau. Dalam ayat yang agung ini, frasa fattabi‘ûnî (ikutilah aku) bermakna umum, karena tidak ada indikasi pengkhususan (takhshîsh), pembatasan (taqyîd), atau penekanan (tahsyîr) hanya pada aspek-aspek tertentu yang dipraktikkan Nabi –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-.
Syaikh Nawawi al-Bantani menguraikan bahwa salah satu bukti mahabbah kepada Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- adalah dengan meniti jalannya, melaksanakan sunnahnya, ittiba’ terhadap perkataan dan perbuatannya, menunaikan perintahnya, dan menjauhi larangannya, beradab sesuai dengan adabnya, baik dalam keadaan susah maupun senang, sebagaimana diuraikan oleh Imam al-Ramli al-Syafi’i.[4] Mencakup sunnah qauliyyah Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- yang mewasiatkan umatnya untuk berpegang teguh pada al-Qur’an dan al-Sunnah, menegakkan Islam totalitas dalam kehidupan.
Diperjelas nas-nas lainnya yang menunjukkan kewajiban ittibâ’ kepada Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-. Allah Ta’âlâ- pun berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {١٥٣}
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’âm [6]: 153)

Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- pun pernah membuat garis di depan para sahabatnya dengan satu garis lurus di atas pasir, sementara di kanan kiri itu beliau menggariskan garis-garis yang banyak. Lalu beliau bersabda, “Ini adalah jalanku yang lurus, sementara ini adalah jalan-jalan yang di setiap pintunya ada syaithan yang mengajak ke jalan itu.” Kemudian Nabi –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- membaca QS. Al-An’âm [6]: 153 yang memerintahkan kita mengikuti jalan yang lurus serta melarang untuk mengikuti jalan yang lain. Kalimat (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) dalam ayat ini, menunjukkan hikmah dibalik seruan tersebut, yakni sebagai realisasi ketakwaan pada-Nya.
Selain itu, Allah telah mengancam orang-orang Islam yang menyalahi jalan Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- dengan ancaman musibah dan azab yang pedih (QS. Al-Nûr [24]: 63), Allah pun berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا {١١٥}
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk dan mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir-pen.) kemudian Kami seret ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 115)

Diperjelas dalil-dalil al-Sunnah, yang secara tegas melarang kaum Muslim menyimpang dari jalan beliau –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, yakni dengan mengambil jalan kaum yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, yang tersesat dari jalan-Nya. Salah satunya hadits dari Ibn Abbas r.a., ia berkata: “Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- bersabda:

«لَتَتَّبِعُنَّ سنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ»
“Sungguh kamu mengikuti tuntunan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga salah seorang dari mereka masuk lubang biawak pun sungguh kamu mengikutinya.”

Para sahabat lantas bertanya, “Apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari, Muslim)
Hadits ini mengandung indikasi larangan, sebagaimana ditegaskan oleh al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani[5], karena terdapat celaan atas perbuatan mengikuti manhaj dan pola pikir orang kafir pada kalimat (لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ  دَخَلَ جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ), ditegaskan di awal kalimat dengan penegasan (taukid) huruf lam yang mengiringi jawab dari sumpah yang disembunyikan (mudhmarah), dan nun taukîd al-tsaqîlah. Maka tidak ada jalan lain bagi kaum Muslim yang mendambakan keselamatan dunia dan akhirat, kecuali dengan menghidupkan sunnah Rasul-Nya, meniti jalannya, dan membelanya dari berbagai penyimpangan kaum yang tersesat dari jalan kebenaran, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum liberal selama ini, dengan menikam ajaran-ajaran Islam, Allâh al-Musta’ân.

B.  Ittibâ’ Kepada Tharîqah Dakwah Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-
Dakwah yang benar, dan menyampaikan kepada kemuliaan dan keberuntungan, adalah dakwah yang didasari oleh ittibâ’ kepada Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, tidak boleh menyelisihinya.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ {١٥٨}
“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah ia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’râf [7]: 158)

Kalimat (لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ) yang diawali dengan huruf la’alla, menunjukkan hikmah di balik perintah mengikuti (ittibâ’) Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-[6], yakni agar meraih petunjuk, sebenar-benarnya petunjuk di jalan kebenaran, dengan petunjuk itulah akan diraih kemuliaan. Kemuliaan seterang mentari terbit tak terhalang awan, yang bisa diraih oleh mereka yang teguh meniti jalan Rasul-Nya, sebaik-baiknya teladan:

إِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا مِنْهُمْ فَتَشَبَّهُوْا * إِنَّ التَّشَبُّهَ بِالكِرَامِ فَلاح
“Meskipun kalian belum menjadi seperti mereka maka serupailah * karena sesungguhnya menyerupai orang-orang yang mulia merupakan keberuntungan.”[7]

Keberuntungan dengan meraih keberkahan dunia dan akhirat. Ketika Allah Ta’âlâ- menetapkan suatu hukum, Allah pun membimbing hamba-hamba-Nya untuk menunaikannya, mencakup metode untuk mewujudkannya, dimana hal tersebut Allah –Ta’âlâ- tunjukkan dengan mengutus sebaik-baiknya teladan, Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, ke tengah-tengah hamba-Nya.
Keteladanan yang mencakup metode dakwah untuk menegakkan kehidupan Islam secara totalitas (kâffah), dimana Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam- dan para sahabat mencontohkannya dengan mengupayakan tegaknya kekuasaan Islam, institusi politik, al-Daulah al-Islâmiyyah. Merujuk pada perjalanan hidup Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, maka secara umum upaya dakwah beliau dalam rangka menegakkan Daulah Islamiyyah setidaknya mewujudkan dua hal:
Pertama, Mewujudkan opini umum (al-ra’yu al-‘âm) yang lahir dari kesadaran umum (al-wa’yu al-‘âm).
Hasil dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam- dan para sahabat selama di Makkah di antaranya:
a.    Dinul Islam diterima dan diikuti oleh sebagian masyarakat. Hal itu ditandai dengan masuk Islamnya berbagai kalangan, dari kalangan rakyat biasa hingga tokoh yang berpengaruh di tengah-tengah masyarakat.
b.    Lahir kader-kader dakwah yang berkepribadian Islam kuat, ikhlas dalam berdakwah serta istiqamah dalam menghadapi berbagai tantangan dan cobaan.
c.    Nabi Muhammad shallâLlahu ’alayhi wa sallam- dengan ajaran yang dibawa (Islam) serta kelompok (kutlah) dakwahnya menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.
d.    Masyarakat mengetahui kebobrokan akidah jahiliyyah, praktik-praktik sosial yang merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.
e.    Masyarakat mengetahui bahwa solusi yang ditawarkan Nabi Muhammad shallâLlahu ’alayhi wa sallam- adalah Islam; akidah dan berbagai macam hukum-hukumnya (syari’at).
Adapun keberhasilan dakwah sebagaimana yang tersebut di atas, terwujud setelah Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam- melakukan dua tahapan dakwah yakni: (1) Tahap pembinaan kader dalam kutlah (kelompok) dakwah; (2) Tahap berinteraksi dengan masyarakat, dan perjuangan politik.
Pertama, Tahap pembinaan kader dalam kutlah (kelompok) dakwah. Setelah Allah  mewahyukan risalah kepada Nabi Muhammad shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, beliau mulai mengajak orang-orang untuk memeluk Islam. Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-. kemudian membina mereka dengan pembinaan intensif di rumah Arqam bin Abi al-Arqam. Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- pun mengorganisir para sahabat dalam sebuah kutlah (kelompok) dakwah yang beliau pimpin. Nabi –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- terus melakukan hal itu selama tiga tahun hingga Allah memerintahkan untuk melakukan tahap selanjutnya.
Kedua, Tahap berinteraksi dengan masyarakat dan perjuangan politik. Setelah tiga tahun masa kenabian, dengan turunnya QS. Al-Hijr [15]: 94, Allah Ta’âlâ- memerintahkan Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- untuk menyampaikan risalah secara terbuka ke masyarakat dan mengajak mereka masuk Islam.
Pada fase ini, Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam- menyerukan perubahan radikal dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, tatacara ibadah, nilai-nilai sosial dan praktik mu’amalah mereka. Identitas dan gaya hidup mereka yang jahiliyyah dikritik, dijelaskan kebobrokannya agar mereka mau menggantinya dengan agama dan gaya hidup yang baru. Nabi –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- mengoreksi dan membantah sistem kehidupan yang dijalankan oleh Quraisy seraya menawarkan sistem Islam sebagai penggantinya. Perjuangan dakwah Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- dan para sahabat pada tahap kedua ini dilakukan tanpa kekerasan. Beliau melakukan pergulatan pemikiran (shirâ’ al-fikr) dan perjuangan politik (kifâh al-siyâsi) tanpa menggunakan kekuatan fisik/mengangkat senjata, meskipun setiap lelaki Arab pada waktu itu sudah terbiasa menunggang kuda dan memainkan senjata.
Kedua, Adanya dukungan ahl al-quwwah dan kekuatannya untuk menegakkan Daulah Islam.
Dukungan dari ahlul quwwah, semisal dukungan suku Aus dan Khazraj, terjadi setelah sebelumnya Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam- mendatangi, mendakwahi serta meminta dukungan dari berbagai kabilah. Beliau pergi mencari dukungan dari kabilah yang dianggap mampu menjaga kekuasaan dan melindungi kaum Muslim serta mampu menjamin tegaknya Daulah Islam. Kebanyakan reaksi pimpinan kabilah yang didatangi Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- adalah menolak, baik dengan halus maupun kasar. Ada juga yang menerima tetapi mengajukan berbagai persyaratan (kompromistis), sebagaimana Bani Amr bin Sha’sha’ah dan Bani Syaiban, yang tentu saja ditolak Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-.
Meskipun menghadapi berbagai penolakan kabilah, namun karena thalab al-nushrah merupakan kewajiban, maka Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam- tetap istiqamah melaksanakannya. Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- tetap berupaya menemui sekitar 40 kabilah dalam rangka mencari nushrah. Hingga akhirnya, beliau –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- berhasil meraih dukungan suku Aus dan Khazraj dari Yastrib. Kedua suku kuat inilah yang memberikan dukungan, dengan menyerahkan kekuasaan yang ada pada mereka kepada Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, sehingga akhirnya Daulah Islam tegak di Madinah al-Munawwarah.
Kontinuitas, konsistensi dan keteguhan sikap Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam- untuk menolak syarat-syarat yang diajukan oleh Bani Amr bin Sha’sha’ah dan Bani Syaiban—meskipun hal itu berkaitan dengan kewajiban menegakkan kekuasaan Islam— menunjukkan  disyari’atkanya thalab al-nushrah, sekaligus menunjukkan status hukum wajibnya, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari metode penegakkan Daulah Islâmiyyah.[8] 
Keteladanan, keteguhan, dan pengorbanan beliau shallâLlahu ’alayhi wa sallam- dalam mengemban dakwah Islam ini, sudah seharusnya menggugah nafsiyyah kita, dakwah menuju Islam kâffah dengan menegakkan sistem al-Khilâfah. Untaian bait sya’ir salah seorang sahabat berikut ini, cukup menggambarkan semangat beramal mereka ketika bersama Rasulullah shallâLlahu ’alayhi wa sallam- membangun masjid, pada awal tegaknya kehidupan Islam di Madinah:

لَئِنْ قَعَدْنَا وَالنَّبِيُّ يَعْمَلُ * لَذَاكَ مِنَّا الْعَمَلُ الْمُضَلّلُ
“Betapa kita duduk menganggur, sedangkan Nabi (shallâLlahu ’alayhi wa sallam-) asyik bekerja”
“Sungguh ia perbuatan sesat menyesatkan.”[9]

Tentu kaum Muslim tak ingin seperti kaum yang duduk-duduk berdiam diri, berpangku tangan menunggu pertolongan turun dari langit untuk membangkitkan kaum Muslim dalam tidurnya yang panjang, padahal Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- telah beramal, menggariskan jalan dakwah bagi umatnya, dan memberikan keteladanan sebaik-baiknya keteladanan. Dan kita, sebagaimana sya’ir yang dinukil al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H):

نَبْنِي كَمَا كَانَتْ أَوَائِلُنَا * تَبْنِي، وَنَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلُوْا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun * Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.[10]





[1] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’âlim al-Tanzîl, Dâr Thayyibah, cet. IV, 1417 H, hlm. 420.
[2] Dalam persepektif ilmu balaghah (ilm al-ma’âni) keberadaan kata-kata taukîd (penegasan) yang lebih dari satu semisal lâm dan kata qad di depan al-fi’l al-mâdhi berfaidah menafikan segala bentuk pengingkaran, terlebih lagi keraguan dan menuntut pembenaran akan kebenaran berita yang disampaikan, ini dinamakan pula khabar inkari. Lihat: Dr. Abdullah al-Hamid dkk, Al-Balâghah wa al-Naqd, hlm. 39.
[3] HR. Muslim dalam Shahih-nya (no. 6184); Ahmad dalam Musnad-nya (no. 10255); Ibn Majah dalam Sunan-nya (no. 1); Al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 7658); Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath (no. 8773).
[4] Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq fî Syarh Sullam al-Taufîq, Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. I, 1431 H, hlm. 104.
[5] Taqiyuddin bin Ibrahim, Muqaddimah al-Dustûr aw al-Asbâb al-Mûjibah Lahu, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1420 H, juz I, hlm. 44.
[6] Sebagaimana kaidah ini diuraikan Syaikhuna ‘Atha bin Khalil dalam kitab tafsirnya.
[7] Syihabuddin al-Alusi, h al-Ma'âni fî Tafsîr al-Qur'ân juz I, hlm. 92.
[8] Diadaptasi dari tulisan Ustadz Luthfi Affandi, “Jalan Pasti Jalan Rasulullah saw., Jalan Pasti Menuju Tegaknya Khilafah.” di Majalah al-Wa’ie edisi Oktober 2013, dan secara mapan bisa dirujuk dalam buku sirah dengan pendekatan analisa politik karya al-‘Allamah Taqiyuddin al-Nabhani berjudul al-Daulah al-Islâmiyyah.
[9] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir, Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Dâr Hijr, cet. I, 1418 H/1997, juz IV, hlm. 535.
[10] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadrîb al-Râwi fî Syarh Taqrîb al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, Cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.

No comments :

Post a Comment